Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Lampu Hijau


__ADS_3

Hari itu Yashinta sibuk sekali. Ternyata barang-barang yang dibawa Arumi cukup banyak. Orang rumah seperti kerja bakti, Gibran yang ada di sana juga seolah terjebak ikut membantu hingga selesai.


Matahari sore bersinar terang menyinari halaman belakang di mana Andri dan Gibran, juga Sean beristirahat di sana. Setelah Bi Rasti membawakan minuman, tiga pria itu menikmati waktu istirahatnya dengan mengobrol.


Yashinta yang berada di dalam rumah dan hanya berdiri di pintu kaca menuju halaman belakang hanya menatap sang pacar yang asik berbincang dengan Andri dan Sean.


Pria dengan kemeja navy yang bagian atasnya sudah cukup berantakan itu berdiri dengan posisi bersandar pada tiang gazebo, segelas jus jeruk berada di tangannya dan pria itu sesekali tertawa. Hal itu menjadi pemandangan yang begitu menyejukan mata bagi Yashinta.


Saat matanya tak sengaja beradu pandang dengan pria itu, Gibran tampak tersenyum pada Yashinta Sementara gadis hanya membeku di tempatnya.


Beberapa menit berselang setelah itu. Gibran tampak berbicara serius dengan Andri. Raut wajah dua orang itu tampak berubah dan hal itu tidak lepas dari radar Yashinta. Yashinta tentu merasa penasaran dengan apa yang tengah dibicarakan.


Sedangkan Sean tampak hanya menjadi pendengar dan Yashinta dapat melihat calon saudaranya itu tersenyum penuh arti pada Gibran.


"Sayang,"


"Yashinta."


Spontan Yashinta berbalik pada Arumi yang memanggilnya, wajah gadis itu tampak tegang. "Iya, Ma?"


"Kamu ngelamun?" tanya Arumi tapi Yashinta menggelengkan kepala.


"Kamu anterin ini ke gazebo, yah." Arumi menyerahkan piring berisi potongan buah pada Yashinta. Gadis itu menerimanya, tapi ia hanya berdiri mematung beberapa saat.


Arumi yang masih memotong beberapa apel menoleh pada gadis itu yang masih berdiri di tempatnya. "Yashinta, kamu sakit, Sayang?"


"Oh, enggak, Ma."


"Yas, nganterin ini dulu ke Papa sama yang lain." ucapnya seraya melangkah menuju gazebo. Para pria di sana masih asik mengobrol, tampaknya suasana tidak seserius beberapa saat lalu ketika Yashinta menonton.


"Apa itu?" tanya Andri ketika melihat putrinya datang, membuat Sean dan juga Gibran ikut mengalihkan perhatian padanya.


"Buah-buahan." Yashinta menyahut seraya menyerahkan piring berisi buah yang dibawanya pada sang papa.


"Terimakasih, Sayang."


"Terimakasih, Yashinta." Sean ikut berucap yang mirip seperti ledekan.


"Sama-sama." gadis itu tetap menanggapi dengan senyum terbaiknya, kemudian pamit dan melewati Gibran yang sejak tadi menatapnya.


Arumi, Gibran, dan Sean pamit pulang usai makan malam. Membuat suasana rumah seketika menjadi berbeda dan sepi saat Yashinta hanya nampu melambaikan tangan dan mengucapkan hati-hati begitu sang kekasih berlalu pergi.


****


Saat itu waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam ketika Andri duduk menonton televisi. Yashinta yang menapaki anak tangga dan berhenti di anak tangga terakhir hanya tersenyum menatap sang papa lantas berjalan menghampiri Andri.


"Papa,"


"Hay, Sayang. Belum tidur?" tanya Andri seraya merentangkan tangannya, membuat Yashinta bersandar di sana. Sepertinya ia memang harus sering bermanja pada Andri. Karena setelah sang papa menikah nanti, Yashinta tidak yakin akan leluasa seperti sekarang saat melakukannya.


Ia takut Arumi cemburu dan merasa Yashinta mengklaim Andri seutuhnya. Yashinta tidak yakin Arumi akan memikirkan hal itu, hanya saja Yashinta ingin lebih peka dan tidak ingin membuat Arumi kecewa.


"Ada apa, kenapa belum tidur?"


"Enggak papa, belum ngantuk aja." sahutnya yang kemudian menyandarkan kepala pada lengan Andri. Sementara Andri kembali fokus pada layar televisi yang sedang menayangkan acara olahraga.


"Pah," Yashinta memanggil setelah selang beberapa detik.


"Hmm?"


"Menurut Papa, Mas Gibran orangnya gimana?" tanya gadis itu meski ragu. Bagaimanapun, penilaian Andri pada pria itu sangat penting bagi Yashinta.


"Gibran?" Andri mengerutkan kening.

__ADS_1


"Hmm, dia laki-laki yang baik, dewasa, penyayang, mm." sisanya Andri berpikir. Entah bagaimana ia harus mendeskripsikan seorang Gibran Abiansyah. Jika seandainya ia adalah seorang wanita, maka ia akan jatuh cinta pada pria itu. Ia akan terpesona pada kharisma seorang Gibran.


"Pria mandiri dengan kepemimpinan yang hebat." sambung Andri, mengangguk yakin. Yashinta juga hanya mengangguk-anggukan kepala. Diam-diam ia tersenyum bangga dengan penilaian sang papa terhadap kekasihnya.


"Kenapa?" tabya Andri tiba-tiba.


"Hmm?"


"Kenapa kamu tiba-tiba nyanyain Gibran?"


"Enggak kenapa-napa, Yas cuma mau tau aja. Papa keliatan deket banget sama Mas Gibran." sahut gadis itu, berusaha menenangkan diri. Andri hanya menanggapi dengan senyuman.


"Pah," Yashinta memanggil Andri–lagi setelah beberapa saat berperang dengan dirinya sendiri.


"Apa, Sayang?"


"Ada yang mau Yas bilang."


"Apa itu?"


"Sebenernya," Yashinta menatap sang papa dengan ragu kemudian mengalihkan tatapannya ke arah lain.


Yashinta sudah meyakinkan dirinya sendiri jika ia akan jujur pada Andri, ia akan segera memberitahu Andri jika ia berpacaran dengan Gibran. Cepat atau lambat Andri harus mengetahui hal tersebut. Mendengar bagaimana penilaian Andri pada Gibran tadi, Yashinta ragu Andri akan menentang hubungan mereka.


"Sebenernya, Yas sama Mas Gibran pacaran." Yashinta menyambung kalimatnya dengan mata tertutup. Tapi beberapa detik berselang setelahnya, ia membuka mata perlahan dan menoleh pada sang papa.


"Papa tau." sahut Andri saat Yashinta menatap penuh tanya dengan reaksinya.


Yashinta melongo, lantas menjauh dari sang papa guna berhadapan dengan Andri. Yashinta tentu terkejut mengetahui Andri yang sudah tahu hubungannya dengan Gibran.


"Papa tau dari mana?" Yashinta bertanya masih dengan raut wajahnya yang terkejut.


"Tadi siang Gibran bilang ke Papa." Andri menyahut santai, sementara Yashinta mematung di tempatnya. Kemudian menatap Andri, Andri yang merasa diperhatikan oleh putrinya menoleh, kemudian tersenyum.


"Nggak apa-apa kalau Yas sama Mas Gibran pacaran?" tanya Yashinta.


"Papa juga suka Gibran. Dua-duanya orang baik karena dibesarkan oleh orang tua yang baik."


Yashinta masih hanya diam, tak mengerti maksud sang papa. "Kafka baik, Gibran juga baik. Tapi kamu berhak memilih mana yang terbaik buat kamu."


"Jadi Papa nggak keberatan kalau Yas sama Mas Gibran pacaran?"


"Selama itu hal positif, Papa nggak pernah keberatan terhadap apapun yang membuat kamu bahagia." ucap Andri dengan tulus, membuat wajah gadis itu berubah sendu kemudian merentangkan tangan, "papa." gadis itu merengek manja. Andri hanya tertawa, kemudian meraih gadis itu dalam pelukan.


"Makasih Papa, Papa emang yang terbaik."


"Iya, Sayang." Andri mengecup puncak kepala gadis itu.


"Papa langsung setuju pas Mas Gibran bilang kita pacaran?" Yashinta bertanya setelah mengurai pelukan. Andri menggelengkan kepala.


"Papa ngancem dia."


"Hah?"


****


Gibran tidak ingin berlama-lama menyembunyikan hubungannya dengan Yashinta dari Andri. Sehingga ketika ia menemukan waktu yang tepat untuk bicara, maka ia ingin berterus terang.


Gibran tidak ingin mendekati Yashinta dengan sembunyi-sembunyi. Lagipula, ia merasa cukup yakin Andri tidak akan menentang hubungan mereka.


Saat itu, usai membantu Andri dan Sean menata barang-barang Arumi di rumah tersebut dan mereka beristirahat di gazebo dekat kolam renang tepat di halaman belakang, mereka tengah asik membicarakan club bola favorit masing-masing. Obrolan itu begitu menyenangkan, tetapi ketika sesaat ada jeda, Gibran memberanikan diri untuk bicara.


"Om,"

__ADS_1


Andri menoleh pada pria yang bersandar pada tiang gazebo di hadapannya. Saat Gibran menegakan posisinya, raut wajah Andri berubah serius, sadar jika lawan bicaranya tampak akan membahas hal penting saat ini.


"Ada apa Gibran?" tanya Andri, Sean yang duduk di samping pria itu ikut menatap Gibran dengan sorot penasaran.


"Saya mau bicarakan hal penting."


Andri mengangguk, sementara Sean sibuk menerka apa yang akan Gibran sampaikan. Ia menolak spekulasi di kepalanya meski ragu.


"Saya menjalin hubungan dengan Yashinta." Gibran mengatakannya tanpa gugup. Benar-benar membuat Sean takjub dengan tekad dan keberanian yang dimiliki pria itu.


Sedangkan Andri tampak diam. "Kami berpacaran." sahut Gibran lagi. Andri tak bereaksi, membuat Sean menoleh pada sang calon papa dan menerka barangkali Andri akan menentang hubungan Yashinta dan Gibran.


Jujur Gibran merasa gugup saat itu. Mendadak ia takut jika Andri tidak akan setuju dan mendadak ia takut Andri mengira bahwa ia menjdadi penyebab putusnya Kafka dan Yashinta.


Saat Andri sama sekali tidak bicara. Gibran nyaris putus asa, diamnya laki-laki biasanya adalah tidak. Atau Andri sedang mempertimbangkannya dalam-dalam. Gibran bimbang.


"Kamu tidak akan aman kalau sampai menyakiti putri saya." ucap Andri setelah lama ia hanya diam.


Selama ini, interaksi dua orang itu memang seringkali menyita perhatian Andri. Awalnya ia mengira kedekatan mereka hanya sekedar teman, atau antara adik dan kakak mengingat Gibran pernah menolong Yashinta dan usia keduanya terlampau jauh.


Tetapi ketika Yashinta meminta izin padanya untuk berangkat ke Bali dengan Gibran, Andri tahu jika hubungan keduanya memang sedekat itu. Sehingga ia tidak terkejut dengan fakta tersebut.


Hanya saja, Andri merasa sedikit terkejut mendapati Gibran memberitahunya sebelum Yashinta. Andri merasa takjub karena Gibran berani berterus terang padanya secara langsung.


Gibran hanya tersenyum di balkon apartementnya, ponsel menempel di telinganya, gadis di ujung sana masih mendesaknya agar memberitahu ancaman apa yang Andri berikan setelah Gibran memberitahukan hubungannya dengan Yashinta.


"Papa bilang apa Mas Gibraaan?"


"Nggak bilang apa-apa."


"Ihh, tau ah. Yas ngambek." gadis itu putus asa dan membuat Gibran tertawa. Setelahnya adalah hening di antara mereka. Cukup lama, hingga Gibran kemudian berbicara. "Katanya saya harus nikahin kamu."


"Hah, kapan?"


"Secepatnya."


"Ngarang, ah." Yashinta menolak untuk percaya, membuat Gibran hanya tersenyun di sana. Ia menyerah untuk menggoda gadis itu.


"Mas Gibran kenapa nggak ngasih tau Yas kalau bilang sama Papa?"


"Nggak papa, sekarang, 'kan kamu udah tau."


"Yas taunya dari Papa, bukan dari Mas Gibran."


"Sama aja."


"Beda,"


Gibran terdiam sebentar, ia tak ingin berdebat dengan gadis itu. "Besok Mas Gibran sibuk nggak?" tanya Yashinta setelah beberapa saat.


"Ada apa?"


"Yas pengen dijemput abis les piano."


"Jam berapa?"


"Sore, jam 5."


Gibran tampak berpikir, Yashinta menunggu jawaban pria itu dengan cemas. "Saya ada jadwal ketemu klien jam 4 sore. Pulangnya saya jemput kamu."


"Okay Mas Gibran, makasih."


"Sama-sama, sekarang kamu tidur, yah. Sudah malam."

__ADS_1


"Iyaa, dah Mas Gibran, Yas sayang Mas Gibran banyak-banyak." ujarnya, Gibran hanya menganggukan kepala dengan senyuman kemudian memutus sambungan.


TBC


__ADS_2