
Waktu menunjukan pukul setengah sepuluh malam ketika Yashinta mengantarkan Arumi dan Sean, juga Vito dan Gibran sampai ke teras saat mereka akan pulang usai acara ulang tahun sederhana Yashinta selesai digelar.
Sementara Ranti menginap, semula Sean akan mengantarkannya pulang. Tetapi gadis itu bilang, dia akan menemani Yashinta.
"Ranti yang tadi itu yang nyari Yashinta sama kamu waktu itu, ya?" tanya Arumi pada putranya saat mereka sudah berada di dalam mobil dan mobil meninggalkan pelataran rumah Yashinta.
Sean yang sedang fokus menyetir hanya menganggukan kepala atas pertanyaan sang mama.
"Mama lihat anaknya baik." Arumi sempat mengobrol basa-basi dengan Ranti beberapa saat lalu.
"Mama nggak tahu aja, dia galak. Apalagi sama Kafka," adu Sean sembari fokus ke jalanan. Kemudian ia menatap mamanya sebentar. "Dia bakalan jadi orang pertama yang hajar Kafka kalau Kafka macem-macem sama Yashinta." sambungnya yang justru membuat Arumi tertawa.
"Kok Mama malah ketawa?" Sean juga tidak bisa menahan senyum saat bertanya.
"Ya bagus dong kalau dia kaya gitu. Berarti dia emang baik sama Yashinta." sahut Arumi, Sean mengangguk-anggukan kepala, membenarkan apa yang sang mama katakan.
Ranti memang baik terhadap Yashinta. Bahkan begitu baik sampai begitu lapang dada ketika pria yang disuakinya dekat dengan Yashinta.
****
Saat itu Kafka tengah berada di rumah dan tengah menikmati makan malam saat ia melihat postingan instagran Sean dimana pria itu tengah merayakan ulang tahun Yashinta.
Yashinta?
Kafka membulatkan mata tidak percaya. Ia tidak mengingat jika hari ini adalah hari ulang tahun gadis itu.
Jari tangan Kafka melihat slide demi slide dari sepuluh foto yang diungganh Sean. Ia berdecih mendapati Gibran ada di sana, Kafka menzoom bagian foto saat Gibran tengah tersenyum tipis pada Yashinta setelah sebelumnya menyerahkan sebuah kotak berwarna hitam.
"Gue pacarnya nggak diundang?" Kafka bertanya bagai pada dirinya sendiri. Tampak sangat kesal, terlebih saat ia mencoba menghubungi nomor Yashinta dan gadis itu mengabaikannya.
"Ka, mau kemana?" Bunda yang muncul dari arah ruang utama bertanya, ia sudah makan lebih dulu karena Kafka baru saja pulang dan melewatkan makan malam bersama dengannya.
"Mau keluar dulu Bun." pamit Kafka, menenggak segelas air putih, bangkit, menyambar jaket jeansnya dan berlalu pergi, Bunda hanya menggelengkan kepala, kemudian berdecak. "Itu anak, baru aja pulang. Udah pergi lagi aja."
****
Yashinta sedang bersama Ranti duduk di kursi balkon kamar setelah mandi, merapikan diri dan mengganti pakaiannya dengan piama saat ia melihat sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumahnya. Yashinta sangat mengenali mobil tersebut. Kafka.
Sehingga ia meraih ponsel begitu benda pipih itu berdering. Telepon dari sang pacar. Yashinta menatap mobil Kafka dimana pria itu keluar dari pintu kemudi dan menatap ke arahnya.
Ranti yang berada di sana dan tumpang kaki hanya melihat sebentar, ia memilih mengangkat bahu dan acuh tak acuh.
"Kafka mau ngapain?" tanya Yashinta pada pria itu.
"Di rumah loe ada party party kok gue nggak diajak?"
"Itu–cuma acara keluarga aja kok."
"Sejak kapan Gibran jadi anggota keluarga loe?"
"Mas Gibran datang disuruh Papa."
Sesaat dua orang itu hanya saling terdiam, "loe turun. Gue mau ketemu." sahut Kafka kemudian.
"Yas nggak bisa."
"Kenapa?"
"Yas ngantuk. Kafka mending pulang aja."
Kafka di bawah sana merasa cukup terkejut dengan respond Yashinta. Gadis itu tampak berbeda. Padahal biasanya sangat excited saat ia menelpon apalagi sampai datang ke rumahnya.
Tapi kali ini Yashinta tampak biasa. Seolah ia bukan apa-apa lagi untuknya.
__ADS_1
"Kafka pulang aja, Yas nggak enak badan." sahut gadis itu lagi, Kafka tersenyum kecut.
"Loe ngantuk atau nggak enak badan?"
"Yas nggak mau ketemu sama Kafka. Kafka pulang aja sana!" gadis itu memutus sambungan secara sepihak. Respond yang membuat Ranti mendecak takjub menyaksikannya. Seorang Yashinta Wiraguna, mengabaikan Kafka? Sepertinya seantero SMA Firgo harus tahu hal ini.
Ranti bertepuk tangan, menatap Yashinta dengan tatapan terpukau. Ia bahkan bangkit dari duduk untuk menilik raut wajah gadis itu.
"Yashinta, loe bener-bener serius ngomong kaya gitu ke Kafka?" tanyanya, tak percaya. Yashinta tak menyahut, menampilkan wajah murung dan menatap Kafka di bawah sana yang bersandar pada body mobil.
Ranti menghela napas. Ia tahu saat ini bukan waktu yang tepat untuk bermain-main ketika perasaan Yashinta menjadi perkara yang dipertaruhkan.
Gadis itu ikut menumpu tangannya pada pembatas balkon dan menatap objek yang sama dengan Yashinta.
"Wajar aja kalo loe gitu ke Kafka. Malah gue bakalan heran kalau seandainya loe masih bersikap manis setelah apa yang Kafka lakuin." ucap gadis itu yang membuat Yashinta mendesah pasrah.
"Kafka bahkan lupa buat ngucapin selamaf ulang tahun buat Yas."
Di bawah sana, Kafka yang kedatangannya ditolak mentah-mentah oleh gadis itu diam sebentar, bersandar pada body mobilnya dan merasa marah sendiri. Sehingga ia memilih masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin mobil.
Sebelum melajukan mobilnya, Kafka lebih dulu menatap sesuatu di kursi penumpang. Sebuah kotak dengan bungkus kado berwarna biru. Hadih ulang tahun untuk Yashinta yang ia beli secara mendadak tadi.
Kado tersebut berisi jam tangan pasangan. Kafka hanya ingin memberi gadis itu kenang-kenangan ..., sebelum mereka putus.
"Selamat ulang tahun Yashinta."
****
Dua hari Yashinta tidak masuk sekolah dengan alasan sakit, dihari ketiga, ia masuk sekolah dan menggemparkan jagat Firgo ketika mobil sport berwarna merahnya melintasi parkiran sekolah. Gadis itu datang bersama dengan Ranti.
Dua gadis itu tampak terlihat girang begitu turun dari mobil setelah bersenang-senang sepanjang perjalanan. Melangkah bergandengan menuju kelas dan mengabaikan atensi semua siswa yang tertuju pada mereka.
"Gilak, Yashinta." mereka berdecak takjub. Anak manja yang biasa diantar sopir hari ini membawa mobil. Cukup membuat semua orang terkejut.
"Hebat loe." Ranti berdecak.
Aris berdecak takjub, mendekat pada mobil Yashinta yang mengkilap. Sementara Kafka berdecih melihat tatapan anak-anak pada Yashinta. Ia juga merasa kesal pada gadis itu karena Yashinta mengabaikannya tadi, juga tidak pernah menghubunginya setelah hari dimana Kafka datang dihari ulang tahunnya.
Anehnya, Kafka merasa begitu hampa saat tidak ada kabar dari Yashinta. Padahal tiada hari bagi gadis itu tanpa mengganggunya dengan teror chat ataupun telepon dan Kafka biasa mengabaikannya, atau memarahi gadis itu jika benar-benar mengganggu.
Tapi beberapa hari ini, Yashinta bagai kehilangan arah untuk menghubunginya. Bahkan gadis itu menolak bertemu saat Kafka datang ke rumahnya untuk menjenguk ketika Yashinta tidak masuk sekolah karena sakit.
"Gilak, cewek loe cakep banget Ka." anak-anak lain berdecak ketika melewati Kafka. Sementara tatapan pria itu masih lekat menatap punggung Yashinta yang kian menjauh, kemudian hilang dari pandangannya.
***
Yashinta tengah tertawa-tawa dengan Ranti menapakai anak tangga menunju lantai dua saat mereka berpapasan dengan Saras yang berjalan turun. Gadis itu membawa sebuah buku di tangannya. Yashinta menatap gadis itu kaku, jika biasanya ia menyapa Saras dengan riang gembira, maka kali ini Yashinta lebih memilih mengalihkan perhatian pada Ranti tanpa menyapa Saras.
Ranti segera menggandeng Yashinta dan melanjutkan langkah mereka, membuat Saras tersenyum kaku karena Yashinta tampak mengabaikannya.
Saras berbalik, menatap punggung Yashinta yang asik mengobrol dengan Ranti. Saras cukup heran, tidak seperti biasanya Yashinta bersikap seperti itu padanya. Padahal sebelumnya Ranti juga berteman dengannya.
Saras melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dengan masih bertanya-tanya. Apakah Yashinta masih marah perkara jaket Kafka yang dipakainya saat di puncak?
Keanehan tersebut masih terjadi hingga keesokan harinya. Yashinta tampak berbeda di mata Kafka, ia terlihat akrab dengan Aris dan Sean tetapi mengabaikannya dan seolah tidak perduli dengan kehadirannya. Tentu saja membuat Kafka merasa terganggu dengan hal itu.
Sehingga ia memutuskan untuk menunggu Yashinta sepulang gadis itu dari tempat les piano agar bisa berbicara dengan Yashinta.
"Loe kenapa, sih?" Kafka merasa kesal saat gadis itu melewatinya begitu saja begitu keluar dari tempat les. Yashinta terus berjalan menghindari Kafka. Setengah kesal Kafka mengikuti langkah kaki Yashinta yang berjalan menuju halte untuk menunggu jemputan karena gadis itu tidak membawa mobilnya.
"Gue ke sini jemput loe." ujar Kafka. Kali ini meraih pergelangan tangan gadis itu dan membuat langkah kakinya terhenti.
"Ada apa, sih, Yashinta? Kenapa beberapa hari ini loe aneh, asing, nggak pernah ngehubungin gue, nggak pernah mau ketemu gue. Kalo ada masalah loe cerita." panjang lebar Kafka sedangkan gadis itu hanya menundukan pandangannya.
__ADS_1
"Bukannya itu yang Kafka mau? Yas harus nurut sama Kafka, 'kan? Yaudah Yas nurut." ujar gadis itu yang justru membuat Kafka mengerutkan kening, tidak mengerti.
"Maksud loe apa, sih?"
"Kafka nggak suka kalau Yas selalu ganggu Kafka dengan ngirim banyak chat atau nelponin Kafka. Jadi yaudah, Yas berenti lakuin itu. Kalo Kafka emang nggak suka Yas bersikap kekanak-kanakan Yas coba mau belajar dewasa sekarang." panjang kebar Yashinta yang membuat Kafka kian tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya.
"Loe nyari masalah sama gue Yashinta?" Kafka bertanya dengan tatapan putus asa. Sementara Yashinta menunduk, tampak mengambil napas kemudian mengembuskannya dan menatap Kafka seraya melepas cekalan tangan pria itu, lantas berbicara. "Yas mau putus Kafka."
Kafka diam mematung. Ia dibuat kian bungung. "Yas nggak bisa pertahanin hubungan yang emang udah nggak bisa dipertahanin." mati-matian Yashinta menahan air matanya namun krystal bening itu tetap terjatuh dari matanya. Menganak sungai di pipi mulusnya.
"Gue udah bilang loe nggak bisa minta putus seenaknya."
"Yas cape Kafka!"
"Kafka pikir jadi Yas enak? Punya pacar yang nggak pernah perduli sama sekali sama pacarnya."
"Ya loe ngertiin gue lah Yas–"
"Kenapa selalu Yas yang harus ngertiin Kafka? Kenapa Kafka nggak pernah bisa ngertiin Yas?"
"Kafka sadar nggak, sih, kalo selama ini Kafka sering berbuat seenaknya sama Yas? Kafka pikir karena Yas cinta sama Kafka jadi Yas nggak pernah terluka?" maki gadis itu, meluapkan amarahnya.
"Sakit Kafka. Sakit." Yashinta memukuli dadanya, membuat Kafka berusaha menahan tangan gadis itu agar tidak menyakiti dirinya sendiri.
"Dada Yas sering sesek kalo Kafka ngebentak Yas, kalo Kafka larang-larang Yas buat nelpon Kafka. Yas suka sedih kalo Kafka ngelarang Yas buat ikut sama Kafka."
"Yas kaya bukan pacar Kafka."
"Kafka sadar, nggak, sih kalo selama ini Kafka jahat sama Yas?"
Kafka hanya diam, menatap gadis itu yang menangis di hadapannya. Mencerna setiap kata yang gadis itu keluarkan untuknya. "Selama ini Yas sabar, tapi sabarnya Yas juga bisa abis, Kafka." gadis itu memukuli dada Kafka kali ini dan berakhir dengan isak tangis yang kian menjadi.
Kafka hanya membiarkannya, sepenuhnya apa yang Yashinta katakan padanya memanglah benar dan ia tak bisa melakukan pembelaan.
"Kafka tahu, segimana cintanya Yas sama Kafka?" tanya gadis itu, kemudian menjawab pertanyaannya sendiri. "Tapi bukan berarti cinta itu nggak akan memudar Kafka."
Ia menyeka air matanya dan menelan saliva. Menguatkan diri untuk kembali berbicara. "Yas mau putus."
Kafka berdecih, gadis itu tampak meremehkannya seolah ia takut diputuskan. Bukankah bagus jika Yashinta memutuskannya saat besok masa perjanjiannya dengan Saras berakhir. Jadi ia tidak perlu repot-repot memikirkan cara untuk memutuskan gadis itu.
Kafka smirk, "terserah! Kalo mau putus ya putus aja!"
"Lagian gue juga udah cape pacaran sama loe." ucap Kafka dengan entengnya.
Demi Tuhan, hati Yashinta kembali remuk saat mendengar perkataan pria itu. Seharusnya sedari dulu Yashinta sadar jika Kafka adalah pria yang jahat.
"Yang penting gue udah dapet ciuman pertama loe." sambung pria itu dengan senyum liciknya. Ia kira Yashinta akan panik, namun gadis itu juga balas smirk. "Bukan." ujarnya kemudian yang membuat Kafka terkejut.
"Bukan Kafka yang dapet ciuman pertama Yas,"
"Tapi Mas Gibran."
Raut wajah Kafka kian terkejut saat mendengarnya namun pria itu tampak menutupi hal tersebut.
Saat air mata Yashinta kembali tumpah, gadis itu segera menyekanya dengan punggung tangan. "Yas nggak ngerti, kenapa Yas bisa suka sama cowok sebrengsek Kafka!"
"Kalo Kafka pengen tahu alesan kenapa Yas pulang dari acara kemah tengah malam–itu karena Yas ngeliat Kafka sama Saras ciuman." pada akhirnya Yashinta memberi tahukan hal tersebut pada Kafka.
"Tapi Kafka nggak perlu khawatir, kita impas. Yas minta Mas Gibran buat jemput Yas, Yas nginep di apartement Mas Gibran." Yashinta menjeda kalimatnya sesaat.
"Kita impas karena Yas juga ciuman sama Mas Gibran." Kafka mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Ada perasaan asing menelusup relung hatinya–sebagaimana saat Yashinta dekat dengan laki-laki manapun. Sementara Yashinta menyiapkan diri untuk mengatakan kalimat selanjutnya.
"Kita udah berakhir. Mulai sekarang, Kafka nggak perlu temuin Yas lagi."
__ADS_1
TBC
Bagaimana hari ini, sudah dapat THR? Kalo aku belum:"( tapi tetep kiyowo😂❤❤