Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Apartement


__ADS_3

Satu kata yang terlintas di kepala Yashinta begitu Yashinta memasuki unit apartement milik Gibran. "Amazing." decaknya. Apartement pria itu tampak luas, sebagai seorang pria tatanan apartementnya begitu rapi dan bersih.


"Cowok higienis."


"Hmm?" Gibran di depannya berbalik dan bertanya.


"Ah, apa?"


"Dari tadi kamu ngomong, tapi saya nggak denger." sahut Gibran karena sejujurnya sejak tadi ia mendengar gumaman samar gadis itu.


"Oh, ini, Yas ngomong sama diri Yas sendiri." sahutnya kaku, awkward bahkan sampai membuat Gibran mengerutkan kening. "Mau kamu atau saya dulu yang mandi?" tanya Gibran kemudian, mengabaikan pembahasan mereka sebelumnya.


"Enggak bareng aja?" tanya gadis itu dengan spontan, kembali membuat Gibran mengerutkan kening dengan mulut terbuka, Yashinta ikut melongo melihat ekspresi pria itu, tidak sadar jika apa yang dikatakannya membuat Gibran salah paham. "Maksud Yas, kamar mandinya emang cuma satu?" gadis itu buru-buru meluruskan. Gibran menganggukan kepala.


"Oh, kalau gitu Yas duluan aja." sahutnya yang kemudian melangkah tak tentu arah, kemudian berhenti dan tampak kebingungan. Sementara Gibran berkacak pinggang menatap tingkah gadis itu.


Ia mendesah ketika Yashinta membalikan tubuhnya. "Kamu kenapa so tahu banget, sih. Ini kali pertama kamu datang ke apartement saya." sahutnya, Yashinta tak berkata-kata, hanya tersenyum pada pria itu.


"Kamar mandinya di sana!"


Gibran menunjuk beberapa undakan tangga dengan pegangan yang terbuat dari kaca tebal dimana sebuah pintu berada di sana. "Oh, okay." Yashinta kian canggung karena harus memasuki kamar pria itu, terlebih ketika Gibran lebih dulu berjalan, Yashinta mengikutinya. Barangkali pria itu akan menunjukan letak kamar mandi padanya.


Penilaian Yashinta tidak salah mengenai Gibran yang suka kerapian, kamar pria itu pun jelas sangat rapi dan bersih dengan banyak rak buku berada di sana. Buku-buku tebal yang dapat Yashinta tebak berkaitan dengan dunia bisnis tersusun sesuai warna buku. Gibran tampaknya begitu detail menyusun buku-bukunya.


Walk in closet pria itu juga tampak rapi dengan aroma maskulin yang menyeruak ke indera penciumannya begitu menginjakan kaki di kamar tersebut.


Yashinta mengernyitkan dahi ketika melihat salah satu super hero marvel bertengger di salah satu petak rak buku. Yashinta merasa familiar. Ia pernah melihat Ant-Man saat ia masuk ke salam kamar Kafka.


Yashinta menggeleng samar menepis pikirannya. Gibran punya banyak uang dan dapat membeli apa saja. Lagipula, Ant-man bukan hanya satu dan orang-orang yang menyukainya pasti memilikinya.


"Kamar mandinya di sebelah sana." Gibran menyadarkan Yashinta dan menunjuk sebuah pintu berwarna putih. "Handuknya ada di dalam."


Yahinta mengangguk, berjalan menuju kamar mandi namun beberapa detik berikutnya ia menghentikan langkah, kemudian berbalik. Gibran mengernyit. "Ada apa?" tanyanya saat gadis itu tampak ragu-ragu.


"Yas nggak bawa baju ganti." sahutnya mengingat jika satu-satunya pakaian miliknya adalah yang mekekat di tubuhnya dalam keadaan basah.


"Saya punya kaos dan beberapa celana. Sepertinya muat buat kamu."


"Tapi bh sama celana dalem Yas, gimana?" ia bertanya dengan polosnya tanpa sadar sudah membuat Gibran canggung bahkan menghindar untuk bersitatap dengannya. Pria itu mendehem. "Bh sama celana dalem Yas basah Mas Gibran." beritahunya lagi. "Iya, Masha. Saya tahu." ujarnya dengan suara pelan.


"Terus gimana? Yas nggak mungkin pinjem celana dalem punya Mas Gibran, 'kan? Tapi punya Yas juga nggak bisa dipake, bh Yas juga basah. Kalo tetep dipake nggak nyaman. Kalau nggak pake juga Yas malu sama Mas Gibran." oceh panjang lebarnya yang berhasil membuat Gibran memijat pelipis. Yashinta menatapnya dengan sorot heran.


"Kalau kamu malu kenapa malah kamu omongin?" tanya Gibran dengan raut pasrah.


"Ya, 'kan Yas ngomong apa adanya Mas Gibran."


Gibran lagi-lagi mendesah, sepertinya Yashinta spesialis jujur yang baru pertamakali Gibran temukan, anehnya ia justru suka melihat kejujuran gadis itu.


"Kamu mandi aja, biar saya yang pikirin itu."


"Enggak!" tolaknya dengan cepat.


"Jangan dipikirin sama Mas Gibran. Nanti Mas Gibran malah mikir kotor, lagi." tuduhnya yang membuat Gibran menyipit mendengarnya.


"Terserah kamu." pasrahnya.

__ADS_1


"Yaudah, biar Yas aja yang mikirin." sahut gadis itu dengan raut kesal. "Mas Gibran jangan mikirin. Awas aja kalo mikirin." ancamnya seraya berlalu menuju kamar mandi.


"Saya makin dilarang malah makin ngelanggar." pria itu menyahut usil dengan sedikit berteriak ketika Yashinta sudah masuk ke kamar mandi.


"Ihh, awas aja!" Yashinta juga berteriak di dalam. Gibran tertawa, "awas aja kalo Yas udah beres. Dasar mesum!"


Gibran kembali terkekeh mendengar teriakan gadis itu, setelahnya ia hanya menatap pintu kamar mandi, tersenyum samar dan menggelengkan kepala setelahnya.


Gibran mengetikan sesuatu di ponselnya begitu ia keluar dari kamar. Pria itu mendesah setelahnya, seperti wanita pada umumnya, Yashinta mandi lama sekali. Ketika suara bel terdengar, Gibran buru-buru beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu masuk karena pesanannya pasti sudah tiba.


Perlahan ia melangkah dan membuka pintu, namun begitu melihat siapa oranh di balik pintu, Gibran menahan pintu ketika orang yang tak lain adalah adiknya nyaris menerobos masuk.


"Gue mau masuk." sahut Kafka dengan sorot heran karena Gibran tiba-tiba saja menahan pintu. Padahal biasanya Gibran akan membiarkannya masuk begitu saja.


"Kamu ngapain datang jam segini? Mas nggak nerima tamu." tanya Gibran, sedikit panik jika Kafka mengetahui bahwa ada seseorang di apartementnya, gadis pula.


Kafka mendesah, seketika raut wajahnya tampak kesal. Ia menenteng sebuah paper bag yang sudah ia cek isinya. Gibran buru-buru merampasnya.


"Cewek loe ada di dalem?' tanyanya tanpa menjawab pertanyaan sang kakak. "Jangan so tahu!"


"Gue udah liat isi paper bagnya." sahut Kafka dengan enteng, pemuda itu sempat menyeringai saat melihat rambut basah sang kakak.


Kafka tiba ketika dua wanita berdiri di depan pintu apartement Gibran dan mengatakan jika mereka mengirim barang pesanan Gibran. Kafka menawarkan diri untuk menerimanya, setelah ia cek ternyata adalah pakaian wanita, lengkap.


Mungkin seharusnya Kafka tidak perlu heran karena sang kakak adalah orang dewasa. Namun rasanya aneh jika Gibran benar-bebar melakukan hal itu, Kafka mengenal kakaknya. Gibran tidak akan mudah berhubungan dengan wanita bahkan hanya untuk sekedar saling berbicara, apalagi tidur bersama.


"Cewek loe, 'kan?"


Gibran mendesah, tak bisa berkata-kata dan memilih mengabaikan pertanyaan adiknya. "Gue ke sini mau ngambil Ant-Man milik gue. Loe sembarangan banget, sih, maen ngambil-ngambil." Kafka memilih mengabaikan urusan Gibran karena pria itu tampak enggan membahasnya dan memilih fokus pada niat awalnya datang ke apartement sang kakak.


Gibran mendesah kali ini, kemarin saat ia pulang untuk mengambil beberapa berkas perusahaan, ia memang masuk ke dalam kamar Kafka dan secara random mengambil salah satu super hero marvel sang adik untuk melengkapi rak bukunya yang kosong. Ia kira Kafka tidak akan sadar jika barang di kamarnya hilang.


"Gue tau loe yang beliin. Tapi itu tetap milik gue." sahut Kafka lagi, Gibran mengangguk. "Tunggu di sini, Mas ambil dulu." pamit Gibran dan menutup pintu.


"Loe nggak nyuruh gue masuk buat minum atau–" Kafka berdecak, mengguyur rambut berantakannya yang tidak ia sisir karena buru-buru dan hanya berdiri menunggu kakaknya kembali.


Tak lama, puntu kembali terbuka, posisi Gibran masih sama seperti tadi, ia tampak mati-matian menahan pintu agar Kafka tidak menerobos masuk.


"Gue gak boleh ketemu kakak ipar gue?" tanya Kafka, sedikit mengintip dengan harapan dapat melihat sosok yang Gibran sembunyikan. Jujur ia merasa penasaran.


"Udah, kamu pulang. Udah malem, kasin Bunda." Gibran justru mengusirnya dengan halus.


"Udah malem, jangan lupa pulangin anak orang " sindir Kafka seraya berlalu, Gibran hanya menggeleng samar, kemudian menutup pintu.


"Mas Gibran." ia mendengar teriakan dari arah kamar yang membuatnya buru-buru berlalu. Namun saat ia memegang handle pintu rupanya pintu dikunci dari dalam.


"Jangan masuk, Yas mau ganti baju."


"Di atas tempat tidur ada paper bag, saya tadi beliin kamu pakaian." beritahu Gibran, Yashinta di dalam kamar pria itu buru-buru meraih paper bag dan melihat isinya. Mulutnya menganga. "Huh," Gibran yang membelikannya? Kenapa rasanya sangat memalukan?


"Ada?" Yashinta menoleh ke arah pintu saat Gibran bertanya. "A–ada Mas." gadis itu gugup, ia mengigit bibir bawahnya. Sedangkan Gibran di luar sana berdecak, "kenapa aneh, yah?"


Gibran menepis pikirannya. Kenapa rasanya aneh saat ada orang lain di dalam apartementnya bahkan masuk ke dalam kamarnya dan bersikap seolah dia adalah pemilik kamar, membuat Gibran terjebak di luar.


Kenapa rasanya, ia seperti baru menikah dan kali pertama mengajak istrinya ke apartement?

__ADS_1


Gibran buru-buru menggelengkan kepala. Terlebih saat Yashinta di dalam sana bersuara.


"Mas Gibran, dressnya kegedean." teriaknya.


"Bagus dong."


"Yas-nya ketelen."


Gibran mendesah, kenapa gadis itu selalu berlebihan dan merepotkan? "Kalau gitu buka pintunya. Kalo kamu merasa nggak nyaman akan lebih baik kamu make kaos saya." sahut Gibran dengan suara tidak berdaya, bahkan mata pria itu mendadak sayu.


Tak lama pintu terbuka, menampilkan Yashinta dengan dress berwarna putih yang kebesaran di tubuhnya. Gibran sempat terkejut melihatnya karena gadis itu terlihat seram dengan rambut basahnya yang berantakan karena belum disisir.


"Kegedean, 'kan?" ia menunjukan dressnya pada Gibran, Gibran mengangguk mengiyakan. Berjalan ke arah lemarinya. "Kamu pakai kaos saya aja." tawarnya, Yashinta mengangguk, mendahului langkah kaki pria itu dan bahkan sudah berada di hadapan Kafka ketika pria itu membuka lemari pakaiannya.


"Yas yang cari baju." pintanya yang langsung mendapat anggukan dari Gibran karena pria itu tak punya pilihan. Barangkali hal itu harus Gibran sesali ketika melihat pakaiannya berantakan, tak beraturan dan tak enak dipandangan.


"Sudah?" tanya Gibran dengan sorot pasrah. Yashinta yang sudah menenteng kaos hitam dan celana training berwarna hitam itu mengangguk setelah memberantakan lemari pakaian Gibran.


"Mas Gibran keluar dulu."


Gibran tersenyum malas, lelah meladeni gadis itu. "Saya kira ini kamar saya."


"Tapi Yas mau ganti baju, kalau Mas Gibran mau di sini aja yaudah." acuh tak acuh gadis itu.


"Sebentar! Sebentar!" Gibran menutupi wajahnya ketika ancang-ancang Yashinta tampak akan membuka pakaiannya.


Yashinta cengengesan. "Bercanda." selorohnya tanpa beban. "Tapi ngomong-ngomong, kok, Mas Gibran tahu semua ukuran punya Yas." sahut gadis itu yang membuat Gibran sesaat terdiam.


"Ukuran?" Gibran mengernyit, Yashinta mengangguk dengan senyuman. "Iya, ini–" gadis itu menunjuk dadanya. "–sama in–"


"Saya cuma minta buat disesuauin sama umur kamu." Gibran buru-buru menyahut sebelum Yashinta menunjuk bagian lain. Yashinta mengangguk-anggukan kepala.


Melihat raut wajah Gibran, gadis itu justru tampak senang untuk menggoda Gibran. "Serius? Bukan karena Mas Gibran tahu cuma dengan ngeliat." godanya.


"Kamu–" Gibran geregetan namun masih bisa menahan emosinya.


"Oh, iya, di sini nggak ada cctv, 'kan? Di kamar mandi juga nggak ada, 'kan?" gadis itu mengedarkan pandangan. Lagi-lagi membuat Gibran heran dengan tingkah yang Yashinta tunjukan.


"Untuk apa juga saya pasang cctv?"


"Ya siapa tahu aja karena Mas Gibran sering bawa perempuan ke sini terus–"


Gadis itu tampak terkejut ketika Gibran menarik pergelangan tangannya hingga tubuh Yashinta menempel pada pria itu. "Jangan keterlaluan Yashinta. Saya nggak pernah bawa perempuan manapun ke sini." ujarnya dengan raut tak terbaca.


Membuat gadis itu membeku melihat ekspresi kesal pria di hadapannya. Mungkin seharusnya Yashinta takut, tapi gadis itu justru menyipitkan mata mengingat apa yang baru saja Gibran katakan.


"Hmn, jadi artinya Yas perempuan pertama yang dibawa ka apartementnya Mas Gibran?" tanyanya dengan senyum samar, Gibran terdiam, tatapan matanya lekat pada Yashinta.


"Iya Mas Gibran?" terus menggoda Gibran saat pria itu tampak kebingungan.


Perlahan Gibran melepas pergelangan tangan gadis itu, ia mendesah dan memijat pelipis saat Yashinta terus menatapnya dengan senyuman.


Mungkin seharuanya, Gibran segera memulangkan gadis itu. Ia tak ingin darah tinggi, selain itu ia juga tidak ingin memiliki penyakit jantung karena tingkah menggemaskan Yashinta.


TBC

__ADS_1


Thor kok Yashinta sama Kafka nggak ketemu di apart Gibran, sih? Soalnya aku udah nyiapin moment spesial. Tunggu aja, yah.


Btw, buat yang nanyain cast mereka. Aku udah post di ig : eva_yuliaaan_04


__ADS_2