
Mobil menepi di sebuah parkiran tanah lapang, sebuah lahan kosong beralaskan rerumputan. Yashinta, Kafka dan Aris turun dari mobil.
Mobil dan motor anak SMA Firgo yang lain juga sudah terparkir di sana. Yashinta baru pertama kali kemari dan melihat salah satu lokasi yang sering dikunjungi sang pacar.
"Tempatnya jauh Kafka?" tanya gadis itu saat mereka nantinya harus berjalan menuju sebuah gang kecil yang tidak bisa dimasuki oleh kendaraan terutama mobil.
"Jalan sebentar aja langsung nyampe, Yas. Tenang aja." Aris yang berbicara sambil memakai tasnya.
"Sini, tas Kafka biar Yas aja yang bawa." gadis itu menengadahkan tangannya di hadapan Kafka yang akan memakai tasnya.
"Nanti loe cape, biar gue aja."
"Kan katanya Kafka deket, emang tas Kafka berat?"
"Biar gue aja!" Kafka segera memakai tasnya.
Yashinta mengalah, ia hanya menggembungkan pipi dan Kafka mengabaikannya. Pemuda itu melangkah menghampiri Aris.
"Yang lain udah pada siap?"
"Udah katanya, ayo."
Kafka menoleh pada gadis yang masih berdiri di samping mobilnya, kemudian melangkah kembali pada Yashinta.
"Ayo," ajaknya pada Yashinta.
Kafka berjalan lebih dulu. Cekatan, Yashinta menarik tangan Kafka dan menggenggamnya. Membuat Kafka menoleh padanya dan menghentikan langkah mereka.
"Yashinta takut nyasar, Kafka." gadis itu berdalih agar Kafka tidak melarangnya untuk bergandengan tangan.
"Gue jalan di depan loe, lagian ini masih siang!"
"Yaudah, sih, cuma pengen pegangan tangan aja, kok." cicitnya yang membuat Aris yang sejak tadi memperhatikan mereka hanya mampu menggelengkan kepala.
Kafka pasrah, membiarkan gadis itu untuk menggenggam tangannya, bahkan sesekali bergayut manja, berjalan melewati gang untuk sampai di lapangan kompleks markas Alley Youth.
"Kafka sering kesini?"
"Hmm."
"Berapa kali?"
"Sering, Yas. Nggak pernah gue itung "
Yashinta hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Ia tidak bertanya apa-apa lagi karena takut Kafka akan marah. Sampai mereka sampai di sebuah lapangan outdoor.
Sekumpulan pemuda tampak sedang berdiskusi, sebagian mengobrol biasa di sebuah bangku panjang dan yang lainnya melakukan pemanasan.
Lapangan tersebut cukup besar, dengan lantai dari ubin yang sudah diberi garis dan batas sesuai aturan lapangan basket, terdapat dua ring persis seperti lapangan basket pada umumnya, dengan tembok yang penuh coretan, khas markas anak muda.
Di pinggir kanan dan kiri, terdapat dua buah kursi panjang sebagai tempat beristirahat atau duduk penonton, juga sekat dari jaring kawat sebagai batas yang mengelilingi lapangan.
"Ini tempatnya Kafka, nggak ada anak ceweknya ya?" tanya Yashinta saat menyadari hanya ada satu gadis di sana yang tak lain adalah dirinya.
"Enggak ada," Kafka menyahut singkat.
__ADS_1
Yashinta menganggukan kepalanya, beberapa pemuda menghampiri mereka. Salah satu dari mereka mengenakan bandana berwarna merah di lengannya. Yashinta dapat menebak jika orang itu adalah kapten Alley Youth.
Yashinta mengetahuinya karena Kafka juga adalah kapten basket, dan ia juga memiliki sebuah bandana yang diberikan langsung oleh Pak Barnas, pelatih basket SMA Firgo. Hanya saja warnanya berbeda, bandana milik Kafka berwarna hitam.
"Sama cewek loe, Kak. Boleh dong dikenalin!" goda salah satu dari mereka dengan tatapan nakal.
"Cantik, Kak. Ini Yashinta?" tanya salah seorang lagi, Yashinta merasa tidak nyaman mendapat tatapan dan perlakuan seperti itu, ia mengeratkan pegangannya di lengan Kafka. Membuat pemuda itu menoleh, ia mengerti arti tatapan Yashinta.
"Udah pada siap?" Kafka memilih untuk mengalihkan pembicaraan, tidak ingin mereka mengganggu Yashinta.
"Udah, tinggal maen aja. Skuy, lah. Udah sore, nih." sahut kapten mereka yang bernama Hafi.
Aris berlalu lebih dulu dengan Hafi dan yang lainnya. Sementara Kafka belum melangkah karena Yashinta menahannya.
"Yas," Kafka berusaha melepas cekalan tangan Yashinta.
"Kok temen-temennya Kafka, kaya gitu? Gak sopan, Yas nggak suka!" gadis itu menggerutu.
"Biarin aja."
"Gue maen dulu." sambungnya.
"Yas gimana?"
"Ya loe di sini aja, emang mau kemana?"
"Ikut maen?"
Gadis itu menggeleng, melepaskan lengan Kafka dengan perlahan, ia merasa tidak ingin ditinggalkan.
Kafka menunjuk kursi panjang di belakang Yashinta. Yashinta hanya menoleh, lantas mengangguk.
"Mereka nggak bakal apa-apain Yas, 'kan?"
"Ada gue, Yas. Tenang aja, salah loe sendiri malah mau ikut kesini."
"Kafka nggak bilang tempatnya serem kaya gini,"
Kafka tak menyahut, ia mengambil tasnya dan berlalu begitu saja keluar dari area lapangan untuk berganti pakaian.
Sementara Yashinta hanya duduk di sana dengan perasaan risih, sampai orang yang tiba-tiba saja duduk di sampingnya membuatnya refleks mengelus dada karena merasa terkejut.
"Sean, ngagetin aja, deh" rutuknya.
"Loe kenapa, sih, Yas?"
"Tempatnya serem, Sean. Yas nggak nyaman."
"Namanya juga tongkrongan anak muda, wajar berantakan."
"Tapi Yas takut, nggak nyaman di sini. Harusnya Yas nggak ikut, tapi Kafka nggak bilang kalo tempatnya serem gini." gadis itu mencebikan bibirnya setelah mengoceh karena merasa kesal.
Sean hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan Yashinta di hadapannya. Tangannya terangkat untuk mengusap puncak kepala gadis itu, membuat Yashinta mematung sejenak menatap Sean di hadapannya.
"Sean," mata gadis itu membulat. Membuat Sean tampak terkejut.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Jangan kaya gini, nanti kalo Kafka liat, dia marahin Yas."
"Oh!" Refleks Sean menurunkan tangannya. Yashinta tersenyum canggung setelahnya seraya merapikan poninya yang sedikit berantakan karena ulah Sean.
Sementara Kafka yang sudah terlanjur melihat hal itu hanya menatap mereka sekilas. Kemudian berjalan ke arah timnya yang sudah berkumpul dan siap untuk bermain.
Permainan berlangsung dengan Alley Youth yang sementara memimpin. Sedangkan Yashinta hanya duduk sebagai penonton dengan beberapa pemuda di sekitarnya yang juga menonton, sebagian dari mereka adalah pemain cadangan dari SMA Firgo sehingga Yashinta tidak terlalu risih, meski tidak terlalu akrab juga dengan mereka yang kebanyakan adalah anak kelas 12 IPA 3, tetangga kelasmya Kafka.
Yashinta fokus menatap Kafka di sana, yang dengan lihai menguasai bolanya, dengan rambut lepek karena keringat yang justru membuatnya semakin tampan.
"Kafka semangat!" Teriaknya yang membuat Kafka refleks menoleh, dengan gerakan cepat salah satu anggota tim lawan merebut bola darinya dan memasukannya ke ring.
Yashinta melotot tak percaya, tim Kafka juga sudah menggerutu karena mereka tertinggal beberapa poin dan Kafka justru memperburuk peluang mereka.
"Ka, fokus dong. Loe disemangatin malah nerfous, gimana sih,"
"Sorry-sorry!"
Yashinta diam-diam tersenyum melihat Kafka salah tingkah di tengah lapangan sana, ternyata Kafka bisa bertingkah seperti itu Yashinta baru mengetahuinya hari ini.
Pertandingan usai dengan tim Kafka yang keluar sebagai pemenang setelah mengecoh tim lawan, panas karena tertinggal beberapa poin membuat anggota dan Kafka sendiri gigih untuk memenangkan pertandingan.
Yashinta segera bangkit dari duduk dan menyerahkan botol minumnya pada Kafka saat pria itu mendatanginya.
"Kafka keren tadi," pujinya saat Kafka menenggak air pemberiannya itu.
"Keren pas bagian mana, Yas. Bagian bolanya di rebut tim lawan?" kawan-kawan Kafka tertawa meledek pemudia itu, sementara Kafka mengumpat pelan.
"Balik duluan, ya." pamit yang lain yang sudah bersiap mengambil tasnya. Kafka hanya mengangguk, membiarkan kawan satu timnya berlalu lebih dulu.
Sementara Kafka sendiri duduk di tempat Yashinta tadi. Napasnya masih berantakan, keringatnya juga masih bercucuran.
"Ka, gue balik sama Sean aja, ya." pamit Aris yang juga sudah bersiap untuk pulang dengan Sean di sampingnya.
"Oh, oke."
"Yas, duluan, ya."
"Iya, Sean. Hati-hati." gadis itu melambaikan tangan pada Sean dengan senyuman. Kafka memperhatikannya sampai tatapan gadis itu mengarah padanya. Senyum yang menghiasi wajah cantik Yashinta perlahan luntur melihat tatapan Kafka padanya.
"Gue gak suka loe terlalu deket sama Sean!"
"Kenapa?"
"Sean itu, 'kan temennya Kafka."
"Kalo gue bilang nggak suka, artinya gue gak suka. Cukup dengerin aja, bisa?"
Tanpa berpikir, Yashinta mengangguk dengan yakin mendengar nada sarkas dalam kalimat Kafka.
"Ka, nanti malem jadi, lah. Minum-minum kita. club biasa aja." salah seorang anak Alley Yoth dengan rambut pirang berkata pada Kafka di bangku kiri ujung lapangan.
"Iya, Ka. Ganti malam kemaren yang nggak jadi." imbuh Hafi. Yashinta menatap mereka, ada perasaan tidak suka saat justru Kafka mengiyakan ajakan mereka.
__ADS_1
TBC