
Yashinta harus menghadiri makan malam pertemuan keluarga dengan Arumi dan Sean untuk membahas rencana pernikahan Andri dan Arumi. Ia hanya menjadi pendengar saat meeting keluarga itu berlangsung. Masing-masing skretaris Andri dan Arumi turut hadir untuk ikut menyusun acara dan mempersiapkan pesta.
Arumi dan Andri sempat bertanya dan meminta pendapat pada Sean apakah mereka setuju atau tidak jika acara pesta digelar mewah, dan keduanya tidak keberatan jika hal itu yang mereka inginkan.
Yashinta hanya menjadi pendengar saat skretaris Arumi membacakan hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk acara pernikahan.
Yashinta tidak bisa fokus, pertama karena masalahnya dengan Kafka yang baru saja kelar, kedua karena ia tidak mengerti dengan hal-hal yang Vito dan skretaris Arumi sampaikan. Sementara Sean tampak fokus dan terlihat antusias.
Kemudian, ketiga karena ..., mata gadis itu membulat saat mendapati Gibran yang baru saja masuk ke restoran dengan seorang wanita. Yashinta tahu jika dia adalah skretaris Gibran.
Yashinta memangku dagu dan menatap pria itu yang berjalan ke meja lain, cukup jauh jaraknya dengan tempat Yashinta. Ia memerhatikan Gibran yang kemudian duduk bergabung dengan dua orang wanita dan satu pria di mejanya.
Bisa Yashinta tebak jika mereka adalah klien Gibran. Tampaknya mereka sedang membahas mengenai pekerjaan. Tapi beberapa detik berselang, Yashinta menekuk wajah saat sesekali Gibran tampak tersenyum atau bahkan tertawa di sana. Rasanya Yashinta tidak rela melihat pria itu berbagi senyum terutama tawanya dengan wanita lain.
Gadis itu segera mengukir senyum saat mata keduanya bersitatap, namun dengan menyebalkan, Gibran menepis tatapan mereka dan mengabaikannya. Membuat wajah Yashinta kembali murung.
"Yashinta,"
"Yashinta."
"Hah?" gadis itu tersadar dan menoleh ke sumber suara, semua orang di mejanya tampak menatapnya. "Ada–apa?" ia bertanya dengan nada ragu karena tidak memerhatikan.
"Kamu dari tadi melamun, ada apa?" tanya Arumi. Gadis itu hanya menggelengkan kepala. "Eng–nggak Ma, nggak ada apa-apa." sahutnya. Ketika Andri yakin putrinya baik-baik saja, ia lantas mengangguk pada Vito. Kemudian Vito melanjutkan dan Yashinta memerhatikan, tapi sekilas ia melihat Gibran yang sibuk berbincang.
Yashinta akui, jika Gibran berkali kali-kali lipat amat tampan ketika sedang serius. Kemudian ... Yashinta menyentuh dadanya yang tiba-tiba saja berdebar.
Setelah insiden ciuman di apartement Gibran di hari ulang tahunnya, Yashinta menyambut baik perasaan Gibran untuknya. Sekalipun, Yashinta belum memahami bagaimana perasaannya sendiri terhadap pria itu.
Yang Yashinta tahu, ia hanya nyaman dengan Gibran. Ia senang jika bertemu pria itu atau hanya sekedar saling bertukar pesan, dan seringkali ia merasa rindu pada pria itu, atau merasa kehilangan saat Gibran tidak ada menghubunginya sam sekali. Seperti akhir-akhir ini misalnya.
Yashinta keluar dari restoran lebih dulu begitu acara meeting keluarga itu selesai, ia hanya berdiri saat kemudian mendengar suara dari arah belakangnya dimana Gibran dan rekan-rekannya tampak keluar.
"Senang bekerja sama dengan Pak Gibran. Semoga ke depannya kita memiliki project kerja sama lagi." sahut seorang pria yang diapit dua wanita dengan penampilan formal.
"Terimakasih Pak."
Keduanya berjabat tangan hingga tiga orang itu pamit lebih dulu ke mobilnya dan berlalu meninggalkan restoran, meninggalkan Gibran dengan skretarisnya. Yashinta hanya menatap dua orang itu, berharap Gibran mau menyapanya.
"Kamu pulang ke rumah sekarang?" tanya Gibran pada Intan, skretarisnya. Intan menganggukan kepala. "Biar saya antar."
"Tidak usah Pak, tidak perlu. Saya tidak ingin merepotkan."
__ADS_1
"Kamu jangan kaya gitu, biasanya juga saya sering nganterin kamu." ujar Gibran, berhasil membuat Yashinta yang mendengarnya mencenbikan bibir karena kesal. Ia tidak menyangka jika hubungan seorang atasan dengan skretarisnya harus seakrab itu.
"Tidak perlu Pak Gibran, saya sudah pesan taksi online." ujar Intan bersamaan dengan sebuah taksi yang menepi dengan mulus di pelataran restoran.
"Itu taksi saya, saya duluan, yah." pamitanya kemudian seraya berlalu, sekilas menatap Yashinta dan tersenyum. Gibran memasukan kedua tangan ke saku celananya setelah sebelumnya menganggukan kepala dan melambaikan tangan pada skretaris yang sudah tiga tahun bekerja dengannya itu
Setelahnya, hanya ada Yashinta dan Gibran di sana, juga lalu lalang orang-orang yang keluar masuk restoran. Yashinta dan Gibran bersitatap, kali ini Yashinta tidak mengukir senyumnya, Gibran juga tak menepis tatapan mereka namun juga tidak kunjung bicara.
"Atasan sama skretaris emang harus sedekat itu, yah." sahut Yashinta dengan nada sinis. Gibran mengerutkan kening, "kamu cemburu?" tanya Gibran yang kemudian melangkah mendekat pada gadis itu.
"Cemburu?" Yashinta berdecih.
"Mana ada cemburu. Emang Yas ini siapa di hidup Mas Gibran."
"Pengganggu!" ujar Gibran yang membuat gadis itu mengepalkan tangan dengan dengkusan napas kasar karena kesal.
"Masha itu pengganggu." sambung Gibran. Yah, pengganggu perasaan dan waktunya. Karena Gibran hanya akan diam dan tak dapat melanjutkan pekerjaannya saat memikirkan gadis itu. Pada intinya Yashinta adalah pengganggu yang menyenangkan bagi Gibran.
Tapi sesaat, Gibran mengingat lagi bagaimana gadis itu begitu mencintai Kafka dan ia tidak ingin menjadi orang ketiga, sehingga perlahan menjauh dari Yashinta menjadi pilihan terbaiknya. Ia tidak ingin terjebak di zona nyaman dengan gadis yang jelas-jelas adalah pacar adiknya.
"Jangan pikirin apa yang saya omongin." sahut Gibran kemudian dengan senyum yang perlahan luntur di wajahnya.
"Tadi juga di dalem kaya gitu."
"Saya, 'kan lagi kerja."
"Selama beberapa hari ini juga Mas Gibran nggak pernah ada ngehubungin Yas." selanya dengan cepat namun Gibran hanya diam menatapnya dan membuat Yashinta kian merasa kesal.
"I–itu karena skretaris Mas Gibran, yah?" tanyanya yang lebih terdengar sebagai tuduhan, yang membuat Gibran mengerutkan kening. "Skretraris saya? Kenapa sama skretaris saya?"
"Ya karena kalian deket."
"Kita deket biar kerjasama di antara kami terjalin dengan baik." Gibran menyahut logis.
"Tapi bukan itu yang Yas maksud."
"Terus apa?"
"Katanya kalau sering bersama dan merasa terbiasa orang akan merasa nyaman."
"Jadi?"
__ADS_1
"Masa Mas Gibran nggak ngerti!" Yashinta merasa kesal sendiri.
"Bisa aja kalian ngerasa nyaman karena terbiasa sama-sama, kemaren juga Mas Gibran keluar kota sama dia, 'kan?" Yashinta kian merasa dongkol membayangkan kebersamaan mereka. Padahal sebelumnya ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Terutama ikut campur mengenai pekerjaan Gibran.
"Apa susahnya, sih, bilang cemburu." mata Gibran menyipit menatap gadis itu.
"Yas nggak cemburu." Yashinta masih mengelak, tidak terima jika Gibran menganggap dirinya cemburu. Gibran hanya tersenyum, sekilas menatap ujung sepatunya lantas beralih pada Yashinta. "Kamu nggak perlu cemburu–" Yashinta terlihat akan protes dengan hal itu namun Gibran buru-buru melanjutkan kalimatnya. "Intan itu istri mantan karyawan saya."
Yashinta terdiam dan menatap Gibran. "Dia sudah dua tahun menikah dan hubungannya sama suaminya harmonis." sambungnya.
"Ya–ya bagus kalo gitu." sahut Yashinta, mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Ada perasaan lega di hatinya mendengar hal tersebut.
"Tapi kalo masalah Mas Gibran yang ngehindarin Yas?" tanya gadis itu, belum puas dengan penjelasan Gibran. Gibrab diam, menatap Yashinta dan mengembuskan napas pelan.
"Itu pilihan saya. Pilihan saya untuk menjauh dari kamu dan menjaga perasaan Kafka. Kamu sendiri yang bilang kalau kamu sangat mencintai Kafka, jadi saya nggak bisa berbuat apa-apa Yashinta. Apalagi sampai memaksa kamu untuk bersama dengan saya."
"Awalnya saya tidak ingin mengalah dan akan berusaha ngedapetin kamu. Tapi saya sadar saya nggak bisa seegois itu sama Kafka." panjang lebar Gibran sedangkan Yashinta hanya mendengarkan.
"Saya akan bahagia kalau kamu bahagia. Sama siapapun kamu, kalau memang kamu merasa senang saya akan dukung." sambungnya.
"Atau kalau perlu saya bisa pergi ke tempat jauh manapun supaya nggak ganggu kalian." sambungnya lagi. Sementara Yashinta hanya mengerjap di tempatnya menatap pria itu.
Gibran tampaknya sudah selesai bicara, ia mengangkat tangan kanannya dimana sebuah arloji melingkar di sana, saat waktu menunjukan pukul sepuluh malam, Gibran menatap gadis itu.
"Saya harus pulang. Kamu sama Papa kamu?"
Yashinta menganggukan kepala. "Kalau gitu saya duluan." pria itu berlalu pergi. Yashinta hanya menatap punggungnya hingga kemudian bibirnya memanggil nama pria itu dan membuat langkah kaki Gibran terhenti.
"Mas Gibran."
"Yas sama Kafka udah putus." beritahu gadis itu, sesaat membuat Gibran mematung di tempatnya.
"Mas Gibran bebas deketin Yas, nggak ada orang yang perlu dijauhin dan Mas Gibran nggak perlu jaga perasaan Kafka lagi." sambungnya. Kali ini perlahan membuat senyum di bibirnya terukir. Namun Gibran tetap diam di tempat tanpa merubah posisinya.
"Yas emang cinta sana Kafka, tapi bukan berarti Yas harus bertahan dalam hubungan yang emang nggak bisa dipertahanin."
"Yas sama Kafka udah selesai, Mas Gibran."
"Yas udah bukan pacar Kafka lagi."
TBC
__ADS_1