Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Susu Cokelat Hangat


__ADS_3

Sebuah tayangan film 90-an tentang sebuah kapal tenggelam membuat Yashinta hanya memaku di tempatnya. Gadis itu tengah duduk di ruang utama apartement setelah Gibran menyuruhnya keluar dari kamar, dan gadis itu memilih untuk menonton televisi.


Begitu mendengar suara pintu yang terbuka, Yashinta menoleh, melihat Gibran keluar dari kamar sembari mengacak rambut basahnya dengan jari-jari tangan. Yashinta tersenyum melihat rambut pria itu jatuh di keningnya.


"Nonton apa?" tanya Gibran sembari menuruni anak tangga. "Titanic." gadis itu menyahut setelah kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada layar televisi.


Gibran hanya mengangguk, berjalan ke arah dapur dan menuju pantry. "Kamu mau mie instan atau susu cokelat hangat?" tanyanya sedikit berteriak.


Alih-alih menjawab, Yashinta justru beranjak dari duduknya dan menyusul Gibran ke dapur. Pria yang tengah menunggu jawaban itu hanya menatap Yashinta dengan raut curiga. Jangan sampai anak itu mengacau lagi.


"Mm, susu cokelat hangat aja. Kalo mie instan, Yas masih kenyang. Mas Gibran laper?"


"Kamu kalau ngomong nggak bisa sedikit-sedikit aja?" tanya Gibran yang langsung mendapat gelengan kepala dari Yashinta.


"Enggak bisa. Udah bawaan dari lahir." oceh Yashinta tanpa berpikir panjang, Gibran tersenyum.


"Kamu lahir udah langsung bisa ngomong?" ia bertanya random.


"Iya, ngomongnya pake air mata."


"Nangis?"


"Iya."


Gibran tertawa, tak lama setelahnya ia menggelengkan kepala. Sedangkan Yashinta menampilkan wajah biasa, karena hal random yang ia katakan tidak lucu baginya. "Selera humornya rendah banget. sih, Om." decaknya yang membuat Gibran segera meredakan tawa dan berdehem, kembali ke mode cool.


"Yas bisa bantu apa?" tanyanya, ingin ikut berkontribusi dengan Gibran dalam pembuatan susu cokelat hangat.


"Mmm, tolong ambilkan susu cokelatnya di lemari." pinta Gibran yang segera mendapat anggukan. Gadis itu bergerak, hendak membuka sebuah lemari yang letaknya begitu tinggi. Gibran yang sedang memanaskan air hanya senyum tertahan, ia tahu Yashinta tidak akan dapat menjangkaunya.


Yashinta berusaha meraih gagang pintu lemari. Ia berdecak karena tidak dapat meraihnya. Ia segera membalikan tubuh, rupanya Gibran sudah nenatapnya dengan sebuah senyum.


"Nggak bisa." rengeknya, terdengar manja sebagaimana dia adalah Yashinta. Gibran hanya tersenyum, kemudian berjalan ke arah gadis itu dan membuka lemari tanpa menyingkirkan posisi Yashinta.


Gadis itu sesaat membeku saat Gibran yang menjulang tinggi berdiri di hadapnya, perlahan Yashinta menengadah, ia bahkan harus menelan ludah ketika melihat adam's apple pria itu yang naik turun dan membuat perasaannya resah.


"Kamu tunggu aja di sana, biar saya bikin sendiri." ujar Gibran kemudian. Yashinta kehilangan kata, ia hanya bisa mengangguk dengan raut awkward. Kemudian berjalan meningglkan dapur untuk kembali ke ruang utama dan duduk di sana.


Gibran hanya menatapnya dan tersenyum. Lucu rasanya melihat Yashinta dengan baju kebesaran mikiknya yang melekat di tubuh mungil gadis itu.


Beberapa waktu berikutnya, Yashinta sudah menikmati susu cokelat hangat buatan Gibran sembari menonton tv dengan pria itu. Di luar sana, hujan kembali turun dengan deras, bahkan saat ini sesekali suara petir terdengar.


Dua orang itu hanya saling terdiam dengan pandangan fokus ke depan. Masing-masing dari mereka memegangi cangkir berisi susu cokelat hangat.


Sesekali raut wajah Yashinta tampak tegang. Gibran mengusulkan untuk menonton film horor dan Yashinta tidak dapat menolak.


"Kamu takut?" tanya Gibran, Yashinta menoleh, kemudian menggelengkan kepala dan kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Jujur ia memang merasa takut, sedangkan Gibran tampak berwajah datar sejak film dimulai, mungkin karena pria itu sudah biasa menontonnya dan tidak lagi terkejut karena kemunculan hantu yang tiba-tiba.


Menurut Yashinta, penampakan hantunya tidak begitu seram, hanya saja musik mengagetkan yang tiba-tiba saja terdengar membuatnya terkejut hingga membuatnya berjingkrak dan mengundang ledekan Gibran.


Sekilas bayangan wajah Arumi melintas di kepalanya, membuat ia mengingat apa yang terjadi di atap gedung perusahaan sang papa. Ia menoleh ke samping, melihat Gibran yang asik memfokuskan pandangan ke depan denfan ekspresi datar.


"Mas Gibran." panggilnya yaang membuat pria itu menoleh, saar Yashinta meletakan cangkir susu cokelat hangatnya ke atas meja, Gibran melakukan hal yang sama dan menatap gadis itu penuh tanya.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Yas mau cerita." sahut gadis itu. Gibran tidak langsung merespond, hanya menatap Yashinta dan membuat Yashinta berasumsi jika Gibran tidak ingat bahwa pria itu menawarkan jasa padanya untuk mendengarkan tepat ketika mereka keluar dari lift.


"Mas Gibran bilang sama Yas kalau Mas Gibran bisa dengerin kapan aja Yas mau cerita."


"Mas Gibran bilang mau dengerin apa aja yang Yas ceritain." jelasnya, kali ini mendapat anggukan dari Gibran. "Iya, saya ingat. Kamu mau cerita apa?" pria itu siap menjadi pendengar yang baik.


Yashinta diam, otaknya tengah menyiapkan diksi yang tepat untuk bercerita, hingga kemudian ia menghela napas dan siap menyampaikannya pada Gibran. "Tadi di perusahaan, Papa ngenalin seseorang sama Yas." sahutnya, Gibran tidak berkomentar, hanya mendengarkan karena Yashinta tampak akan meneruskan ceritanya.


"Perempuan. Papa bilang dia calon istrinya." sambungnya. Gibran memerhatikan ekspresi gadis itu sebentar sebelum kemudian bertanya.


"Hmm, terus?"


"Yas belum kasih jawaban apa-apa." raut wajah Yashinta berubah sendu. Persis, ekspresi yang sama saat mereka bertemu di dalam lift. Sekarang Gibran tahu alasan dibalik ekspresi gadis itu.


"Kamu cuma butuh waktu." Gibran menenangkan penuh pengertian diiringi senyuman yang menghangatkan.


"Menurut Mas Gibran, Yas egois nggak kalau ngelarang Papa buat nikah lagi?" gadis itu meminta pendapat Gibran.


"Tergantung."


"Tergantung?"


"Iya. Tergantung alasan kamu untuk kebaikan Papa kamu atau enggak. Kalau alasan kamu logis, mungkin bisa diterima. Tapi kalau alasan kamu nggak berdasar, ya kamu egois."


"Kamu cuma mengintingin diri kamu sendiri."


Yashita mencebikan bibir, sepenuhnya apa yang Gibran katakan memang benar, akan egois jika alasan Yashinta menolak pernikahan Andri tidak logis. Ia hanya memenyltingan diri sendiri dan tidak perduli dengan kebahagiaan sang papa.


"Kalau Om Andri menikah sama Ibu Arumi. Kamu nggak akan kenapa-napa." sambungnya dengan tangan yang terulur mengusap puncak kepala Yashinta. Gadis itu hanya diam dengan tatapan yang mengarah pada Gibran.


"Kamu bakalan disayang." sambungnya lagi. Gerakan tangannya yang mengusap puncak kepala gadis itu tertahan saat mendapati Yashinta yang tengah menatapnya, dua orang itu saling bertatapan dalam satu garus lurus.


Telapak tangan Gibran turun dan berakhir di sisi wajah Yashinta, gadis itu baru menyadari jika jarak antara ia dengan Gibran begitu dekat. Bahkan sangat dekat saat dirasanya jika Gibran berakhir mendekat.


Degub jantung Yashinta terasa berdegub dua kali lebih cepat dan terdengar sangat berisik. Menurut adegan dalam drama korea yang sering ditontonnya, Yashinta merasa familiar atas apa yang saat ini terjadi antara ia dengan Gibran. Selanjutnya, Yashinta dapat memprediksi apa yang akan terjadi ketika tangan Gibran bergerak ke belakang kepalanya.


Gadis itu membulatkan mata ketika merasakan benda lembab dan lembut mendarat pelan di atas bibirnya, hingga perlahan matanya terpejam seolah Gibran mengalirkan hipnotis padanya.


Gibran bergerak lembut, sempat menjeda dan membuka matanya, ketika mendapati Yashinta memejamkan mata. Ia melanjutkan aktivitas spontannya dan ia akan menanggung resikonya nanti.


Tangan Yashinta naik ke dada Gibran, mengusap pelan dada pria itu. Yashinta baru menyadari jika dada Gibran begitu kokoh dan ia sadar jika apa yang mereka lakukan sudah kelewat batas.


Yashinta menghindar saat Gibran masih akan terus melanjutkan. Bagai bangun dari sebuah sugesti, Gibran juga tampak terkejut. Lebih-lebih ia takut gadis itu akan marah dan membencinya.


"Yashinta, saya–"


Yashinta buru-buru bangkit dari duduknya. "Mas Gibran, udah malem, Yas udah harus pulang." sahutnya menyela pria itu. Ia mendadak salah tingkah.


Gibran mendehem, ikut bangkit dari duduknya kemudian menganggukan kepala. "Saya ambil kunci mobil dulu." sahut Gibran, melangkah menuju kamarnya dan menghilang di balik pintu kamar.


"Yashinta." gadis itu berdecak pada dirinya sendiri dengan ringisan. Ia memukul pelan kepalanya menyangkan apa yang terjadi antara dirinya dengan Gibran tadi. Kenapa bisa semudah itu ia menyerah di hadapan Gibran?

__ADS_1


Yashinta tahu Gibran tidak sepenuhnya salah karena dirinya tidak melakukan penolakan. Namun, kenapa Yashinta hanya diam saja dan malah menikmatinya.


"Ciuman pertama Yas." desahnya kemudian seraya memegang bibir yang masih basah.


****


Dua orang itu berjalan saling bersisian di basemant gedung apartement. Baik Yashinta maupun Gibran sama-sama saling terdiam dan membuat suasana menjadi begitu canggung.


Yashinta yang dibalut jaket parka berwarna army itu menoleh pada pria di sampingnya. Saat Gibran keluar dari kamarnya dengan jaket yang melekat di tubuhnya beberapa waktu lalu, ia juga memberikan jaket pada Yashinta karena hawa setelah hujan yang begitu dingin.


Gibran hanya menaikan alis saat sudah membukakan pintu untuk gadis itu ketika Yashinta hanya berdiri melamun. "Oh, iya." gadis itu segera masuk ke dalam mobil.


Selama perjalanan, Yashinta dengan Gibran hanya saling terdiam, waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam dan Yashinta merasa jika jarak tempuh ke rumahnya terasa begitu jauh, mungkin karena ia jenuh. Memulai pembicaraan pun rasanya canggung.


Yashinta mengutuk dirinya sendiri, menyesali apa yang sudah yerjadi. Kenapa ia begitu ceroboh untuk membiarkan hal seperti itu terjadi di antara dirinya dengan Gibran?


Yashinta kembali menoleh untuk entah ke berapa kalinya pada Gibran, pria itu tampak acuh tak acuh saja dan tak memulai pembicaraan apapun dengannya.


Kali ini Yashinta mencebikan bibir karena kesal, biasanya ia tidak pernah kehabisan topik obrolan. Namun dalam hal ini, kasusnya berbeda. Ia malu untuk sekedar bersitatap dengan Gibran.


Gadis itu membuka seatblet dengan cepat begitu mobil Gibran berhenti di depan gerbang rumahnya. "Yashinta." panggil Gibran saat gadis itu sudah keluar. Gibran juga menyusul keluar.


Gadis yang berdiri di depan gerbang rumahnya dengan menenteng paper bag berisi pakaiannya yang basah itu hanya diam menatap Gibran. "Untuk masalah tadi–"


"Kita nggak perlu bahas." gadis itu menyela dengan cepat.


"Yas nggak mau bahas pokoknya. Anggap hal itu nggak pernaa terjadi di antara kita." ocehnya, padahal beberapa lalu ia menggerutu karena Gibran tidak membhahasnya atau meminta maaf. Tapi ketika Gibran buka suara ia justru ingin pria itu bungkam.


"Enggak perlu dibahas?" Gibran mengerutkan kening.


"Iya."


Gibran berdecih, membuat Yashinta heran di tempatnya. "I–iya, kita khilaf dan sekarang ..., anggap aja nggak pernah terjadi pokonya! Udah, jangan dibahas lagi, Yas nggak mau denger pokoknya." gadis itu menjelaskan dengan terbata.


"Okay." Gibran menyahut dengan mudah sekalipun tatapannya tampak bingung


"Pokoknya anggap–"


"Saya tahu." kali ini Gibran menyahut cepat seraya menaikan hoodie ke kepala gadis itu, Yashinta yang matanya tertutup hoodie hanya mencebikan bibir.


"Yaudah kalau gitu." gadis itu menyahut pasrah. Gibran hanya mengangguk. "Kalo gitu, Yas masuk. Makasih banyak ya Mas Gibran. Nanti semuanya Yas balikin." maksudnya kaos, training dan jaket.


"Termasuk ciumannya juga?"


Gadis itu berdecak, menatap Gubran dengan tatapan nyalang. "Yas masuk, dah Mas Gibran." gadis itu melambaikan tangan dan masuk saat Satpam rumah membukakan pintu gerbang.


Yashinta berusaha santai dan melakukan seperti apa yang dia bilang. Menganggap hal tersebut tidak pernah terjadi. Namun tidak bisa seperti itu, ingatan Yashinta terlalu tajam untuk melupakannya.


"Issh!" gadis itu meringis dan menutup wajahnya dengan telapak tangan begitu masuk ke dalam kelas. Bi Rasti yang berdiri dekat sofa ruang utama dan hendak menegur hanya memaku melihat penampilan anak majikannya. Padahal saat akan pergi beberapa jam yang lalu, gadis itu mengenakan dress mewah.


Tapi kali ini? Kenapa berubah jadi kaos dan celana training?


Sementara di luar gerbang, Gibran yang masih berdiri menatap ruang kamar Yashinta hanya mendesah. "Anggap nggak terjadi apa-apa?Huh, okay." sahutnya dengan raut tidak terima.

__ADS_1


TBC


Kapan-kapan aku post castnya di sini, yah. Nggak sekarang karena kalo foto sangat memengaruhi proses review, biasanya rada lama buat lolos.


__ADS_2