
Dua anak manusia itu berjalan melewati lapangan menuju kantin. Atensi yang didapat karena dua orang itu tengah berpegangan tangan membuat Yashinta perlahan melepaskan genggaman tangannya dari sang pacar. Hal itu tentu membuat Kafka tidak terima dan kembali meraih tangan gadis itu.
"Kafka, Yas malu. Diliatin temen-temen." bisiknya pada sang pacar. "Yaudah, biarin aja!" Kafka menyahut enteng. Membuat Yashinta akhirnya hanya menuruti sang pacar.
Di samping perpustakaan, Yashinta sempat melihat seorang guru yang tengah berbincang bersama beberapa siswi. Tidak, lebih tepatnya seorang guru yang tampak menggoda siswinya.
Ternyata Kafka juga melihat hal itu. Yashinta dapat mendengar sang pacar mengumpat pelan. "B*jingan!"
"Kafka masih jarang masuk di pelajarannya?" gadis itu bertanya, Kafka hanya menganggukan kepala. Membuat Yashinta tampak mengerucutkan bibir, Kafka menoleh pada gadis itu. "Enggak masalah, Yas. Bahasa inggris gue bagus!"
"Really?"
"Of course!"
Yashinta tersenyum mendengarnya, sementara Kafka juga tersenyum tipis.
***
Kafka tidak bohong saat akan mentraktir Yashinta makan di kantin sekolah. Pemuda itu benar-benar melakukannya, beberapa pasang mata mengarah pada keduanya setelah menjadi pusat perhatian di sepanjang koridor tadi.
"Mereka kenapa ngeliatin, sih? Yas enggak enak, malu." sahut Yashinta, merasa terganggu karena anak-anak terus memerhatikannya. Mengaduk makanannya dan memasukannya ke mulut sedikit, Kafka yang makan dengan cuek melihat beberapa siswa yang memang menatap mereka.
"Cuekin aja! Pada nggak ada kerjaan emang." sahut Kafka, enteng. Pemuda itu kembali melanjutkan makannya. Yashinta diam sebentar, tapi kemudian mengangguk patuh dan menuruti Kafka, melanjutkan makannya untuk mengumpulkan energi.
"Yaelah, berduaan aja. Gak ngajak-ngajak!" Aris muncul dengan wajah tengil. Kafka tak menghiraukan, ia hanya makan tanpa perduli kedatangan dua kawannya. Aris duduk di sampung Yashinta sedangkan Sean duduk di samping Kafka.
"Aris belum makan?" tanya Yashinta. Aris menoleh antusias dan mengangguk.
"Belum, nih, Yas. Laper." sahutnya dengan wajah yang dibuat memelas. Kafka sesekali memerhatikan.
"Yaudah, Aris cepet pesen makan. Nanti keburu jam istirahatnya abis."
"Mau di traktir, nih, Yas?" tanyanya sumringah. Sean menggelengkan kepala melihatnya, tidak mengerti jalan pikiran sahabatnya sekaligus malu pada Yashinta.
"Minta ke Kafka, Yas ditraktir Kafka."
"Buset, loe tadi gak minta uang ke bokap loe Yas?"
"Enggak." gadis itu menyahut polos, kemudian melanjutkan makan dengan santai, membuat raut wajah Aris kusut sedangkan Kafka dan Sean tersenyum kecil melihatnya.
"Bayar sendiri! Enak aja minta - minta," celetuk Sean seraya berlalu ke arah ibu kantin untuk memesan makanan. Setengah kesal Aris menyusul, kembali membiarkan Kafka hanya dengan Yashinta.
"Kafka nggak makan?" tanya Yashinta karena sedari tadi sang pacar hanya menatapnya yang tengah menghabiskan makanan seperti orang kelaparan sejak kedatangan Aris dan Sean.
"Udah."
"Beneran?"
"Udah, deh, loe makan aja!" Kafka mode seperti biasa dan membuat Yashinta hanya bisa mengangguk. Repot jika Kafka sampai mengamuk seandainya ia terus melayangkan pertanyaan menjengkelkan.
"Loe balik bareng gue!" intruksi Kafka setelah cukup lama. Keduanya mengabaikan kedatangan Sean dan Aris yang kembali meributkan sesuatu hal. Aris yang rempong dan Sean yang tidak mau mengalah, devinisi sempurna dari keributan tiada tara jika dua orang itu bersama.
__ADS_1
"Tiba - tiba?" heran Yashinta.
"Kalau gak mau ya terserah!"
"Dasar payah! Enggak ada, tuh, usaha buat bujuk Yas atau apa gituh."
"Intinya gue gak maksa. Terserah loe!" sewot Kafka. Yashinta hanya mencebikan bibir, kemudian mengaduk-aduk makanannya yang sisa sedikit dan menatap Kafka yang sepertinya memang tidak bernaiat untuk membujuk apakagi memaksanya.
"Nanti Yas kabarin Pak Sopir buat gak usah jemput." akhirnya gadis itu mengalah. Selalu mengalah. Kafka hanya mengangguk, tak lama ia permisi ke toilet dan meninggalkan Yashinta.
Tidak ada yang dilakukannya ketika pergi ke toilet kecuali hanya mencuci wajah dan merapikan dasinya yang sedikit berantakan. Sampai kemudian setelah dari toilet ia berlalu dan berpapasan dengan Saras di lorong menuju kelas.
"Yang calon menantu pemilik yayasan." gadis itu menyindirnya, membuat langkah kaki Kafka terhenti. Ia menatap gadis yang disukainya itu dengan tatapan sendu.
"Yashinta ke mana? Bukannya tadi kalian ke kantin bareng?" tanya Saras saat mendapati tak ada respond dari Kafka atas teguran sebelumnya.
"Gak usah nyari masalah, deh, Ras!"
Saras terkekeh, kemudian menepuk bahu pemuda itu, membuat tatapan Kafka mengarah pada tangan mulus Saras, kemudian beralih pada wajah cantik gadis itu.
"Pulang nanti loe ada acara?"
"Temenin gue ke toko buku yu."
Apa yang Saras katakan tentu saja tidak bisa Kafka tolak. Tapi ia sudah memiliki janji dengan Yashinta akan mengantarkan gadis itu pulang.
"Loe udah ada acara sama Yashinta?" tanya Saras saat Kafka tak menyahut, membuatnya sudah dapat menebak.
"Yaudah, deh, kapan - kapan aja." sahutnya seraya berlalu meninggalkan Kafka setelah menepuk bahu pemuda itu dua kali.
"Gue bisa batalin janji gue ke Yashinta." sahut cepat Kafka yang membuat langkah Saras terhenti tepat dua langkah di belakangnya. Kafka berbalik badan dan menatap gadis itu yang menatapnya dengan mata menyipit.
"Gue bisa anterin loe ke toko buku."
"Jadi cowo ya jangan brengsek-brengsek amatlah, Ka!"
"Maksud loe?" tanya Kafka dengan dahi berkerut. Namun begitu Saras tidak menyahut, ia berlalu begitu saja melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Kafka yang hanya mampu menatap kepergiannya.
Pemuda itu berdecak, lantas melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam kelas.
***
Ketika waktu bubaran sekolah tiba, Kafka sudah nangkring di samping mobilnya menunggu Yashinta. Namun gadis itu tidak juga menampakan batang hidungnya, sementara Ranti sudah keluar dari gerbang, awalnya Kafka ingin bertanya, namun urung karena akan berdampak buruk bagi kesehatan jantungnya. Terlebih mereka baru saja bersitegang beberapa waktu lalu di UKS.
Membuatnya menunggu lebih lama sampai ia bertemu salah satu siswa dari kelas Yashinta.
"Yashinta di mana?"
"Oh, Yashinta?"
"Tadi nganterin buku paket ke kantor guru." sahutnya.
__ADS_1
"Mata pelajaran terakhir siapa?"
"Mr. Rajas."
Kafka berdecak, dengan langkah cepat ia menyusul Yashinta ke arah ruang guru. Ia cukup tau M.r Rajas guru bahasa inggris yang sangat menyukai para siswi cantik. Sekalipun guru itu tidak akan berani melecehkan Yashinta. Kafka tetap tidak akan membiarkan mata guru itu tertuju pada Yashinta.
Setengah berlari Kafka menyusuri lorong menuju kantor guru dekat gedung komputer. Sekolah tidak begitu sepi karena anak-anak yang lain langsung menyambungnya dengan kegiatan ekstrakulikuler begitu bubaran sekolah.
"Ini ditaruh di sini Mister?" tanya Yashinta saat sudah tiba di meja gurunya itu. Mr. Rajas mengangguk dan berdiri di samping gadis itu. Ia mundur beberapa langkah saat Yashinta sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Kalau begitu saya permisi!"
"Saya dengar kamu pacaran dengan Kafka, benar?" tanya Mr. Rajas yang membuat langkah kaki Yashinta terhenti. Gadis itu terdiam sebentar, kemudian perlahan mengangguk.
Tatapan Mr. Rajas membuatnya merasa risih, terlebih kantor guru sedang sangat sepi. Yashinta bukan tidak tau bagaimana Mr. Rajas sesuai apa yang sering anak-anak gosipkan. Mata keranjang, begitu para siswi memanggilnya.
Biasanya, Yashinta akan ditemani Ranti ke ruang guru. Atau dengan Nandan yang memiliki hari piket sama dengannya. Tapi hari ini Nandan tidak masuk sekolah, Ranti tadi buru-buru karena harus segera ke tempat kerja.
"Sudah berapa lama?" tanyanya lagi. Semakin membuat Yashinta heran karena guru itu bertanya mengenai hal pribadi yang sifatnya sangat tidak penting. Tidak akan mampu memberi tambahan nilai apapun pada Yashinta.
"Kamu cantik,"
"Untuk apa pacaran dengan Kafka. Dia anak badung, dia juga jarang masuk di mata pelajaran saya."
"Saya tidak mengerti maksud Mister, saya permisi." dengan cepat Yashinta berlalu, namun Mr. Rajas menahan tangannya dan membuat Yashinta kian risih. Terutama ia meninggalkan ponselnya di dalam kelas dan tidak bisa menghubungi siapa pun, terutama Kafka.
"Tolong Mister jangan macam-macam!"
"Saya akan teriak." ancamnya.
"Siapa yang akan macam-macam Yashinta, lagipula jika kamu berteriak tidak akan ada orang yang mendengar."
Yashinta semakin tidak karuan, terutama saat mendapati pintu kantor tertutup rapat, ia lantas menatap Mr. Rajas yang menatapnya dengan tatapan lapar, seolah siapa memangsa dirinya.
"Seharusnya kamu berpacaran dengan saya saja. Saya masih muda, tampan, selain itu saya juga seorang pengusaha. Sepadan jika bersanding dengan kamu yang anak pemilik yayasan!" sahutnya. Yashinta berontak mencoba melepas cekalan tangan Mr. Rajas, namun tidak bisa.
Ia tau guru itu memang tampan, masih muda dan adalah seorang pengusaha. Persis seperti tokoh-tokoh yang sering Yashinta baca dalam cerita novel. Tapi Yashinta tidak menyukainya, terutama jika guru itu memaksa dan terang-terangan menunjukan seberapa brengsek dirinya di hadapan Yashinta ataupun siswi lainnya.
"Lepaskan!" teriak Yashinta saat justru pria itu meraih pinggangnya dan membuat jarak mereka nyaris terkikis.
"Saya tidak segan-segan untuk melaporkan Mister!"
"Bagaimana jika saya bilang kita sama-sama saling menginginkan?"
Yashinta menggelengkan kepalanya dengan mata terpejam, hati menjerit meneriaki nama Kafka. Sampai kemudian ia merasa seseorang menariknya menjauh dari Mr. Rajas setelah mendengar dobrakan pintu. Tak lama, ia juga mendengar suara benda jatuh dengan keras.
Sampai ia perlahan membuka matanya dan melihat Mr. Rajas terkapar di lantai, pandangan gadis itu menengadah dan mendapati Kafka yang berdiri dengan tangan terkepal sempurna. Sementara wajahnya diliputi amarah.
"Kafka,"
TBC
__ADS_1