
"Om dengar kamu juga kerja part time malam."
"Yashinta yang bilang om?"
"Iya. Dia nggak tega sama kamu."
"Om tahu kamu nggak akan mau nerima bantuan percuma dari Om. Itu sebabnya Om sekarang akan bawa kamu ke restoran milik Om. Kamu bisa bekerja di sana."
"Gajinya sangat lumayan, jadi kamu tidak usah bekerja pada malam harinya. Bagaimana?"
Ranti yang duduk di samping Andri di kursi penumpang diam untuk sesaat. Ia tahu Yashinta tidak akan diam saja melihatnya dalam kondisi kesusahan. Ranti butuh, ia juga enggan menerima bantuan cuma-cuma dari Andri dan Yashinta. Sehingga penawaran Andri ini tidak bisa ia tolak begitu saja.
"Jangan membuat Yashinta khawatir, yah." sambung Andri, Ranti mengangguk dengan senyuman. Membuat tangan Andri mendarat lembut di puncak kepalanya. Yashinta sangat menyayangi Ranti, sehingga Andri pun melakukan hal yang sama. Terlebih, anak itu memang baik sekali. Andri menyukainya.
***
"Kebetulan banget Bunda ngajakin Yas ketemu. Yas juga sebenernya mau datang ke butik Bunda nanti sore dianter Papa." sahut Yashinta. Mereka dalam perjalanan menuju rumah Kafka. Kafka fokus menyetir, tapi sesaat ia menoleh dan bertanya. "Mau ngapain?"
"Mau beli gaun atau dress buat acara ulang tahun perusahaan Papa."
"Kapan?"
"Dua hari lagi."
Kafka mengangguk mengerti, artinya hari sabtu nanti. Setelahnya, hening menyelimuti mobil putih milik Kafka. Yashinta menoleh dan menatap pemuda di sampingnya. Ia memerhatikan wajah tampan pria itu.
Kafka adalah pacarnya, namun Yashinta merasa sangat jauh dengan Kafka. Bahkan sesekali Yashinta merasa tidak mengenali Kafka. Pria itu terlalu menutup diri darinya sedangkan Kafka tahu segala hal mengenai Yashinta. Sangat tidak adil.
"Enggak adil." tanpa sadar Yashinta berdecak. Membuat Kafka menoleh. "Loe ngomong apa?"
"Kafka kemaren-kemaren kemana aja?" tanyanya dengan suara pelan namun pandangan matanya mengarah pada Kafka. Sejujurnya Yashinta ingin mengakjukan pertanyaan tersebut pagi tadi, namun Kafka sudah lebih dulu pergi.
"Ada." Kafka menyahut singkat seraya memerhatikan jalanan di depannya.
"Yas nggak pernah liat." faktanya seperti itu. Yashinta hanya melihat Kafka jika pelajaran dimulai saat pria itu berada di kelasnya, cpada waktu istirahat, Kafka sudah tidak akan terlihat lagi sampai waktu pulang.
"Gue sengaja ngehindarin loe." Kafka menyahut dengan entengnya.
"Kenapa?" tanya Yashinta. Kafka tak kunjung menjawab, hanya diam hingga mobil yang pria itu kemudikan memasuki gerbang rumahnya. Kafka mulai membuka seatblet yang ia kenakan.
__ADS_1
"Enggak papa. Gue kasian aja sama loe." ia buka suara setelah cukup lama.
"Kasihan kenapa Kafka?" tanya gadis itu ingin Kafka menjawab secara spesifik, menahan tangan Kafka yang sudah bersiap membuka pintu mobil.
Kafka tersenyum tipis, menepis cekalan tangan Yashinta dan justru mengacak puncak kepala gadis itu. "Kasian sama loe punya pacar modelan kaya gue gini." sahutnya yang membuat Yashinta sesaat mematung.
"Jadi Kafka sadar kalau Kafka ini sebenernya jahat dan nggak cocok sama Yas?" tanya gadis itu dengan polos. Membuat senyum di bibir Kafka spontan luntur. Kafka terlalu banyak berharap pada Yashinta untuk menepis apa yang ia katakan. Meski pada kenyataannya apa yang Yashinta katakan memanglah benar.
"Udah, turun! Bunda udah nunggu." sahut Kafka pada akhirnya yang membuat gadis itu mengangguk.
"Kafka,"
Gerakan tangan Kafka yang hendak membuka pintu mobil kembali tertahan. "Bagi Yashinta, Kafka baik. Entah karena Kafka memang bener-bener baik, atau mungkin perasaan Yas yang berlebihan."
"Tapi terlepas dari semuanya, yang Yas tahu Yas cinta sama Kafka. Untuk saat ini Yas nggak perduli apapun, mungkin dimasa yang akan datang juga tetep kaya gitu."
"Kenapa loe bisa secinta itu sama gue?" tanya Kafka, ini menjadi kali pertama ia menanyakan hal tersebut, sebelumnya Kafka tidak pernah bertanya ataupun perduli mengenai hal itu.
Yashinta menggelengkan kepalanya. "Enggak tahu."
"Mungkin karena Kafka laki-laki pertama yang buat Yas jatuh cinta. Jadi Yas nggak tahu gimana caranya buat jatuh cinta sama laki-laki lain selain Kafka."
***
"Bunda."
Dua orang itu berpelukan bak anak dengan ibu yang sudah lama tidak bertemu, membuat Kafka berdecak dan merasa dianaktirikan.
"Apa kabar, Sayang?"
"Baik, Bunda. Yas baik, Bunda apa kabar?"
"Seperti yang kamu lihat, Bunda juga sehat walafiat." Bunda menyahut dengan senyum anadalannya, menggandeng Yashinta masuk ke dalam rumah dan benar-benar mengabaikan Kafka.
"Mungkin sebaiknya gue jadiin Yashinta adek aja, kali yah." Kafka mulai memikirkan hal tersebut melihat sikap Bunda yang berlebihan setiap bertemu dengan Yashinta.
Pemuda itu tidak ingin mengganggu dan membiarkan dua orang itu saling melepas rindu. Sementara ia sendiri memutuskan untuk ke kamarnya.
"Gimana sekolah kamu? Kata Kafka kamu sibuk, makannya Kafka susah kalau mau ngajak kamu kesini." sahut Bunda sesuai dengan apa yang putranya katakan setiap kali ia bertanya kenapa Kafka tidak membawa Yashinta.
__ADS_1
Yashinta tersenyum canggung, rupanya Kafka berbohong pada Bunda sedangkan pria itu yang menghindarinya, bukan karena Yashinta sibuk dan tidak bisa berkunjung. Sementara untuk datang ke rumah Bunda tanpa Kafka ataupun izin pria itu, ia takut pacarnya itu akan tidak suka.
"Lancar Bunda. Akhir-akhir ini Yas emang sibuk belajar." jawab gadis itu. Bunda tersenyum menatap Yashinta. "Yashinta mau minum apa?" tanya Bunda kemudian karena tamu istimewanya itu belum disuguhkan minumam.
"Apa aja Bunda, Yas suka semuanya."
"Kalau gitu Bunda bikinin semua jenis minuman buat Yashinta."
"Jangan Bunda. Jangan sungkan-sungkan." sahut gadis itu yang membuat Bunda tergelak. Setelah mengatakan jika Yashinta hanya ingin jus jeruk, Bunda kembali tak lama dengan minuman pesanan Yashinta, ia yang membuatkannya langsung karena asisten rumah tangganya sedang memasak menu makan siang.
"Terimakasih Bunda." ia meraih gelas berisi jus jeruk dan menyesapnya sedikit untuk menghilangkan haus. Bunda duduk di sampingnya sambil menatap gadis itu penuh perhatian, membuat Yashinta kemudian mengingat apa yang ia butuhkan saat melihat Bunda.
"Bunda, kebetulan banget Bunda pengen ketemu Yas. Yas juga udah niat mau ketemu Bunda, lho." sahut gadis itu.
"Oh, yah. Ada apa memangnya?"
"Yas mau ke butik Bunda. Yas butuh beberapa dress atau gaun buat acaranya papah nanti."
"Kebetulan kalau begitu, Bunda juga mau ngajak kamu ke butik. Kafka ada bilang?" sahut Bunda diakhiri pertanyaan yang membuat gadis itu justru balik bertanya.
"Bilang apa Bunda? Kafka nggak bilang apa-apa kecuali bilang sama Yas kalau Bunda mau ketemu." sahutnya sebagaimana apa yang Kafka katakan padanya pagi tadi saat Kafka menemuinya sambil memberikan tupperware berisi sandwich padanya dari Bunda.
Bunda berdecak pelan. "Anak itu." Yashinta mengerutkan kening. "Bunda ada sesuatu buat kamu. Nanti Bunda kasih liat di butik, yah." sahut Bunda, Yashinta hanya bisa mengangguk.
"Kita makan siang dulu, yah." ajak Bunda kemudian. "Bunda bisa minta tolong?"
"Minta tolong apa Bunda?"
"Suruh pacar kamu gabung. Kita makan bersama, bilang juga nanti anterin kita ke butik."
"Boleh Bunda. Kafkanya di mana?" Yashinta celingukan mencari keberadaan Kafka, ia baru sadar jika Kafka tidak bersama dengan mereka.
"Di kamarnya."
"He'h?"
Bunda tampak berlalu menuju dapur setelah mengusap punggung Yashinta. Sementara gadis itu mematung di tempatnya.
Kafka ada di kamar? Bunda menyuruhnya untuk datang dan memberi tahu pria itu agar turun dan bergabung makan siang bersama. Artinya, ini akan menjadi kali pertama Yashinta menginjakan kaki di kamar pria itu.
__ADS_1
TBC