Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Perasaan Yashinta


__ADS_3

Berita mengenai pengusaha perusahaan besar di bidang konstruksi yang tertangkap polisi menggegerkan media masa dengan cepat, pada akhirnya, satu persatu kecurangan dan kejahatan yang dilakukannya terbongkar. Penculikan, kekerasan dalam rumah tangga, percobaan pembunuhan bahkan pencucian uang sehingga membuatnya terjerat pasal berlapis.


Dalam sekejap waktu nama baik Johan berubah citra dimata publik, baik masyarakat biasa hingga para pengusaha yang bekerja sama dengannya.


Saras harus rela saat rumahnya digeledah oleh petugas kepolisian. Mereka menemukan banyak bukti berupa berkas penting perusahaan ilegal, bukti transaksi dengan para anak buahnya dalam penculikan yang melibatkan putri tunggal Andri Wiraguna serta sejumlah uang bernilai miliaran yang disembunyikannya di rubanah.


Saras tahu semua akan berakhir buruk untuknya, begitu juga dengan kehidupan sekolahnya. Meski hal itu tidak akan membebaninya lebih dulu, karena prioritas utamanya sekarang adalah kesembuhan fisik dan mental sang mama.


Saras harus kuat demi wanita tersayangnya itu.


***


"Pacar loe nungguin loe semaleman. Dia baru balik karena harus sekolah." beritahu Ranti seraya meletakan kontak bekal yang ia bawa dari rumah untuk Yashinta. Ranti tahu semua orang tidak suka makanan Rumah Sakit, begitu juga Yashinta.


Gadis itu hanya diam di posisinya. Keadaan tubuhnya sudah jauh lebih baik dan terasa segar pagi ini setelah semalaman beristirahat. Ranti menatap Yashinta yang hanya diam, respond tak biasa yang gadis itu tunjukan mengenai sesuatu hal yang berhubungan dengan Kafka.


Baguslah jika Yashinta mampu bersikap seperti itu atas tindakan tidak seberapa Kafka dibanding dengan Gibran yang bahkan mengorbankan nayawanya.


"Seneng, 'kan loe?" ledek Ranti dengan wajah cemberut. Tidak perlu dikatakan penilaiannya terhadap Kafka–tidak akan pernah berubah.


"Ranti nggak sekolah?" tanya gadis itu yang justru mengalihkan pembicaraan. "Ini gue udah make seragam sekolah." Ranti merentangkan tangan dan memperlihatkan seragam sekolah yang terbungkus sweaternya pada Yashinta.


"Gue mampir sebentar ke sini mumpung masih pagi. Gue mau mastiin keadaan loe," wajah gadis itu cemberut. "Yashinta, loe tahu nggak, sih, gimana khawatirnya gue ke loe sedangkan gue nggak bisa berbuat apa-apaa. Gue pikir loe nggak akan selamet tahu nggak!"


"Ranti nggak seneng Yas selamet?" tanya gadis itu dengan polos. Berhasil membuat Ranti berdecak dan nyaris menjitak kepalanya.


"Bego! Mana ada!"


"Gue seneng banget loe selamat, makannya semalem gue tidur nyenyak." kali ini Ranti memeluk Yashinta. "Gue senang loe nggak kenapa-napa." ujarnya, Yashinta hanya tersenyum, kemudian berbicara. "Yas juga seneng Ranti, Yas kira Yas nggak akan selamat.


"Yas takut nggak ketemu Papa sama Ranti lagi."


Ranti mengurai pelukan, "gue minta sama loe buat nggak perlu temenan lagi sama Saras." protes Ranti, Yashinta hanya mematung, menatap Ranti dengan sorot bingung.


"Gara-gara dia loe jadi kaya gini. Gue nggak akan bisa maafin diri gue sendiri yang ngebiarin dia temenan sama loe kalo loe sampe kenapa-napa."


"Gue serius, Yashinta. Gue nggak mau tahu, jangan temenan lagi sama dia. Loe harus dengarin apa kata gue sekaliii, aja." Ranti memohon dengan raut cemas. Yashinta menganggukan kepalanya.


"Iya, Ranti, iya. Yas nurut."


"Nah, gitu dong."


Saras hanya mematung di depan pintu ruang rawat Yashinta yang tidak tertutup rapat. Semyua ia ingin memastikan keadaan Yashinta, kebetulan ruang rawat sang mama tidak jauh dari ruang rawat gadis itu.


Tetapi setelah mendengar apa yang Ranti katakan, ia mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Yashinta dan memilih melangkah pergi.


Saras tidak marah, karena apa yang Ranti katakan memang benar adanya. Ia yang menjadi penyebab semuanya. Karena dirinya nyawa Yashinta berada dalam bahaya.


Hanya saja, ternyata ia tidak bisa menahan perih di hatinya ketika Yashinta setuju untuk tidak berteman lagi dengannya. Rasanya sakit.

__ADS_1


***


Pada siang harinya, Yashinta dijenguk oleh Arumi yang tampak begitu khawatir dengan keadaannya, padahal ia baik-baik saja. Hanya kelelahan dan butuh istirahat yang cukup. Kemudian disusul oleh kedatangan Bunda yang sama khawatirnya seperti Arumi.


Jujur Yashinta merasa malu pada Bunda. Setelah kejadian di restoran tempo lalu, mereka belum pernah bertemu lagi. Sekarang justru bertemu di Rumah Sakit dengan statusnya sebagai korban selamat setelah Gibran mati-matian menyelamatkannya.


"Mas Gibran udah siuman Bunda?" tanyanya, Bunda mengangguk dengan senyuman.


"Maafin, Yas yah Bunda." ujarnya, meraih tangan Bunda dan menggenggamnya.


"Gara-gara Yas, Mas Gibran harus ada di Rumah Sakit."


"Jangan bicara seperti itu, Sayang. Ini bukan salah Yas, ini semua sudah jadi kehendak Tuhan." Bunda menenangkan, Arumi di sana mengangguk mengiyakan. Tidak ingin calon putrinya itu merasa bersalah atas apa yang menimpanya.


Bunda memeluk Yashinta, sedikit lama bahkan membuat Arumi bertanya-tanya mengenai hubungan mereka. Sementara ia sendiri sudah mengenal Bunda karena putra mereka berteman. Sama halnya dengan Bunda yang cukup heran dengan kehadiran Mama Sean di sana.


Yashinta yang menyadari atmosfer penuh tanya di ruangan itu lantas mengurai pelukannya dan Bunda. "Bunda sama Tante Arumi udah saling kenal, yah. Karena Kafka sama Sean temenan?" tanyanya yang membuat dua perempuan itu mengangguk.


"Iya, Sayang." Arumi yang menyahut.


"Bunda, Tante Arumi ini calon mama Yas." beritahunya yang membuat Bunda mengangguk mengerti.


"Tante Arumi, Bunda ini Bundanya Kafka. Yas sama Kafka pacaran." Arumi mengangguk-anggukan kepala, sekarang ia mengerti alasan kedekatan keduanya. Ternyata mereka adalah calon besan, begitu pikirnya.


Setelah cukup lama, Bunda dan Mama Sean pamit keluar dari ruangan Yashinta agar gadis itu beristirahat. Tapi tak lama setelahnya, Yashinta kedatangan beberapa teman sekelasnya yang datang atas inisiatif ketua kelas mereka. Tentunya Yashinta merasa senang, artinya teman-teman sekelasnya perduli padanya.


"Istirahat yang banyak, Yas. Loe harus sehat, biar bisa gangguin si Kafka terus." ujar Aris sebelum berlalu, Yashinta hanya tersenyum. Sementata Kafka mengibaskan tangan agar pria itu segera pergi, sehingga Sean menyeret kerah seragam Aris agar berlalu dari sana.


Sebelumnya Sean juga memberitahu Yashinta mengenai Ranti yang tidak bisa datang bersama teman-temannya karena ia harus bekerja di restoran. Yashinta bilang tidak apa- apa karena Ranti sudah datang tadi pagi. Tapi satu hal yang terlintas di benak Yashinta, sejak kapan Ranti dan Sean menjadi akrab?


Yashinta juga baru menyadarinya jika semalam Ranti berada di dalam mobil Sean untuk mengantarnya ke Rumah Sakit. Yashinta tersenyum, padahal Ranti sangat tidak suka berdekatan dengan orang yang dekat dengan Kafka, bahkan sesekali gadis itu juga sering menggunjingnya karena mau tetap bertahan dengan Kafka yang sudah jelas berulang kali menyakitinya.


"Kenapa senyum?" Kafka yang duduk di kursi di samping brankar dan menghadap pada Yashinta bertanya. Yashinta baru sadar jika pacarnya itu masih ada di sana.


"Kafka nggak pulang?" tanyanya yang membuat Kafka berdecak. "Loe nggak suka gue di sini?"


"Bukan itu."


"Kata Ranti, Kafka semaleman nungguin Yas." ujarnya ragu-ragu, Kafka hanya bergumam, melipat tangan di dada dan menyandarkan pumggungnya ke belakang dengan tatapan lekat pada Yashinta.


Membuat gadis itu heran dengan tatapan sang pacar. "Kafka, kenapa–ngeliatin Yas kaya gitu?"


"Loe kayaknya udah nggak mau dengerin gue."


"Hmm?" Yashinta kian heran dan tak mengerti maksud pacarnya.


"Gue udah larang loe simpen nomor Gibran tapi loe sama sekali nggak denger. Mau loe apa, sih, Yas?" Kafka sudah merasa kesal semalaman karena hal ini.


Air muka Yashinta berubah, ia kira Kafka tidak akan membahasnya setelah melihat bagaimana ia menderita atas penculikan itu. Tapi rupanya, Kafka masihlah makhluk tak berperasaan–yang dicintainya sepenuh hati.

__ADS_1


"Kafka kenapa egois, banget, sih. Kenapa Kafka mesti bahas hal itu? Kafka nggak kasian sama Yas?"


"Egois loe bilang?"


"Iya. Harusnya Kafka liat gimana kondisi Mas Gibran sekarang karena udah nyelametin Yas. Mas Gibran hampir meninggal, Kafka. Tapi Kafka justru marah karena hal sepele kaya gini." oceh Yashinta dengan suara yang meninggi.


"Loe pikir gue nggak ikut nyelametin loe? Loe bilang masalah sepele Yashinta?" Kafka tidak terima.


"Gue cuma mau tahu alesan kenapa loe nelpon Gibran lebih dulu dari pada gue, saat loe diculik!"


"Kenapa loe nggak nelpon gue sebagai pacar loe? Kenapa loe malah nelpon Gibran–"


"Itu karena Kafka nggak pernah ada saat Yas butuh!" Yashinta menyela dengan mata terpejam dan suara yang meninggi. Perlahan ia membuka mata bersamaan dengan air yang jatuh membasahi pipinya.


Ia menatap Kafka yang mematung di tempatnya.


"Kafka selalu susah dihubungi. Kafka nggak pernah perduli sama telpon Yas. Kafka nggak pernah perduli sama Yas. Itu kenapa Yas nggak ngehubungin Kafka duluan."


"Yas nggak mau mati konyol cuma gara-gara berharap sama orang yang nggak akan perduli sama keadaan Yas." oceh Yashinta berapi-api, meluapkan emosinya. Adalah kali pertama bagi Kafka melihatnya sejak mereka berpacaran.


Sekarang Kafka yakin jika Yashinta sama seperti perempuan lain, dan ia juga pasti merasakan sakit saat Kafka berulang kali melukainya.


"Yas cape Kafka, kalau emang Kafka nggak sayang sama Yas Kafka boleh mutusin Yas." sambungnya di luar kendali. Kalimat itu cukup membuat Kafka terkejut.


"Yas rasa, kalau sikap Kafka kaya gini terus, pacaran atau nggak pacaran sama Kafka rasanya akan sama aja." sambungnya lagi dengan kepala tertunduk, kemudian ia mengangkat pandangannya, mempertemukan tatapan mereka, Kafka tampak tak ingin bicara sama sekali.


"Selama ini, cuma Yas aja yang cinta sama Kafka. Tapi kayaknya Kafka enggak, Yashinta nggak pernah ngerasain itu."


"Yas nggak papa kalo putus sama Kafka."


***


Yashinta melangkah perlahan ke ruang rawat Gibran. Ia sama sekali belum melihat keadaan pria itu sejak semalam. Ketika masuk, pria itu dalam keadaan sedang tidur. Yashinta melihat gelas yang sudah tandas di meja samping brankar Gibran. Sepertinya pria itu sudah meminum obat.


Yashinta duduk pada kursi di sana, menatap wajah Gibran lekat-lekat. Air matanya perlahan jatuh, perasaan gadis itu tengah berantakan sekarang. Tangannya terulur, merapikan poni Gibran yang jatuh di keningnya, kemudian mengusap satu sisi wajah Gibran.


"Terimakasih Mas Gibran, terimakasih udah nyelametin Yas."


"Terimakasih udah ada buat Yas."


"Perasaan Yas lagi berantakan, tapi Yas merasa jauh lebih baik setelah ngeliat Mas Gibran." ocehnya yang kemudian merebahkan kepalanya di sana, isak tangisnya membuat pria yang tertidur itu membuka mata.


Pada dasarnya, Gibran tidak benar-benar tidur. Ia justru baru saja kembali dari ruang rawat Yashinta. Ia tahu dari Bunda jika Yashinta juga dirawat, usai meminum obat ia berniat mengunjungi ruang rawat gadis itu dengan kursi rodanya.


Namun hal tak diharapkan justru ia saksikan di sana saat Yashinta dan Kafka berdebat hebat.


Gibran melihatnya, Gibran mendengar semuanya. Ia mengerti bagaimana perasaan Yashinta saat ini.


TBC

__ADS_1


__ADS_2