Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Tenda Biru, Nasi Goreng dan Hujan


__ADS_3

Yashinta melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukan pukul sepuluh malam. Ia kembali ke tempatnya begitu Saras berlalu pergi, menyendiri di sana dan hanya menatap langit yang gelap tanpa satupun bintang. "Kaya mau hujan," desahnya sambil menengadahkan tangan.


Begitu Yashinta mendengar suara langkah kaki, ia membalikan tubuh dan melihat Sean yang berjalan ke arahnya. Yashinta tersenyum canggung, pria itu tidak membalas senyumannya dan hanya berdiri di samping Yashinta serta ikut melihat objek yang membuat Yashinta betah berada di sana.


Yashinta kembali ke posisi, jujur ia merasa tidak enak pada Sean sekaligus canggung. Bagaimanapun, ekspresinya beberapa saat lalu pasti membuat Sean kesal dan tersinggung. Seandainya ia dengan Sean benar-benar akan menjadi sauadara dan tinggal di rumah yang sama ..., Yashinta tidak bisa membayangkannya.


"Sean,"


Sean menoleh. "Loe nggak perlu ngomong apapun. Gue ngerti gimana rasanya ada di posisi loe." sahutnya yang membuat Yashinta bungkam, ia mengunci bibirnya rapat-rapat.


"Gue udah tahu hubungan nyokap gue sama bokap loe beberapa bulan yang lalu. Persis kaya loe gue juga terkejut. Gue nggak rela kalo nyokap punya suamu baru." sahutnya mengawali pembicaraan, mata keduanya sempat bersitatap sebelum kemudian Sean kembali meluruskan pandangan


"Gue nggak mau punya bokap sama saudara tiri ." Sean terkekeh di bagin ini, Yashinta hanya mendengarkan.


"Tapi setelah gue pikir-pikir. Rasanya egois kalau gue nolak keinginan nyokap. Dia udah lama sendirian, ngurus gue dari kecil dengan status single parent."


"Gue jahat kalau harus biarin dia hidup sendirian sampai tua setelah gue tau gimana dia mati-matin berjuang buat ngurus gue." Sean menoleh, kemudian mengukir senyum hangat.


Yashinta tidak mengatakan apapun sampai Sean pergi dari hadapannya. Ia mengerti maksud Sean namun hatinya tidak selapang Sean untuk langsung mengiyakan. Yashinta masih harus mempertimbangkan.


"Yashinta." gadis itu membalikan tubuh ketika suara familiar menyapa indera pendengarannya. Sang papa tersenyum dan berjalan ke arahnya dengan Gibran di sampingnya.


"Iya, Pah?"


"Papa masih lama, kamu pasti udah cape. Biar kamu pulang duluan dianter Gibran, yah." sahut Andri penuh pengertian. Ia tahu putrinya sudah sangat tidak nyaman berada di tengah-tengah acara yang didominasi orang dewasa.


"Sean sama Tante Arumi juga sudah pulang." sambungnya.


"Kamu diantar pulang sama Gibran."


"Enggak ngerepotin?" gadis itu bertanya pada Gibran, Gibran menggeleng samar, membuat gadis itu tersenyum tipis. Senyum yang kali ini tampak tulus dari beberapa waktu lalu saat mereka bertemu di dalam lift.


"Yaudah, Pah. Kalau gitu Yas pamit pulang." sahutnya dengan ceria. Andri tersenyum, mengusap puncak kepalanya dan melambaikan tangan sekilas ketika Yashinta berlalu dari hadapannya.


Dua orang itu melangkah beriringan masuk ke dalam lift. Selama berada di dalam lift, keduanya hanya saling terdiam. Gibran menoleh, melihat gadis itu yang tidak banyak mengoceh, rasanya aneh. Namun begitu, hal tersebut jauh lebih baik daripada melihat Yashinta murung seperti beberapa saat lalu.


"Kita mau langsung pulang?" tanya Gibran begitu mereka tiba di basemant gedung. Pria yang sudah membukakan pintu mobil untuk Yashinta itu menatap Yashinta menunggu jawaban. Gadis yang berhadapan dengannya dengan pintu mobil sebagai pembatas hanya menyipitkan mata.


"Gimana kalau kita makan dulu. Yas laper, tadi dalem nggak makan Yas tahu tempat makan yang enak dideket sini," usulnya yang membuat Gibran tersenyum lebar, itulah yang dia inginkan. Ia tidak ingin buru-buru pulang.


"Deal." ujar Gibran, Yashinta masuk ke dalam mobil pria itu, Gibran sedikit memutari mobil dan duduk di kursi kendali. Tak lama setelahnya, mobil melaju. Gibran terus tersenyum seperti tertular aura gadis di sampingnya yang memang gemar tersenyum.


Aneh rasanya saat ia harus merasa senang untuk hal tidak seberapa hanya karena Yashinta lebih mengusulkan makan daripada langsung pulang.


Kali ini pria itu terkekeh menyadari keanehannya, menyita atensi gadis di sampingnya hingga Yashinta memerhatikan raut wajah Gibran. "Kenapa Mas Gibran?" tanyanya, Gibran menoleh. "Ah, enggak." pria itu berdehem, enggan menyahut dan kembali fokus mengemudi begitu mengontrol ekspresi.


Yashinta di sampingnya berdecih dengan senyuman menatap pria itu, kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke depan tanpa sadar jika Gibran sekilas kembali menatapnya dengan senyuman.


***

__ADS_1


Kafka mematung begitu keluar dari kamar mand usai membersihkan diri, gerakan tangannya yang tengah menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil tertahan, ia mengernyit. Melihat ada yang berbeda dengan lemari kacanya hingga ia menyadari jika salah satu Super Hero Marvel-nya tidak ada. Pria itu tampak tercengang.


"Ant-Man." decaknya yang kemudian buru-buru membuka lemari pakaian dan mengambil sebuah kaos dengan jaket kemudian keluar dari kamarnya.


"Ka, mau kemana?" tanya Bunda saat melihat anak bungsunya itu berjalan tampak buru-buru menuruni anak tangga.


"Ke apartemen Gibran sebentar Bun." pria itu menyahut seraya berlalu setelah mencium pipi sang bunda.


"'Mas Gibran' Ka." Bunda menegaskan namun anak itu tak menggubris karena sudah berlalu keluar.


***


Sebuah menu nasi goreng di pinggir jalan dengan tenda biru menjadi pilihan Yashinta untuk mengajak Gibran mampir di sana. Mungkin Gibran harus sedikit memuji gadis itu, ia tidak menyangka jika Yashinta mau makan di pinggir jalan.


Gibran banyak mengenal anak-anak orang kaya yang enggan makan di pinggir jalan dengan alasan tidak higienis. Tetapi Yashinta terlihat berbeda.


"Kamu sering makan di sini?" tanya Gibran ketika gadis itu asik melahap nasi gorengnya.


"Hm, pernah beberapa kali. Yas punya temen dan dia seneng ngajakin Yas makan di pinggir jalan. Makanannya enak-enak, tempatnya juga bersih, Om Gibran nggak perlu khawatir." ocehnya yang membuat Gibran hampir menggertakan gigi mendengar bagaaimana gadis cantik itu memanggilnya dengan embel-embel 'Om'.


"Mas Gibran nggak makan?" gadis itu buru-buru bertanya agar Gibran tak memiliki waktu untuk menggubrisnya.


"Makan, saya makan." pria itu menyahut dan melahap nasi goreng miliknya. Tapi fokusnya teralihkan pada Yashinta. Setelah mengenal gadis itu, Gibran merasa hari-harinya kian hidup, terlebih setiap kali bertemu dengan Yashinta. Gibran ingin menyangkal perasaan anehnya, namun ia sudah benar-benar dewasa untuk memahami apa yang dirasakannya.


Perhatian gadis yang tengah makan itu teralihkan saat sekelompok anak-anak mengamen di luar tenda. Gibran melihat saat dengan perlahan Yashinta mengembangkan senyum, perasaan Gibran menghangat, ketika gadis itu mengalihkan perhatian padanya, Gibran lantas bertanya. "Kenapa nggak makan di restoran aja?"


"Hmm," Yashinta tampak berpikir.


Gibran mengangguk samar, melihat sekitar dan mendapati hanya ada mereka berdua di dalam tenda di mana hanya ada lima meja di sana.


"Banyak orang yang lebih milih makan di tempat mewah dengan uang pas-pasan daripada makan di tempat biasa dimana mereka bakalan bikin para pedagangnya senang karena mendapat pelanggan." oceh Yashinta dalam satu kali tarikan napas.


"Kenapa kaya gitu?" kali ini Gibran menyangga dagu dan bersitatap dengan gadis itu.


"Hmm, presentasinya begini, lima puluh persen karena mereka punya uang, sedangkan tiga puluh persennya karena restoran lebih elit."


Gibran mengernyit setelah mendengar penjelasan gadis itu, rasanya ada yang kurang.


"Dua puluh persennnya?"


Kali ini Yashinta nyengir. "Hmmx sedangkan yang dua puluh persennya kaya Yas. Lupa bawa uang, jadinya makan di sini aja daripada di restoran." sahutnya yang membuat Gibran tertawa, sementara Yashinta hanya tersenyum kemudian melanjutkan makannya.


"Tapi serius, Yas selalu kasihan kalau ngeliat tempat para pedagang angkringan sepi."


"Kaya gini misalnya," decaknya dengan wajah ditekuk. "Bapak penjual nasi gorengnya pasti udah pengen pulang." wajah gadis itu tampak murung. Gibran hanya memerhatikan, kemudian tersenyum begitu mendapat ide brilian.


"Kamu mau dagangan Bapaknya cepet abis biar dia bisa cepet pulang?" tanya Gibran tiba-tiba.


"Hmm, gimana?"

__ADS_1


Alih-alih menjawab, Gibran justru bangkit dari duduk dan keluar dari tenda. "Anak-anak." ia memanggil beberapa anak yang tengah mengamen. "Kalian mau makan?" tanyanya, anak-anak itu mengangguk.


"Kalian mau nasi goreng?" mereka kembali mengangguk. "Bagus," decaknya.


"Pak, semua nasi gorengnya bungkus. Kasih ke anak-anak ini."


"Semua Pak?" Bapak penjual nasi goreng tampak tercengang. "Iya. Bisa Bapak bagikan ke orang-orang yang lagi nongkrong juga." sahutnya yang membuat Bapak penjual nasi goreng tampak senang. begitu juga anak-anak yang mengamen.


"Suara kalian tadi bagus." puji Gibran begitu mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribu dan menyerahkannya pada salah satu anak.


Yashinta tidak bisa untuk tidak terpesona atas apa yang Gibran lakukan. Gadis itu berdecak dengan sorot kagum yang terpancar di matanya. "Om Gibran sangat bijak."


"Makasih Pak. Makasih banyak." salah satu dari mereka berbicara dengan raut gembira. Gibran tersenyum. "Bilang makasih ke Kakak yang di sana." pria itu menunjuk Yashinta yang tengah memerhatikan mereka.


Yashinta mengukir senyum lebar, kemudian melambaikan tangan menyapa anak-anak itu. "Terimakasih Kak," mereka berucap berbarengan. Yashinta mengangguk. melemparkan tatapannya pada Gibran yang menatapnya dengan tatapan lembut.


***


"Semua anak yang lahir ke dunia ini membawa rezekinya masing-masing. Tapi nggak semua anak sama cara mendapatkannya." adalah kata pertama yang keluar dari bibir Gibran setelah mereka keluar dari tenda biru dan meliat anak-anak tadi tengah membagikan styrofoam berisi nasi goreng pada kawan-kawannya.


Yashinta mengangguk, Gibran menghadapkan tubuhnya pada gadis itu, membuat Yashinta melakukan hal yang sama sehingga keduanya saling berhadapan.


"Jadi kamu harus bersyukur. Kamu hidup enak, semua kebutuhan dipenuhin sama orang tua." sahutnya pada Yashinta, gadis itu mengangguk-anggukan kepala dengan senyum lebar.


"Siap Bos."


Gibran tersenyum, saat tangan pria itu terulur mengusap puncak kepala Yashinta, Yashinta mematung, menatap Gibran dengan senyum luntur, mendadak ia kaku di hadapan pria itu.


Bahkan, saat perlahan gerimis turun, Yashinta masih hanya mengerjap dengan tatapan lekat pada Gibran yang tengah tersenyum, hingga begitu hujan turun dengan deras, Gibran segera menarik tangannya. Membuat gadis itu bergerak cepat mengikuti Gibran menuju mobil yang diparkir cukup jauh dari warung tenda biru.


Yashinta merasa, langkah kakinya begitu pelan. Ia dan Gibran bagai berlari dengan gerakan slow motion di bawah hujan. "Yashinta," suara Gibran menyadarkannya dan membuat ia bergegas masuk ke dalam mobil ketika pintu mobil sudah Gibran buka.


"Yah, basah." decak Yashinta saat keduanya sudah duduk di dalam mobil. Yashinta melihat keluar jendela, seketika suasana di sana menjadi sepi karena semua orang yang tadi berada di jalanan mencari tempat untuk berteduh.


"Apartement saya deket dari sini. Kalau kita ke apartement saya dulu nggak papa?" tanya Gibran.


"Hah?" Yashinta belum konek.


"Rumah kamu jauh, kita nggak mungkin ke sana basah-basahan. Kita ke apartement saya dulu, gimana?"


"Ah, oh, iya. Boleh Mas." Yashinta tidak punya pilihan lain. Seperti yang sudah Gibran bilang jika jarak dari posisi mereka lebih dekat ke apartement Gibran daripada rumah Yashinta.


Gibran mengangguk, mengambil beberapa lembar tissue dan menyerahkannya pada Yashinta agar gadis itu mengelap wajahnya.


Yashinta tersenyum dengan senyum kecut, aneh saat tiba tiba ia merasa gugup didekat Gibran. "Enggak, ada yang salah pasti sama Yas." ia berucap pelan namun rupanya masih dapat didengar oleh Gibran.


"Ada apa, Masha?"


"Ah, oh. Enggak Mas." ia tersenyum canggung. Gibran menatapnya sedikit lebih lama, saat memastikan jika gadis itu baik-baik saja meski hanya menatap kaku ke depan. Gibran mulai menghidupkan mesin mobil, kemudian mulai melajukan mobilnya dengan perlahan di bawah derasnya guyuran hujan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2