
Hujan turun cukup deras tepat setelah Gibran dan Yashinta keluar dari tenda bakso, pada akhirnya mereka memang mampir untuk makan bakso sesuai dengan keinginan Yashinta.
Gibran sudah meminta gadis itu untuk kembali ke tenda bakso namun Yashinta menolak dan justru menerobos hujan. Membuat Gibran melakukan hal yang sama hingga keduanya berakhir basah kuyup saat tiba di apartement.
Yashinta mandi lebih dulu, kemudian ia hanya duduk di sofa ruang utama sembari menonton televisi dengan selimut yang membalut tubuhnya. Ia mengenakan kaos dan celana milik Gibran, dan semuanya tampak kebesaran di tubuh mungilnya.
Rasanya tubuh Yashinta mengigil namun ia sangat menikmati perjalanan pulangnya dengan Gibran di bawah guyuran hujan.
Sesekali ia menikmati coklat hangat yang dibuatnya. Tak lama, Gibran turun dari lantai atas dengan sebuah hairdryer di tangannya. Gadis itu menengadah. "Mau ngapain?" tanyanya, Gibaran menunjukan benda di tangannya.
"Kita keringin rambut kamu dulu." ujarnya yang kemudian duduk di belakang Yashinta dan meraih rambut gadis itu. Yashinta menegakan duduknya dan membiarkan Gibran mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Pria itu dengan telaten mengeringkan rambut sebahu sang kekasih, memperlakukan Yashinta dengan penuh cinta. Dengan tindakan sederhana itu, ia ingin membuktikan pada Yashinta jika dirinya benar-benar mencintai gadis itu dan tidak ada yang lain, terlebih kembali pada mantan kekasih. Gibran tidak akan melakukan hal itu.
"Mas Gibran,"
"Hmm?"
"Mas Gibran sayang sama Yas berapa banyak?" tanyanya, Gibran diam beberapa saat dengan tangan yang masih terus bergerak mengeringkan rambut Yashinta.
"Sebesar kuku?" tanya Yashinta kali ini, berhasil membuat pria itu mengerutkan kening.
"Kok kuku?"
"Iya. Kata orang kalau cintanya kaya kuku otomatis bakal tumbuh lagi tumbuh lagi meski dipotong." ujarnya, kali ini Gibran tertawa. Tentu saja gadis itu keberatan sehingga ia merubah posisinya dan menghadap Gibran.
Membuat pria itu mematikan hairdryer di tangannya karena rambut gadis itu sudah kering sempurna.
"Kok malah ketawa?" Yashinta menatap heran pria itu. Gibran hanya menganggukan kepala.
"Cinta saya ke kamu bahkan lebih dari sekedar kuku jari, Yashinta. Saya udah janji kalau saya akan memberi sebanyak-banyaknya." ujarnya dengan penuh pengertian, ia mengusap cincin yang melingkar di jari manis Yashinta.
Bagaimanapun, Gibran yakin jika kejadian yang menimpa hubungan mereka belakangan ini membuat Yashinta meragukan perasaannya. Yashinta hanya ingin tau lebih pasti, itu saja.
Dan Gibran mengerti.
****
Yashinta menjadi salah satu orang paling bahagia ketika hari pernikahan sang papa tiba. Ia mengajak keluarga Ranti menginap di rumahnya agar pada hari pernikahan Andri memiliki banyak pengiring.
Ayah dan Ibu Ranti tentu saja menyambut baik ajakan tersebut, terlebih Yashinta sudah menyiapkan pakaian untuk mereka kenakan di acara penting tersebut karena sudah menganggap keluarga Ranti sebagai keluarganya sendiri.
Suasana rumah Yashinta menjadi ramai sebelum hari pernikahan, suasana benar-benar hidup dan Yashinta merasa sangat bahagia, terlebih ketika ia melihat raut cerah Andri yang tampak tidak sabar dengan hari yang sudah dinanti-nanti.
__ADS_1
Pernikahan berlangsung di sebuah gedung yang letaknya tak jauh dari perusahaan Andri. Para tamu undangan sudah memadati lokasi acara ketika Yashinta dan sang papa tiba di sana.
"Gila, Yas, mewah banget." Ranti berdecak kagum begitu juga dengan ayah dan ibu serta adik perempuan Ranti.
Yashinta hanya tersenyum dengan tangan yang mengapit lengan sahabatnya itu. "Ayah, Ibu, silakan dinikmati hidangannya, yah. Jangan sungkan." pesan gadis itu sebelum ia pergi untuk memenuhi panggilan Andri yang tampak sedang menyapa beberapa tamu.
Gadis dengan gaun hitam yang tampak elegan itu berjalan anggun melewati beberapa tamu undangan, ia tak lupa menebar senyum terbaiknya sebagai simbol jika ia merupakan orang yang saat ini tengah berbahagia di pesta pernikahan sang papa.
"Sayang, kamu jangan jauh-jauh. Papa mengundang teman-teman Papa, anak-anaknya ingin berkenalan sama kamu." ujar Andri, gadis itu hanya maengangguk. Lantas menyapa beberapa dari mereka yang sudah tiba.
"Waktu itu kita pernah ketemu di pesta ulang tahun perusahaan." salah satu dari mereka berucap, kemudian menggandeng pria muda di sampingnya dan memperkenalkannya pada Yashinta.
Yashinta tentu saja menyambut baik hal tersebut, namun ia masih mengedarkan pandangan ke setiap penjuru karena tak kunjung menemukan sang kekasih.
Hingga kemudian, ponsel di tangannya berdenting, satu pesan masuk dari Gibran berhasil membuatnya mengukir senyum.
Masa Depan❤
Saya di lobi gedung.
Kamu sudah ada di lokasi acara?
Yashinta dengan cepat mengetikan balasan. Meminta Gibran agar menunggunya dan ia akan menjemput pria itu. Yashinta pamit pada Andri dan teman-teman sang papa, Andri mempersilakan gadis itu pergi saat tau Yashinta akan mendatangi Gibran.
Seketika, meski ia mencoba menguatkan diri aura di wajahnya berubah berbeda. Mendadak ia merasa tidak nyaman dan ingin pulang. Sampai kemudian saat ia berbalik, segelas menuman berwarna biru tersodor ke hadapannya. Ia melihat wajah yang melakukan hal tersebut padanya.
Gadis itu hanya menghela napas kemudian menerima gelas yang diberikan Sean.
****
Raut wajah Yashinta tampak berseri-seri ketika ia berada di salam lift menuju lobi gedung. Hingga saat ia tiba dan melihat Gibran yang tengah menunggunya di sebuah sofa dekat meja resepsionis, gadis itu melambaikan tangan.
Membuat Gibran bangkit dari duduk dan menghampiri gadis itu dengan buket bunga di tangannya, tak ayak hal itu membuat senyum di bibir Yashinta kian merekah, terlebih saat Gibran meraih tangannya dan menggenggamnya.
Sedangkan gadis itu mengucapkan terimakasih atas buket yang diterimanya. Buket berisi bunga mawar asli, Yashinta tidak bisa untuk tidak mencium aromanya.
"Bunda nggak dateng sama Mas Gibran?" Gibran sudah mengatakannya pada Yashinta jika Bunda tau mengenai hubungan mereka. Yashinta merasa bersyukur karena Bunda tidak merasa keberatan dengan hal itu.
"Bunda sama Kafka, masih di jalan." jawab pria itu. Yashinta hanya menganggukan kepala, tak ingin membahas lebih jauh karena ada Kafka di dalamnya.
Dua orang itu berdiri di depan pintu lift, menunggu pintu lift terbuka, sementra Gibran membuka ponselnya ketika ada sebuah pesan masuk.
Bersamaan dengan itu, seorang anak kecil dengan gaun berwarna biru berdiri di samping Yashinta. Hal itu tentu saja menyita perhatian Yashinta sehingga ia menundukan pandangan untuk dapat melihat raut wajah gadis kecil tersebut.
__ADS_1
"Hey, kamu lucu sekali." ujarnya, tampak gemas melihat gadis kecil yang saat ini mengukir senyum padanya.
"Kamu datang sendiri? Di mana mama kamu?" tanya gadis itu lagi, namun justru anak kecil tersebut memusatkan tatapannya pada Gibran. Tepat ketika Gibran menyimpan ponsel, gadis kecil itu memanggil. "Om Tampan."
Hal tersebut tentu saja membuat Yashinta terkejut, rupanya gadis kecil itu lebih tertarik pada sang kekasih daripada dirinya yang sudah ramah menyambut kedatangannya.
Gibran sama terkejutnya, ia hanya diam sedangkan Yashinta tampak menatap anak itu dengan gemas.
"Reikansa," suara panggilan terdengar dari belakang, sontak saja hal itu membuat detak jantung Gibran memacu sedikit lebih cepat.
"Sayang, Mami bilang jangan berjalan sendirian, okay." ujar wanita dengan stelan rapi berwarna senada dengan gadis kecil yang tak lain adalah putrinya itu. Yashinta hanya memerhatikan dengan senyuman.
"Sorry Mami." gadis kecil itu meminta maaf sembari mengayunkan kelingking sang mami dalam genggamannya.
"Di sini ada Om Tampan." ujarnya kemudian yang membuat wanita itu menaikan pandangan dan menatap siapa dua orang yang tengah bersama dengan putrinya.
Matanya dan Gibran saling beradu pandang sedangkan Yashinta menjadi orang yang tidak tau apa-apa di sana.
"Om Tampan, waktu itu kita lunch bersama." ujar anak kecil itu lagi yang kali ini membuat Yashinta terheran, artinya Gibran dan anak kecil tersebut saling mengenal berikut juga mungkin dengan wanita di hadapan mereka.
Saat seorang babysitter datang dan menggendong Reikansa, Gibran tampak menenangkan dirinya. Ia tidak masalah jika bertemu dengan Kanza, tapi bagaimana dengan Yashinta?
Gadis itu menoleh pada Gibran seolah meminta penjelasan, sedangkan Gibran mempererat genggaman tangan mereka.
"Ibu Kanza, anda juga diundang?" Gibran membuka percakapan. Yashinta mematung beberapa detik hingga kemudian ia sadar siapa wanita yang bersama mereka saat ini.
Masa lalu Gibran.
Kanza.
Yashinta menyadari jika genggaman tangan Gibran kian erat, ia hanya diam menyaksikan hal itu.
"Iya Pak Gibran, perusahaan saya dengan Pak Andri rupanya adalah mitra." ujar wanita itu dengan senyum manisnya.
Yashinta akui jika Kanza adalah perempuan yang cantik, ia tampak anggun dan berkelas. Juga terlihat dewasa san keibuan saat tampak menaruh perhatian pada putrinya.
Tak ada yang bisa Yashinta lakukan. Mereka memasuki lift bersama-sama dalam kondisi canggung. Gibran sudah mengenalkannya sebagai pacar pada Kanza, namun hal itu tidak mampu membuat Yashinta merasa tenang.
Ia merasa perbandingannya dengan Kanza sangat jauh dan ia kalah telak. Sehingga tidak ada yang bisa Yashinta lakukan kecuali hanya menggandeng lengan Gibran dan menunjukan pada wanita itu jika saat ini Gibran adalah miliknya.
Kanza hanya bagian dari masa lalu Gibran dan Yashinta adalah pemenang karena bersama dengan Gibran di masa sekarang.
TBC
__ADS_1