Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Meja Makan Bunda (2)


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, saat pernikahan antara Andri dan Arumi hanya tinggal menghitung hari, Yashinta mendapat undangan dari Bunda untuk makan malam di rumahnya, Yashinta tidak bisa menolak saat itu, fakta jika Kafka belum memberitahu Bunda bahwa mereka sudah putus seolah membuat Yashinta masih menjelma menjadi pacar Kafka.


Kali ini, Yashinta memberitahukan kondisinya pada Gibran bagaimana Bunda menganggap bahwa ia dan Kafka masih berpacaran. Tampaknya, Gibran pun sama dengan Kafka, tak ingin menyinggung perasaan Bunda.


Pria itu memberinya izin untuk datang memenuhi undangan Bunda dengan Gibran yang juga akan mampir ke rumah sang Bunda dan ikut makan malam bersama.


Yashinta datang saat waktu menunjukan pukul lima sore, ia ikut terjun ke dapur dan membantu Bunda memasak. Saat itu, Kafka baru saja turun dari lantai dua kamarnya dan berjalan ke dapur untuk mengambil minum.


Dilihat dari rambutnya yang berantakan dan matanya yang sedikit merah, Yashinta cukup yakin jika pria itu baru saja bangun tidur.


"Mas kamu masih di mana, Ka. Udah pulang belum dari kantor?" tanya Bunda saat melihat putra bungsunya tengah menenggak segelas air.


"Katanya dia mau mampir."


"Tungguin aja Bun, palingan masih di perusahaan." Kafka menyahut kemudian duduk di salah satu kursi meja makan tepat berhadapan dengan Yashinta yang saat itu tengah mengupas bawang.


Kafka hanya menatap gadis itu, sekilas ia mengingat pertengkarannya dengan Gibran tempo hari, ia belum sempat meminta maaf pada sang kakak, jujur Kafka merasa bersalah sudah menyinggung Kanza di hadapan Gibran.


Padahal ia tau bagaimana hubungan sang kakak dan mantan calon kakak iparnya itu berakhir.


"Perih,"


Kafka tersadar saat mendengar suara Yashinta, spontan ia menarik tangan gadis itu dan membawanya ke wastafel setelah melihat mata Yashinta berair. Bunda yang mendapati hal itu hanya memerhatikan.


"Sayang, kamu iris wortel aja. Biar bawangnya jadi urusan Bunda sama Bibi." Bunda bersuara setelah beberapa saat, membuat Bibi ngibrit mengambil wadah bawang berikut hasil kupasan Yashinta.


Sedangkan dua orang yang berada di wastafel tampak sibuk, Kafka tengah membantu Yashinta membasahi matanya agar tidak perih setelah gadus itu dengan ceroboh mengucek matanya dengan tangan yang dipakai mengupas bawang.


"Jangan pake tangan loe." cegah Kafka, menahan tangan gadis itu yang akan kembali mengucek matanya. Kafka menggunakan tangannya dan mengusap mata gadis itu dengan perlahan.


"Gimana, udah mendingan?" tanya Kafka, Yashinta mengerjap-ngerjapkan matanya. Kemudian menganggukan kepala. Dan ia baru menyadari jika Kafka masih menggenggam tangannya.


"Sudah mendingan, Sayang?" tanya Bunda, membuat Kafka spontan melepas tangan Yashinta begitu juga gadis itu yang menarik tangannya.


"Udah–Bun." Yashinta menyahut, gugup.


"Maafin, Bunda, yah. Harusnya Bunda nggak ngebiarin kamu ngupas bawang." sesal Bunda, merasa tidak enak sudah membuat gadis itu mengeluarkan air mata.


"Nggak papa Bunda." Yashinta menampilkan senyum terbaik andalannya agar Bunda tak perlu merasa bersalah.


"Yasudah, kamu duduk dan ngeliatin Bunda aja, yah"


"Yas pengen bantu."


"Bantu liatin, oke." Bunda sedikit memaksa dan membuat Yashinta akhirnya hanya menganggukan kepala. Ia hanya duduk di sana dan melihat Bunda memasak, sedangkan Kafka pamit kembali ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian.


Pria itu segera melempar tubuhnya ke atas tempat tidur, menatap plafon kamar dan mengembuskan napas kasar. Kafka tidak bisa menahannya lebih lama lagi, ia tidak bisa terus menerus membiarkan Yashinta berada di sekitarnya dan bersikap seolah-olah mereka masih berpacaran.

__ADS_1


Kafka tidak ingin menahannya lebih lama lagi atau ia tidak akan bisa mengendalikan perasaannya pada gadis itu. Kafka tidak cukup pandai menahan diri.


Ia memejamkan matanya, kemudian mengambil bantal dan menutup wajahnya dengan bantal tersebut.


****


Kafka turun ke lantai bawah tepat setelah Bunda dan Bibi selesai memasak, Yashinta tampak sedang menata meja makan dan menaruh beberapa wadah berisi lauk pauk bersamaan dengan suara ketukan pintu, membuat Kafka beranjak untuk membuka pintu.


"Itu pasti Mas Gibran," Bunda bersuara.


"Biar Yas aja yang bukain pintu, Bunda." gadis itu dengan cepat beranjak dan membuat langkah Kafka terhenti. Pria yang semula hendak pergi untuk membuka pintu itu memilih untuk segera duduk namun matanya lekat menatap punggung Yashinta yang berjalan menuju pintu keluar.


Yashinta sempat merapikan rambutnya lebih dulu sebelum kemudian membuka pintu, gadis itu tersenyum saat melihat sang kekasih berdiri di depan pintu dengan jas yang tersampir di tangannya.


"Hay," Yashinta menyapa dengan senyum ceria. Gibran tersenyum dan melambaikan tangannya, pria itu sempat melihat kondisi di dalam rumah sekilas sebelum kemudian mengusap satu sisi wajah Yashinta secara singkat.


"Bunda udah nunggu di dalem, sama Kafka." ujarnya seraya berjalan dengan pria itu. "Makan malamnya udah siap." sambungnya.


"Kamu ikut masak?"


"Ikut ngupas bawang, terus nangis." Yashinta menyahut seraya tertawa, Gibran hanya tersenyum menanggapinya.


"Kamu sudah datang, Mas. Ayo makan," sahut Bunda, menaruh piring terakhir berisi udang asam manis di meja makan lantas duduk. Begitu juga dengan anak-anaknya.


Gibran menaruh jas miliknya pada sandaran kursi, sekilas ia saling bertukar pandang dengan Kafka kemudian duduk ketika Bunda sudah menyendokannya nasi.


"Terutama kamu Mas," Bunda mengarahkan tatapannya pada Gibran. "Jangan keseringan telat makan dengan alasan pekerjaan. Bunda nggak mau anak Bunda sakit." sambungnya yang membuat ketiganya tersenyum dan mengucap terimakasih.


Keempatnya memulai makan, dengan formasi duduk Yashinta dan Kafka bersebalahan kemudian berhadapan dengan Bunda dan Gibran. Yashinta berhadapan langsung dengan sang pacar. Rasanya canggung saat mereka harus bersama dan menyembunyikan hubungan keduanya.


"Persiapan pernikahan Papa Yashinta sudah beres semua, yah?" Bunda bertanya disela-sela makan.


"Iya, Bun. Hampir seratus persen." gadis itu menyahut, kemudian memasukan nasi ke mulutnya.


"Senang pasti, punya Mama baru." Bunda menggoda gadis itu.


"Senang Bunda, rumah Yas juga pasti jadi rame."


"Sean tinggal di rumah juga?" kali ini Gibran yang bertanya, cukup membuat gadis itu terlesiap, alih-alih segera menyahut ia justru melamun.


Gibran yang tengah mengunyah makanan mengerutkan kening menatap gadis itu, begitu menelan makanannya ia berbicara. "Sean ikut tinggal di rumah kamu?" pria itu memperjelas pertanyaannya.


Yashinta menganggukan kepala sebagai jawaban. Bunda yang melihatnya hanya tersenyum sedangkan Kafka lebih banyak diam dan fokus menghabiskan makanannya.


Setelahnya, Bunda dengan Gibran dan Yashinta kembali makan. Ketika ia mengangkat pandangan untuk bicara pada putra sulungnya mengenai sesuatu hal, tidak sengaja Bunda melihat pemandangan yang cukup mengherankan.


Dimana Gibran tampak terus menatap Yashinta dan sesekli tersenyum begitu juga Yashinta melalukan hal yang sama.

__ADS_1


"Mas," Bunda memanggil, membuat pria itu spontan menoleh padanya.


"Iya, Bun?"


"Kemarin Binda ketemu Kanza." sahut Bunda. Hal itu berhasil membuat raut wajah Gibran berubah persekian detik, berikut juga menyita perhatian Kafka yang mengingat kejadian beberapa hari lalu saat ia membahas Kanza pada sang kakak.


Sedangkan Yashinta tampak menyimak. Kafka sempat menoleh pada gadis itu sebentar sebelum kemudian fokus pada Bunda.


"Sudah berapa tahun, yah? Sudah lama sekali, dia sekarang kelihatan lebih dewasa." Bunda bagai menerawang.


"Tapi tetap sama. Masih cantik, sopan dan ramah. Masih seperti dulu." sahut Bunda lagi namun suasana hati Gibran sudah berubah. Terlebih saat sekilas ia melihat raut wajah Yashinta yang tampaknya sudah dapat menebak siapa wanita yang dimaksud oleh Bunda.


"Apa kalian nggak bisa kembali bersama?" tanya Bunda kemudian.


Mata wanita itu tampak berkaca-kaca, tapi kemudian ia tampak menghalau air matanya agar tidak jatuh.


Bunda menghela napas. "Seharusnya Bunda nggak ngomongin ini. Tapi Bunda cuma mau kamu bersama dengan wanita yang bisa bikin kamu bahagia."


"Bunda merasa yakin Kanza orangnya," sambungnya lagi.


Hal itu membuat tangan Yashinta yang berada di bawah meja terkepal sempurna, bukan marah pada Bunda, hanya saja ia merasa sakit luar biasa di ulu hatinya.


"Bunda ingin punya dua menantu yang baik. Satu Kanza dan satu lagi Yashinta." kali ini Bunda mengalihkan tatapannya pada Yashinta namun gadis itu sama sekali sudah tak bisa tersenyum. Meski begitu, gadis itu tetap berusaha mengukir senyumnya.


"Setelah nanti Kafka sama Yashinta menikah–"


"Kafka sama Yashinta nggak akan menikah, Bun." Kafka menyela dengan cepat, Bunda menatap putra bungsungnya itu dengan heran.


"Kafka sama Yashinta udah putus."


"Kapan?" Bunda tampak terkejut dan kian heran.


"Udah lama, Bunda. Kita udah nggak pacaran." Bunda terdiam, ia menatap Yashinta yang sejak tadi hanya diam. "Benar Yashinta?" kali ini Bunda bertanya pada gadis itu.


Yashinta perlahan menganggukan kepala. Sepertinya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk Bunda mengetahui faktanya. Bahwa ia dengan Kafka sudah tak lagi bersama.


Sejenak Bunda hanya mematung, nafsu makannya hilang sudah.


Padahal sejak awal ketika Kafka pertama kali mengenalkan Yashinta padanya, Bunda beranggapan jika hubungan mereka hanya sebatas anak remaja dan ia tidak berharap lebih dari keduanya.


Tapi saat sekarang mendengar dua orang itu putus, Bunda merasa kosong. Ia sudah terlanjur merasa cocok dengan Yashinta dan terlanjur menyayangi gadis itu.


"Enggak papa, kalaupun kalian putus Bunda udah anggap Yashinta seperti anak Bunda sendiri." ujar Bunda.


"Yashinta, kamu bebas main kemari kalau kamu mau. Pintu rumah Bunda selalu terbuka untuk kamu."


TBC

__ADS_1


__ADS_2