Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Harus Sejajar


__ADS_3

Kafka sangat tahu jika Saras begitu gugup saat mereka sudah sampai di rumah gadis itu. Terlihat Saras beberapa kali mengembuskan napas sejak mobil memasuki gerbang hingga kaki keduanya melangkah sampai di teras. Saras kian gugup melihat mobil sang papa yang sudah ada di garasi.


Kafka meraih tangan gadis itu bersamaan dengan pintu kokoh bercat putih yang terbuka. Menampilkan papa saras dengan wajah marah karena putrinya pulang malam setelah seharian menghilang dan mengabaikan panggilannya sampai tidak bisa dihubungi sama sekali.


"Kamu yang membawa anak saya pergi keluar?" Papa Saras tampak marah pada Kafka.


Saras panik, takut sang papa melakukan hal macam-macam pada pemuda itu. Ia kian panik saat melihat Kafka menganggukan kepala demi membela dirinya.


"Pah, Saras pergi sendiri dari rumah. Saras nggak sengaja ketemu sama Kafka di jalan." gadis itu meluruskan, tak ingin Kafka terkena imbas karena sudah menolongnya.


"Siapa nama kamu tadi?" tanyanya pada Kafka, mengabaikan apa yang putrinya katakan.


"Kafka."


"Papa," Saras memanggil sang papa dengan raut khawatir, ia melepaskan genggaman tangan Kafka.


"Masuk!" tatapan matanya tajam menatap Saras, yang membuat Saras tak bisa melakukan apapun kecuali hanya mengangguk, menuruti apa yang papanya perintahkan dan masuk ke dalam rumah dengan sorot mata yang mencemaskan Kafka. Tetapi pria itu mengangguk samar padanya, meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.


Sepeninggalan Saras, hanya ada mereka berdua di teras rumah. Papa Saras tampak memerhatikan Kafka sedangkan pemuda itu diam saja dengan pandangan lurus.


"Jangan pernah berhubungan lagi dengan anak saya!"


"Asalkan Om tidak lagi melakukam kekerasan fisik pada Saras."


Mata Papa Saras membulat. Tampak kesal dengan apa yang Kafka katakan. Memang dia siapa ikut campur masalah keluarganya?


"Kamu tidak berhak ikut campur!"


"Saya berhak ikut campur karena saya mencintai Saras!" Kafka menegaskan tanpa sedikitpun keraguan. Papa Saras tampak sesaat mematung hingga kemudian ia berkacak pinggang di hadapan Kafka.


"Jangan macam-macam. Lebih baik kamu belajar, kalian masih terlalu muda untuk berbicara tentang cinta!"


"Saya tidak akan membiarkan Saras masuk sekolah beberapa hari ke depan. Jangan mencoba mengganggu dengan menghubunginya!"


****


Beberapa hari ini. Yashinta tidak bertemu dengan Kafka baik di sekolah maupun di luar sekolah. Pria itu seolah sengaja menghindarinya dan membuat Yashinta tidak bisa berbuat apa-apa. Ia justru malah lebih sering berkirim pesan dengan Gibran meski hanya obrolan random yang terjadi di antara mereka.


Seperti pagi ini misalnya saat Yashinta berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju sekolah dan ponselnya berdenting, menandakan jika ada pesan masuk.


Malaikat


🥛

__ADS_1


Salah kirim bukan? Yashinta mengetikan balasan.


Malaikat


Bukan. Kali ini saya sengaja chat kamu buat ngingetin sarapan sama minum susu. Yashinta sedikit tergelak membaca balasan pesan yang pria itu kirimkan.


Perhatian banget Mas Malaikatnya Yas.


Gadis itu mengirim balasan bersaman dengan mobil yang berhenti di depan gerbang. Yashinta turun saat sopir sudah membukakannya pintu mobil. Ia menghela napas dan berjalan melangkah memasuki gerbang. Berjalan santai menuju kelas dengan sesekali tersenyum membalas sapaan anak-anak lain.


Sejak anak-anak SMA Firgo mengetahui jika papa Yashinta adalah pemilik yayasan sekolah, sikap mereka jauh lebik baik padanya, seperti sering menyapa dan bersikap ramah.


Langkah kaki Yashinta memelan saat melihat Kafka berjalan ke arahnya dengan sesuatu di tangannya. Pria itu dengan seragam sekolahnya, semua kancingnya terbuka, menampilkan kaos polos berwarna hitam yang ia kenakan, mata keduanya bertemu. Membuat debaran amarah di hati gadis itu membuncah mengingat Kafka yang seolah lenyap ditelan bumi.


"Beberapa hari ini Kafka kemana aja?"


"Kenapa nggak pernah ngabarin Yas?"


"Kafka sengaja ngehindarin Yas?"


"Kafka nggak sayang, ya sama Yas?"


"Maunya Kafka, tuh, apa, sih. Kenapa sering banget nggak perduliin Yas?"


Pemuda itu menyodorkan tupperware berwarna merah muda yang dibawanya pada Yashinta, membuat gadis itu menerimanya dengan gerakan pelan. "Dari Bunda, buat loe." sahut Kafka setelah tupperware berpindah tangan.


"Pulang sekolah nanti loe balik bareng gue, Bunda mau ketemu."


Setelah mengatakan itu, Kafka berlalu menuju kantin, menggandeng Aris yang baru saja tiba. Meninggalkan Yashinta yang mematung dengan tupperware dari Kafka, pemberian Bunda di tangannya.


Bagaiman mungkin Yashinta tidak meleleh oleh pria itu. Bagaimana mungkin Yashinta akan marah saat Kafka menatapnya dengan hangat tadi? Yashinta tidak bisa, hatinya lemah jika dihadapkan dengan Kafka.


"Yashinta,"


"Eh, Ranti." Yashinta berbalik dan melihat gadis itu yang tampaknya baru saja tiba.


"Itu apa?" Ranti menunjuk tupperware di tangan Yashinta.


"Oh, ini, dari Bunda."


"Bunda?"


"Bunda Kafka." Yashinta mengingatkan. Membuat Ranti mengangguk paham. "Kayaknya sandwich." sambung Yashinta.

__ADS_1


"Wah, enak kayaknya."


"Ranti belum sarapan?" Ranti mengangguk dengan wajah memelas. "Mau?" tanya Yashinta lagi, Ranti mengangguk.


"Yaudah. Ayo kita ke kelas. Kita makan sandiwchnya bareng-bareng." ajaknya yang membuat Ranti mengangguk mengiyakan lantas menggandeng gadis itu menuju kelas diiringi obrolan ringan yang sesekali membuat keduanya tertawa.


Kafka yang sudah berjalan menjauh menoleh ke belakang. Melihat gadis itu yang sudah berjalan pergi bergandengan bersama Ranti.


***


Sepulang sekolah, Kafka benar saja mengajak Yashinta untuk pulang bersama, pemuda itu menunggu Yashinta di depan kelasnya saat bel pulang dibunyikan.


Ranti yang sudah berdiri di samping Yashinta hanya memerhatikan Kafka yang tengah mengobrol dengan ketua kelas mereka di depan pintu kelas.


"Loe pulang bareng si Kafka?" tanya Ranti, tampak tidak rela saat melihat Kafka berada di depan kelas mereka dan tampak menunggu Yashinta. Yashinta sempat terdiam, beberapa saat kemudian ia hanya mengangguk ragu dan pasrah dengan perubahan raut wajah Ranti.


"Loe hati-hati, yah. Gue duluan." sambung gadis itu yang kemudian berpamitan. "Iya Ranti. Ranti juga hati-hati, yah." Ranti mengangguk, lantas berlalu menuju pintu keluar. Membuat Kafka yang berada tepat di depan pintu sedikit menyingkir bersamaan dengan ketua kelas Yashinta yang pamit dari hadapannya.


Ranti sempat melayangkan tatapan tajam tapi Kafka seperti biasa selalu mengabaikannya. Ranti memang selalu membencinya bukan? Terlebih setelah insiden Kafka menurunkan Yashinta di jalanan ditambah dengan insiden Yashinta yang pingsan setelah Kafka mengambil uang jajannya.


Perhatian Kafka teralihkan saat Yashinta berjalan ke arahnya dengan senyum tipis yang tampak manis. Senyum yang beberapa hari ini tidak Kafka lihat karena ia menghindari gadis itu.


"Udah?" tanya Kafka saat gadis itu berdiri di hadapannya. Yashinta mengangguk. "Yaudah ayo." sambung pria itu yang kemudian melangkah pergi, meninggalkan Yashinta yang tetap berdiri di depan pintu bahkan saat langkah lebar Kafka telah membawa pemuda itu menjauh darinya.


Kafka yang berjalan dan merasa tidak ada pergerakan di belakangnya menoleh. Ia memiringkan kepala melihat Yashinta yang hanya berdiam diri di tempat. Bahkan gadis itu tetlihat tampak tidak akan bergerak, membuat Kafka terpaksa harus mengalah dan melangkah kembali untuk menghampirinya.


"Loe mau ikut bareng gue nggak, sih?"


"Kafka niat ngajakin Yas, nggak sih?" gadis itu memutar kalimat Kafka.


"Kebiasaan banget, Yas selalu tertinggal di belakang Kafka."


"Yas, 'kan udah bilang. Kita pacaran, jalannya harus sejajar." gadis itu merajuk. Membuat Kafka menghela napas panjang.


"Yaudah ayo." pasrahnya dengan tampang tidak ikhlas. Yashinta tersenyum, mulai melangkah dengan Kafka di sampingnya. Gadis itu memerhatikan langkah kaki mereka, bahkan menyamakan langkah kakinya dengan Kafka dan membuat Kafka hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkah gadis itu.


Sejujurnya Kafka sadar, jika seharusnya Yashinta marah padanya karena beberapa hari ini ia menghindari gadis itu, bahkan hanya untuk membalas pesan pun tak ia lakukan. Namun seperti yang sudah-sudah, Yashinta lebih banyak mengalah dan memilih memendam amarah.


Langkah kaki dua orang itu kian jauh menyusuri koridor sekolah, menuju parkiran dimana area itu sudah cukup sepi karena anak-anak sudah meluncur pulang ke rumah masing-masing dan jadwal ekskul dihari tersebut diliburkan karena guru yang mengajar tidak masuk.


Yashinta masuk ke dalam mobil Kafka, begitu juga sang pemilik mobil yang duduk dikursi kemudi dan mulai melajukan mobil, keluar dari gerbang SMA Firgo.


TBC

__ADS_1


__ADS_2