
"Kalau kejadian kemarin keulang lagi, Yas minta Saras buat datang ke rumah Yas, jangan ke rumah Kafka."
Sesaat Saras hanya diam menatap Yashinta, hingga gadis itu menyadarkannya. "Bisa, 'kan Saras?" tanyanya sekali lagi, Saras segera mengangguk.
"Yas tahu pasti berat buat Saras, nanti biar kita cari solusi sama-sama, yah." hibur Yashinta, terlihat begitu perhatian dan sangat tulus. Seketika memciptakan segumpal sesal di hatinya atas apa yang sudah ia lakukan.
"Gue harus langsung pulang, gue mau ijin dulu ke Bokap." pamitnya kemudian yang Yashinta jawab dengan anggukan. Yashinta hanya memerhatikan langkah anggun Saras yang menghampiri sang papa dan tampak membujuk dengan gestur meyakinkan.
***
Setelah berhasil meyakinakan sang papa jika ia tidak enak badan kemudian harus pulang lebih dulu sebelum acara selesai, Saras berjalan keluar gedung perusahaan Papa Yashinta.
Ia sesaat menghela napas sebelum kemudian masuk pada taksi online yang sudah dipesannya. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil, membuka scarves yang ia kenakan dan melihat luka memarnya melalui cermin yang ia keluarkan dari clucthnya.
Saras tersenyum getir dengan setetes air mata yang jatuh di pipinya, bayangan kejadian dua tahun lalu saat ia bertemu dengan Kafka melintasi kepalanyaseolah meminta untuk dikenang.
Saat itu, adalah hari pertama Saras menjadi anak baru di SMA Firgo. Banyak anak yang datang dengan diantarkan oleh orang tuanya. Saras menyaksikan bagaimana keharmonisan yang terjalin antara orang tua dan anak. Ia juga melihat Yashinta yang keluar dari mobil mewahnya dengan sang papa.
Gadis cantik itu tampak berpamitan dan sang papa seperti orang yang sedang memberi beberapa nasihat padanya. Terlihat sangat menyesakan bagi Saras ketika melihatnya untuk dia yang datang diantar sopir pribadi.
Ia juga melihat Kafka yang tampak begitu akrab dengan Bundanya, begitu juga Sean san Aris. Ia bahkan melihat Ranti yang diantar oleh papanya dengan speda motor tua disaat orang lain menaiki mobil mewah.
Sangat sederhana, namun kebahagiaan mewah yang tampak begitu mahal, rasanya tidak akan dapat Saras rasakan.
Ia menjalani hari-harinya tanpa berinteraksi dengan siapapun, termasuk Kafka yang saat itu digandrungi para kakak kelas mapun teman seangkatan mereka. Saat keduanya kebetulan berada di kelas yang sama, Saras benar-benar menghindari semua hal yang bisa saja melibatkan dirinya dengan Kafka.
Namun, rupanya, langkah yang ia lakukan justru membuat Kafka yang terkenal tsundere itu tertarik padanya. Pria itu seringkali menawarkan pulang bersama atau menikmati istirahat dengan berjalan ke kantin berbarengan. Mungkin Kafka juga merasa kasihan karena hanya dirinya satu satunya murid baru yang tidak memiliki teman.
__ADS_1
Langkah Kafka padanya terlalu jauh saat bahkan pria itu harus mengikutinya ke rumah dan melihat hal yang tidak seharusnya pria itu lihat dimana orang tua saras tengah ribut dan berakhir dengan sang papa yang memukul mamanya.
Saras jelas tidak bisa diam saja, ia mencoba melindungi sang mama namun ia juga justru mendapat pukulan. Kafka melihat hal itu, yang mungkin membuat pria itu kian merasa kasihan padanya saat berakhir dengan melihat Saras yang menangis, berlalu keluar dari gerbang rumah dengan seragam sekolah yang berantakan.
Ketika Kafka mengetahui hal itu, Saras tentu kian menghindarinya. Ia malu sekaligus takut jika Kafka akan menyebarkannya pada anak-anak.
Tapi dengan gilanya, Kafka justru menyatakan cinta padanya hingga membuat Saras tidak bisa berkata-kata. Jelas saja Saras menolak, ia tidak memiliki alasan untuk menerima.
Penolakan yang Saras berikan hukan hanya satu atau dua kali. Tetapi ratusan kali karena Kafka yang terus menerornya dengan terus menerus menyatakan cinta. Pria itu menaruh perhatian besar padanya, dan hal itu berlanjut hingga semester selanjutnya bahkan hingga mereka berada di kelas sebelas.
"Gue harus bilang apa buat nolak loe selamanya Kafka?"
"Gue harus gimana biar loe mau nerima perasaan gue, Saras?"
"Gue sayang sama loe. Loe ngerti nggak, sih? Seenggaknya kasih gue kesempatan, loe nggak cape nolak gue?"
"Kalau gue berhasil macarin mereka, artinya setelah putus loe harus nerima gue?"
"Deal."
Namun pada kenyataannya, Saras gagal karena Kafka justru dengan mudah menerima ide gila darinya bahkan membuat para pacarnya memutuskan Kafka sebelum waktu yang Saras tentukan berakhir.
"Tinggal satu cewek lagi dan kita pacaran." sahut Kafka dengan sorot penuh kemenangan.
Saras kehabisan cara, hingga ia menemukan Yashinta yang tampak menyukai Kafka. Saras melakukan penilaiannya dan berpendapat jika Yashinta adalah gadis yang baik, dia murid kesayangan guru karena pintar, dia cantik dan tidak banyak tingkah.
"Loe harus berhasil dapetin Yashinta Wiraguna."
__ADS_1
"Loe harus macarin dia selama enam bulan." sahut Saras saat keduanya bertemu di perpustakaan sekolah ketika bel pulang sudah dibunyikan.
"Enam bulan. Loe gila, itu kelamaan."
"Loe harus bertahan. Jangan putus sebelum enam bulan. Kalo loe nyerah, artinya loe gagal." Saras berharap dengan hal itu, Kafka akan menyerah di tengah jalan kemudian gagal memenuhi syarat yang Saras ajukan.
Atau pria itu nyaman dan lebih memilih meneruskan hubungan, setidaknya agar Saras aman. Namun sampai detik ini, yang terjadi tetaplah seperti dua tahun lalu. Kafka tak memberinya kesempatan untuk lolos.
Pria itu selalu ada di sampingnya, di sekitarnya dan selalu ada untuknya, membuat ia terbiasa dengan kehadirannya. Membuat Saras sesekali merasa marah ataupun kesal ketika Kafka lebih memilih mendahulukan Yashinta daripada dirinya. Padahal, kondisi seperti itulah yang selalu ia inginkan.
Namun, sampai detik ini pula Saras tidak mengerti perasaannya sendiri–pada Kafka.
***
Sebuah kafe dengan gaya klasik menjadi pilihan Kafka begitu pulang dari toko distro Hafi setelah puas nongkrong di sana. Segelas minuman rasa jeruk tampak sisa setengah di mejanya. Kafka menoleh pada kursi di sampingnya di mana sebuah plastik berwarna putih dengan logo sebuah huruf H yang ia dapat dari toko distro Hafi.
Hafi bilang isinya adalah sebuah kaos dengan desain baru yang dibuat spesial untuknya. Kafka menerima setelah melihatnya, menurutnya hanya kaos biasa dengan susunan huruf acak di bagian punggung yang tampak biasa bagi Kafka. Namun, begitu, ia tetap menerima guna menghargai pemberian kawannya.
Kafka pulang ke rumah, menyimpan plastik berisi kaos ke dalam lemari pakaiannya dan berbaring sambil bermain ponsel. Ia melihat lagi foto yang beberapa waktu lalu Yashinta kirimkan. Sekilas bayangan saat ia melihat layar ponsel Aris ketika kawannya itu tengah melakukan panggilan vidio dengan Sean melintasi kepalanya.
Kafka berusaha acuh dengan hal itu, namun saat mengingat jika kemungkinan besar Yashinta tengah bersama Sean, jujur ia merasa terganggu. Kafka mendesah, menaruh lengannya di atas kening.
"Cuma tinggal satu bulan. Cuma satu bulan lagi."
Setelah satu bulan, Kafka akan melepaskan gadis itu dan berhenti bersangkutan dengan apapun yang berhubungan dengan Yashinta.
TBC
__ADS_1
Holla, guys. Sejujurnya aku selalu berharap para pembacaku selalu meninggalkan jejak dengan komentar setelah membaca cerita. Terimakasih❤❤❤