
Sepanjang jalan menuju pulang, Yashinta hanya diam di tempatnya, membuat Andri tentu saja heran dengan sikap putrinya. Sejujurnya jika Andri perhatikan, memang ada yang aneh dengan sikap putrinya. Jika biasanya gadis itu terlihat bebas dan ceria di hadapan Gibran, kali ini dia tampak berbeda dan seperti menjaga jarak.
Seperti ada yang terjadi di antara mereka meski Andri merasa tidak yakin.
"Kamu ada masalah sama Mas Gibran?" tanya Andri, membuat putrinya itu menoleh.
"Ah, Pa, enggak. Yas–sama Mas Gibran–nggak kenapa-napa." ujarnya sedikkt terbata-bata. Andri tidak memaksa putrinya itu untuk bercerita, dia hanya mengusap punggung tangan Yashinta dan tersenyum. Membuat Yashinta membalas senyum tanpa mengatakan apapun setelahnya.
"Itu mobil Sean, Pah." ujar gadis itu saat mobil yang dikemudikan sopir perusahaan memasuki gerbang. Andri mengikuti arah tatapan Yashinta, ia melihat mobil Sean yang terparkir di pelataran rumah dan melihat pria itu tengah duduk di kursi teras.
"Dia udah lama nunggu kayaknya, Pah." ujar Yashinta lagi yang mendapat anggukan dari Andri. Begitu mobil terparkir sempurna, Andri dan Yashinta turun dari mobil. Sean yang menjlunggu di kursi teras bangkit dari duduknya.
"Sean." Yashinta melambaikan tangannya dengan ceria. Sean tersenyum menatap gadis itu dan balas melamabikan tangan, singkat.
"Selamat siang, Om." Sean menyapa calon papanya.
"Siang Sean, ada keperluan apa kemari? Kenapa tidak masuk" tanya Andri dengan hangat.
"Enggak papa, Om. Ini, Mama lagi senggang, dia praktek bikin kue dan nyuruh saya anterin kuenya kemari." jawab Sean, meraih sebuah paper bag di atas meja kaca di sampingnya kemudian menyerahkannya pada Andri.
Andri melihat isinya, Yashinta juga mengintip dan berdecak takjub.
"Mama nggak yakin sama rasanya. Kalo nggak enak katanya boleh dibuang." Sean menyampaikan pesan yang sang mama titipkan.
"Pasti enak." Yashinta berseru. Andri mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu Papa mau coba. Ayo Sean, masuk." ajak Andri seraya berlalu setelah Sean menganggukan kepala.
"Sean nggak latihan basket?" tanya Yashinta saat keduanya masih hanya berdiri di teras. Sean sempat mengernyitkan dahi, kemudian menggelengkam kepala.
"Enggak ada jadwal latihan hari ini." sahut pria itu setengah bingung, sementara Yashinta jauh lebih bingung, ia mengingat lagi bagaimana beberapa waktu lalu Kafka berpamitan dan meninggalkannya di restoran karena pria itu harus memuhi panggilan untuk latihan.
"Kafka bilang ada latihan?" Sean seolah sudah dapat menebak. Yashinta mengangguk polos, membuat Sean berdecak seraya menggelengkan kepala.
***
"Saras habis dari mana?" tanya Yashinta ketika Saras baru saja kembali tepat setelah mobil Sean keluar dari gerbang.
"Gue habis dari taman kompleks. Nyari udara seger." sahut Saras. Yashinta mengangguk mengerti, bagus memang karena Saras sudah beberapa hari hanya berdiam di rumah. Setidaknya, dengan begitu ia bisa bebas dari stress.
Pada keesokan harinya, awalnya Yashinta merasa tidak yakin ketika Saras mengatakan jika gadis itu akan sekolah. Namun Yashinta juga tidak bisa melarang, justru bagus agar Saras tidak tertinggal pelajaran dan agar gadis itu tidak terus menerus hanya memikirkan masalah orang tuanya.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Yashinta hanya menatap ponselnya. Mengingat kembali apa yang Gibran katakan kemarin, tapi pada kenyataanya, Gibran sama sekali tidak menghubunginya, tidak mengiriminya pesan dan anehnya Yashinta seperti menunggu hal itu terjadi. Padahal ia yakin untuk saling menjauh.
Baginya, menjauh dari Gibran adalah cara terbaik agar hubungan Kafka dengan Gibran baik-baik saja. Namun anehnya, Yashinta seperti merasa kurang saat tak mendapati notif dari pria itu yang sudah berhari-hari selalu bertukar pesan dengannya.
Yashinta merasa kosong karena sudah lama tidak mendapati hal itu. Yashinta merasa hampa. Ingatannya tentang Gibran tak pernah dengan mudah sirna. Dan apa yang terjadi dengan mereka di apartement kerap kali membuat Yashinta berdebar.
"Yashinta."
__ADS_1
"Yas."
"Yashinta?" Saras menyentuh bahu Yashinta. Membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Ia melihat sekeliling, rupanya mereka sudah tiba di sekolah. "Loe mikirin sesuatu?" tanya Saras seraya melepas seatbeltnya. Yashinta yang tengah melakukan hal yang sama hanya menggelengkan kepala.
"Yas nggak mikirin apa-apa." dustanya. Keduanya turun dari mobil dan berjalan menuju kelas dengan obrolan ringan seperti biasa. Ranti yang sudah berada di lantai dua tepat di pembatas kelas hanya melihat dua orang itu dengan tangan terlipat di dada.
Jujur ia tidak suka melihat Saras menempel dengan Yashinta. Ia juga sudah berkali-kali mengatakannya pada Yashinta namun gadis itu berhati lembut dan tidak dapat menghempas Saras.
"Kenapa?" tanya Sean yamg sudah berdiri di samping gadis itu dan memerhatikan raut wajah Ranti yang tampak masam, tampak tidak suka dengan Saras.
"Gue nggak suka Yashinta deket-deket sama Saras." jujurnya tanpa tedeng aling. Sean tersenyum tipis, tidak menyangka jika gadis itu akan blak-blakan mengutarakan perasaannya.
"Menurut loe juga si Saras bahaya, 'kan?" tanyanya, Sean tidak langsung menjawab, ikut melipat tangan di dada kemudian hanya mengangguk-anggukan kepala. Saras menoleh dan berdecak tidak suka. "Enggak pasti banget gue nanya sama loe."
"Bahayanya tentang apa dulu, nih?" Sean bertanya.
"Tentang semuanya. Gue gak bisa liat mereka sama-sama terus. Awas aja kalo Saras macem-macem." Ranti dengan ancamannya mengepalkan tangan kuat-kuat. Sean hanya memerhatikan gadis itu, sampai sebuah suara menginterupsi keduanya.
"Ranti, Sean." Yashinta berjalan menghampiri dua orang itu setelah berpisah dengan Saras yang masuk duluan ke kelasnya.
"Kalian ngapain di sini?" tanyanya. Ranti menggelengkan kepala, kemudian memilih untuk menggandeng gadis itu. "Enggak lagi ngapa-ngapain. Udah, ayo ke–."
"Ehh, iya, Ranti–tapi." gadis itu berusaha menatap Sean saat Ranti menyeretnya. "Sean. kuenya enak. Bilangin makasih sama calon mama Yas, yah." ujar gadis itu yang membuat Sean terkekeh pelan saat Ranti berhasil menyeretnya kian jauh.
***
"Yaudah, loe temenin gue makan aja." pinta Ranti. Yashinta hanya mencebikan bibir tapi juga menurut dan tetap diam di sana.
"Ranti,"
"Hmm?"
"Ranti sama malaikat Ranti itu apa kabar?" tanya Yashinta mengingat jika sudah cukup lama keduanya tidak membahas hal itu, pertanyaan Yashinta membuat Ranti nyaris saja tersedak dan berakhir membuatnya hanya mengaduk makanan.
Bagaimana caranya dia mengatakan pada Yashinta jika malaikatnya adalah Gibran? Orang yang kemarin dengan terang-terangan mengutarakan perasaan pada Yashinta di depan pintu toilet restoran.
Diam-diam Ranti berdesah, mengingatnya membuat ia merasakan sakit. Padahal ia sudah berpura-pura tuli dan menganggap kejadian tersebut tidak pernah terjadi. Namun rupanya tidak bisa seperti itu, apa yang sudah terekam dalam ingatannya tak dapat ia lupakan dengan mudah.
Dan fakta baru yang ia ketahui mengenai pria yang membuatnya jatuh hati itu kian membuat Ranti ingin mundur sejauh-jauhnya. Ia hampir tidak percaya jika Kafka adalah adik dari malaikatnya.
Gibran dengan Kafka bersaudara. Dari apa yang Ranti dengar kemarin, mungkin hal itu pula yang membuat hubungan Gibran dan Yashinta renggang.
"Ranti!" Yashinta mengibaskan tangannya di hadapan wajah Ranti dan membuat Ranti tersadar.
"Ah, itu. Gue udah jarang ketemu dia." sekalipun bertemu saat Gibran mampir ke restoran, Ranti berusaha mengabaikannya agar perasaannya tidak kian terluka.
Yashinta tampam terkejut dan menyayangkan hal tersebut. "Terus perasaan Ranti, gimana?" tanya Yashinta dengan raut penuh penyesalan. Ranti tersenyum, menggelengkan kepala dan bersuara. "Mungkin udah nggak ada."
"Tapi kalau kalian ketemu lagi?" Yashinta berandai-andai.
__ADS_1
"Mm, gue bakal berusaha buang perasaan gue." Ranti menyahut yakin.
"Kok gitu Ranti?"
"Mm, ada tembok besar yang jadi pembatas antara gue sama dia."
Yashinta mengernyitkan dahi, tidak mengerti. "Kalian nggak bisa sama-sama?" Ranti mengangguk.
"Kenapa? Semua orang berhak bahagia Ranti. Cinta itu bisa nyatuin siapa aja." hibur Yashinta yang hanya Ranti tanggapi dengan senyuman. Membuat Yashinta mengerucutkan bibir, tidak puas dengan reaksi Ranti.
"Loe sama malaikat loe sendiri gimana?" Ranti balik bertanya karena penasran.
"Kacau."
***
Pukul 21.12 WIB.
Tempat itu gelap ketika Yashinta membuka mata, udara terasa lembab dan semua tubuhnya terasa sakit. Kepalanya begitu pening saat ingatan ketika ia pulang sekolah melintas.
Ia melihat Saras diseret masuk ke dalam sebuah mobil hitam oleh dua orang berpakaian hitam, Yashinta tentu tidak bisa diam saja, ia mencoba menolong namun nahas saat justru mereka diseret masuk ke dalam mobil dan tak bisa melakukan apa-apa. Saat ia dan Saras berontak, justru dua pria yang menyeret mereka menutupkan sapu tangan ke wajah. Hingga dalam sekejap waktu, obat bius itu dengan cepat membuat kesadaran Yashinta dan Saras menghilang.
Gadis itu terbangun dan mendapati tubuhnya yang terikat dengan Saras. Satu nama yang terbersit di kepala Yashinta hanyalah Gibran. Yashinta ingat jika ia menghubungi Gibran didetik terakhir sebelum ia dan Saras diseret masuk ke dalam mobil.
"Yashinta," Saras juga baru tersadar dari pingsannya. "Saras, Saras nggak papa?" tanya Yashinta, khawatir.
Saras menggelengkan kepala, efek obat bius masih menyisakan pusing di kepalanya. "Loe nggak papa, 'kan Yas?" tanya Saras sama khawatirnya dengan keadaan Yashinta. "Yas nggak papa, tapi Yas takut, Saras. Kita bakal ditolong, 'kan?"
"Kita nggak akan dibunuh, 'kan Saras?" Yashinta mulai menangis. Ia benar-benar merasa sangat ketakutan, tempat di sekeliling mereka sangat gelap dengan hawa dingin yang menusuk.
"Kita ada di mana, Saras?"
"Gue juga nggak tahu, Yas."
"Saras, Yas takut."
"Gue juga takut Yashinta. Loe tenang, yah."
Dua gadis itu hanya mampu diam dengan isi kepala yang begitu kacau. Dengan kondisi tubuh yang terikat, tidak ada yang bisa Saras dan Yashinta lakukan.
Keduanya hanya pasrah meski tidak begitu yakin akan mendapat bantuan. Tetapi Yashinta cukup yakin dengan satu hal, Andri pasti akan mencarinya jika ia tidak pulang lebih dari pukul sembilan malam.
"Papa,"
"Mas Gibran, tolongin Yas."
TBC
What happend? Kita lihat di next episode.
__ADS_1