Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Masa Depan


__ADS_3

Semula Gibran berkutat dengan segala pekerjaan yang menyibukannya. Namun kedatangan Leon dengan wajah kusut membuatnya menjeda pekerjaan dan menghibur sahabatnya itu lebih dulu.


Gibran tau jika suasana perusahaan tidak akan membuat Leon nyaman, sehingga ia mengajak pria itu berkeliling dan berakhir di sebuah restoran yang berhadapan dengan toko kue. Gibran yang saat itu baru turun dari mobil dengan Leon mendapati sang Bunda keluar dari toko kue, ia melambaikan tangan. Membuat wanita paruh baya itu menghampirinya dengan paper bag merk toko kue di mana Bunda baru saja keluar dari sana.


"Bunda lagi ngapain?" tanya Gibran setelah sebelumnya sempat memeluk sang Bunda, sementara Leon hanya menyalami dan menyapa wanita itu.


"Bunda habis beli kue, mau jengukin temen Bunda yang lagi sakit." sahutnya seraya menunjukan paper bag di tangannya.


"Kalian makan siang di luar?" tanya Bunda kemudian, Leon dan Gibran mengangguk bersamaan.


"Tadi Bunda ketemu Kafka di sana." beritahu Bunda seraya menunjuk toko kue di hadapan mereka.


"Ngapain Kafka?"


"Beli kue juga, sama Yashinta. Katanya mau jenguk ayah temen Yashinta yang lagi sakit." sahut Bunda. Kali ini membuat Gibran mematung mendengar nama Yashinta disebut dan mengetahui fakta jika gadis itu sedang bersama Kafka saat ini, rasanya adalah kabar buruk bagi Gibran.


Terlebih mengingat putusnya Leon dengan Krystal karena ternyata wanita itu kembali berpacaran dengan mantannya. Padahal mereka akan bertunangan awal bulan nanti.


"Akhir-akhir ini Kafka jarang pulang ke rumah, kamu tolong bilangin ke dia biar nggak keluyuran terus."


"Kalian nggak kasian sama Bunda? Kamu juga di apartement terus." suara Bunda menyadarkan pria itu. Tidak ada yang bisa Gibran katakan, ia hanya menganggukan kepala dan mengatakan hati-hati pada sang Bunda saat wanita tercintanya itu pamit untuk segera pergi.


Gibran menikmati makan siangnya dengan Leon, pria itu banyak bercerita padanya mengenai kekecewaannya pada sang kekasih yang bermain belakang dan membuat pertunangan mereka batal.


Menurut Leon, kemungkinan besar hubungan keduanya tidak bisa diperbaiki. Pria itu tidak ingin memberi kesempatan pada Krystal yang sudah mengkhianatinya dan diam-diam berhubungan dengan mantan pacarnya.


Leon sulit memaafkan hal tersebut.


"Gue tau dia emang cinta pertama Krystal, gue cuma nggak nyangka aja kalau ternyata Krystal lebih milih balik sama dia daripada ngelanjutin hubungan sama gue yang bertahun-tahun nemenin dia." Leon mengutarakan kemecewaannya.


Sorot mata pria itu yang biasanya tengil dan menyebalkan kali ini terlihat begitu memprihatinkan.


"Emang bener, yah. Cinta pertama itu sulit di lupain?" Leon masih terus mengoceh. Gibran hanya mendengarkan tanpa merespond apapun, sekalinya perlu ia hanya menganggukan kepala sebagai tanda jika ia masih mendengarkan.


Karena saat ini, yang paling Leon butuhkan adalah pendengar.


"Selama tiga tahun ini gue baik banget sama Krystal, gue selalu ngasih apapun bahkan tanpa dia minta. Tapi kayaknya itu belum cukup buat gantiin posisi mantannya."


Apa yang Leon katakan membuat Gibran sadar, jika ia pun berlaku demikian pada Yashinta, dan ia berharap gadis itu tidak akan seperti Krystal.


Gibran hanya diam saat ia menoleh pada dinding kaca di sampingnya dan mendapati Yashinta keluar dari toko kue dengan Kafka.


Hal itu cukup membuat perasaan Gibran tak karuan, terlebih saat ponsel gadis itu tidak bisa dihubingi.


Hal itu berlangsung hingga sore hari, bahkan nyaris membuat Gibran tak fokus pada pertemuannya dengan Kanza yang berlangsung di restoran dekat perusahaan.


"Ibu Kanza, putri kedua pemilik perusahaan Royal. Dia baru saja membereskan study S2-nya di Australia dan pulang ke Indonesia sekitar dua bulan yang lalu."


"Kakaknya meneruskan perusahaan di Luar Negri, Direktur Utama Royal sudah cukup tua sehingga jabatan diserahkan pada Ibu Kanza."


Samar-samar Gibran mengingat apa yang Intan sampaikan beberapa saat lalu di perusahaan sebelum mereka memulai pertemuan.


Gibran menatap Kanza yang saat itu datang dengan asisten dan skretarisnya, berikut juga seorang anak berusia sekitar empat tahun. Anak perempuan itu duduk manis di samping Kanza dan hanya mengerjap menatap Gibran.


Gibran yang semula juga menatapnya mengalihkan perhatian pada Kanza.

__ADS_1


"Sebelumnya mohon maaf, tapi saya tidak bisa meninggalkan putri saya di rumah. Kemarin dia sakit, dan saya ingin terus bersamanya." ujar Kanza andai koleganya itu keberatan dengan kehadiran putrinya.


"Tidak apa-apa."


Intan di belakang Gibran menyerahkan sebuah berkas pada Gibran yang langsung diterima oleh pria itu.


"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Gibran kemudian, Kanza menganggukan kepalanya.


"Pak Gibran Abiansyah." Kanza tersenyum manis.


"Ibu Kanza Darellta." Gibran balas tersenyum.


Dua orang itu sama-sama sibuk, terlebih Kanza sebagai Direktur baru yang pastinya mengurus banyak hal sejak menjabat. Sehingga penandatangan perpanjangan kontrak kerja sama yang seharusnya sudah dilakukan berhari-hari yang lalu baru terlaksana hari ini.


Gibran membubuhkan tanda tangannya lebih dulu, kemudian menyodorkan berkas tersebut pada Kanza. Sebelum menandatangani berkas tersebut, Kanza sempat menatap Gibran sebentar.


"Semoga perusahaan kita bisa seterusnya bekerja sama, Pak Gibran." ujarnya, kemudian membubuhkan tandatangannya di sana.


Setelahnya, Gibran dan Kanza meminta skretaris dan asisten mereka untuk menunggu di luar. Sementara mereka masih di tempat, Kanza tampak memerhatikan putrinya yang tengah menikmati makan siang.


"Makan yang banyak, Sayang." Kanza mengusap puncak kepala anak kecil yang tengah lahap makan itu. Sementara Gibran hanya memerhatikan.


Kanza yang menyadari hal itu lantas menegakan duduknya dan menatap Gibran, saat pria itu mengambil tisue dan mengusap sisi bibir putrinya, Kanza sempat mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


"Namanya Reikansa," Kanza memperkenalkan.


"Cantik," Gibran memuji.


"Ayahnya ninggalin kami saat Reikansa masih dalam kandungan." sambung Kanza, ia tampak berusaha tersenyum menutupi duka di hidupnya. Baginya, setelah ia memiliki Reikansa, gadis itu adalah dunianya. Dan Kanza akan selalu bahagia dengan kehadirannya


Kanza diam sesaat, sedangkan Gibran sejak tadi hanya menyimak. Kemudian mengarahkan tatapannya secara lurus pada wanita di hadapannya.


"Mungkin seharusnya dulu aku nggak ninggalin kamu dan lebih milih sama Ayah Reikansa."


"Kamu jauh lebih baik daripada dia Gibran."


"Tapi aku nggak pernah nyesel sama semua yang udah terjadi. Aku nggak pernah nyesel udah milih Ayah Reikansa dan memiliki putri secantik itu." Kanza menatap putrinya penuh arti. Reikansa yang tengah menikmati makan siangnya hanya tersenyum.


Sementara Gibran hanya diam, baginya apa yang sudah pernah berakhir maka sudah. Tidak ada yang perlu diperbaiki. Toh ia dengan Kanza sudah menjalani hidup mereka sendiri-sendiri dengan bahagia setelah hubungan keduanya berakhir lima tahun yang lalu.


"Tapi Gibran, dari dulu kamu adalah yang terbaik."


"Kamu tetap laki-laki paling baik. Aku beruntung pernah bersama kamu."


"Bunda apa kabar?"


***


Yashinta masih tidak bisa dihubungi setelah Gibran selesai dengan urusannya bersama Kanza, sehingga ia mendatangi tempat les piano gadis itu namun Yashinta tidak ada di sana.


Gibran akhirnya menghubungi rumah Yashinta dan Bi Rasti bilang jika gadis itu belum pulang, sehingga Gibran yang merasa yakin jika gadis itu berada di rumah Ranti meminta alamat rumah Ranti dan mendatangi Yashinta di sana.


Rupanya benar, sang pacar masih berada di sana dan Kafka juga masih bersama dengan Yashinta. Gibran tidak bisa menahan kecemburuannya saat itu, namun ia tetap harus menjaga sikap di hadapan semua orang.


"Mas Gibran kenapa nggak nelpon Yas?" tanya gadis itu saat keduanya dalam perjalanan pulang ke rumah Yashinta.

__ADS_1


"Ponsel kamu nggak aktif." Gibran menyahut singkat. Membuat gadis itu memeriksa ponselnya kemudian menepuk kepala saat menyadari jika ponselnya mati.


"Boleh nyarger nggak?" gadis itu bertanya, Gibran mengangguk, Yashinta tampak mengeluarkan charger dari dalam tasnya, Gibran yang memerhatikannya hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu.


"Mas Gibran,"


"Hmm?"


"Maaf, yah."


"Maaf karena Yas nggak ngabarin Mas Gibran kalau hari ini Yas nggak jadi les. Maaf juga karena Yas sama Kafka." ujarnya penuh sesal, Gibran meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya kemudian hanya tersenyum.


"Maaf udah bikin Mas Gibran repot harus bokak-balik buat nyariin Yas."


"Nggak masalah,"


"Maafin Yas."


Gibran tak menyahut, ia mulai menepikan mobilnya ketika sudah tiba di depan gerbang rumah Yashinta.


"Yashinta, saya pengen kamu nggak usah terlalu banyak meminta maaf. Sejak memutuskan bersama-sama, sama kamu, saya berjanji pada diri saya sendiri kalau saya akan kasih apapun buat kamu asal kamu bahagia."


"Saya akan ngelakuin apapun. Dan ini bukan apa-apa buat saya." panjang lebar pria itu.


"Tapi saya mohon, jangan sulit dihubungi. Angkat telepon sari saya bahkan saat saya ada di deket kamu." sambungnya. Yashinta menatap Gibran tanpa bersuara.


"Bukan Mas Gibran yang beruntung dapetin Yas. Tapi Yas yang beruntung punya Mas Gibran." ujar gadis itu dengan wajah sendu. Gibran selalu dengan andalannya, tersenyum.


Saat Yashinta berhambur memeluknya, yang pria itu lakukan hanya membalas pelukan Yashinta dengan hangat, bahkan meninggalkan kecupan penuh cinta di dahi gadis itu, membuat Yashinta mendongak sehingga pandangan keduanya bertemu.


"Kenapa nggak di bibir?" gadis itu bertanya.


"Mm, no kiss on the lips before marriage?" Gibran menaikan alisnya.


Yashinta mencebikan bibir. "Curang?" ia mengurai pelukan.


"Kenapa curang?"


"Mas Gibran cium Yas di apartement padahal waktu itu kita belum pacaran!" Gibran tertawa mendengarnya, membuat gadis itu dongkol, Gibran turun dan membukakan pintu mobil untuk Yashinta.


Gadis itu turun dan masih menunjukan wajah kesal yang tampak menggemaskan di mata Gibran.


"Selamat istirahat, Yashinta." Gibran mengacak puncak kepala gadis itu. Sedangkan Yashinta menunjuk-nunjuk bibirnya seraya melangkah mundur menuju gerbang.


Membuat Gibran hanya melambaikan tangan dengan senyum mengembang di bibirnya. Pada akhirnya membuat gadis itu menyerah dan berbalik, melangkah memasuki gerbang setelah melambai dengan lesu padanya.


Gibran menggelengkan kepala melihat tingkah gadis itu, kemudian ia masuk ke dalam mobil dan meraih ponselnya. Mendial nomor gadis itu dan menelpon Yashinta untuk mendengar suaranya.


Tapi justru ponsel gadis itu tertinggal di dalam mobilnya, Gibran meraih ponsel sang pacar, dengan ponsel miliknya yang masih menempel di telinga.


Masa Depan❤


Begitulah nama kontak Gibran di ponsel gadis itu sekarang. Membuat senyum di bibir Gibran mengembang sempurna. Ia menoleh ke samping dan menatap balkon kamar Yashinta.


Gibran sudah pernah kehilangan wanita yang dicintainya. Dan kali ini, ia tidak akan membuat hal itu terulang kembali. Gibran tidak akan melepaskan Yashinta apapun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan gadis itu pergi.

__ADS_1


TBC


__ADS_2