Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Childish


__ADS_3

Para siswa membubarkan diri ketika bel tanda istirahat berbunyi. Bagai pasukan lebah yang keluar dari sarang, mereka beriringan keluar dari kelas, ada yang menuju kantin, ada yang menuju lapangan untuk berolahraga sekalipun tidak ada pelajaran olahraga, dan ada juga yang hanya nongkrong di depan kelas tepat di pembatas kelas maupun kursi yang tersedia di sana.


Sementara Yashinta memilih membaca buku lebih dahulu daripada keluar dari kelas, Ranti mengajaknya ke kantin namun untuk sementara waktu Yashinta menolak. "Ranti duluan aja, nanti Yas nyusul." sahutnya yang membuat Ranti akhirnya pergi sendiri.


Gadis itu menyusuri lorong menuju kantin, melewati lapangan basket di mana para siswa tengah bermain di lapangan, banyak siswi yang duduk di tribun dan menonton ditemani camilan dan juga obrolan ringan. Ranti hanya mengerutkan kening saat melewati beberapa siswa yang tengah berpacaran, padahal itu bukan pemandangan pertama baginya.


Di pilar tepat di depan kelas 11 IPS 2, Ranti melihat Aris bersama dengan Sean tengah berjalan saling bersisian, tampaknya mereka juga akan pergi ke kantin, namun tidak ada Kafka dengan mereka. Yang membuat Ranti berasumsi jika barangkali Kafka sudah duluan ke kantin bersama Saras. Atau tetap berada di kela, tetapi dengan Saras.


Apapun itu yang pasti Kafka sedang bersama dengan Saras. Mendadak Ranti justru menjadi kesal pada dua orang di hadapannya karena dua orang itu adalah sahabat Kafka.


"Minggir-minggir!" Ranti melewati keduanya setelah menyela tempat di antara Aris dengan Sean. Aris yang tengah tertawa-tawa mengerutkan kening melihat hal itu ketika Ranti melewatinya.


"Dendam amat, Ran." ujar Aris, sementara Ranti tampak tidak perduli dan terus melangkah pergi, tanpa ia tahu jika bahaya tengah mengintai saat anak-anak yang sedang bermain basket tidak sengaja melempar bola ke arahnya.


Sean yang kebetulan mengedarkan pandangan melihat hal itu, ia tidak berpikir dua kali untuk menyelamatkan Ranti, hati nuraninya menuntunnya bergerak begitu saja, ia melangkah lebar untuk meraih gadis itu dan menarik lengan Ranti dengan begitu saja, membuat gadis itu terhuyung ke arahnya.


Sayangnya Sean tak memiliki pertahanan diri yang kuat untuk hal yang tiba-tiba itu hingga ia terjatuh bersama dengan Ranti yang menindih tubuhnya bersamaan dengan bunyi benturan bola yang menghantam pilar di sebelah mereka.


Sesaat keadaan disekitar keduanya mendadak senyap. Sampai Ranti membuka mata dan melihat Sean berada di bawahnya. Ranti segera bangkit saat anak-anak mulai bersuit dan meneriaki cie pada mereka. Sedangkan Aris mematung.


"Ada untungnya juga ni bola melesat ke sini, Se. Dapat banyak loe." sahut salah satu anak yang memungut bola.


Ranti membulatkan mata. "Kalau nggak becus maen bola basket mending maen bola bekel aja deh, loe." kesal Ranti sambil merapikan seragamnya yang berantakan. Sementara Sean tak bereaksi apapun dan hanya merapikan seragamnya yang juga berantakan, bahkan kotor karena menyentuh lantai. Sedangkan Ranti aman karena berada di atasnya.


"Sorry, Ran." siswa yang merupakan anak basket itu berlalu. Ia sempat tersenyum pada Sean sedangkan pria itu hanya memutar bola matanya, tak berniat menanggapi godaan kawannya tersebut.

__ADS_1


"Ciee Ranti,"


"Ciee Sean." anak-anak yang kebetulan lewat juga menggoda mereka dan membuat Ranti kian merasa kesal.


"Loe, sih." kesalnya pada Sean, membuat pria itu mengerutkan kening.


"Ranti, Ranti. Loe harusnya berterimakasih karena Sean udah nolongin loe." Aris yang sudah berhenti menganga melihat posisi Sean dan Ranti beberapa saat lalu angkat bicara.


"Emang gue minta ditolongin?" Ranti menatap Sean penuh intimidasi. "Gue nggak minta!" sambungnya yang membuat Sean menggeleng takjub namun enggan memperpanjang masalah.


"Sama-sama." hanya itu yang Sean katakan pada Ranti lantas menggandeng Aris untuk melanjutkan langkah lebih dulu menuju kantin. Meninggalkan Ranti yang terlihat kesal di tempatnya.


Ranti menghentakan kaki, mau tak mau melangkahkan kaki mengikuti Sean dan Aris karena tujuannya adalah kanatin. Ia sudah sangat lapar dan butuh makan.


Nasib gadis itu kian tampak buruk ketika tiba di kantin dan mendapati meja kantin yang sudah penuh. Ada satu meja yang kosong, namun sayang Aris berada di sana, lengkap dengan Sean dan juga Kafka yang menatapnya sesaat kemudian mengalihkan perhatian kembali pada ponsel di tangannya.


"Ranti,"


Gadis itu menoleh, dimana Yashinta setengah berlari ke arahnya dan menepuk pundak Ranti. "Ranti nggak papa, Yas denger katanya Ranti jatuh di depan kelas sebelas." oceh gadis itu sambil meraba-raba tubuh Ranti untuk memastikan sahabatnya tersebut baik-baik saja.


"Enggak, enggak papa. Gue gak papa, Yas." Ranti menenangkan, Yashinta menatapnya. "Beneran Ranti?" gadis itu mengangguk dan barulah membuat Yashinta bernapas lega.


"Katanya Ranti mau makan, kok malah berdiri di sini?" tanya Yashinta kemudian mengingat jika Ranti hanya berdiri di sana, Ranti memberi kode yang membuat Yashinta mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin dimana tempat itu sudah penuh.


Ranti tampak kecewa, menunggu bukanlah solusi karena anak-anak tidak mungkin buru-buru menghabiskan bakso level tujuh buatan ibu kantin yang sangat enak, terlebih waktu istirahat masih sangat lama.

__ADS_1


"Yashinta," Yashinta baru menyadari jika ada sang pacar di sana yang tampak memegang ponsel miring, artinya pria itu sedang bermain vidio game.


"Hay Aris." sapa Yashinta, menyapa pria itu yang memanggil namanya. "Duduk di sini aja." tawa Aris, menunjuk bangku panjang yang hanya diduduki Kafka, masih cukup untuk dua orang duduk di sana.


Yashinta menatap Kafka yang tak bereaksi, pun ia melihat Ranti yang tampak enggan duduk satu meja dengan Kafka. Membuat Yashinta kian ragu untuk bergabung dengan mereka.


"Kita makannya di taman aja, kalo gitu, Ranti." usul Yashinta. Biasanya anak yang tidak kebagian tempat duduk memang akan membawa makanannya ke luuar kantin, Yashinta kira hari ini mereka perlu melakukannya.


Kafka yang tengah bermain vidio game mengedarkan pandangan ke setiap penjuru kantin, rupanya tempat itu benar-benar penuh.


Deril yang juga sedang menikmati makanannya bersama kawan-kawannya yang sudah lebih dulu berada di sana melihat Yashinta yang tidak kebagian tempat, ia segera memanggil gadis itu ketika beberapa kawannya sudah menyelesaikan makannya dan bubar.


"Yashinta." Yashinta menoleh, begitu juga Kafka dan Ranti serta Sean dan Aris. "Sini." ajak Deril, Yas baru akan mengiyakan, namun tangan Kafka lebih dulu meraih lengannya. Pria itu bahkan harus menghentikan permainannya, membiarkan saja ponselnya.


Yashinta menoleh padanya. "Loe duduk di sini."


"Tapi Kafka–" Kafka mengalihkam perhatiannya ke arah lain namun tangannya masih memegang lengan Yashinta, membuat gadis itu kebingungan, sedangkan Ranti tampak pasrah, membiarkan Yashinta dan lebih memilih duduk bersama dengan Deril daripada bergabung bersama Kafka dan kawan-kawannya.


Yashinta mengembuskan napas begitu duduk di samping Kafka. "Mustahil ngebuat Ranti sama Kafka duduk satu meja, Yas." sahut Aris yang membawakan mie bakso pesanan Yashinta, menaruh mangkuk tersebut di hadapan gadis itu.


Yashinta menoleh pada Ranti yang duduk di meja lain, ia tampak memohon maaf dan Ranti tampak maklum meski tetap terlihat kesal. Yashinta menoleh pada Kafka di sampingnya yang hanya duduk sembari menikmati permen lolipop, ia sudah tidak lagi bermain vidio game ataupun berbasa-basi pada Yashinta.


Sean menyodorkan botol aqua ke hadapan Yashinta, membuat gadis itu mengalihkan perhatiannya dari Kafka. "Makasih Sean." ucapnya, Sean hanya tersenyum, Kafka hanya menatapnya sekilas dan mengambil botol aqua tersebut, membuang permennya lantas melegut air aqua mendahului Yashinta. Gadis itu menatapnya.


"Nanti gue ganti." sahutnya pada Yashinta sedangkan Sean menggelengkan kepala melihat kelakuan pria itu, bibirnya berdecak pelan. "Childish."

__ADS_1


TBC


__ADS_2