
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Andri sesekali menatap Yashinta. Sedangkan yang ditatap hanya diam dengan tenang dan sesekali tersenyum. Andri menatap putrinya iba, sekalipun tadi Arumi mengatakan jika putus adalah hal biasa bagi hubungan antara remaja, tetap saja Andri tidak dapat merasa tenang.
Ia takut jika diam-diam Yashinta menangis dan merasa tak memiliki sandaran karena dirinya yang hanya sibuk bekerja. Andri akan sangat merasa bersalah jika hal itu terjadi, ia seolah menjadi ayah yang tidak berguna bagi Yashinta.
"Sayang" Andri menegur dengan suara lembut, Yashinta spontan menoleh dengan mata membulat.
"Kamu yakin nggak apa-apa?" Andri bertanya tak kalah lembut, sadar jika sang papa masih membahas mengenai hubungannya dengan Kafka yang kandas, Yashinta hanya bisa mengembuskan napasnya.
"Yas nggak apa-apa, Papa. Papa nggak perlu khawatir. Yas baik-baik aja." gadis itu bahkan menunjukan senyum terbaiknya agar sang papa percaya dan tidak perlu mengkhawatirkannya.
"Kalau begitu kenapa kamu sama Kafka putus? Papa liat selama ini kalian baik-baik aja."
Yashinta meraih tangan sang papa dan menggenggamnya. "Papa cuma liat dari luarnya doang."
"Jadi–"
"Kita baik-baik aja, cuma mungkin ada banyak nggak cocoknya."
Yashinta terdiam setelahnya, apa yang dikatakannya tidaklah bohong, ia jujur jika memang ada banyak ketidakcocokan antara dirinya dan Kafka, atau mungkin lebih tepatnya Kafka yang tidak merasa cocok dengannya.
"Kafka nyakitin kamu?" tanya Andri, sesaat Yashinta hanya terdiam seperti beberapa saat lalu dan menatap Andri, kemudian ia mengukir senyum lembut yang tampak begitu tulus.
Setelah beberapa saat, ia menggelengkan kepalanya. "Kafka baik, dia sayang sama Yas. Kafka tulus, tapi kita emang nggak bisa bersama, Papa."
Bagaimanapun perlakuan Kafka padanya, Yashinta merasa Andri tidak perlu mengetahuinya.
****
Gibran sudah dengan piama berwarna hitamnya, sekaleng minuman dingin dengan penutup yang sudah terbuka berada di samping ponsel di atas meja samping tempat tidurnya.
Pria itu tampak begitu segar setelah mandi dan membersihkan diri, bahkan rambutnya yang hanya dikeringkan oleh handuk tampak masih basah, rambut hitam legam itu jatuh menutupi dahinya.
Tak lama ia mengambil ponsel dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya meraih kaleng minuman, langkahnya membawa ia ke pintu balkon apartement yang terbuka. Gibran bersandar pada pembatas balkon ketika ia menempelkan benda pipih itu ke telinga.
Pria itu melegut minuman kalengnya saat terdengar nada sambung, sampai senyum terbit di bibirnya begitu panggilan itu terhubung.
"Hallo Mas Gibran." bahkan suara singkat gadis itu berhasil membuat mood Gibran naik seketika.
"Hay Masha. Sudah mandi?"
"Udah, ini baru beres ganti baju. Tadinya Yas mau nelpon Mas Gibran, eh keduluan."
"Kayaknya kita jodoh."
"Kok bisa?" gadis bertanya dengan nada bercanda.
"Dari tadi saya sudah kangen dan pengen nelpon kamu, ternyata kamu juga berniat nelpon saya."
Terdengar gadis itu hanya tertawa meladeni gombalan Gibran, Gibran hanya tersenyum. Ada jeda cukup lama di antara keduanya bahkan hingga Gibran menghabiskan minuman kalengnya.
Pria itu meremas kaleng di tangannya hingga tak berbentuk, kemudian melemparnya pada sebuah tong sampah dekat meja di balkon tersebut. Yashinta di ujung sana juga hanya diam, hingga membuat Gibran penasaran mengenai apa yang tengah gadis itu lakukan sekarang.
"Mas Gibran."
"Hmm?"
__ADS_1
"Maaf, yah." suara gadis itu terdengar sendu. Tidak seceria sebelumnya.
"Kenapa tiba-tiba minta maaf?"
"Kamu minta maaf buat apa?"
"Yas minta maaf karena belum bisa terus terang sama Papa kalau kita pacaran."
"Yas belum bisa bilang ke Papa kalau Mas Gibran pacarnya Yas."
"Yas secepetnya bakal bilang Papa, tapi nunggu waktu yang tepat dulu." panjang lebarnya dengan nada yang tampak meyakinkan Gibran.
"Kenapa harus nunggu waktu yang tepat?" Gibran tahu pasti alasan gadis itu, ia mengerti. Hanya saja, ia ingin mendengar jawaban seperti apa yang akan Yashinta katakan.
"Masih terlalu awal buat Yas ngasih tahu Papa kalau Yas pacaran sama abangnya Kafka nggak lama setelah Yas putus dari Kafka." terangnya, Gibran hanya tersenyum tipis mendengar jawaban gadis itu.
Pria itu tidak merespond apapun, sehingga hening terjadi selama beberapa menit.
"Mas,"
"Apa Sayang?"
Ada jeda cukup lama setelah itu, Gibran tersenyum penuh arti dan ia dapat menebak reaksi gadis itu di ujung sana. Tebakan Gibran benar, Yashinta tengah tersenyum-senyum dan tampak salah tingkah sendiri, ia juga terkejut mendengar respond tidak terduga Gibran.
Seperti sekitar dua jam yang lalu, pipinya memanas dan Yashinta merasa sesak napas.
"Kok diem?" tanya Gibran saat gadis itu tak kunjung bersuara.
"Kok tumben."
"Pengen denger lagi dong Mas Gibran panggil Yas 'Sayang'. Ini pertama kalinya loh." nada ceria Yashinta sepertinya sudah kembali, hal itu membuat Gibran merasa jauh lebih baik.
"Kamu seneng?"
"Iya. Yas pengen denger lagi."
"Sayang,"
Semula hening, "sayang."
"Sayang."
Setelah itu Gibran mendengar suara tawa yang cukup kencang di ujung sana bahkan hingga membuatnya menggelengkan kepala.
"Pipi Yas panas Mas Gibran."
"Kamu pasti cantik."
"Kenapa?"
"Soalnya pipinya pasti merah."
"Masa?"
"Hmm."
__ADS_1
Kemudian hening kembali terjadi setelah itu.
"Mas Gibran,"
"Makasih, yah."
Gibran tak merespond, hanya diam dan menunggu gadis itu meneruskan.
"Makasih udah sayang sama Yas." Gibran mendengar ada sendu di nada bicara gadis itu. Gibran menebak jika mata Yashinta tengah berkaca-kaca saat ini.
"Makasih, yah, Mas Gibran. Yas ngerasa bahagia sama Mas Gibran."
"Yas beruntung ketemu Mas Gibran."
Lama Gibran diam, kemudian ia tersenyum dan buka suara. "Bagus kalau gitu, saya memang berencana bikin kamu bahagia."
"Yashinta, kalau suatu saat nanti, di masa depan, seandainya saya nggak sengaja nyakitin kamu. Kamu harus ingetin saya kalau saya udah janji nggak akan nyakitin kamu."
"Saya nggak akan buat kamu nangis."
"Ingetin saya kalau tujuan saya cuma bikin kamu bahagia."
****
Yashinta hanya diam dengan posisi terlentang di atas tempat tidurnya. Selimut sudah menutupi tubuh dan semua lampu di kamarnya sudah ia matikan.
Ia belum kunjung tidur setelah memutus sambungan teleponnya dengan Gibran. Karena saat ia memejamkan mata, bayangan-bayangan menyakitkan tentang Kafka melintasi kepalanya.
Sikap Gibran dengan Kafka saat memperlakukannya jelas saja berbeda, bahkan sangat kontras dimana Gibran memperlakukannya dengan sangat baik, sangat berbeda jauh dengan bagaimana Kafka memperlakukannya.
Gadis itu berusaha menepis hal tersebut, jika ia terus menerus membandingkan dua orang itu, maka semua tidak akan ada habisnya. Yashinta hanya akan merasa lelah dengan dirinya sendiri.
Gadis itu merubah posisinya, miring ke kanan. Ia menyentuh dadanya yang berdebar saat memikirkan Gibran. Sedikitpun Yashinta tidak pernah menyangka, jika ia akan jatuh cinta pada pria selain Kafka. Rasanya ajaib mengingat dulu hal itu rasanya adalah sebuah ketidakmungkinan.
Gadis itu meraih ponsel, kemudian membuka jendela obrolannya dengan Gibran, waktu menunjukan pukul sebelas malam saat itu. Ia menebak-nebak apakah Gibran sudah tidur atau belum.
Mas Gibran
Udah tidur, yah?
Yashinta menaruh ponsel di dada setelah mengirimkan dua pesan pada Gibran, lama ia menunggu tapi tak kunjung ada balasan.
"Apa Mas Gibran udah tidur, yah?" ia bergumam sendiri sembari menatap layar ponselnya.
"Harusnya Yas udah tidur, tapi Mas Gibran menuhin isi kepala Yas terus." gadis itu protes entah pada siapa.
Ia mencoba peruntungannya dan berusaha tidur dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, namun justru berakhir sia-sia karena ia merasa pengap dan kepanasan.
Berulang kali gadis itu merubah posisinya tapi kantuk tidak kunjung menyerangnya, sepertinya malam ini Yashinta benar-benar dipaksa untuk bergadang.
Gadis itu bangkit, mengambil laptopnya dan menonton K-drama secara random.
"Kalau besok Yas sampe kesiangan, itu salah Mas Gibran. Titik."
TBC
__ADS_1