Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Oh Ternyata


__ADS_3

Kalian udah pada tahu belum, sih. Kalo sekarang kalian bisa koment disetiap paragraf dengan menekan lama sebuah paragraf? Jadi kalian bisa mengeluarkan pendapat dan perasaan disetiap scene.


Selamat mencoba dan selamat membaca!


****


"Papa Saras belum ada ngehubungin Saras?" tanya Yashinta. Saat itu keduanya tengah bersiap untuk tidur. Dua orang itu terlentang dengan mata yang fokus menatap plafon kamar.


"Belum karena gue nggak buka hp gue. Gue takut Papa ngancem gue lagi." sahut Saras dengan sendu. Yashinta menoleh padanya, meraih tangan Saras dan mengusapnya.


"Gue belum siap balik ke rumah, Yashinta."


"Yas ngerti, Saras. Saras tenang aja, Yas udah bilang Saras bebas nginep di rumah Yas selama apapun Saras mau." ucap tulus gadis itu dengan senyuman. Saras balas tersenyum, "jadinya Saras besok mau sekolah atau nggak?" tanya Yashibta kemudian, mengalihkan pembicaraan.


"Harus. Gue nggak bisa terus-terusan ketinggalan pelajaran." Saras sudah memikirkan hal tersebut. Ia tidak mungkin terus menerus membolos dan tertinggal pelajaran. Bagaimanapun, ia berharap sang Papa tidak akan mencarinya untuk sementara waktu.


"Ngomong-ngomong, sergama sekolah loe bakalan cocok di badan gue?"


"Cocok, Saras tenang aja."


****


Pada keesokan paginya, Saras benar-benar mengenakan seragam Yashinta. Gadis itu memiliki lebih dari tiga seragam sekolah dan ukuran tubuhnya dengan Saras tidak begitu jauh berbeda–hanya tingginya saja–sehingga tidak ada yang perlu Saras cemaskan mengenai seragamnya.


Ranti yang baru saja akan memasuki gerbang tampak heran melihat Yashinta datang dengan Saras. Tentu saja, selama ini Saras dengan Kafka sangat dekat dan begitu mengganggu Yashinta, begitu pula Ranti.


Ia sangat membenci gadis itu. Padahal Saras sudah tahu Kafka berpacaran dengan Yashinta. Tapi tetap saja dekat dengan Kafka tanpa sungkan atau memikirkan perasaan Yashinta.


Ranti mendesah, bagaimana ia harus menjelaskan kebodohan Yashinta? Kenapa gadis itu mau saja memberikan tumpangan untuk Saras?


"Bye Yashinta. Gue duluan, yah." gadis itu berlalu begitu keluar dari mobil.


"Bye Saras." Yashinta melambaikan tangan dan membuat Ranti heran melihat keakraban dua orang tersebut.


"Ranti." Yashinta kemudian menyadari kehadiran Ranti dan menghampiri gadis itu.


"Loe kok bisa barengan sama Saras?" Ranti segera mengutarakan keheranannya tanpa basa-basi.


"Oh, oya. Saras tinggal di rumah Yas."


"What!"


"Ceritanya panjang, ayo ke kelas. Nanti Yas cerita." tidak ada rahasia di antara keduanya, Yashinta menarik tangan Ranti menuju kelas, di lorong, ia berpapasan dengan Kafka. Tampaknya keadaan pria itu sudah jauh lebih baik. Plester menempel di luka barunya.


Yashinta ingin menyapa dan bertanya mengenai keadaannya. Namun Kafka justru malah mengacuhkannya dan berlalu begitu saja melewati Yashinta, menyulit emosi Ranti yang tidak pernah menyukainya.


"Kalian ribut?" tanya Ranti. Ia tahu Kafka memang sekalu seperti itu. Namun biasanya, Yashinta tampak biasa karena sudah kebal. Tapi kali ini gadis itu seperti menyimpan beban.


"Kafka tahu kalau kenalan Yas itu cowok, dia marah." beritahu Yashinta, Ranti tampak mengangkat bahu acuh tak acuh. Tidak heran, Kafka jika cemburu memang tampak seperti orang kesetanan.


Ranti memutar bola matanya. Belum jelas sampai sekarang Kafka cemburu atau ada maksud lain.


"Oh, iya, Yas juga mau cerita sesuatu sama Ranti."


"Apa?"


"Waktu Yas kemaren di apartement Mas Gibran ...," gadis itu tampak ragu-ragu, Ranti sudah mengerutkan kening demi mendengarkan Yashinta melanjutkan kalimatnya.


"Jangan dramatis gitulah!"


"Buruan cerita!" Ranti siap atas apapun yang akan Yashinta ceritakan mengenai kebersamaannya dengan Gibran.


"Mas Gibran nembak Yas."


"Hmm terus?" jika biasanya Ranti akan sangat heboh untuk hal mendebarkan semacam itu, kali ini Ranti tampak biasa saja dan menantikan kelanjutan cerita Yashinta.

__ADS_1


"Yas tolaklah, Ranti. Kan Yas udah punya Kafka."


"Kafka lebih baik dari kenalan loe itu?" tanya Ranti yang membuat Yashinta diam di tempatnya. Tampak bingung, Gibran dan Kafka jelas saja berbeda, dan Yashinta tidak ingin membandingkan keduanya.


"Udahlah, gue bisa tebak apa jawaban loe." Ranti segera menggandeng Yashinta menuju kelas. "Emang apa jawaban Yas?"


"Loe ada perasaan kayaknya sama kenalan loe itu."


"Ihh, Ranti. Jangan so tahu!"


Ranti hanya tertawa mendengar jawaban Yashinta.


Reaksi Ranti setelah mendengar cerita Yashinta mengenai Saras sama seperti Yashinta ketika pertama kali mendengarnya dari Kafka. Terkejut dan tidak percaya. Ternyata, banyak luka yang Saras sembunyikan.


Sangat wajar jika gadis itu bersikap dingin, tertutup, angkuh dan acuh tak acuh. Bebannya begity u berat, dan ia menanggungnya sendirian.


***


Saras berjalan santai menuju kelas seperti biasa. Sampai sebuah panggilan menghentikan langkahnya.


"Saras." gadis itu berbalik, tersenyum mendapati Ibu Dania di sana yang berjalan ke arahnya dengan beberapa buku di tangannya.


"Selamat pagi, Bu." Saras menyapa wali kelasnya itu dengan sopan.


"Pagi, Saras."


"Beberapa hari ini kamu tidak masuk. Apa ada masalah?" tanyanya yang membuat Saras perlahan menggelengkan kepala.


"Papa kamu menelpon, dia bilang jika kamu masuk sekolah, saya harus mengabarinya." sahut Ibu Dania yang membuat Saras membulatkan mata.


"Bu. saya mohon jangan bilang Papa saya kalau saya sekolah hari ini. Tolong Bu, saya belum siap pulang ke rumah." ia memohon, membuat Ibu Dania menatapnya, paham dengan situasi yang terjadi. Ibu Dani akhirnya memilih menganggukan kepala.


"Kalau kamu ada masalah keluarga, secepatnya diselesaikan, yah."


"Saya duluan."


Saras hanya mengangguk, menatap Ibu Dania yang berjalan menjauh darinya. Setelah mendengar hal tersebut dari Ibu Dania, Saras merasa tidak tenang. Ia takut Papanya menyuruh orang untuk mengawasinya dan membuat Saras membahayakan orang-orang di sekitarnya.


***


Yashinta bercerita pada Saras jika ia memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang. Saras menghargai privasi gadis yang menyambut kedatangannya di rumah dan juga kamarnya itu dengan baik sehingga ia tidak banyak bertanya dan hanya membantu Yashinta merapikan diri.


"Enggak bakal terlalu menor Saras?" tanyanya ketika Saras dengan tangan gemulai memoles wajahnya. Saras menggelengkan kepala dengan penuh keyakinan. "Enggak, loe tenang aja. Cantik pokonya, loe bakalan pede maksimal." Saras sedikit berlebihan dan membuat Yashinta tertawa singkat.


Yashinta pasrah, membiarkan Saras merias wajahnya hingga selesai. "Cantik." puji Saras tampak puas saat Yashinta hanya menatap pantulan wajahnya di cermin ketika sudah selesai. Yashinta tersenyum, menganggukan kepala dan mengucapkan terimakaih pada Saras.


"Santai Yas, ini bukan apa-apa." ujar Saras, sedangkan Yashinta hanya menatap gadis itu sembari mengusap punggung tangannya hingga suara ponsel yang berdenting menandakan sebuah pesan masuk membuat Yashinta meraih ponselnya yang ia taruh di meja rias.


Malaikat


Saya sudah dibawah.


"Saras, Yas duluan, yah."


"Iya, good luck." ucap Saras tulus, Yashinta mengangguk. Melambaikan tangan pada Saras saat meninggalkan kamar.


Yashinta sempat mengatur napasnya ketika ia berjalan keluar dari rumah. Tiba-tiba ia merasa gugup untuk bertemu Gibran, dan ia lebih gugup lagi saat mengingat jika mereka akan bertemu Bunda Gibran.


Gadis itu melangkah perlahan keluar rumah, Gibran yang berdiri di teras berbalik ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Ia tersenyum melihat Yashinta keluar, mengenakan gaun darinya dan gadis itu tampak begitu cantik sekali.


"Wajah kamu–"


"Menor, yah?" Yashinta menyela dengan cepat dan tampak khawatir, Gibran tersenyum. Menggelengkan kepala kemudian melanjutkan. "Cantik."


Mendadak, pipi gadis itu memanas. Ia menyentuh kedua sisi wajahnya dan membuat Gibran tergelak melihatnya. "Pipi Yas pasti merah, yah?"

__ADS_1


"Yas malu Mas Gibran, jangan ngeliatin!" kali ini gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, sementara Gibran tak bereaksi. Membuat gadis itu perlahan menurunkan tangan dan memperlihatkan wajahnya yang bersemu merah pada Gibran.


"Kamu cantik, kamu nggak perlu malu." sesaat Yashinta hanya mengerjap di tempatnya, sampai kemudian tangan Gibran meraih tangannya dan membawanya berjalan menuju mobil.


Yashinta melangkah mengikuti pria dengan tuxedo hitam itu, menatap punggung Gibran lekat-lekat, kemudian menatap tangannya yang pria itu genggam.


Sepanjang perjalanan menuju sebuah restoran dimana Gibran sudah reservasi di sana untuk mempertemukan Yashinta dengan Bundanya dua orang itu hanya saling terdiam, sampai kemudian Yashinta membuka pembicaraan.


"Cuma Bunda doang, 'kan?" tanya Yashinta pada pria itu demi meredakan gugupnya.


Gibran menoleh sebentra. "Kamu pikir saya bawa keluarga besar?"


"Iya, sambil bawa seserahan." gadis itu menyahut dengan lelucon dan teratawa. Gibran juga tertawa, tapi kemudian ia bertanya dengan sedikit berbisik. "Kamu mau?"


"Ha?" gadis itu mematung, tampak bingung dan membuat Gibran tersenyum. "Cuma Bunda, sama adik saya." Gibran menenangkan agar Yashinta tidak merasa canggung.


"Mas Gibran punya adik?" tanya gadis itu tampak antusias.


Gibran mengangguk. Yashinta juga mengangguk-anggukan kepala. "Dia juga sekolah di tempat kamu." beritahunya, Yashinta hanya menoleh dan tersenyum. "Kamu nggak usah gugup, yah. Bunda saya baik."


"Iya. Mas Gibran udah pernah bilang sama Yas." sahutnya, membuat Gibran tersenyum lebar.


Yashinta berjalan berdampingan bersama dengan Gibran memasuki restoran. Gadis itu beberapa kali menghela napas, tampak menenangkan duri. Gibran gang melihat hal itu lantas menggenggam tangan Yashinta.


Gadis itu menoleh dengan tangan dalam genggaman Gibran. Ia tidak protes. Karena faktanya, gugupnya perlahan sirna setelah Gibran menggenggam tangannya.


"Itu Bunda saya." ujar Gibran ketika mereka sudah dekat dengan meja yang ditempati sang Bunda dan juga adiknya. Yashinta mengukir senyum terbaiknya, ia akan segera menyapa Bunda Gibran begitu tiba. Ia harus menciptakan kesan terbaik dipertemuan pertama mereka.


"Bunda." Gibran menyapa. Membuat wanita paruh baya itu mengangkat pandangannya begitu juga seorang pemuda di sana.


Perlahan, senyum Yashinta luntur. Berganti raut heran dan senang. Perasaannya campur aduk, terutama begitu melihat pemuda yang beberapa hari ini bahkan tidak membalas pesan darinya setelah insiden di Rumah Sakit.


"Yashinta," Bunda bangkit dari duduknya, sementara Kafka masih berusaha mencerna apa yang tengah terjadi di hadapannya, tetapi pandangannya mengarah pada tangan Yashinta dan Gibran yang saling bergenggaman.


"Bunda."


Yashinta dan Bunda sempat berpelukan singkat. Membuat Gibran heran tentu saja. Kafka juga perlahan bangkit dari duduknya.


"Kalian benar-benar sudah akrab?" tanya Gibran. Mengingat Yashinta pernah mengenakan dress hasil desain sang Bunda, Gibran memang berasumsi jika dua orang itu sudah saling mengenal.


"Akrab Mas, Karena–" Bunda menoleh pada putra bungsunya yang tampak kecewa. Mata Kafka tampak memerah disusul senyum smirk di bibirnya.


Bunda mengalihkan tatapannya pada Gibran, kemudian pada Yashinta. Ia menyadari sesuatu hal jika ada yang salah di antara mereka.


Gibran menatap sang adik dengan raut tak mengerti, sedangkan Yashinta tampak pasrah. Tetapi satu hal yang terlintas di benak Yashinta yang baru ia sadari, ia menoleh pada Gibran di sampingnya. Menatap tangan keduanya yang masih bergenggaman.


Jadi, Gibran dan Kafka adalah saudara?


Adik yang Gibran maksud adalah Kafka? Kenapa Yashinta tidak menyadari jika marga mereka sama?


"Kamu juga kenal Yashinta, Ka?" tanya Gibran kemudian pada sang adik dengan senyumannya.


"Kenal." Kafka menyahut singkat.


"Dia cewek gue Mas." sambungnya yang membuat Bunda menatap kedua putranya bergantian.


Perlahan, senyum di bibir Gibran luntur, ia menatap Yashinta yang tenagh menatap Kafka.


"Jadi selama ini, kenalan yang loe maksud. Dia kakak gue?" Kafka mengarahkan pandangannya pada Yashinta. Kemudian beralih pada Gibran.


"Jadi selama ini loe deket sama cewek gue?" sorot mata Kafka tampak campur aduk, ia menggeser kursi yang semula didudukinya.


Menarik Yashinta berlalu dari sana, membuat tangannya dalam genggaman Gibran terlepas perlahan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2