Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Hadiah Ulang Tahun


__ADS_3

Ranti yang juga melihat kebersamaan Yashinta dengan mama Sean tersenyum, ikut merasakan senang. Sampai ia tak sengaja menyentuh tangan Sean karena fokusnya masih pada Yashinta dan Arumi di anak tangga.


Sean yang sedang menggunting pita dan mendapati tangannya disentuh oleh gadis itu hanya mengangkat pandangan, sementara Ranti masih hanya tersenyum dan membuat Sean menggeleng tidak mengerti.


Pada akhirnya, Sean menyingkirkan tangan Ranti dengan perlahan menggunakan tangannya yang lain. Membuat gadis itu tersadar dan menarik tangannya dengan wajah kikuk.


Bi Rasti yang melihat hal itu hanya bertukar pandang dan tersenyum dengan Mbak Lala yang baru beberapa hari kembali ke rumah Yashinta setelah pulang kampung.


Guna meredakan canggungnya, Ranti mendehem. Lantas menatap Sean dan kembali sibuk dengan pria itu untuk menyelesaikan dekor. "Loe beneran nggak tahu kalau Kafka sama Saras pumya hubungan?" tanyanya. Bagaimanapun, Sean pasti mengetahui sesuatu karena dia adalah sahabat Kafka.


"Sahabatan bukan berarti gue harus tahu semua hal tentang urusan Kafka." tetapi jawaban Sean mematahkan harapan Ranti. Pada akhirnya membuat gadis itu hanya mampu mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


Sean sesaat terdiam, ia kemudian menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah gadis itu.


****


Sebuah gaun yang Yashinta beli di butik Bunda saat akan menghadiri ulang tahun perusahaan sang papa menjadi pilihannya untuk ia kenakan pada acara ulang tahunnya hari ini. Arumi mendandaninya dengan cantik, menata rambutnya sedemikian rapi.


Sesaat, membuat Yashinta bernostalgia masa Sekolah Dasarnya saat sang mama menata rambutnya ketika ia akan pergi sekolah. Yashinta sangat merindukan sang mama saat ini.


"Papa sama Tante sudah menentukan tanggal pernikahan." beritahu Arumi. Ia menatap pantulan wajah Yashinta di cermin. Tidak ada yang berubah, sejak tadi gadis itu memang murung. Tapi beberapa detik selanjutnya, senyum tipis tampak terukir di sana.


"Kapan? Yas seneng dengernya." ujarnya seraya menyentuh tangan Arumi di pundaknya. Kemudian menengadah menatap wanita itu.


"Bulan depan." Arumi menyahut singkat.


"Berarti Yas sebentar lagi punya Mama?" Arumi menganggukan kepala. Tidak menyangka jika respond Yashinta akan sebaik ini.


Ketika ia dan Andri menyusun rencana untuk makan malam bersama Yashinta dan Sean untuk membicarakan tanggal pernikahan, hal itu tidak dapat diwujudkan lantaran keduanya sama-sama sibuk. Sehingga pada akhirnya diwaktu senggang. Andri hanya membahas hal ini berdua dengannya dan menentukan tanggal pernikahan mereka.


Yashinta tersenyum girang mendengar jawaban Arumi. Tentu, akan lebih baik jika Arumi dan papanya segera menikah. Agar rumahnya tak lagi sepi, agar sang papa bahagia setiap waktu karena ada yang menemani.


"Oh, yah, Sayang. Kafka nggak diundang?" tanya Arumi kemudian, membuat senyum di wajah Yashinta perlahan hilang dan membuat Arumi kebingungan.


"Ada apa?" tanyanya dengan raut heran.


"Ada masalah, Sayang?" tanya Arumi lagi, kali ini tampak hati-hati setelah melihat jika memang ada yang tidak beres. Yashinta menggelengkan kepalanya.


"Yas sama Kafka lagi jauh-jauhan." jawabnya kemudian yang membuat Arumi mengukir senyum. Ia pernah muda dan hal seperti itu sangat wajar bagi pasangan remaja, begitu pikirnya.


"Kenapa, hm?"


Yashinta tidak langsung menjawab, hanya menatap pantulan dirinya di dalam cermin. "Enggak tahu, mungkin karena kita sama-sama terpikat sama orang lain?"

__ADS_1


Kafka dengan Saras, yah lalu dirinya? Yashinta berpikir lagi. Kemudian nama Gibran melintasi kepalanya. Bayangan malam itu kembali melintasi pikiran Yashinta.


Atau mungkin ia juga tertarik pada Gibran? Karena menurut sebagian orang, cinta adalah rasa nyaman. Yashinta sangat nyaman jika bersama Gibran.


***


Arumi dan Yashinta turun ke lantai bawah setelah Sean dan yang lainnya selesai mendekor ruang utama. Mereka menyambut Yashinta penuh riang gembira. Terutama Sean dan Ranti yang tahu jika Yashinta sedang berada dalam masa sulitnya saat ini.


"Happy birth day to you Yashinta." teriaknya dengan Sean bersamaan, disusul suara terompet yang mereka berikut Mbak Lala dan Bi Rasti tiup. Membuat senyum di wajah Yashinta merekah melihatnya. Ia menghampiri mereka, yang pertama adalah Andri yang langsung memeluknya.


"Kamu cantik sekali." pujinya. "Makasih Papa." ia mengurai pelukan. "Mama yang dandanin Yas." ujarnya. Spontan membuat Andri, terutama Arumi terkejut mendengarnya karena Yashinta baru saja memanggilnya 'Mama.'


Sementara Ranti dan Sean hanya tersenyum. "Sayang, kamu nggak ngundang Ka–" Arumi segera menggandeng Andri dan membuat kalimat Andri terjeda, Arumi menggelengkan kepala. Andri tidak mengerti namun ia memilih tak bicara dan mengurungkan niatnya untuk menanyakan Kafka.


"Kita langsung tiup lilin?" tanya Sean dengan geretan di tangannya. Yashinta mengangguk, bersamaan dengan itu, terdengar suara bel dari luar.


"Biar saya aja yang buka, Tuan." Mbak Lala segera berlalu dari sana. Tak lama, ia muncul dengan dua pria di belakangnya yang sama-sama membawa pesanan Andri.


"Bagus, kita kedatangan dua tamu undangan." ujar Andri begitu melihat Vito dan Gibran. Yashinta yang melihat kedatangan pria itu tentu terkejut, matanya dan mata Gibran sempat bersitatap namun ketika ia akan mengukir senyum, Gibran justru menepis tatapan mereka.


"Ayo, Sean. Nyalakan lilinnya." perintah Andri kemudian. Sean menganggukam kepala.


Tak lama setelahnya acara tiup lilin dimulai. Yashinta meniup lilinnya setelah nyanyian happy birth day untuknya selesai.


Yashinta merasa ada yang berbeda dari pria itu, Gibran seolah menghindar. Gibran seolah menganggap jika tidak ada yang terjadi dengan kemarin malam. Padahal kali terakhir saat pria itu mengantarnya pulang, mereka baik-baik saja.


"Sayang," Arumi menegur dan membuat Yashinta tersadar. Lantas memberikan potongan kue pertamanya untuk sang papa. Sean tak lupa mendokumentasikan moment tersebut.


Ranti yang sudah mengetahui semua cerita Yashinta dan apa yang terjadi di apartement Gibran kemarin malam hanya terdiam. Tidak ada yang bisa ia lakukan, bahkan ia tidak memiliki hak untuk cemburu.


"Papa punya hadiah untuk kamu." sahut Andri setelah Yashinta menyerahkan potongan kue keduanya pada Bi Rasti yang sudah bertahun-tahun lamanya menjadi pengasuhnya.


Mendengar hal itu, Yashinta tentu penasaran. Hingga pria itu meminta Gibran untuk mendekat. Terlihat pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya. Sebuah kotak berwarn hitam, lantas menyodorkannya pada Yashinta.


Keduanya sempat beradu pandang, mungkin hal yang sama tengah dua orang itu rasakan bersama. Yah, mereka seperti pasangan yang akan bertukar cincin, padahal bukan.


Yashinta segera meraih kotak hitam tersebut dari tangan Gibran dan melihat isinya. Gadis itu mematung dan menatap sang papa. Andri hanya menganggukan kepala.


"Papa belikan kamu mobil."


"Yas udah boleh nyetir sendiri?" Yashinta tampak girang, Gibran yang melihat hal itu sekilas tersenyum tapi segera merubah wajahnya menjadi datar–meski sia-sia karena Sean sudah mengabadikan senyum pria itu melalui kamera ponselnya.


"Boleh, Pah?" Andri mengangguk. "Boleh dong, Sayang."

__ADS_1


Tak lama setelahnya, Vito maju ke depan dan menyerahkan sebuah berkas pada Yashinta. Yashinta menerima dan membukanya. Sebuah surat resmi mengenai kepemilikian pusat perbelanjaan.


"Tandatangan di sini." Vito menyerahkan padanya sebuah pena. "Pusat perbelanjaaan ini, atas nama Yashinta Wiraguna. Milik Nona Yashinta" sambung Vito yang membuat Ranti dan Sean melongo.


Sangat wajar Yashinta mendapatkannya mengingat kekayaan sang papa. Namun di usia saat ini? Rasanya sangat luar biasa.


"Aris kalo tahu pasti pengen belanja banyak dan minta diskon yang banyak juga." decak Sean seraya melipat tangannya di dada. Ranti yang mendengarnya hanya terkekeh. Yah, sedikit banyak ia tahu bagaimana kelakuan Aris.


"Makasih banyak, Papa." Yashinta merentangkan tangan dan memeluk sang papa. Andri memeluk putri kesayangannya itu, membuat semua orang iri dengan keharmonisan antara anak dan papa tersebut.


***


Makan malam digelar setelahnya, satu-satunya orang yang tidak memberikan kado pada Yashinta adalah Gibran. Tentu saja membuat gadis itu penasaran, sehingga ketika semua orang sibuk menikmati jamuan, Yashinta mendatangi Gibran yang hanya duduk di single sofa setelah Vito meninggalkannya untuk menemui Andri.


Gibran yang sedang menikmati minuman segera menjauhkan bibir gelas dari bibirnya ketika gadis itu duduk pada sofa lain dan menatapnya tanpa bicara.


"Ada apa, Yashinta?" Gibran bertanya pada gadis itu. Alih-alih menjawab. Yashinta justru hanya diam menatapnya dan membuat Gibran tidak mengerti dengan ekspresi semacam itu.


"Yas ngerepotin lagi, yah? Makannya Mas Gibran kesel?" tembaknya dengan wajah ditekuk mengingat beberapa saat lalu sikap Gibran terlampau berbeda padanya.


Gibran menggelengkan kepala. "Kamu ini, ada apa? Saya nggak ngerti."


Gadis itu mengulurkan kedua tangannya pada Gibran. Gibran hanya mengerutkan kening. "Kado ulang tahun buat Yas." ujar gadis itu yang membuat Gibran tersadar kali ini. Gibran hanya tersenyum alih-alih memenuhi permintaan gadis itu.


"Kado ulang tahun Yas mana?" gadis itu menggerak-gerakan jari-jari tangannya, membuat Gibran ingin meraih dan menggigitnya.


"Saya sudah membeli kado untuk kamu. Tapi saya bingung kapan waktu yang tepat buat ngasih hadiahnya buat kamu."


"Sekarang!"


Gibran bangkit dari duduknya, lantas mengusap puncak kepala Yashinta. Sesaat membuat gadis itu membeku, padahal tangan Gibran amat hangat. "Bukan sekarang." sahut Gibran yang kemudian berlalu begitu saja meninggalkan gadis itu yang menggerutu setelahnya.


"Kayaknya sekalipun putus sama Kafka, kalau dia sama Mas Gibran dia bakalan baik-baik aja." Ranti sedikit terkejut dengan suara tiba-tiba Sean dari arah belakangnya.


Sean menatap gadis itu, ia tahu jika sejak tadi Ranti memerhatikan Gibran dan Yashinta.


"Gimana menurut loe?" tanya Sean. Ranti hanya mengangguk-anggukan kepala, mengalihkan perhatiannya pada Gibran yang berjalan menghampiri Andri dan skretarisnya. Pria itu terlihat dewasa dan berwibawa.


Jika Yashinta akan baik-baik saja bersama Gibran seandainya gadis itu berpisah dari Kafka, mungkin Ranti akan merasa senang.


Tapi, apakah ia sanggup?


TBC

__ADS_1


__ADS_2