Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Langkah Kaki


__ADS_3

"Mas denger kalian ribut kemaren." sahut Gibran saat saat Kafka tengah menyiapkan obat untuknya.


"Kalau apa yang Yashinta bilang itu bener. Mas rasa kamu udah keterlaluan." sambungnya sekalipun Kafka tampak tak berniat meladeninya sama sekali.


"Mas tahu, diumur kamu, buat serius sama satu perempuan emang gak mungkin. Tapi seenggaknya kamu harus bersikap baik sama Yashinta." sambungnya lagi.


"Loe nggak tahu apa-apa, nggak usah ikut campur. Kalo loe pake alesan itu buat ngambil Yashinta dari gue. Loe nggak akan berhasil." Kafka menyahut, meraih tangan Gibran dan meletakan empat butir obat di telapak tangan pria itu.


Gibrab menatap empat butir obat itu, lantas beralih menatap Kafka. "Sesuai resep, gue nggak akan ngeracunin loe, kali." decak Kafka saat Gibraan tampak curiga padanya. Ia menyerahkan segelas air pada sang kakak yang langsung pria itu raih dan tenggak setelah menelan obatnya.


"Bentar lagi Bunda dateng, gue harus balik." Kafka meraih tas yang ia taruh di kursi samping brankar. Kafka sama sekali tidak memiliki niatan untuk berlama-lama dengan Gibran. Namun begitu, ia senang karena keadaan Gibran tidak begitu mengkhawatirkan setelah mendapat luka tusukan.


"Kafka,"


Pria yang sudah beranjak itu membalikan badan, menatap sang kakak penuh tanya. "Mas serius. Mas nggak akan pake alesan itu buat ngambil Yashinta dari kamu."


"Terus?"


"Mas pengen tahu kamu mencintai Yashinta atau enggak–"


"Bukan urusan loe!"


"Seenggaknya kalau kamu memang mencintai Yashinta dan bisa bikin dia bahagia mungkin Mas bakalan mundur." ujar Gibran yang sesaat membuat Kafka mematung di tempatnya. Kafka tersenyum miring dengan mata mengarah pada Gibran.


"Bukannya loe bilang kalo kali ini loe nggak akan ngalah?"


"Mas nggak akan maksa kalau memang perasaan Yashinta cuma buat kamu."


Gibran tahu akan sangat egois baginya untuk mengambil Yashinta dari Kafka hanya karena mendengar perdebatan mereka beberapa saat lalu. Gibran tahu ia tidak bisa memaksa Yashinta untuk mau berada di sampingnya sekalipun ia sangat ingin.


Gibran sering mendengar jika mencintai tak harus memiliki. Mencintai artinya harus rela melihat orang yang kita cinta bahagia meski dengan orang lain. Mngkin, Gibran akan mencoba teori cinta itu.


***


Pada keesokan harinya, Yashinta sudah diperbolehkan pulang. Sebelumnya, ia juga pamit pada Gibran dan datang ke ruang rawat pria itu namun Gibran tidak ada di sana. Ruangannya sudah dibereskan dan suster yang tengah merapikan ruangannya bilang jika pasien di sana sudah pulang. Membuatnya kembali ke ruangannya dengan wajah lesu.


"Sudah?" tanya Arumi yang pagi itu datang untuk menjemputnya. Yashinta sudah bilang tidak perlu karena wanita itu pasti sibuk bekerja, ia tidak ingin merepotkan, namun Arumi tetap datang untuk menjemputnya.


"Mas Gibran udah pulang." sahut gadis itu. Arumi mengernyitkan dahi.


"Cepat sekali, memang dia sudah baikan?" Arumi bagai bertanya pada dirinya sendiri dan Yashinta yang mampu mendengar hal itu hanya bisa mengangkat bahu.


"Oh, yah, Sayang. Tadi Tante sama Papa kamu sempat ngobrol buat acara ulang tahun kamu yang ke delapan belas. Mau ada pesta?" tanya Arumi. Yashinta mengangkat pandangannya dan menatap Arumi, kemudian menggelengkan kepala.


"Acara biasa aja kaya yang udah udah, Tante"


Seperti tahun-tahun sebelummya, hanya ada Andri dan Yashinta, Ranti juga Bi Rasti, Tukang Kebun di rumahnya dan Satpam rumah, kue ulang tahun dan dekor sederhana. Sudah, selalu seperti itu. Yashinta menolak menggelar pesta dan Andri tidak pernah memaksa.


"Tante bisa nyiapin kalau kamu mau pesta." Arumi memberi penawaran. Yashinta menggelengkan kepala. "Enggak usah, Tan. Yas nggak mau ngerepotin. Lagian kalau ngadain pesta, Yas juga bingung mau ngundang siapa." gadis itu menyahut dan membuat Arumi tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya mengangguk mengikuti keinginannya.

__ADS_1


Sementara Yashinta sendiri hanya mengukir senyum padanya dan terdiam sampai ponsel yang berdenting menandakan ada pesan masuk membuatnya melihat ponsel dalam genggamannya.


Kakak Ipar


Saya dengar kamu pulang hari ini, saya juga pulang, saya harus ke luar kota karena ada urusan mendadak.


Kamu jangan lupa beristirahat, yah.


Yashinta berdecak, bangkit dari duduknya setelah menekan ikon telepon dan menempelkan ponsel di telinganya. Cukup lama Yashinta membiarkan panggilan tersambung, sementara Arumi hanya melipat tangan di dada dan memerhatikan calon putrinya itu.


Yashinta segera bicara begitu panggilan terhubung, "hallo."


"Iya, Yashinta. Ada apa?" suara Gibran terdengar lembut di ujung sana.


"Mas Gibran kok udah boleh pulang? Kok nggak bilang dulu sama Yas. Kok gitu, sih?" kesalnya yang membuat Arumi terkekeh pelan mendengarnya. Sementara Gibran di ujung sana juga terdengar menertawakannya.


"Kok ketawa?" Yashinta jelas saja makin kesal.


"Enggak, kamu lucu aja. Kamu khawatir sama saya?"


"Ya jelaslah, Mas Gibran. Yas khawatir. Mas Gibran baru 24 jam dirawat di Rumah Sakit. Masa udah boleh pulang, sih."


"Balik nggak kesini!"


"Kalau kenapa-napa gimana?" ocehmya tanpa berpikir panjang, kali ini membuat Arumi menggelengkan kepala melihatnya.


Wanita itu meraih ponsel, kemudian mengetikan pesan yang ia kirim setelahnya pada Andri.


"Saya nggak papa, Yashinta. Kamu nggak perlu khawatir, kemarin kamu dengar sendiri saat dokter bilang kalau luka saya nggak parah." Gibran masih meladeninya dengan tenang di ujung sana.


"Tapi dokter bilang Mas Gibran harus istirahat yang cukup."


"Saya cukup beristirahat."


"Tapi Mas–"


"Posesif sekali makhluk kecil ini."


Spontan gadis itu terdiam, merenung dan berpikir sendirian. Apakah ia sudah keterlaluan dan melewati batas? Tapi ia hanya khawatir pada Gibran. Bagaimanapun pria itu sudah menyelamatkan nyawanya dan Yashinta tidak ingin Gibran kenapa-napa jika tubuhnya langsung diforsir sepulang dari Rumah Sakit.


"Kamu nggak perlu khawarir, saya aman, okay. Saya cuma pergi beberapa hari, nggak lama."


"Janji nggak lama?" gadis itu tak bisa lagi memaksa Gibran untuk kembali.


"Iya."


"Yaudah kalau gitu." pasrahnya karena pada dasarnya ia tidak bisa memaksa pria itu untuk menuruti kemauannya.


Panggilan terputus setelahnya, Yashinta menekuk wajah, menatap Arumi yang memerhatikannya. "Tante Arumi denger semuanya, ya?" ia bertanya ragu-ragu. Arumi mengangguk, seketika membuat wajah Yashinta kian murung setelah sebelumnya gadis itu sempat mengembuskan napas.

__ADS_1


Arumi melangkah mendekat, lantas mengusap puncak kepala Yashinta. "Kamu sama Mas Gibran ada sesuatu? Atau dia sebatas kakak ipar kamu?" Arumi bertanya dengan nada hati-hati.


Yashinta tak langsung menjawab, ia justru diam di tempatnya dengan bingung. Kenapa Arumi melemparnya dengan pertanyaan semacam itu? Apa ia dengan Gibran terlihat seperti memiliki hubungan dekat?


"Tante nggak boleh tanya itu?" Arumi bagai dapat membaca raut wajah Yashinta. "Kenapa Tante Arumi nanya kaya gitu?" Yashinta justru balik bertanya mengenai pertanyaan Arumi sebelumnya.


"Mm, karena Tante perhatikan kalian sangat dekat dan akrab."


"Kalian ini seperti ..., berpacaran?" Arumi tampak ragu di akhir kalimatnya, takut Yashinta tidak setuju atas penilaiannya.


Yashinta mengerutkan kening, "keliatan kaya pacaran, yah, Tante?" tanyanya. Arumi segera mengangguk. "Iya, seperti dua orang yang berpacaran."


"Yashinta suka sama Mas Gibran?"


Yashinta segera menganggukan kepala tanpa berpikir panjang. "Mas Gibran baik, dia juga dewasa dan pengertian sama Yas."


"Yas suka." gadis itu tampak begitu yakin.


"Bukan itu. Maksud Tante suka layaknya pria sama wanita. Seperti Yashinta dan Kafka misalnya." Arumi menjelaskan tapi gadis itu hanya diam mematung.


Perasaan seperti itu, benarkah ia memilikinya untuk Gibran? Sebagaimana yang ia rasakan pada Kafka?


Tapi hanya satu hal yang berbeda, jika dada Yashinta memang seringkali berdebar saat bersama dengan Gibran, dadanya seringkali berdebar bahkan hanya ketika mengingat nama pria itu.


Perasaan seperti itu. Selayaknya perasaan Yashinta pada Kafka saat mereka duduk di bangku SMS kelas sebelas.


Seperti itu. Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama.


****


Yashinta tidak menyangka, jika ternyata Kafka juga datang menjemputnya. Pria itu mengenakan kaos putih dan jaket jeans berwarna hitam, senada dengan warna celana jeans yang dikenakannya. Yashinta bisa menebak jika pria itu tidak masuk sekolah hari ini.


"Kafka, datang juga?" tanya Arumi saat mendapati pemuda itu menghampiri mereka di ruang rawat Yashinta ketika keduanya baru saja akan kreuar.


"Iya, Tante."


"Yasudah, ayo. Mumpung masih pagi. Biar Yashinta langsung istirahat di rumah." ujarnya yang kemudian menggandeng Yashinta, Yashinta tersenyum kaku saat melewati Kafka. sementara Kafka mengikuti dua perempuan itu setelahnya.


"Pake mobil Kafka, yah?" tanya Arumi saat mereka sudah berada di pelataran Rumah Sakit. Kafka menganggukan kepala seraya menentang kunci mobil di tangannya.


Arumi juga mengangguk bersamaan dengan ponselnya yang berdering, seperti yang sudah diduga, perempuam itu menerima panggilan dari perusahaannya dan harus segera ke sana. Membuat Yashinta akhirnya hanya berdua dengan Kafka.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, keduanya hanya saling terdiam. Yashinta yang biasanya cerdik mencairkan suasana kali ini tampak hanya terdiam dan canggung terutama gadis itu meminta putus pada Kafka kemarin.


"Mau langsung pulang atau makan dulu?" tanya Kafka, belum Yashinta menjawab Kafka sudah menepikan mobil di pelataran sebuah restoran. Yashinta merasa sikap Kafka yang ini sama dengan Gibran–yah, Gibran pernah melakukannya.


"Makan dulu, gue belum sempet sarapan." sahutnya. Yashinta hanya mengangguk patuh, lantas turun dari mobil dan mengikuti langkah kaki Kafka, berusaha menyamakan langkah kakinya dengan pria itu.


Namun baru beberapa langkah, Yashinta menjeda langkahnya saat Kafka berhenti, menoleh padanya, sekilas menatap kaki Yashinta kemudian meraih tangannya, dan menggenggamnya, membuat langkah kaki mereka sejajar.

__ADS_1


Padahal selama ini, Yashinta seringkali susah payah menyamakan langkah kaki mereka.


TBC


__ADS_2