
Gibran yang baru saja pulang ke apartement dan mendapat telpon dari Yashinta tentu saja merasa bahagia, namun sayang saat justru gadis di ujung sana tidak berbicara sepatah katapun hingga pada akhirnya dengan berat hati Gibran memutus sambungan telpon.
"Salah sambung?"
Pria itu mendesah, berjaalan gontai menuju kamarnya dan mencari stelan untuk datang ke acara pertunangan Leon atau pria itu akan mengamuk jika dirinya tidak datang.
Isi kepala Gibran kembali dipenuhi oleh Yashinta. Mendadak perasaannya tidak enak, ia penasaran dengan alasan gadis itu yang tadi menghubunginya tetapi tidak bucara. Gibran takut sesuatu hal yang buruk terjadi.
***
"Apa?"
"Yashinta tidak ada?" Andri segera bangkit dari posisinya saat sopir pribadi putrinya menelpon dan mengatakan kabar yang tidak ia inginkan.
"Iya, Pak. Saya sudah di depan gerbang sekolah Non Yas. Tapi Non Yas tidak ada, cuma ada hp-nya."
"Hp-nya?" Andri kian heran dan khawatir.
"Kamu sudah coba hubungi rumah?"
"Sudah Pak. Bi Rasti bilang Non Yashinta belum pulang."
"Baiklah, biar saya coba hubungi teman-temannya."
Andri menutup telpon, ia tampak panik namun berusaha untuk menahan diri, ia mencoba menghubungi Kafka lebih dahulu barangkali sang putri sedang dengan pacarnya.
"Saya pulang duluan karena ada tanding sama tim luar, Om." tim yang bukan berasal dari sekolah–Alley Youth. Beeitahu Kafka di ujung telpon.
"Yashinta bilang dia nunggu Saras latihan teater." sambungnya mengingat gadis itu mengatakan hal tersebut padanya saat bubaran sekolah.
"Begitu, yah, Kafka. Yasudah kalau begitu."
"Apa terjadi sesuatu Om?"
"Sepertinya begitu Kafka. Yashinta menghilang,"
Andri juga sudah menghubungi Ranti dan Ranti mengatakan hal yang sama dengan Kafka. Sean juga tidak mengetahui keberadaan Yashinta.
Mengingat ini adalah kali pertama, Andri tentu merasa khawatir tidak karuan. Pikirannya tidak bisa ia kendalikan, terus memikirkan hal buruk yang terjadi dengan putri kesayangannya. Ia takut hal itu terjadi.
Kafka yang mendengar kabar tersebut tentu saja merasa tidak tenang, ia tidak bisa diam saja menunggu Andri mengabarinya hal baik. Sehingga ia memutuskan mencari keberadaan Yashinta.
Kafka mengunjungi tempat-tempat yang kemungkinan besar didatangi Yashinta. Namun hasilnya nihil, sehingga pada akhirnya ia mendatangi sekolah, ke lokasi terakhir Yashinta berada.
Ketika Kafka tiba di sana, Andri sudah berada di sana dengan Sean dan juga Ranti. Tetapi yang membuat atensinya teralihkan penuh adalah Gibran. Kakaknya itu sudah berada di sana bahkan lebih dulu darinya.
"Non Yas minta dijemput sore, karena dia nunggu temennya. Saya jemput jam setengah lima dan Non Yas sudah tidak ada saat saya sampai." ujar sopir pribadi Yashinta saat Andri meminta detail cerita.
"Minta pihak sekolah periksa cctv!" intruksi Andri pada Vito–sang skretaris yang ikut dengannya.
__ADS_1
"Baik, Pak."
Ranti hanya mampu mengigit ujung kukunya. Ia ingin memaki Saras di hadapan semua orang, tapi ia berusaha menahan, bagaimanapun jika Yashinta langsung pulang tanpa harus menunggu Saras, Yashinta pasti baik-baik saja.
Sean yang melihat kepanikan di wajah gadis itu mengusap bahu Saras, membuat Saras menoleh padanya. Sesaat pandangan keduanya terkunci hingga Sean berbicara. "Yashinta bakalan baik-baik aja." pria itu berusaha menenangkan.
"Gue nggak bisa percaya omongan loe sebelum mastiin sendiri gimana keadaan Yashinta." Ranti tidak bisa berpura-bura untuk tenang.
"Yashinta menghubungi kamu?" tanya Andri pada Gibran yang datang dengan stelan formalnya. Pria itu sedang menghadiri acara pertunangan Leon dan tidak mampu menikmati jalannya acara saat isi pikirannya hanya tertuju pada Yashinta.
Sehingga ia memutuskan untuk mendatangi rumah gadis itu namun Yashinta tidak berada di rumah. Sampai Gibran mendapat panggilan dari Andri yang menanyakan keberadaan Yashinta.
Gibran mengangguk atas pertanyaan Andri, Kafka yang mendengar hal itu menatap Gibran. Jadi Yashinta menghubungi pria itu lebih dulu daripada dirinya?
Jadi Yashinta tidak mau mendengarkannya dan tetap menyimpan nomor ponsel Gibran?
"Yashinta nggak bilang apa-apa Om. Saya rasa ponselnya sudah terjatuh saat itu." Gibran terpaksa harus mengatakan berita buruk tersebut.
Tak lama setelahnya, mereka menuju ruang cctv dan melihat rekaman cctv yang mengarah ke gerbang sekolah. Mereka amat terkejut setelah melihat hasil rekaman cctv.
"Ini pasti ulah anak buah Papa Saras." ujar Andri yang membuat Kafka dan yang lain menatapnya.
Mereka kembali melihat layar monitor, Andri menyipitkan mata guna menyadari jika kedua pergelangan tangan Yashinta kosong.
"Yashinta tidak pakai jam tangan?" Andri bertanya pada Ranti, membuat gadis itu kicep dan mengingat lagi apa yang siang tadi terjadi saat ia tidak sengaja menjatuhkan jam tangan Yashinta.
Dengan ragu, Ranti menceritakannya pada Andri dan semua orang yang ada di sana. Ia tampak takut, takut Andri akan marah. Namun ternyata ia benar-benar sudah mengenal keluarga Yashinta dengan baik. Andri tampak memaklumi dan tidak memarahinya sama sekali.
Vito mengangguk, berjalan keluar untuk mengambil ipadnya yang berada di mobil sementara Gibran juga tidak hanya diam saja.
"Bisa tolong di zoom." pintanya pada petugas cctv, ia melihat plat mobil dan mencoba menghubungi kawannya yang ahli IT untuk melacak keberadaan mobil tersebut.
Sementara Kafka hanya diam, ia tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Yashinta maupun Saras. Ia hanya bisa diam seperti orang dungu dan menunggu kabar baik, berharap Yashinta dan Saras dapat dengan cepat ditemukan.
"Masih menyala Pak. GPS Non Yashinta masih berfungsi." ujar Vito yang membuat Ranti dapat bernapas lega.
"Lokasi mobilnya sudah ditemukan." sahut Gibran menambah kabar vaik. "Lokasinya sama dengan GPS Yashinta." sambungnya.
"Kalau begitu kita bergegas ke sana." intruksi Andri, setelahnya ia juga kembali memberi intruksi pada Vito. "Hubungi kantor polisi. Kita tangkap Johan malam ini juga."
"Berani-beraninya dia menyentuh putri kesayanganku." sambungnya dengan geram. Semua bergegas keluar, Gibran dan Kafka menyusul, tapi sebelumnya Kafka menahan bahu Gibran, membuat sang kakak menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Loe nggak bisa bertindak melewati batas!"
Gibran lebih dulu menepis tangan Kafka di bahunya sebelum kemudian menyahut. "Mas akan melewati batas jika itu mampu menyelamatkan nyawa Yashinta."
"Apapun resikonya."
"Loe bukan siapa-siapa Yashinta. Loe nggak perlu bertindak terlalu banyak."
__ADS_1
Gibran berdecih. "Di sini, kamu nggak bisa bersikap egois, Kafka."
***
Sepanjang perjalanan menuju lokasi ditemukannya Yashinta, Ranti yang ikut di mobil Sean hanya mampu mengigit ujung kuku jarinya, wajah khawatirnya tampak tercetak jelas. Seperti yang sudah ia katakan jika dirinya tidak akan bisa tenang selama belum memastikan sendiri bagaimana keadaan Yashinta.
Gadis itu dikejutkan oleh suara dering ponsel Sean. Sean yang sedang fokus menyetir melihat sekilas ponsel saat panggilan itu berasal dari mamanya. Sean segera menggeser ikon hijau.
"Hallo, Mah?"
"Gimana Sayang, Yashinta sudah ketemu?" terdengar nada khawatir dari ujung sana.
"Udah, Ma. Ini lagi menuju lokasi."
"Syukur kalo begitu, Mama khawatir sekali."
"Biar gue bantu pegangin." Ranti menawarkan bantuan saat Sean tampak kerepotan karena harus menyetir dan memegang ponsel. Sean mengangguk, menyerahkan ponselnya pada Ranti.
"Se?" terdengar Mama Sean memanggil.
"Iya, Ma?'
"Kamu bawa pacar kamu?"
"Hm?" Sean dan Ranti spontan saling bertukar pandang. Gadis itu memutus pandangan lebih dulu dan terlihat canggung. Menghindari kontak mata dengan Sean setelahnya.
"Kamu sempet-sempetnya pacaran saat suasana lagi kaya gini." Arumi mengomeli. Ranti hanya mendengarkan, tidak ingin ikut campur meski ia dilibatkan. Sean di tempatnya juga tampak bingung.
"Bawa pacar kamu ke rumah nanti. Mama mau liat." sahut Arumi lagi yang kali ini berhasil membuat Ranti membulatkan mata, terlebih ketika Sean tak kunjung menyangkalnya.
"Ma, Mama dengerin Sean dulu." Sean memejamkan matanya sesaat, merasa malu pada Ranti. "Dia Ranti, temen Yashinta."
***
Di mobil lain, Gibran dan Kafka sama cemasnya. Dua orang itu melajukan mobil masing-masing dengan kecepatan tinggi. mengikuti mobil Andri di depan sana yang menuntun jalan dengan skretarisnya.
Gibran memejamkan mata sesaat, meredam rasa cemasnya yang berlebih. Ponsel yang berdering segera ia raih tanpa melihat siapa penelpon.
"Loe dimana?"
Gibran sadar jika sang penelpon adalah Leon. Gibran juga sudah menebak jika pria itu pasti akan memprotesnya karena pulang tanpa pamit dari tempat acara.
"Kenapa loe pergi gitu aja sebelum acaranya beres, sih?" sesuai tebakan Gibran.
"Ini gue mau kenalin loe ke cewek cantik, Bran. Model, lulusan sekolah unggulan, siap nikah dan–"
"Gue udah ada calon. Gue tutup telponnya," Gibran memutus sambungan telepon secara sepihak. Setelahnya ia berdecak.
Calon dari mana?
__ADS_1
TBC
Hari ini double up❤