Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Gadis Keras Kepala dan Malaikat Cinta


__ADS_3

Saras menelan salivanya susah payah, menatap Yashinta yang tampak marah. Tidak ada yang bisa ia lalukan sekarang, mungkin seharusnya sejak awal ia tak perlu memaksa dan berharap banyak pada Yashinta.


Ia sudah melukai hati gadis itu sedemikian dalam, akan lebih baginya untuk tahu diri setelah meminta maaf lebih dari sekali. Yashinta benar, ia memang egois.


Mementingkan diri sendiri dan bersikap seolah dirinya adalah korban. Saras memang payah, entah kemana hidup akan membawa tubuhnya yang lemah.


"Jadi kamu juga nggak maafin Kafka?" pertanyaan itu di luar kendali Saras, meluncur begitu saja dari bibirnya dan membuat Yashinta spontan mematung.


Sementara Saras diam-diam mengutuki diri karena membawa-bawa nama Kafka.


Bagaimana mungkin Yashinta memaafkan Kafka saat pria itu tidak pernah sekalipun meminta maaf padanya. Bahkan mungkin Kafka tidak tahu di mana letak kesalahannya.


Kafka tidak pernah tahu bagaimana perasaan Yashinta. Kafka tidak pernah tahu betapa pria itu sangat menyakitinya.


****


Pada akhirnya Gibran menyarankan Saras untuk keluar dari apartementnya saat situasinya dengan Yashinta tampak terus menegang. Gibran cukup paham bagaimana Yashinta menghadapai masalahnya, ia cukup yakin jika Yashinta bukan tidak ingin memaafkan, hanya saja gadis itu belum siap.


"Saya cuma bisa bantu sampai di sini." pasrah Gibran saat ia mengantar gadis itu keluar dari apartementnya hingga ke depan lift. Wajah Saras tampak murung, membuat Gibran merasa bersalah padanya karena tidak bisa mendamaikannya dengan Yashinta.


"Nggak papa, Mas. Makasih Mas Gibran udah mau bantu." Saras menyahut dengan senyum tipis di bibirnya. Gibran mengangguk samar, menatap Saras kemudian berbicara. "Kalau saya boleh kasih saran, lebih baik kamu tetap pergi."


"Kamu bilang ingin memulai hidup baru dan bahagia. Lebih cepat jauh lebih baik, saya yakin Yashinta akan mengerti."


"Lagipula kamu juga sudah minta maaf. Yashinta cuma butuh waktu." panjang lebar Gibran yang berhasil membuat perasaan Saras lebih tenang.


"Iya Mas Gibran. Makasih banget Mas Gibran udah mau bantu dan hibur aku. Makasih banyak."


****


Gibran kembali ke apartemen dengan terdiam, sementara Yashinta hanya duduk seraya sesekali menyeka air matanta. Gibran tidak bisa mengganggu, ia hanya melewati gadis itu dan menunggu Yashinta bicara lebih dulu.


Gibran melepas jas yang ia kenakan, menaruhnya dengan begitu saja di sofa kemudian ia berjalan ke arah dapur seraya menggulung lengan kemejanya. Sepertinya ia harus turun tangan sendiri untuk memasak makan siang bagi keduanya. Gibran membatalkam diri untuk memesan makanan.


Ia membuka lemari pendingim dan mengambil beberapa bahan makanan yang ada di sana, sangat kebetulan ia memiliki daging. Steik akan menjadi menu makan siangnya dan Yashinta.


Sementara gadis itu terus menangis. Mumgkin seharusmya ia merasa senang sudah berteriak pada Saras, namun justru seperti ada yang mengganjal di hatinya dan membuatnya tidak tenang.


Saat Gibran melewatinya begitu saja tanpa bertanya atau menenangkannya, jujur hal itu membuat Yashinta kian merasa terluka. Sejujurnya ia berharap mendapat pelukan hangat dari pria itu setelah apa yang dilaluinya beberapa saat lalu.

__ADS_1


Tapi pria itu justru mengabaikannya dan membuat Yashinta merasa jika dirinya begitu buruk, apa tindaka yang ia lakukan membuat Gibran tidak suka?


Apa Gibran keberatan dengan dirinya yang keras kepala dan tak mau memaafkan Saras? Fakta tersebut membuat Yashinta kian merasa sedih, membuatnya ingin pulang ke rumah dan meninggalkan Gibran.


Gadis itu bangkit dari duduknya setelah cukup lama melakukan pertimbangan, mengambil tas sekolahnya dan bersiap untuk pulang. Gibran yang melihat hal itu mengernyitkan dahi penuh tanya–kebetulan tidak ada sekat antara dapur dan ruang utama sehingga ia dapat dengan mudah melihat Yashinta.


"Kamu mau kemana?" tanyanya seraya menghampiri gadis itu.


"Pulang." Yashinta menyahut kesal, air matanya masih terus berjatuhan dan Gibran justru berdiri di hadapannya, menghalangi akses untuk keluar.


"Saya mau masak, kita makan dulu. Kamu belum makan." suara pria itu selembut biasanya, tidak ada yang berubah. Namun perasaan Yashinta terlanjur kacau dan berpikiran macam-macam.


"Ayo, saya anterin kamu pulang setelah makan dan ngerjain PR." Gibran meraih tangan gadis itu dan melangkah kembali ke ruang utama, namun Yashinta hanya mematung di tempatnya, membuat Gibran tak bisa kemana-mana.


"Mas Gibran marah sama Yas?" tanyanya dengan kepala tertunduk, Gibran tahu gadis itu kembali menangis. Ia tidak mengerti mengapa gadis menggemaskan itu begitu cengeng.


"Marah kenapa?"


"Ya marah." Yashinta sewot. Suara lembut Gibran yang menembus indera pendengarannya justru membuat air matanya kian berjatuhan.


"Kenapa saya harus marah?" tanya Gibran, kali ini ia meraih dagu gadis itu, mengarahkan Yashinta untuk menatapnya sehingga mata keduanya bersitatap.


"Yas sakit hati, Mas Gibran."


"Saras sama Kafka jahat sama Yas. Mereka jahat. Kenapa mereka harus lakuin itu ke Yas?"


"Padahal Yas cinta setengah mati sama Kafka. Selama kita pacaran Yas selalu lakuin apapun buat Kafka. Yas selalu berusaha jadi yang terbaik buat Kafka biar Kafka bahagia."


"Tapi Kafka cuma bisa nyakitin Yas." sesekali suara gadis itu tercekat karena tangisnya, tapi ia tetap berbicara dengan susah payah.


"Yas tahu, ada kalanya Kafka baik sama Yas, perhatian dan ngebuat Yas makin jatuh cinta sama Kafka. Tapi apa yang Kafka lakuin itu ternyata pura-pura, Kafka terpaksa ngelakuin itu."


"Kafka nggak pernah bener-bener tulus sama, Yas."


"Hati Yas sakit Mas Gibran, hati Yas perih."


"Sesek." gadis itu memukul dadanya.


"Yas harus gimana?"

__ADS_1


"Emangnya Yas salah apa sama Kafka?" Gadis itu menangis kian hebat, Gibran hanya mendengarkan, ia tahu masih banyak yang ingin Yashinta katakan. Ia tahu bagaimana Yashinta sangat mencintai Kafka.


"Kafka bahkan nggak minta maaf sama Yas. Kafka jahat."


"Tapi Yas nggak bisa benci sama Kafka."


"Saras juga jahat, kenapa nyuruh Kafka macarin Yas. Kalau Saras nggak nyuruh Kafka buat macarin Yas, seenggakya perasaan Yas nggak akan sesakit ini, biarin aja Yas simpen rasa cinta Yas buat Kafka sampai Yas mati."


"Hati Yas hancur, Mas Gibran–"


Dalam waktu seperkian detik, Gibran segera meraih gadis itu dalam pelukan, membuat kalimat-kalimat yang masih ingin Yashinta utarakan tak kuasa ia katakan. Justru ia menangis kencang dalam pelukan Gibran.


Gibran tidak sanggup terus melihat gadis itu menangis dengan air matanya yang tampak tak habis-habis. Gibran tak sanggup terus mendengar cerita menyakitkan Yashinta, hal itu turut melukai hatinya.


Gibran tak mengatakan apapun, ia hanya mendekap gadis itu dengan erat, mengusap punggung Yashinta dengan lembut agar gadis itu merasa tenang.


Karena pada dasarnya, perempuan hanya butuh didengarkan, kemudian dipeluk. Begitu yang Yashinta inginkan, setidaknya Gibran mengerti untuk melakukan hal tersebut.


Sejak saat itu, Gibran bertekad untuk membuat Yashinta bahagia. Ia bertekad untuk terus memabahagiakan gadis itu dan melakukan apapun untuk Yashinta.


Sebisa mungkin Gibran tidak akan menyakiti Yashinta.


"Yashinta, jika bagi kamu cinta berarti memberi sebanyak-banyaknya. Maka saya pastikan kamu akan menerima sebanyak-banyaknya."


"Karena saya akan memberi kamu cinta sebanyak-banyaknya. Sebanyak apapun yang kamu ingin."


***


Mobil yang Gibran kemudikan berhenti di depan gerbang rumah Yashinta. Gibran menepati janjinya untuk mengantarkan gadis itu pulang begitu mereka usai makan, Yashinta menolak mengerjakan PR-nya bersama-sama dan Gibran tidak bisa memaksa.


"Kamu mau maafin Saras atau nggak, itu hak kamu." sahut Gibran seraya membukakan seatbelt yang melekat di tubuh gadis itu.


"Saya tahu kamu sakit hati, saya mengerti."


"Tapi saya yakin kamu gadis yang baik, " Gibran menatap gadis itu dengan lembut, yang ditatap hanya mengerjap polos. "Saya nggak ingin perempuan saya menjadi seorang pendendam." sambungnya, kemudian mengulurkan tangan dan mengelus satu sisi wajah Yashinta.


"Kamu mengerti maksud saya?"


Saat itu Yashinta tidak menanggapi apapun, hanya sesaat memejamkan mata merasakan sentuhan hangat tangan Gibran di pipinya, namun diamnya gadus itu cukup membuat Gibran yakin, jika Yashinta mengerti apa yang ia maksud.

__ADS_1


TBC


__ADS_2