Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Pesta Pernikahan (1)


__ADS_3

Mohon maaf terlalu lama libuuur. Hari ini kita lanjut, yah. Selamat membaca.


****


Yashinta tidak bisa memalingkan pandangannya sedikitpun dari Kanza setelah mereka bertemu di lobi tadi. Wanita yang saat ini tampak mengobrol dengan beberapa tamu undangan itu tak lepas dari radarnya barang sedetikpun.


Acara akad nikah Andri dan Arumi berjalan lancar sesuai yang direncanakan. Acara resepsi segera digelar setelahnya, para tamu undangan tampak menikmati pesta berikut dengan jamuannya.


Yashinta melihat Kafka dengan Sean dan juga Aris tampak berbincang sembari menikmati minuman di salah satu meja dekat pintu masuk.


Yashinta tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri, Kafka tampak begitu menawan dengan balutan pakaian resminya. Ia juga terlihat dewasa dan sedikit mirip dengan Gibran.


Bunda juga tampak mengobrol dengan Mama Aris, orang tua Ranti berada di pelaminan tengah memberikan ucapan selamat pada Andri dan Arumi.


Hiruk pikuk kemeriahan pesta terasa begitu membuat Yasinta bahagia atas perjalanan baru yang akan Andri jalani dalam hidupnya, mungkin seharusnya saat ini Yashinta bukannya fokus pada hal itu saja, tidak perduli dengan Kanza ataupun masa lalunya dengan Gibran. Seperti apa yang Gibran katakan, wanita itu hanya masa lalu dan mereka sudah tidak hidup di sana.


Yaahinta meyakinkan diri untuk mengingat hal tersebut, gadis yang saat itu tengah berdiri sendiri dengan segelas minuman yang berada di tangannya hanya menatap Andri dengan Arumi yang tampak menebar senyum bahagia saat menerima ucapan selamat dari para tamu undangan, sampai kemudian beberapa pria muda dengan balutan formalnya menghampiri Yasinta.


Yasinta sudah bertemu salah satunya saat tadi Andri memperkenalkan beberapa kawannya dan putra-putra kawannya tersebut, Yasinta tentunya menyambut baik kedatangan mereka meski ia tak tahu harus bersikap seperti apa, yang dilakukannya hanyalah bersikap manis.


Mereka mengajaknya berkenalan, kemudian banyak bertanya mengenai bagaimana kehidupan sekolah Yashinta dan apa yang akan gadis itu lakukan setelah lulus nanti, berikut juga dengan bagaimana posisinya melibatkan diri di perusahaan di masa depan.


Yashinta menjawab singkat, seperti. "Belum ada rencana."


"Hmm, mungkin."


"Nggak tau."


Sesekali ia mengangguk dan hanya tersenyum saja saat bingung harus bagaimana menanggapi ucapan mereka, karena yang Yashinta tau, lima pria di hadapannya ini adalah calon-calon penerus perusahaan orang tuanya.

__ADS_1


Bahkan beberapa dari mereka memang sudah bergabung di perusahaan.


"Kalau di masa depan perusahaan Pak Andri diteruskan oleh Yasinta, kita pasti akan bekerja sama." salah satu dari mereka berkata. Yashinta hanya tersenyum dan mengangguk samar, kemudian yang lain menimpali dan sesekali melayangkan candaan.


Gibran yang saat itu tengah berbincang dengan beberapa koleganya dan mendapati sang kekasih tampak asik berbincang dengan para pria tentu merasa tidak nyaman melihatnya, tapi ia juga tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan beberapa rekannya tersebut.


Ia bertahan di sana, mengobrol dengan mereka tapi matanya tetap tertuju pada Yasinta dan jujur Gibran merasa terganggu saat melihat senyum cerah terukir di bibir gadis itu dan diperlihatkan kepada para pria di sana.


Gibran sudah mengatakannya bahkan pada Yasinta secara langsung jika ia mencintai gadis itu, bukan terobsesi. Jadi, Yasinta bebas berbaur dengan mereka tapi dengan satu syarat orang-orang yang mendekati Yasinta harus sadar jika gadis itu sudah ada yang punya.


Pada akhirnya Gibran memilih pamit, meraih segelas minuman berwarna merah lantas berjalan ke arah gadis itu.


"Yasinta sudah punya pacar?" salah satu dari mereka bertanya.


"Hmm," Yashinta menganggukan kepala dan membuat mereka juga mengangguk mengerti jika gadis itu sudah ada yang punya.


"Saya kira orang seperti kamu ini akan dijodohkan dengan anak pengusaha lain, atau bahkan pengusaha muda." salah satu dari mereka berkata.


Beberapa pria di sana juga tampak terkejut melihat kehadiran Gibran dan bagaimana tangan pria itu dengan santainya mengapit pinggang Yasinta, cukup menunjukkan dengan jelas pada mereka jika Gibran tengah menunjukkan bahwa Yasinta adalah miliknya.


"Selamat malam. Bagaimana pestanya?" sahut Gibran yang kemudian menebar senyum dan menyapa mereka.


Mereka tampak saling beradu pandang kemudian berusaha mengukir senyumnya. "Malam Pak Gibran, kami menikmatinya."


Mereka tentu tau siapa Gibran Abiansyah. Pengusaha muda yang menjalankan bisnis keluarga, namanya terkenal dikalangan para pengusaha bahkan seringkali digembor-gembor sebagai menantu idaman para sosialita.


Hal yang dirasa sudah cukup tidak nyaman itu membuat Yashinta kemudian pamit seraya menepis tangan Gibran di pinggangnya, Gibran hanya menatap kepergian gadis itu kemudian ia juga pamit kepada pria-pria di sana dan mengikuti Yashinta.


"Mas Gibran, banyak orang." protes gadis itu saat Gibran terus mengekor di belakangnya.

__ADS_1


"Saya tahu, lagi pula Papa kamu terlalu banyak mengundang orang-orang." pria itu berkata seraya berbisik pada Yashinta, gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik, berhadapan dengan Gibran.


"Mas Gibran sengaja ya?" tanya gadis itu, ia mengerahkan tatapannya pada pria yang mereka tinggalkan yang masih berdiri di sana, Gibran menatap ke arah yang sama kemudian mengganggukan kepala.


"Awalnya saya nggak mau ikut campur, tapi ternyata nggak nyaman juga ngebiarin kamu sama mereka." ungkapnya apa adanya, tentu saja hal itu membuat Yashinta mengukir senyumnya.


"Mas Gibran cemburu?" tanyanya penuh harap, Yashinta tentu saja akan merasa senang jika memang hal itu yang Gibran rasakan.


"Iya saya cemburu, maka dari itu–" Gibran meraih tangan Yashinta, membuat gadis itu lebih dekat padanya. "–Jangan jauh-jauh dari saya, okay." ucapan Gibran bagai hipnotis bagi Yasinta. Gadis itu dengan mudahnya menganggukkan kepala.


Sementara dari jarak beberapa meter dari keduanya, Ranti hanya menatap dua orang itu dengan tatapan tak terbaca, gelas berisi minuman biru di tangannya sudah habis, ia tandaskan sekaligus ketika melihat bagaimana Gibran merangkul Yasinta penuh cinta.


"Yashinta tahu kalau loe suka sama Mas Gibran?" Sean bertanya, hal itu membuat Ranti cukup terkejut mendengar apa yang Sean katakan, tetapi saat Ranti menunjukkan ekspresi seperti itu, Sean tampak santai-santai saja di tempatnya seolah dia memang sudah tahu hal tersebut sejak lama.


"Loe–tau?" Ranti menunjuk dirinya sendiri, ia bahkan tak kuasa untuk mengeluarkan kata-kata. Sean hanya mengangguk.


"Kayaknya gue udah tahu lama kalau loe suka sama Gibran." ujarnya yang kemudian tampak menerka.


"Yashinta bener-bener nggak tahu?" tanya Sean lagi, dengan lemas Ranti menggelengkan kepalanya.


Bagaimana mungkin Yashinta tahu jika Ranti bahkan sama sekali tak terbuka pada gadis itu sejak awal bahwa pria yang ia sukai, malaikat yang disebutkannya adalah Gibran. Adalah laki-laki yang saat ini menjadi belahan jiwa Yasinta.


Tidak ada yang dapat Ranti lakukan kecuali mengalah pada gadis itu, ia cukup sadar diri untuk tidak memaksakan keadaan untuk memiliki Gibran dan hal itu juga tidak akan pernah dilakukannya. Bagaimana mungkin dia akan menyakitinya Yasinta?


Sean hanya menatap Ranti lekat-lekat, setelahnya ia kembali mengalihkan perhatian pada Gibran dan Yashinta yang tengah asik berbincang dan sesekali tampak tertawa.


"Menurut loe, kalau seandainya Yashinta tau loe suka sama Mas Gibran, apa yang bakal dia lakuin?" tanya Sean lagi, Ranti tidak langsung menjawab, dia justru menatap dalam-dalam raut wajah Sean mengulik alasan mengapa pria itu menanyakan hal tersebut padanya.


"Menurut loe, Yashinta bakal ngasih Mas Gibran buat loe?"

__ADS_1


TBC


__ADS_2