
Langkah lebar seorang pria dengan stelan rapinya menyusuri lorong menuju ruangannya. Sepanjang pintu masuk perusahaan, ia mendapat banyak sapaan dari para karyawan perusahaan. Ia memang dikenal sebagai orang yang tidak banyak bicara, namun ramah dan murah senyum pada siapa saja terutama pada para anak buahnya.
Pria itu membuka ruangan yang bertuliskan Direktur Utama di atasnya. Ia sudah duduk di bangku kebesaraannya saat seseorang mengetuk pintu ruangan dan masuk dengan beberapa berkas di tangannya.
Seorang wanita berambut sebahu yang diikat satu itu tersenyum. Ia mengenakan blouse berwarna putih dengan aksen tali dibagian kerahnya dan rok pensil berwarna hitam. Dia adalah skretaris Gibran.
"Selamat pagi Pak Gibran." sapanya saat sudah berada di depan meja sang atasan.
"Ini berkas-berkas yang Bapak butuhkan untuk presentasi setengah jam lagi." sahutnya seraya meletakan berkas-berkas yang dibawanya di atas meja. Setelahnya, ia permisi untuk undur diri. Meninggalkan Gibran kembali sendirian di ruangannya.
Pria itu meraih berkas yang baru saja diberikan sang skretaris dan membacanya sebelum nanti ia memulai presentasi untuk peluncuran produk terbaru dari perusahaannya.
Setelah setengah jam Gibran habiskan untuk bersiap, ia merapikan berkas, melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan lantas bangkit bersamaan dengan pintu ruangannya yang terbuka. Sang skretaris baru saja akan memberitahukannya untuk segera ke ruang rapat, tapi wanita itu justru tersenyum saat sang bos tersenyum tipis melihat kemunculannya seraya berjalan menuju pintu keluar. Ia tahu jika bosnya sangat tepat waktu.
Gibran Abiasnyah memanglah pria berambisi yamg amat teguh dengan prinsipnya. Ia bekerja sepenuh hati dan mendedikasikan diri terhadap perusahaan peninggalan sang ayah.
Seolah, ia didik memang untuk meneruskan bisnis keluarganya. Sejak duduk di bangku Selolah Menengah Pertama, sang ayah seringkali mengajaknya bermain di ruang kerjanya dan membaca buku-buku bisnis. Gibran sangat menyukainya, ketika anak-anak seusianya asik bermain bola di lapangan kompleks, ia justru sudah diajari sang ayah bagaimana cara mengurus sebuah perusahaan besar.
Hingga menjelang remaja, bahkan sang ayah seringkali mengajaknya mengunjungi perusahaan atau pesta para kolega serta mengenalkannya pada rekan-rekan bisnisnya. Sehingga ketika keluarga mereka harus kehilangan kepala keluaraga dan perusahaan kehilangan pimpinan perusahaan. Gibran sudah siap untuk menggantikan posisi sang ayah.
Mengingat bagaimana ia bergelut dengan semua itu sejak kecil, Gibran berharap Kafka pun melakukan hal yang sama, mengikuti jejaknya. Namun, sampai pemuda itu duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, tampaknya sedikitpun Kafka bahkan tidak tertarik dengan perusahaan.
Pemuda itu justru seringkali bermain-main dengan para gadis. Sangat berbeda dengan Gibran yang bahkan sampai detik ini masih betah sendiri. Atau mungkin pria itu belum menemukan calon pasangan yang cocok dengannya.
***
Yashinta berlalu setelah berbicara dengan Ranti, sementara sahabatnya itu masih mematung di taman belakang sekolah. Yashinta sekali lagi menatapnya dan kemudian memutuskan untuk tetap pergi.
"Yaudah, gimana kalau nanti siang?" usul seorang siswi pada siswa yang berjalan di sampingnya.
"Balik sekolah." sambungnya.
"Mm, okey, gue juga nggak ada acara apa-apa."
Yashinta memilih menyandarkan punggungnya pada tembok ketika Kafka tengah lewat dengan Saras, dua orang itu berjalan menuju kelas dengan obrolan yang tampak menyenangkan. Karena sesekali Kafka tampak tertawa.
Yashinta menekuk wajahnya, padahal Kafka sama sekali tidak pernah seperti itu saat bersamanya. Dia cenderung darah tinggi jika bersama Yashinta, suka marah-marah, cuek dan tidak peka.
Tapi dengan Saras, dia tampak berbeda dan Yashinta tidak suka melihatnya.
__ADS_1
"Yashinta," gadis yang tengah berjalan loyo menuju kelas itu menghentikan langkah saat Aris dan Sean menghampirinya. Yashinta tersenyum dan menyapa kedua sahabat Kafka itu.
"Hay, Aris, Sean. Ada apa?" ia mengukir senyum meski tidak secerah biasanya.
"Nih." Aris tiba-tiba saja menyodorkan uang lima puluh tibu pada Yashinta. Tentu saja gadis itu tidak segera menerimanya. Ia justru terlihat bingung.
"Dari Kafka, katanya ganti duit loe yang kemarin." terang Aris ketika melihat Yashinta yang kebingungan.
"Kafka-nya mana?"
"Enggak tahu deh tuh anak, mungkin udah duluan ke kelas. Tadi ngasihnya di kantin pas sarapan." terang Aris yang membuat Yashinta mendesah.
"Bilangin nggak usah. Lagian juga Yas nggak mau nerima kalau bukan Kafka yang ngasih langsung." sahut Yashinta dengan raut kesal tanpa menatap lawan bicaranya. Gadis itu berlalu begitu saja, meninggalkan Aris dan Sean yang bertukar pandang dengan kerutan di dahi mereka.
"Tuh, anak kenapa?" heran Aris. Tidak biasanya Yashinta bersikap judes seperti tadi. Sean hanya menggelengkan kepala, sedangkan Aris menatap ke arah kepergian gadis itu dimana punggung Yashinta sudah kian menjauh.
Yashinta sangat tidak menyukai Saras berada di sekitar Kafka. Terlebih, fakta tentang Kafka yang pernah menyukainya bahkan mengutarakan perasaannya pada Saras membuat Yashinta kian merasa terganggu. Ia tidak selalu tahu apa yang terjadi dengan dua orang itu di belakangnya, itulah kenapa selama ini Yashinta hanya bisa diam melihat kedekatan mereka.
Saras dan Kafka bahkan satu kelas. Yashinta tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua di dalam kelasnya. Karena Yashinta sering mendapati dua orang itu bersama ketika sesekali Yashinta mendatangi kelas Kafka.
Yashinta tidak bisa diam saja, sudah cukup baginya. Bagaimanapun, Kafka adalah pacarnya, ia tidak mungkin membiarkan wanita lain mendekatinya. Itulah alasan mengapa Yashinta datang ke lapangan basket indoor pada waktu istirahat saat anak kelas Kafka bermain basket dengan adik kelas mereka. Kebetulan jadwal olahraga mereka sama.
Sampai ketika Kafka mendapati gadis itu yang masih duduk di tribun membuatnya harus mengundurkan diri dari permainan, kawan sekelasnya menggantikan, sedangkan Kafka berlalu menuju ruang ganti. Yashinta mengikuti.
Yashinta tersenyum saat Kafka berhenti bahkan ketika pertandingan masih berlangsung. Ia menyodorkan sebotol air mineral yang sengaja dibawanya untuk sang pacar. Pemuda yang tengah mengelap keringatnya dengan handuk kecil berwarna putih itu hanya memerhatikan.
"Loe mau ngapain, sih?" tanyanya dengan nada sewot. Sama sekali tidak berniat mengambil minuman yang pacarnya sodorkan.
"Yas cuma pengen liat Kafka tanding aja." gadis itu menyahut santai.
"Loe nggak terima duit yang dikasih Aris, kenapa?" tanya Kafka lagi.
"Yas nggak mau terima kalau bukan Kafka yang kasih langsung ke Yas."
Jawaban Yashinta selalu berhasil membuat Kafka kesal.
"Kalau loe nggak ada apa-apa lagi sana!" usir Kafka. "Gue juga udah selesai tanding!"
"Yas pulang bareng Kafka."
__ADS_1
"Gue nggak bisa. Pulang sama sopir loe aja!"
"Kafka, Yas mohon."
"Gue nggak bisa, Yashinta!"
Yashinta mendesah pasrah. "Kalau gitu pulangnya nanti Kafka ada acara nggak?" tanya gadis itu, masih berusaha menaklukan Kafka.
"Ada."
"Acara apa?" pertanyaan gadis itu mengundang tatapan sengit Kafka. "Loe nggak perlu tau!" pandangan Kafka mulai menajam, Yashinta seringkali menguji kesabaran Kafka yang sedikit.
"Kalau gitu Yas ikut!"
"Gak!"
"Kafka!"
"Loe udaj janji nggak akan ngatur-ngatur gue atau ngerecokin hidup gue lagi, Yashinta!" nada bicara Kafka meninggi.
"Loe lupa?!"
Yashinta diam atas bentakan Kafka. Mengingat lagi insiden dimana Kafka tega menurunkannya di tengah jalan. Yashinta sangat benci mengingatnya. Terlebih, sebelumnya ia sudah berjanji tidak akan mengganggu Kafka dan hanya akan menuruti pria itu.
"Enggak usah bertingkah!" ucap Kafka lagi, kali ini nada bicaranya terdengar seperti biasa.
"Seharusnya loe berterimakasih karena gue udah nyelametin loe dari bajingan itu kemarin."
"Kafka nggak tulus nolongin Yas?"
Kafka tak menyahut, lebih tepatnya pemuda itu kesal dan sudah hampir tidak bisa lagi menahan emosinya. Mendapati sang pacar yang diam, Yashinta tahu Kafka marah.
"Yas harus gimana buat berterimakasih sama Kafka. Yas udah bilang makasih berulang kali." sahut gadis itu, menahan air matanya.
"Dengan gak usah ganguin gue!"
"Biarin gue ngelakuin apapun yang gue mau!"
Yashinta menatap Kafka. Rupanya, gunung es masih sebeku musim salju.
__ADS_1
TBC