Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Mencari Yashinta


__ADS_3

Udara pagi terasa menyejukan di bumi perkemahan. Lalu lalang anak-anak yang memulai aktivitas tampak membuat suasana pagi di area puncak begitu hidup. Beberapa di antara mereka segera ke sungai untuk mandi ataupun mengambil air untuk keperluan memasak. Sebagian menyalakan api dan tak sedikit pula yang menikmati camilan setelah mencuci wajah dengan air aqua yang mereka bawa.


Kafka sendiri, dia menikmati segelas teh hangat yang Aris buatkan, duduk di depan tenda dengan jaket tebal pemberian Yashinta yang sudah Saras kembalikan semalam padanya. Merapatkan jaket ke tubuhnya saat dirasanya udara dingin begitu menusuk.


"Mau Ka?" Aris muncul dengan beberapa bungkus roti di tangannya. Kafka menggelengkan kepala, Aris mengangkat bahu dan duduk di samping Kafka sembari menikmati rotinya.


"Si Sean di mana?" tanya Aris kemudian, sama dengan Kafka pria itu juga merapatkan jaket yang dikenakannya ke tubuh.


Kafka mengangkat bahu, tidak mengetahui keberadaan pria itu. Panjang umur, Sean muncul dengan secangkir kopi di tangannya, duduk bergabung dengan Kafka dan Aris di sana.


"Loe balik jam berapa semalem ke tenda?" tanya Aris pada Kafka, membuat pria itu menoleh. "Jam 2." Kafka menyahut seperlunya begitu mengingat jika semalam ia kembali ke tenda kurang lebih pukul dua.


"Habis ngapain?" Sean bertanya, Aris mengangkat bahu acuh dan menggerakan dagunya pada Kafka, Kafka menatap Sean. "Enggak ngapa-ngapain. Maen gitar doang sama anak-anak." dustanya. Padahal, pada kenyataannya, ia bersama dengan Saras di bukit arah ke sungai.


Saras menghubunginya dan meminta bertemu di sana, Kafka jelas tidak bisa menolak. Siang tadi ia sibuk dengan Yashinta dan tak memiliki waktu untuk Saras.


"Gue mau ketemu Yashinta dulu." Kafka bangkit dari duduknya, menghindari Sean barangkali pria itu ingin mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Rasanya canggung saat ia berbohong di hadapan Sean dan Aris dan menyembunyikan apa yang ia lakukan.


Kafka melangkahkan kaki menuju tenda Yashinta dimana kawan-kawan setenda gadis itu sudah berada di luar dan memulai aktivitas. Tapi Kafka tidak melihat batang hidung sang pacar.


"Yashinta belum bangun?" tanya Kafka pada Erin yang hendak masuk kembali ke tenda. Erin mengurungkan niatnya mengambil syal ke dalam tenda, ia menghadap Kafka dan mengerutkan kening. "Yashinta?"


Kafka mengangguk. "Yashinta nggak ada." salah satu gadis di sana menyahut saat Erin hanya terdiam.


"Enggak ada si tenda, dia di mana? Di sungai?"


"Dia balik." kali ini Erin yang menyahut. Jawabannya membuat Kafka terkejut dan kebingungan.


"Balik gimana?"


"Balik ke Jakarta." Erin menyahut lebih spesifik.


"Semalem dia bilang mau balik. Kayaknya buru-buru karena dia nggak bawa barang-barangnya."


"Gue kira dia balik sama loe." sambung Erin sementara Kafka hanya diam, berusaha mencerna apa yang baru saja Erin katakan.


Yashinta pulang?


Sendiri?


Di tengah malam?


Kenapa?

__ADS_1


Ada apa?


Tentu Kafka bertanya-tanya. Apa alasan gadis itu pulang sebelum acara kemah berakhir?


Kenapa pula gadis itu tidak menghubunginya dan mengatakan sesuatu atas kepulangannya?


Kafka dengan raut panik kembali ke tendanya, membuat Aris dan Sean heran melihat kedatangan Kafka dengan raut kacau tapi Aris dan Sean tidak langsung bertanya. Keduanya hanya memerhatikan Kafka yang sibuk di dalan tenda, tak lama pria itu keluar sembari menentang ranselnya.


"Loe mau kemana Ka?" Aris bertanya dengan cepat.


"Gue balik duluan." ujar Kafka yang kemudian berlalu begitu saja dan membuat Sean dengan Aris kian heran. "Mau kemana, Ka?" Saras yang baru saja muncul bertanya ketika melihat pria itu tampak tergesa sembari menenteng ranselnya.


"Yashinta balik ke Jakarta semalem. Gue harus mastiin dia ada di rumahnya " Kafka menyahut cepat kemudian benar-benar pergi saat Saras masih mematung di tempatnya.


"Yashinta balik duluan?" Aris bertanya-tanya. Sean bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tenda Yashinta diikiti oleh Aris.


Sementara Saras di tempatnya bertanya tanya. Kira-kira alasan apa yang mendasari Yashinta pulang ke Jakarta sendiri? Tanpa Kafka?


"Yashinta beneran balik ke Jakarta?" tanya Sean pada Erin yang saat itu tengah menikmati segelas susu di depan tenda. Erin mengangguk, sedikit terkejut karena kedatangan tiba-tiba Sean yang menanyakan Yashinta setelah beberapa saat lalu adalah Kafka.


"Iya. Semalem dia bilang mau balik. Gue kira baliknya sama Kafka." sahut gadis itu mengingat lagi samar-samar kejadian semalam karena dia mengantuk berat.


Sean diam, otaknya tampak berpikir keras. Rasanya mustahil Yashinta pulang sendiri jika tidak ada masalah yang terjadi. Tapi apa? Sedangkan Yashinta dan Kafka baik-baik saja semalam.


***


Kafka berdecak. Mengembuskan napas frustrasi kemudian memacu mobilnya lebih cepat lagi.


Sementara itu, di ruang utama apartement Gibran, Yashinta masih terlelap dalam dekapan Gibran. Pada akhirnya, gadis itu berakhir dengan tidur di atas sofa dengan Gibran setelah insiden .... Yashinta membuka matanya perlahan, ia melihat pergelangan tangannya dan mendapati waktu yang sudah menunjukan pukul sembilan pagi.


Gadis itu dengan cepat bangkit dari posisi berbaringnya, membuat Gibran di sampingnya melakukan pergerakan namun tidak kunjung bangun. Yashinta menoleh pada pria itu. Kemudian mengutuki dirinya sendiri. Kenapa ia bisa berakhir dalam dekapan Gibran?


"Bodoh, Yashinta!" Yashinta memukul pelan kepalanya. Dengan cepat ia beranjak dari posisinya, setengah berlari menapaki anak tangga. Ia harus merapikan diri sebelum Gibran bangun.


Yashinta lupa jam berapa ia tidur semalam. Yang jelas, saat ini kepalanya terasa cukup berat dan pusing. Pertama karena kurang tidur, dan kedua karena ia banyak menangis.


Gerakan tangan Yashinta yang sedang menggosok gigi memelan. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin. Mengingat kembali kilasan kejadian kemarin. Ciumannya dengan Kafka, bersenang-senang di acara kemah, Kafka dan Saras kemudian bayangan semalam. Melintas begitu saja di kepalanya dengan lancang.


Yashinta menggelengkan kepala, menepis ingatannya semalam tentang Gibran. Gadis itu menyelesaikan sesi sikat giginya. "Mas Gibran." decaknya seraya meringis.


Menggigit bibir bawahnya begitu mengingat benda itu mendapat sentuhan syahdu dari Gibran, sangat memabukan.


***

__ADS_1


Andri cukup terkejut saat mendapati putrinya pulang sendiri. Tidak ada Kafka maupun Sean di belakangnya. Ditambah lagi, gadis itu tidak kembali dengan membawa ransel berisi perlengkapan kemahnya.


"Yas pulang sendiri, Pah. Semalem nggak enak badan, Yas nggak mau bikin temen-temen repot, makannya Yas minta Ranti buat jemput."


Begitulah penjelasan Yashinta saat Andri bertanya. Kemudian, Andri tidak ingin bertanya lebih banyak hingga Kafka datang dan menanyakan keberadaan Yashinta disusul oleh kedatangan Sean yang membawa perlengkapan kemah gadis itu.


"Ada, Yashinta baru saja pulang." sahut Andri, sejenak membuat raut wajah Kafka tampak bingung. "Tadi, Om?" tanyanya, memastikan.


"Dia bilang semalam nggak enak badan. Dia minta Ranti jempit." Andri menyampaikan apa yang beberapa saat lalu putrinya katakan.


"Maaf karena saya nggak bisa jagain Yashinta, Om. Saya bahkan nggak tahu kalau dia nggak enak badan." Kafka selalu berakhir dengan meminta maaf pada Papa Yashinta.


"Nggak papa, Kafka.Yang paling penting Yashinta pulang dengan selamat. Terimakasih karena kalian sudah mengajak Yashinta ikut kemah." sahut Andri pada dua pria itu.


"Kalian mau masuk dulu?" tawar Andri kemudian.


"Enggak, Om. Makasih, kita langsung pulang." Kafka menyahut dengan raut yang tampak masih bingung.


"Sean, kamu nggak masuk dulu?" Andri menatap calon putranya itu.


"Enggak perlu, Om. Makasih."


Kafka dan Sean berjalan keluar gerbang rumah Yashinta seperti orang linglung. Hingga kemudian Sean merogoh ponsel, mendial nomor ponsel Ranti dan menghubungi gadis itu untuk memastikan sebuah kebenaran jika Yashinta memang pulang bersama Ranti semalam.


Tidak butuh waktu lama untuk panggilan segera tersambung setelah dering kedua.


"Hallo, ada apa?" yang di ujung sana langsung bertanya. Tampak tidak sabaran atau mungkin dia merasa panggilan dari Sean mengganggunya sehingga harus segera diselesaikan.


"Loe di mana?" tanya Sean, mengabaikan pertanyaan gadis itu sebelumnya.


"Di rumah."


"Nggak sama Yashinta?" Sean memancing.


"Yashinta? Bukannya dia ikut kemah sama kalian." sahut gadis itu yang membuat Sean dan Kafka saling beradu pandang. Kafka berusaha mencerna apa yang Ranti katakan, hingga ia sampai pada kesimpulan jika bukan Ranti yang menjemput Yashinta semalam.


Lantas siapa?


"Emangnya ada apa, sih? Ada masalah?" Ranti bertanya sementara Sean menggelengkan kepala, kemudian berbicara. "Enggak ada apa-apa. Gue tutup telponnya." Sean memutus sambungan telepon sebelum gadis itu menyetujuinya.


Ia memasukan ponsel ke saku jaket sementara Kafka menatap ke arah jendela kamar Yashinta dimana gorden berwarna merah muda itu tampak terbuka.


Di dalam sana, Yashinta perlahan menutup gorden jendela, berjalan menuju meja belajarnya dan duduk pada kursi dengan mata berkaca-kaca. Ia menatap fotonya dengan Kafka di afas meja belajar, kemudian menelungkupkan foto tersebut dengan raut sendu.

__ADS_1


"Enggak bisa kaya gini, Kafka. Kafka jahat."


TBC


__ADS_2