Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Mencair?


__ADS_3

Kafka tentu saja sangat terkejut saat melihat melalui kaca jendela ruang guru dan melihat Yashinta benar-benar berada di dalam dengan Mr. Rajas.


Dengan segumpal amarah saat melihat tangan Mr. Rajas berada di pinggang sang pacar, pria itu segera membuka pintu.


Namun Kafka benar-benar tak menyangka jika Mr. Rajas akan sangat berniat melakukan hal tersebut ketika mendapati pintu kantor yang terkunci, tentu saja Kafka tidak memiliki pilihan lain selain mendobrak pintu sekalipun ia mungkin akan kena sanksi karena merusak pintu kantor guru.


Kafka tak berhasil pada dobrakan pertama, membuatnya berdecak frustrasi dengan hati mengkhawatirkan Yashinta. Gadis itu pasti tengah panik dan ketakutan saat ini.


"Mas Kafka, Mas Kafka ngapain?" Pak Satpam muncul entah darimana, berikut dua orang siswa yang tampaknya tengah pemanasan untuk ekskul futsal dengan berlari kecil mengelilingi gedung sekolah.


"Pak, bisa bantuin saya dobrak pintunya." pinta Kafka.


"Ngapain Mas?" Pak Satpam tampak terkejut.


Kafka tak menyahut dan kembali mendobrak pintu, melihat tindakan tersebut Pak Satpam akhirnya melihat situasi di dalam kantor guru dan ia begitu terkejut saat mendapati ada Yashinta di dalam sana bersama dengan Mr. Rajas.


"Ayo, bantu Mas Kafka!" intruksinya pada dua siswa yang masih berdiri di sana saat melihat keributan yang Kafka ciptakan.


Begitu pintu terbuka, Kafka setengah berlari menarik Yashinta lantas melumpuhkan Mr. Rajas dengan serangan tiba-tiba, pemuda itu mendaratakan tendangan di perut guru itu sampai membuat Mr. Rajas terkapar di lantai tanpa bisa melakukan perlawanan.


Tidak cukup di sana, Kafka menghampiri Mr. Rajas, menarik kerah kemejanya dan mendaratkan pukulan di wajahnya berulang kali, mungkin wajah guru tampan itu akan benar-benar hancur kalau saja Satpam dan dua siswi yang membantu Kafka mendobrak pintu tidak melerai Kafka.


"Loe bakalan nyesel karena udah sentuh Yashinta!" ancam Kafka dengan tatapan menyala. Mr. Rajas tidak bisa berkutik, hanya mampu menyeka darah di ujung bibirnya dengan punggung tangan akibat ulah Kafka.


Kafka menoleh pada Yashinta yang hanya mematung dengan tatapan tertunduk ke bawah, ia segera meraih tangan gadis itu dan menariknya keluar dari sana. Meninggalkan Mr. Rajas yang kepayahan.


"Aduh, bagaimana ini." decak Pak Satpam dengan berkacak pinggang. Pasalnya, ini bukan kali pertama sang Satpam melihat Mr.Rajas menggoda para siswi, puncaknya adalah Yashinta. Semoga Mr. Rajas jera dan dikeluarkan dari sekolah setelah ini.


****


Kafka menatap Yashinta yang sudah duduk di kursi samping kemudi. Ia mendesah melihat gadis itu. Kafka melihat ke kursi belakang dimana almamaternya yang sangat jarang ia kenakan berada di sana. Kafka meraihnya.


"Mulai sekarang nggak usah lagi ke kantor guru kalo sendirian!"


"Biasanya Yas dianter Ranti, tapi tadi Ranti buru-buru. Yas juga terpaksa ke sana sendiri." gadis itu menyahut dengan nada hampir menangis, sedangkan pandangannya masih saja menunduk ke bawah.


"Kalo ngomong sama gue liat mata gue. Gue di sini bukan di bawah!" Kafka sewot.


"Enggak!" tolaknya tanpa takut.


Kafka hanya kembali mendesah dan tidak ingin memaksa kali ini. "Loe ganti seragam, deh. Jangan make yang itu, gak bisa longgaran dikit apa?" pemuda itu melipat tangannya di dada.


"Punya anak-anak lain juga kaya gini Kafka."


"Lagian seragam Yas nggak ketat-ketat amat. Emang Dia aja yang nggak bisa jaga pandangan!" Yashinta bahkan enggan menyebut nama Mr. Rajas.


Kafka mendesah, menyampirkan almamaternya pada tubuh Yashinta dan menyandarkan punggungnya ke belakang. Ia tak kunjung menghidupkan mesin mobil sebelum Yashinta tenang dan lebih memilih memejamkan mata.


"Kafka kenapa malah marah sama Yas?" gadis itu bertanya pada sang pacar, kali ini menatap Kafka.

__ADS_1


"Kafka nggak kasian yah sama, Yas. Padahal Yas korban, Yas ketakutan tadi di dalem, takut diapa-apain. Ponsel Yas juga ketinggalan di kelas. Yas nggak bisa hubungin Kafka. Yas takut Kafka nggak nolongin Yas." oceh gadis itu dengan berusaha keras menahan air matanya.


"Pada kenyataannya gue datang nyelametin loe, 'kan?"


"Tapi Kafka terlambat, Dia udah sentuh tangan sama pinggang Yas." kali ini Yashinta tidak bisa lagi berpura-pura tegar di hadapan Kafka. Ia menangis mengingat betapa menakutkannya situasi di ruang guru tadi.


Kafka membuka matanya, tangannya yang semula terlipat di dada ia turunkan. Ia menatap Yashinta yang menangis dan menahan isakannya. "Bagian mana lagi yang dia sentuh?" tanya Kafka, tampak tidak terima atas apa yang Yashinta sampaikan. Pun ia melihat fakta itu dan sampai detik ini masih tidak terima atas kelancangan Mr. Rajas pada pacarnya.


Yashinta tak menyahut, ia hanya menangis sampai kemudian Kafka dengan lembut meraih tangannya. Lantas menarik Yashinta dalam pelukannya. Mengalirkan ketenangan bagi hati Yashinta yang merasa risih, takut dan gentar.


Kafka melenyapkan semua kekhawatiran.


"Sorry gue terlambat."


"Sorry gue selalu terlambat."


"Maafin gue."


***


Kafka mengantarkan Yashinta pulang, sepanjang perjalanan, gadis itu hanya diam. Kafka membiarkannya karena Yashinta pasti perlu menenangkan diri. Bagaimanapun, kejadian tadi bukanlah masalah sepele. Kafka harap, Mr.Rajas mendapat ganjaran yang setimpal atas apa yang dilakukannya.


Kafka sangat marah mengingat bagaimana ketakutannya Yashinta saat di ruang guru tadi. Gadisnya yang polos.


Ia menoleh pada gadis itu yang menatap keluar kaca jendela. Kafka tersenyum getir, mungkin jika begitu bubaran sekolah tadi ia menunggu gadis itu di depan kelasnya, maka kejadian seperti ini tidak akan terjadi.


"Iya. Gue mampir."


"Tapi Yas mau langsung tidur siang, nggak papa?"


"Nggak papa, nanti gue balik pas bokap loe udah balik dari kantor." sahut Kafka yang mendapat anggukan dari Yashinta. Biasanya, gadis itu akan sangat antusias jika Kafka, mampir, tapi kali ini Yashinta terlihat biasa saja.


Kafka hanya mengikuti langkah Yashinta masuk ke dalam rumah. Sampai seorang asisten rumah tangga menghampiri mereka.


"Non Yas, sudah pulang." sapanya, Yashinta hanya tersenyum menanggapi hal itu. Membuat Mbak Lala terlihat kikuk, biasanya Yashinta ceria melebihi dirinya, tapi kali ini tidak.


"Tadi Tuan telpon, nanyain Non Yas sudah pulang atau belum." sahutnya lagi, mengabaikan perubahan sikap anak majikannya.


"Oh, nggak papa Mbak. Nanti biar Yas aja yang telpon Papa."


"Yaudah atuh, Non."


"Sama ini yah, Mbak minta tolong bawain makan siang ke kamar Yas nanti."


"Siap Non." Mbak Lala berlalu, ia juga sempat tersenyum dengan anggukan samar pada Kafka sebelum benar-benar melangkahkan kakinya menuju dapur untuk meminta makanan Yashinta pada Bi Rasti.


"Kafka mau makan di sini aja atau ikut ke kamar Yas?" tanya gadis itu pada sang pacar yang hanya diam.


"Ke kamar loe aja." Kafka menyahut lantas menapaki anak tangga menuju kamar Yashinta bersama dengan gadis itu.

__ADS_1


Ruang kamar yang didominasi warna merah muda itu bukan baru pertama kali Kafka kunjungi. Ini kali kedua ia memasuki kamar Yashinta setelah berpacaran dengan gadis itu. Sekalipun warna ruang kamar Yashinta membuatnya sakit mata, tapi di sana jauh lebih baik daripada di lantai bawah tanpa gadis itu.


"Yas bilang ke Papa mau dekor kamarnya diganti."


"Kenapa?" tanya Kafka yang sedang memerhatikan kamar gadis itu yang tampak begitu rapi. Ia meraih bingkai foto di meja belajar Yashinta dimana foto tersebut adalah mereka berdua saat liburan di puncak empat bulan lalu saat awal keduanya berpacaran.


"Yas udah bosen. Mau ganti warna."


Kafka menoleh mendengar nada bicara gadis itu. Kafka tersenyum, sepertinya Yashintanya sudah kembali dan ia merasa tenang. Rasanya sangat tidak nyaman menyaksikan Yashinta tampak murung dan hanya diam seperti orang bisu.


"Kafka sukanya warna apa?"


Kafka mengernyit, gadis itu menoleh saat Kafka tak menjawab pertanyaannya. "Catnya mau ganti sama warna kesukaannya Kafka."


"Hitam." pria itu menyahut spontan.


"Kok hitam?"


"Gue sukanya warna hitam, emang loe suka warna pink."


Yashinta berdecak dan tak mau lagi melanjutkan topik itu. Akan sangat menyeramkan jika kamarnya di dekor dengan warna hitam. Yashinta akan memikirkan itu lagi nanti.


"Kafka mau mandi nggak?" tanya Yashinta seraya melepas almamater Kafka yang tersampir di tubuhnya.


"Loe yakin nawarin gue mandi di sini?" tanya Kafka dengan alis bertaut.


"Yakinlah Kafka. Lagian juga kalo nanti kita udah nikah Kafka bakalan mandi di sini." sahut gadis itu dengan entengnya. Kafka berdecak, menyentil kening gadis itu pelan dan membuat Yashinta meringis kesakitan.


"Masih kecil, nggak usah ngomong-ngomongin nikah!" semprot Kafka.


"Lagian siapa juga yang mau nikah sama loe!"


"Siapa bilang Yas masih kecil, Yas udah gede." mengabaikan kalimat kedua yang Kafka katakan.


"Apanya yang gede?" tanya Kafka, ambigu.


Mulut Yashinta membentuk huruf O dengan tatapan tak terbaca mengarah pada Kafka. "Kafka mesum banget!" gadis itu menyilangkan tangannya di depan dada, membuat Kafka tertawa. "Gue nggak mesum, pikiran loe aja yang ngeres!" sahut Kafka seraya berlalu menuju balkon kamar.


"Kafka."


"Hmm?" Kafka berbalik. Yashinta sudah menurunkan silangan tangannya.


"Makasih, yah, karena hari ini udah nolongin Yas."


"Yas sayang banget sama Kafka." gadis itu tersenyum manis setelahnya, membuat Kafka tersenyum tipis. Lantas menganggukan kepala meski samar dilihat Yashinta.


TBC


Apakah gunung es sudah mencair? Entahlah, seharusnya tidak semudah itu.

__ADS_1


__ADS_2