Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Salah Kirim


__ADS_3

"Bunda, Kafka pulang." Kafka tahu jika hari ini sang Bunda tidak pergi ke butik sehingga ia segera berseru ketika membuka pintu.


"Sudah pulang, kamu–" Bunda yang muncul dari dalam menjeda kalimatnya saat melihat gadis di samping Kafka. Saras tersenyum menyapa Bunda.


"Saras." Bunda tampak terkejut melihat ada luka di ujung bibir gadis cantik itu. "Ini kenapa, Sayang?" raut wajahnya lebih khawatir dari Kafka beberapa waktu yang lalu. Saras tampak tersipu dengan perhatian Bunda.


"Enggak papa, Bunda. Nggak sengaja jatuh," jawabnya berdusta.


"Jatuh mana mungkin kaya gitu." tegas Bunda yang tidak bisa Saras bantah, gadis itu hanya akhirnya hanya tersenyum. "Sudah diobati belum?" tanya Bunda, kali ini Saras menggelengkan kepala.


"Kemari, biar Bunda obati." ia menggandeng Saras masuk, meninggalkan Kafka yang tersenyum melihat dua orang itu.


Bunda mengenal Saras. Kafka sudah beberapa kali membawa gadis itu ke rumah. Kafka bahkan dengan jujur berterus terang pada Bunda mengenai apa yang terjadi dengan keluarga Saras. Kafka bukan mengadu atau pun bergosip, tetapi memberi Bunda pemahanam agar memahami Saras ketika Kafka membawanya ke rumah saat gadis itu mendapat masalah.


Hubungan kedua orang tua Saras tidaklah baik sekalipun mereka masih bersama sampai saat ini. Papa Saras suka bermain wanita, sementara mamanya gila harta dan membiarkan papa Saras berbuat apapun semaunya.


Tapi belakangan, harta saja tampak tidak cukup baginya sehingga ia menuntut pengertian dari papa Saras. Pun ia tidak tahan melihat sang suami yang terus bermain wanita dengan seenaknya seolah dia bukan pria berkeluarga.


Sejak awal, keduanya menikah bukan karena cinta dan menjalani kehidupan rumah tangga yang berbeda dengan orang lain. Dimana papa Saras masih terus disibukan dengan para wanitanya.


Papa Saras kasar dan suka bermain tangan. Sejak kecil, Saras sangat sering melihat tindak kekerasan di rumahnya bahkan ia pun menjadi korbannya. Tak jarang sang papa meluapkan kemarahan padanya karena mamanya yang membangkang dan membuat ia tak terima, sehingga Saras menjadi sasaran empuknya.


Saras bahkan tidak memahami papanya sendiri. Dalam sekali waktu, dia tampak sangat menyayangi Saras. Namun dengan syarat Saras harus patuh padanya. Sementara di waktu lain, dia bisa saja sesuka hati memperlakukan Saras bahkan bermain tangan. tanpa segan memukul gadis itu.


Beberapa bulan ini, orang tuanya memutuskan untuk berpisah tempat tinggal. Mamanya keluar dari rumah dan tinggal di sebuah apartement, sementara Saras dipaksa untuk tetap tinggal dengan sang papa. Jika ia tidak menurut, papanya mengancam akan membahayakan mama Saras dan membuat gadis itu terpaksa menurut.


Bagi Saras, rumahnya adalah neraka. Sehingga ketika kadang kala Kafka mengajaknya berkunjung ke rumahnya dan membawa ia bertemu dengan Bunda, Saras merasa tenang dan terlepas dari marahabaya. Sekalipun hal itu tidak dapat bertahan lama karena ia akan diteror oleh sang papa yang terus-menerus menghubunginya.


Saras mencoba mengabaikan panghilan dari papanya ketika Bunda selesai mengobati luka di ujung bibirnya. Beberapa detik kemudian, ia menengadah saat Kafka meraih ponselnya. Pemuda itu menonaktifkan ponsel Saras.


"Loe boleh nginep di sini, biar gue bilang ke Bunda. Kalau nggak mau, nanti gue anterin loe pulang. Biar gue yang ngomong sama bokap loe." sahut pemuda itu. Saras hanya diam.


"Gue ke kamar dulu." pamit Kafka yang kemudian berlalu setelah Saras menganggukan kepala.


Kafka melempar tas sekolahnya ke atas tempat tidur begitu ia tiba di dalam kamar. Ia merogoh ponsel dari saku celananya yang seharian ini ia silent. Pemuda itu tampak tidak terkejut sama sekali saat melihat belasan panggilan tidak terjawab dari sang pacar.


Yashinta sudah terbiasa mengganggunya dan Kafka sudah terbiasa mengabaikannya. Ia melihat pesan masuk di aplikasi chatnya.


Yashinta


Kafka mau kemana? Yas tadi liat mobil Kafka keluar gerbang sekolah.

__ADS_1


Kafka bolos?


Mau kemana Kafka?


Kafka berdecih membaca pesan yang gadis itu kirimkan.


Hari ini Yas les piano. Yas nggak minta dijemput. Yas cuma pengen tahu aja. Kafka kemana sampe bolos sekolah?


Nanti malam telepon Yas, yah.


***


Berulang kali Yashinta menghubungi nomor Kafka namun pria itu sama sekali tidak merespondnya. Yashinta sudah mengirim belasan pesan namun Kafka juga tidak kunjung membalasnya. Membuat Yashinta merasa khawatir sekaligus kesal. Yang pada akhirnya membuat fokus Yashinta saat sedang les piano buyar seketika.


Ketika pulang les, saat waktu menunjukan pukul lima sore, gadis itu lebih memilih duduk di halte bus sambil menunggu jemputannya yang sekarang sedang dalam perjalanan.


Pesan yang ia kirimkan pada sang pacar sudah dibaca, namun Kafka tak kunjung memberinya balasan. Membuat perasaan Yashinta kian hampa.


Gadis itu mencoba menelpon Kafka sekali lagi. Namun tidak kunjung ada jawaban dari Kafka. Yashinta ingin marah, tapi hatinyanl yang selembut kapas seolah tidak dapat meluapkan amarahnya.


Gadis itu pulang ke rumah dengan raut sendu. Ia merebahkan diri di atas tempat tidur, tanpa terasa air matanya menetes. Rupanya sesakit itu mendapat pengabaian dari Kafka, padahal ia merasa kebal karena sudah terbiasa.


"Non Yas sakit?" tanyanya. Yashinta menggelengkan kepala.


"Dari pulang les piano mukanya ditekuk terus." sambung Bi Rasti yang sejak sore tadi memerhatikan anak majikannya.


"Non Yas ada ribut sama Mas Kafka, atau lagi ada masalah aja di sekolahnya?"


"Enggak ribut, Bi. Cuma Kafka keseringan cuekin Yas. Yas nggak suka." adunya, berterus terang. Bi Rasti yang mendengarnya hanya tersenyum. Cukup memaklumi jika hal itu hanyalah bumbu asmara para remaja.


"Mungkin cuma Yas aja yang sayang sama Kafka, tapi Kafka nggak." sahutnya lagi, kali ini Bi Rasti tidak merespond, sementara Yashinta akhitlrnya bangkit dari posisi berbaringnya kemudian duduk.


"Yas bener nggak Bi?" tanyanya dengan sorot mata meminta kepastian.


"Kalau Mas Kafka nggak sayang sama non Yas, mana mau pacaran berbulan-bulan." Bi Rasti menenangkan.


"Gitu, yah, Bi?"


"Iya."


"Yasudah, sekarang Non Yas mandi, terus nanti makan malam, yah, makannya mau di bawah aja atau Mbak Lala bawa kesini nanti?"

__ADS_1


"Nggak papa, Bi. Biar nanti Yas ke bawah aja."


Bi Rasti mengangguk, lantas permisi berlalu dari kamar Yashinta. Meninggalkan gadis itu sendirian. Dengan malas, Yashinta bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi, namun ponsel yang berdering lebih dulu membuatnya kembali ke tempat tidur dan meraih ponsel dengan harapan itu adalah telepon dari Kafka.


Namun rupanya bukan. Yashinta segera menekan ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinga dengan senyum yang memudar. "Ada apa Ranti?"


"Yas, fotoin gue tugas Biologi loe yah."


"Ranti tadi nggak nulis?"


"Nulis, cuma ketumpahan tinta. Tulisannya nggak keliatan, berantakan." sahutnya yang membuat Yashinta mengangguk-anggukan kepala.


"Nanti Yas potoin terus kirim ke Ranti, yah."


"Okey, thanks yah, Yas. Buruan, gue harus ke tempat kerja."


"Iya Ranti."


"Bye Yashinta."


Panggilan terputus setelahnya. Yashinta hanya menatap layar ponsel, ia memenuhi apa yang Ranti butuhkan. Setelahnya, ia melihat kembali jendela obrolannya dengan Kafka, berharap ada balasan pesan dari pria itu. Namun ternyata masih sama, bahkan tidak ada tanda-tanda Kafka akan membalas pesan darinya.


Sampai kemudian, pesan masuk dari nomor lain membuat gadis itu mengerutkan kening.


Malaikat


🌷


Maksudnya apaan, yah? Yashinta mengetikan balasan. Ia menumggu beberapa saat untuk kemudian mendapat balasan pesan dari Gibran.


Malaikat


Maaf, salah kirim


Yashinta berdecih. Ia tersenyum dengan ibu jari yang tampak lincah mengetikam balasan.


Modus. Bilang aja mau ngchat Yas!


Basi banget pake alasan salah kirim😜


TBC

__ADS_1


__ADS_2