Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Kebaikan Seorang Yashinta


__ADS_3

Sebelum tidur, Saras sempat bercerita jika ia sangat merindukan mamanya. Bahkan untuk sekedar berbicara dengan sang mama melalui sambungan telepon, papanya tidak memberi izin dan membuat Saras menjadi frustrasi.


Gadis itu nekad kabur dari rumah sekalipun tahu konsekuensi seperti apa yang nanti akan ia tanggung atas tindakannya.


Yashinta di sana hanya mendengarkan. Gadis itu cukup yakin jika dirinya tidak perlu memberi masukan atau komentar apapun. Karena yang Yashinta tahu, Saras hanya butuh pendengar, tidak lebih.


"Saras bisa tinggal di rumah Yas selama Saras mau. Kamar Yas luas, kalau Saras nggak mau satu kamar sama Yas. Nanti biar Yas suruh Bi Rasti beresin kamar tamu." panjang lebar gadis itu usai Saras puas bercerita. Saras hanya tersenyum menanggapinya, ia menyeka air matanya.


"Gue nggak mau bikin loe repot."


"Nggak ngerepotin kok, Saras. Kan Yas yang nawarin, bukan Saras yang minta."


Kali ini Saras memiringkan posisi tubuhnya, menghadap pada Yashinta. Membuat Yashinta memiringkan kepalanya. "Kayaknya kita nggak cukup akrab buat bisa tidur satu ranjang kaya gini." ucap Saras yang membuat Yashinta tersenyum kikuk.


Jelas saja apa yang Saras katakan memang benar. Keduanya tak cukup akrab untuk tidur di atas ranjang yang sama. Terlebih, Yashinta sering merasa cemburu dan kesal pada Saras atas kedekatannya dengan Kafka.


"Pasti gue sering bikin loe kesel karena gue deket sama, Kafka, yah?" gadis itu bagai bisa membaca pikiran Yashinta dan membuat Yashinta tercengang di tempatnya, ia hanya tersenyum samar. Tak bisa mengatakan apapun pada Saras. Karena untuk kesekian kali, apa yang Saras katakan memang benar.


"Sorry, Yashinta." sambungnya seraya mengusap punggung tangan Yashinta yang memeluk guling kesayangannya.


"Loe jangan salah paham, yah. Gue sama Kafka nggak ada hubungan apa-apa." sambung Saras. Yashinta masih mendengarkan.


"Kafka baik sama gue mungkin karena kasihan. Sejak awal dia tahu gimana keadaan gue dan cuma dia yang selalu ada buat gue." sahut Saras lagi.


"Gue selalu ngerasa kalau gue nggak punya siapa-siapa selain Kafka."


Yashinta segera meraih tangan Saras begitu melihat mata gadis itu menggenangkan krystal bening. "Saras jangan ngomong gitu, yah. Sekarang, Saras bukan cuma punya Kafka, tapi punya Yas juga."


"Saras nggak perlu khawatir. Saras nggak sendirian." gadis itu meyakinkan dengan senyuman. Saras balas tersenyum sekalipun air mata tumpah dan membasahi bantalnya.


"Kenapa loe baik banget, Yashinta?" tanya Saras, selama ini keduanya hanya saling sekedar mengetahui nama karena mereka mengenal orang yang sama–Kafka.


"Karena Kafka baik sama Saras, Yas juga harus baik.Tapi bukan cuma ke Saras, harus ke semua orang."


"Yas harus baik ke semua orang,"


"Hidup Yas harus bermanfaat buat orang lain."


****


"Papa." gadis itu menyapa Andri yang sudah duduk di meja makan untuk sarapan. Yashinta sempat menoleh ke belakang ketika Saras menghentikan langkah begitu melihat Papa Yashinta.


"Papa Yas baik, Saras nggak usah takut."


"Kalau dia nanya alesan gue nginep?" Saras khawatir.


"Saras tenang aja, Papa bakalan ngerti. Kalau Saras udah siap ceritain semuanya, Papa Yas juga bisa bantu." Yashinta meyakinkan saat raut wajah Saras begitu ketakutan.

__ADS_1


"Hay, Sayang." Andri membalas sapaan putrinya. Membuat Yashinta menggenggam tangan Saras dan mengajaknya turun ke lantai dasar, melanjutkan langkah mereka menapaki anak tangga.


"Papa inget Saras, 'kan?" tanya Yashinta saat mendapati wajah penuh tanya sang papa begitu melihat Saras bersamanya.


"Mm, ingat. Ternyata kalian akrab." Andri tidak menyangka jika putrinya punya teman dekat selain Ranti. Ia tentu saja merasa sangat tenang. Tanpa banyak bertanya, Andri mempersilakan Saras untuk duduk dan sarapan.


Andri sudah mengetahui sebagian cerita dari asisten rumah tangganya semalam saat ia pulang dari perusahaan. Jika Yashinta kedatangan tamu yang tak lain adalah temannya.


Yashinta benar, jika Papanya memang sangat baik. Dia bahkan tidak bertanya alasan mengapa Saras menginap dan kenapa pagi ini dia tidak memakai seragam sekolahnya.


"Sayang, hari ini Papa pulang larut lagi, yah. Kamu nggak perlu nunggu buat makan malam." beritahu Andri disela-sela makan.


"Papa lembur lagi? Kerjaan Papa banyak banget, yah?" Yashinta cemburut. Bukan tidak memahami kesibukan sang papa, hanya saja ia merasa khawatir jika Andri seringkali bekerja terlalu keras, terlambat makan dan sampai mengorbankan jam tidurnya.


Andri hanya tersenyum menanggapi kekhawatiran putrinya. Rupanya, interaksi sederhana itu tak lolos dari radar Saras, dalam beberapa saat waktu, ia cemburu dengan kedekatan antara anak dengan ayah itu.


Andai, hubungannya dengan sang papa juga sebaik itu. Saras pasti akan sangat bahagia meski kedua orang tuanya berpisah.


"Saras tinggal di rumah aja kalau emang nggak mau masuk sekolah dulu." pesan Yashinta saat gadis itu akan berangkat sekolah.


Saras memang menolak masuk sekolah sekalipun Yashinta akan meminjamkannya seragam. Saras takut jika papanya mencarinya di sekolah dan membuat keributan. Ia tidak ingin hal itu terjadi.


"Saras di kamar Yas aja, kalau bosen Saras bisa nonton tv atau ngobrol sama Bi Rasti yang semalem ngobatin Saras." ocehnya lagi. Saras hanya mengangguk-anggukan kepala dengan senyuman, Yashinta memang cerewet dengan segala bentuk perhatiannya.


"Loe tenang aja, loe belajar yang bener di sekolah. Gue bakalan baik-baik aja."


Saras berdecih melihat tingkah gadis itu. Ia tersenyum dan menggelengkan kepala kemudian masuk ke dalam rumah dan langsung menapaki anak tangga menuju kamar Yashinta.


Rasanya canggung jika harus berkeliaran di dalam rumah Yashinta.


Gadis itu duduk di kursi balkon, menatap ponsel yang sejak semalam ia matikan. Saras ragu unguk mengotak-atiknya, ia ingin menenangkan diri lebih dahulu, ia tidak ingin telepon ataupun pesan yang sang papa kirimkan akan membuatnya goyah.


Saras hanya butuh sesaat, sesaat terlepas dari cekalan papanya sendiri.


****


Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Yashinta hanya menatap keluar kaca jendela mobil, hal yang sudah biasa ia lakukan. Melihat aktivitas orang-orang dipagi hari hingga ponselnya yang berdering membuatnaya segera merogoh ponsel yang ia simpan di dalam tas di atas pangkuannya.


Id Malaikat menghiasi layar ponsel, dengan senyuman, gadis itu segera menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Hallo Mas Gibran, selamat pagi." Yashinta segera menyapa dengan riang gembira. Suasana paginya secerah cuaca hari ini.


"Hay Masha, selamat pagi juga." Gibran membalas di ujung sana. Untuk beberapa detik, dua orang itu hanya saling tersenyum setelah saling mendengar suara satu sama lain. Hingga kemudian, Yashinta mendengar Gibran mendehem di ujung sana.


"Kamu udah berangkat sekolah?"


"Iya. Udah, ini lagi di jalan."

__ADS_1


"Bagus kalau gitu."


Yashinta mengernyitkan dahi. "Ada apa Mas?"


"Saya di depan sekolah kamu."


"Hah?"


"Saya mau nganter buku yang semalam saya bilang–" Gibran menjeda kalimatnya, membuat Yashinta diam-diam menggigit kuku jatinya menunggu pria itu melanjutkan.


"Saya juga pengen cepet ketemu kamu."


Yashinta menahan senyumnya, kemudian melihat jalanan di depannya. Jaraknya ke sekolah masih cukup jauh.


"Mm, lima belas menit lagi Yas nyampe. Gimana, lama mggak?"


"Saya bisa tunggu satu atau dua jam lagi kalau perlu, atau setahun? Saya kuat, Yashinta."


Kali ini Yashinta tertawa, dengan Gibran obrolan mereka sangat main-main, tapi selalu berkesan. Begitulah yang Yashinta rasakan.


"Mm, yaudah. Yas dua tahun lagi kayaknya nyampe."


"Yasudah, saya nunggu sampai jamuran juga nggak papa, demi Adek."


"Abang bisa aja!" Yashinta tergelak kali ini. "Udah ah, bercandanya. Yas bentar lagi nyampe, Mas Gibran tunggu ya."


"Yasudah,"


"Dah, Mas Gibraan. Sampai ketemu lima belas menit lagi."


Setelahnya, panggilan terputus. Yashinta menaruh ponsel di atas pahanya. "Pak, ngebut sedikit yah." pintanya pada sopir pribadinya.


"Siap, Non."


Gadis itu terus mengembangkan senyum, tak lama setelahnya, ponselnya kembali berdering. Yashinta segera menggeser ikon hijau dan menaruh benda pipih itu di telinga tanpa membaca siapa penelponnya.


"Hallo, Mas. Yas bilang lima belas menit lagi."


"Loe bisa ke Rumah Sakit sekarang nggak?"


Yashinta mengernyit, ia menjauhkan ponsel dan menyadari jika sang penelpon adalah pacarnya.


"Rumah Sakit? Ada apa Kafka?"


TBC


Yaah, kayaknya nggak jadi meet sama Mas Gibran :"(

__ADS_1


__ADS_2