
Kafka terus melajukan mobilnya menyusuri jalanan menuju rumah Yashinta. Gadis itu tak banyak bicara disisa perjalanan, ketika ponsel dalam genggamannya berdenting, Yashinta segera memeriksa ponsel. Ia tersenyum melihat pesan masuk dari Gibran.
Malaikat
Sudah sampai rumah?
Yashinta dengan cepat mengetikan balasan dengan bibir yang dihiasi senyuman. Entahlah, tapi perasaannya membaik ketika mendapat pesan dari pria yang beberapa saat lalu memberinya butter cake itu.
Belum, masih di jalan. Bentar lagi nyampe.
Yashinta menunggu balasan dan segera membuka jendela obrolan begitu balasan dari Gibran membuat ponselnya kembali berdenting. Tentu saja hal itu tidak luput dari perhatian Kafka.
"Loe chatan sama siapa, sih?" tanyanya, sewot.
"Oh, ini, sama kenalan Yas." gadis itu menyahut seperlunya dan segera membalas pesan lagi ketika sudah mendapat balasan. Membuat Kafka tidak suka melihatnya.
"Kenalan loe cewek apa vowok?" tanya Kafka lagi, kalau sudah begini. Yashinta tahu Kafka akan marah jika ia memberitahukan pria itu bahwa kenalannya adalah pria dewasa.
"Gue nggak, suka, yah, kalau loe asik sendiri saat lagi sama gue." sahut pria itu bersamaan dengan mobilnya yang berhenti di depan gerbang rumah Yashinta. "Iya Kafka." Yashinta menyahut patuh sambil membuka seatbeltnya.
"Kafka nggak mampir?" tanyanya tapi Kafka tidak menyahut. Yashinta sempat mengembuskan napas sebelum kemudian. "Kafka mau nemuin Saras?"
"Yas nggak suka, yah, kalau Kafka terlalu sering berhubungan sama Saras." sahutnya. Kafka tidak menyahut, namun juga tidak tampak marah ataupun kesal karena ocehannya.
Yashinta mengambil dua paper bag berisi butter cake dari kursi belakang sebelum ia turun dari mobil Kafka, kemudian menyerahkan satu paper bag pada Kafka.
"Ini buat Kafka aja, biar Yas ambil yang ini."
Kafka mengerutkan kening, kemudian bertanya. "Yang dari kenalan loe?"
Gadis itu mengangguk dengan senyum tipis yang membuat Kafka memutar bola matanya, kemudian kembali menatap Yashinta. "Jadi loe lebih milih butter cake dari kenalan loe daripada butter cake dari gue?" tanyanya, tampak tidak terima dan seketika membuat Yashinta panik di tempatnya.
"Bukan gitu maksudnya Kafka–"
"Ambil aja, gue nggak mau." sela Kafka dengan cepat.
"Bukan buat Kafka, tapi buat Bunda."
"Gue bisa beli lagi." sahut Kafka bersikukuh untuk tidak mau mengambilnya, Yashinta akhirnya hanya mengangguk pasrah dan menerima kembali paper bag dari Kafka. "Kafka nggak mampir dulu, ketemu sama Papa." tawaranya kemudian mengingat Kafka belum merespond hal itu.
"Kapan-kapan aja." Kafka menuahut sekenanya dan mulai menghidupkan kembali mesin mobil, membuat Yashinta bergegas turun.
"Kafka hati-hati, jangan ngebut." pesannya sebelum menutup pintu mobil. Tak lama setelah ia turun, mobil yang Kafka kemudikan melaju meninggalkan gerbang rumahnya.
__ADS_1
Sementara Kafka melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah. Bunda belum tiba saat Kafka sudah berada di rumah dan mencari keberadaan kartu atm milik Saras yang barangkali tertinggal di rumahnya.
Ternyata benar saja, benda tersebut memang tertinggal di rumah Kafka. Kafka dapat dengan mudah menemukannya disela-sela sofa. Ia kemudian segera bergegas menuju tempat keberadaan Saras untuk mengembalikan benda tersebut.
"Sorry, yah, Ka. Gue jadi ngerepotin loe." sesal gadis itu saat Kafka dengan baik hati mengantarkan kartu atm miliknya.
"Santai aja." Kafka menyahut seperlunya, melegut minuman kaleng yang Saras berikan padanya. Kini keduanya berada di depan alfamart.
"Gue harus langsung pulang abis ini." Saras bangkit dari duduknya, Kafka menengadah. "Biar gue anter." tawarnya.
"Nggak perlu." gadis itu menolak.
Kafka bangkit dari duduk dan mengambil kunci mobil yang ia letakan di atas meja bulat di hadapannya. "Gue anterin." ia tidak menerima penolakan dan berjalan menuju mobilnya, membuat Saras tidak memiliki pilihan lain selain diantar pulang oleh Kafka.
***
Suasana sekolah sudah ramai seperti biasanya ketika Yashinta melangkahkan kaki memasuki gerbang. Ia menuju kelas dan rupanya anak-anak juga sudah banyak yang nongkrong di dalam kelas. Beberapa dari mereka juga tampaknya sudah mengunjungi kantin, terbukti dengan beberapa anak yang sudah menikmati camilan di mejanya sembari membaca buku dan mengobrol.
"YASHINTAAAAA."
Yashinta spontan menutup telinga, hal yang juga dilakukan oleh seluruh penghuni kelas saat mendengar suara nyaring Ranti yang baru saja tiba. Gadis itu bahkan masih berdiri di ambang pintu saat meminta maaf pada kawan-kawannya karena sudah membuat keributan.
Lantas, ketika kawan-kawannya tampak kembali asik dengan dunianya, Ranti segera menghampiri Yashinta dan memeluk gadis itu erat-erat.
"Yashinta thank you." ucapnya sembari mendekap Yashinta kian erat, nyaris membuat gadis itu sesak napas. "Loe itu temen terbaik yang nggak akan lagi gue temuin dimana pun." sahutnya dengan nada penuh kegirangan.
"Hah?"
"Ranti bikin Yas sesak napas."
Spontan Ranti melepas Yashinta dan membuat gadis itu terbatuk-batuk. Ranti hanya nyengir, memamerkan deretan giginya yang putih ketika batuk Yashinta sudah reda dan gadis itu menatapnya penuh tanya.
"Ranti kesambet apaan, sih?"
"Habis ketemu sama member exo? Kegirangan banget kayaknya."
"Hmm, gue semalem mau telepon loe tapi gue tunda karena pengen ngomong langsung aja." sahut Ranti yang membuat Yashinta tampak penasaran. Saat Ranti duduk, ia juga ikut duduk demi mendengarkan cerita sahabatnya.
"Kemaren gue ketemu malaikat, Yashinta. Dia menyerupai pangeran. Ganteng, berkharisma, penuh pesona." ucap Ranti, Yashinta tampak kebingungan, dengan senyum kecut menatap Ranti yang tersenyum-senyum sendiri. Sementara Ranti tengah membayangkan bagaimana tampannya pria yang ia temui kemarin.
"Okay, jadi ini Malaikat maut atau–"
"Bukan, Yashinta. Dia pangeran,"
__ADS_1
"Dari kerajaan?"
"Kayaknya dari istana langit deh, Yas."
Yashinta tertawa sumbang, tampak kaku sekaligus risih melihat keadaan Ranti yang tersenyum-senyum sendiri seperti orang sinting. Adalah hal yang sepertinya baru pertama kali Yashinta lihat dari sahabatnya itu.
"Hmm, terus?" Yashinta masih membiarkan Ranti untuk terus bercerita dan ia siap mendengarkan.
"Enggak terus-terusan, Yas. Yang pasti, kayaknya gue bakal ngasih hati gue ke dia, deh. Tuhan kaya sengaja ngirim dia buat gue, Yashinta."
"Dia datang diwaktu yang tepat." sahutnya yang membuat Yashinta menyimpulkan jika sahabatnya itu sedang jatuh cinta. Yashinta paham dan memakluminya.
Ia tersenyum, menyamangati Ranti yang masih menikmati imajinasinya mengenai pangerannya. "Lancar, yah, semoga Ranti berhasil." Menepuk punggung Ranti, meski tampak awkward dengan situasi yang tengah terjadi.
Membiarkan Ranti menikmati hal tersebut, Yashinta lebih memilih mengambil ponsel dari saku seragamnya saat benda pipih itu berdenting, menandakan ada satu pesan masuk.
Malaikat
Masha,
My name is Yashinta. Not Masha. Yashinta merajuk, "ngeselin." decaknya. Membuat Ranti menoleh dengan raut heran.
"Siapa? Gue? Gue berlebihan, yah, Yas?" mendadak ia merasa tidak enak, Yashinta panik sendiri. "Bukan, bukan, Ranti. Ini, Mas Malaikat yang pernah Yas ceritain ke Ranti." gadis itu berusaha menjelaskan. Ranti tampak mengangguk-anggukan kepala.
"Yang nolongin loe pas si Kafka nurunin loe di jalan?" tanya Ranti, Yashinta mencebikan bibir. "Enggak usah diperjelas juga, Ranti."
"Sorry, sorry." Ranti mengusap punggung tangan Yashinta. "Kalian suka komunikasi?" pembicaraan mengarah pada orang yang sudah menyelamatkan Yashinta.
Yashinta menganggukan kepala. "Iya. Kemarin juga kita ketemu di toko cake langganan Yas pas Yas sama Kafka mampir. Dia ngasih butter cake kesukaan Yas."
"Kafka tahu?"
"Tahu."
"Dia nggak marah?"
"Cuma keliatan kesel aja, sih. Menurut Ranti, Kafka cemburu?"
"Mungkin."
"Kok mungkin?"
"Loe yang pacarnya aja bingung sama perasaan Kafka, apalagi gue." Ranti menyahut acuh. Jujur ia sangat malas jika sudah berhubungan dengan Kafka. Yashinta hanya diam dengan sorot pasrah, tahu jika Ranti enggan membahas Kafka.
__ADS_1
Enggan membahas apapun yang berhubungan dengan Kafka.
TBC