Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Sebenarnya Terbalas


__ADS_3

Beberapa saat setelah memutus sambungan telepon dengan Yashinta, Gibran hanya diam di tempatnya di kantor perusahaan. Sejujurnya pagi tadi ia mendapat pesan teks dari Saras yang berpamitan padanya jika gadis itu berangkat hari ini dan meminta Gibran menyampaikan maafnya sekali lagi pada Yashinta


Namun Gibran memang belum sempat menghubungi sang pacar.


Pria itu mengangkat pandangannya ketika Intan masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu.


"Intan, saya ada urusan di luar. Saya boleh minta tolong buat handle pertemuan kita sama perusahaan Royal?" sahut Gibran seraya bangkit dari posisinya.


"Bisa Pak, tapi–"


"Saya buru-buru." Gibran memohon dengan sangat pada sang skretaris yang pada akhirnya membuat wanita itu mengangguk dan membiarkan sang atasan berlalu pergi.


Gibran tampak berjalan terburu-buru seraya mengenakan jasnya, ia tahu jika dirinya berpacu dengan waktu dan harus cepat atau ia akan terlambat. Hingga tanpa sengaja ia bersenggolan dengan seseorang.


"Maaf, maaf." Gibran dan wanita itu berucap bersamaan.


"Tidak papa, saya yang salah." wanita itu menyahur setelahnya saat Gibran tampak merasa bersalah. Ia sadar jika dirinya yang tak memerhatikan jalanan.


Dua orang yang bersama dengan wanita itu memastikan keadaan sang atasan.


"Maaf, saya buru-buru jadi saya tidak lihat." Gibran meminta maaf sekali lagi, wanita itu mengangguk penuh pengertian.


"Kalau begitu saya duluan." pamit Gibran yang kemudian berlalu melanjutkan langkahnya. Wanita itu hanya mengangguk samar dan menatap kepergian Gibran hingga keluar dari pintu kaca perusahaan.


"Ibu Kanza."


Wanita yang dipanggil Kanza itu menoleh pada sang skretaris dan asistennya tersebut.


"Ibu tidak apa-apa?"


"Saya baik-baik saja, tidak masalah."


"Kalau begitu mari," sang skretaris menunjukan jalan. Wanita itu sesaat menatap pintu keluar, kemudian mengikuti langkah sang skretaris menuju ruang rapat perusahaan Gibran.


****


"Ibu Kanza?"


Intan yang baru saja masuk ke ruang rapat menyapa klien perusahaan mereka.


"Iya, saya." Kanza yang semula duduk dan memerhatikan seisi ruangan lantas bangkit dan tersenyum manis menyambut kedatangan mitra kerjanya.


"Silakan duduk," Intan mempersilakan, Kanza dan skretaris yang mendampinginya lantas duduk begitu juga dengan Intan.

__ADS_1


"Saya sudah dengar jika Ibu Kanza Presiden Direktur baru perusahaan Royal. Hari ini kita akan menandatangani perpanjangan kontrak kerja sama."


"Tapi sebelumnya, saya ingin memperkenalkna diri. Saya Intan, skretaris Pak Gibran, Presiden Direktur."


Kanza mengerutkan keningnya, kemudian bertanya. "Di mana Pak Gibran?"


"Beliau keluar karena ada urusan."


"Jadi dia tidak akan datang?"


Dengan berat hati Intan menganggukan kepala, membuat Kanza tampak merasa keberatan. Wanita itu menyandarkan punggung ke belakang dan menautkan jari-jemari tangannya.


"Saya akan tandatangani perpanjangan kontrak kerja sama kalau Pak Gibran ada di sini."


****


"Gimana kalau Saras udah pergi?"


"Ginana kalau Yas nggak sempet ketemu buat bilang Yas udah maafin Saras." Yashinta tampak cemas sepanjang perjalanan, Gibran hanya bisa diam, menyetir dengan cepat tetapi tetap berhati-hati. Bagaimanapun, ia tidak bisa membahayakan nyawanya dan Yashinta.


"Yas nggak mau ngerasa bersalah seumur hidup sama Saras nantinya."


"Kamu tenang, Yashinta. Percaya sama saya, Saras masih di Indo. Kamu nggak perlu khawatir." Gibran meraih tangan gadis itu dan berusaha meyakinkan Yashinta agar Yashinta tenang. Agar fokus Gibran yang sedang mengemudi juga tak terpecahkan.


Keduanya segera turun dari mobil begitu tiba di Bandara, dengan cepat tanpa memedulikan Gibran, gadis itu menembus kerumunan bahkan tak memikirkan dirinya sendiri hingga ia nyaris tertabrak oleh seseorang yang sama buru-burunya dengannya andai Gibran tak segera datang.


Yashinta yang nyarus jatuh menoleh pada Gibran saat pria itu berhasil menahan pinggangnya. "Hati-hati, saya nggak mau kamu kenapa-napa." sahut Gibran, menggenggam tangan gadis itu kemudian ia yang memimpin jalan dan menuntun Yashinta.


Gibran mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, setelah beberapa waktu mencari keberadaan Saras namun Gibran tak dapat menemukannya, ia nyaris putus asa, tapi melihat tatapan Yashinta padanya yang penuh harap, Gibran tidak bisa menyerah begitu saja meski ia sudah sangat kelelahan, dan ia yakin Yashinta tak kalah lelah karena mengikuti langkah lebarnya.


Gibran menghentikan langkah, mengatur napasnya yang berantakan tetapi matanya tetap memindai segala sisi. Hingga kemudian bibirnya membentuk sebuah senyum saat melihat sosok Saras bersama dengan sang mama dan juga Kafka.


"Ketemu." decaknya yang membuat Yashinta mengikuti objek pandangan pria itu.


****


Beberpa Waktu Sebelumnya


"Kamu nggak sekolah?" adalah pertanyaan Bunda ketika Kafka menuruni anak tangga dengan pakaian biasa. Bukan seragam sekolah sebagaimana mestinya.


"Saras berangkat hari ini." Kafka menyahut singkat. Bunda hanya mengangguk mengerti, beberapa hari yang lalu gadis itu datang dan pamit padanya jika ia akan pindah ke luar negeri. Sangat disayangkan, padahal Bunda kenal baik dengan Saras, rasanya cukup berat membiarkan Saras pergi, namun sayang nasib gadis itu begitu malang.


Bunda tentu saja turut prihatin atas apa yang menimpa Saras, sekarang bahkan ia harus meninggalkan tanah kelahirannya.

__ADS_1


"Kamu mau nganterin dia ke bandara?" Bunda bertanya lagi seraya menyendokan nasi untuk sarapan putra bungsunya itu.


"Hmm." pria itu menyahut dengan gumaman.


"Udah izin ke guru?"


"Udah. Bunda tenang aja."


"Yasudah, sarapan yang banyak. Biar nggak masuk angin." sahut Bunda, menyodorkan beberapa lauk kesukaan Kafka.


Usai makan, Kafka menjemput Saras ke rumah mamanya untuk mengantarkan mereka ke Bandara. Kafka sudah berjanji akan mengantarkan Saras terlepas dari bagaimana hubungannya dengan gadis itu yang kandas beberapa waktu setelah mereka sepakat untuk bersama.


"Makasih, yah, Kafka. Tante jadi nggak enak ngerepotin." ucap mama Saras ketika mereka tiba di Bandara.


"Nggak papa, Tan." Kafka menyahut dengan senyum tulusnya. Saras yang berjalan di sampingnya juga ikut tersenyum. Terlepas dari bagaimana hubungannya dengan Kafka yang berakhir dengan begitu saja, pesona Kafka masih sama, bahkan kebaikan pria itu masih ada hingga kini, Kafka tetap sama seperti kali pertama Saras mengenalnya.


"Gue nggak tau harus gimana lagi bilang maaf dan makasih sama loe, Ka." sahut Saras begitu mereka tiba di boarding lounge.


"Loe nggak perlu sungkan. Yang lalu biarin aja."


"Loe bilang mau buka lembaran baru." Kafka tampak lapang dada dengan semuanya.


"Artinya loe harus lupain semuanya." Saran pria itu.


"Gue nggak mungkin lupain semua tentang loe Ka." Saras menyahut bercanda, tapi juga serius karena Kafka termasuk dalam bagian terpenting hidupnya.


"Lupain bagian pahitnya aja." Kafka memberi saran yang disambut tawa oleh keduanya. Setelahnya, keduanya hanya terdiam, hingga Saras menatap Kafka dan bertanya. "Loe udah minta maaf sama Yashinta?" tanya gadis itu meski ragu.


"Kalau loe masih keras kepala nggak mau minta maaf sama Yashinta dan nutup mata, loe yakin bakalan bahagia?" panjang lebar Saras tetapi Kafka hanya tampak tersenyum mendengarnya.


"Sekarang dia jadi ipar loe. loe nggak cemburu?" kali ini Saras melayangkan candaannya. Kafka terkekeh tapi tak merespond apapun. Cukup lama hingga kemudian pria itu buka suara.


"Gue cuma takut, kalau gue minta maaf, gue bakal ngungkapin perasaan gue ke dia."


"Jadi mau sampai kapan loe tutupin perasaan loe ke Yashinta?"


Kafka hanya mengangkat bahu acuh, kemudian kembali bicara. "Yashinta gak perlu tahu gue ngerasa bersalah, Yashinta nggak perlu tau gue nyesel. Dia cuma harus tahu kalau gue ini cowok berengsek, Yashinta cukup tahu kalau gue ini emang bajingan dan nggak pantes buat dia." panjang lebar Kafka dengan senyum hambar di wajahnya.


Saras justru tersenyum tulus dengan tatapan lekat pada Kafka.


"Mungkin seharusnya Yashinta tahu, kalau perasaannya itu terbalas."


TBC

__ADS_1


__ADS_2