
Yashinta berjalan gontai dipapah oleh Vito keluar dari gedung, sementara Gibran sudah berada di dalam ambulan yang sudah Vito hubungi untuk datang menuju lokasi.
Andri segera memburu Yashinta begitu putrinya itu keluar, begitu juga Ranti yang sudah mampu bernapas tenang ketika melihat sahabatnya selamat.
Andri memeluk Yashinta, menilik tubuh putrinya guna memastikan keadaan Yashinta baik-baik saja meski seragam sekolah gadis itu begitu juga tangannya penuh dengan darah yang berasal dari Gibran.
Sementara Yashinta terkulai lemas dalam pelukannya. Tatapannya tampak kosong dengan air mata yang mengering, Ranti hanya mengusap punggung gadis itu.
"Sayang," Andri menyentuh pipi putrinya, membuat Yashinta kembali menangis. "Pah, Mas Gibran." Andri mengangguk mengerti, kembali memeluk Yashinta. Sementara Ranti hanya menatap Yashinta dan Gibran yang sudah berbaring di atas brankar dalam ambulan secara beragantian.
Gadis itu tersenyum samar. Rupanya ia benar-benar sudah tak memiliki harapan. Karena bahkan Gibran rela mengorbankan nayawanya untuk Yashinta. Tidak ada harapan yang tersisa untuknya.
Sementara tanpa gadis itu sadar, Sean memaku menatapnya. Kemudian pandangan pria itu beralih pada Gibran, selanjutnya pada Yashinta dan kembali pada Ranti bersamaan dengan gadis itu yang tampak menghela napas.
Yashinta memilih untuk ikut dengan mobil ambulan menuju rumah sakit diikuti oleh mobil Sean di belakangnya. Andri menitipkan Yashinta padanya dan Ranti sementara Andri sendiri harus mengurus kekacauan yang terjadi.
Sean menoleh pada gadis di sampingnya yang lebih banyak diam seraya mengigit ujung kukunya. "Loe khawatir sama keadaan Yashinta?" tanya Sean. "Atau Mas Gibran?" sambungnya yang membuat gadis itu menoleh dengan raut kikuk.
"Ah, kenapa?" Ranti menggelengkan kepala, kemudian kembali memusatkan tatapannya ke depan. Sean hanya diam, tak ingin banyak bicara setelah mata gadis itu tampak mengatakan semuanya.
Cemas, khawatir dan sedikit perasaan lega. Emosi itu tampak bercampur di dalam dirinya. Entah untuk Yashinta, ataupun Gibran.
"Mas Gibran, tolong jangan kenapa-napa." pinta Yashinta dengan isak tangisnya, ia menggenggam tangan Gibran kuat-kuat, air matanya berjatuhan. Bukan hanya mengkhawatirkan keadaan Gibran yang sudah bertaruh nyawa untuknya, tapi juga merasa bersalah karena menjadi penyebab pria itu berbaring di sana.
"Mas Gibran, Yas mohon, bangun. Yas nggak mau Mas Gibran kenapa-napa." isakannya kian menjadi. Ia menangkupkan tangan Gibran ke pipinya, memejamkan mata guna meredam tangisnya.
Suasana mencekam di gedung tua beberapa saat lalu menghantuinya. Membuatnya takut, terlebih saat bayangan Gibran yang mendapat penyerangan hingga meninggalkan luka tusukan yang membuat pria itu tidak berdaya mintasi kepalanya, terekam jelas di sana.
"Mas Gibran." ia masih menangis.
"Saya dengar Yashinta." suara para tiba-tiba tertangkap indera pendengaran Yashinta.
Gadis itu perlahan membuka mata. Menatap Gibran yang mengerjap dengan mata sayunya. Pria itu melepas alat ventilatornya dibantu oleh petugas Rumah Sakit yang berada di dalam sana dengan mereka, selanjutnya ia tampak mengambil napas dengan hati-hati.
"Mas Gibran sadar?" tanya Yashinta dengan mata berbinar, tentunya ia merasa lega karena pria itu siuman. Yashinta sudah sangat takut jika pria itu tidak akan bangun. Ia pasti akan merasa bersalah seumur hidupnya.
"Saya hanya tidur sebentar, saya dengar suara kamu. Kamu khawatir sama keadaan saya?"
Gadis itu mengangguk dengar air yang menggenang di pelupuk matanya. Gibran tersenyum. Berusaha menghapus jejak air mata di pipi gadis itu. "Saya nggak kenapa-napa."
"Tapi Yas takut, Mas Gibran kehilangan banyak darah." Yashinta berbicara dengan suara bergetar, membuat Gibran menggenggam tangan gadis itu dengan kuat.
__ADS_1
"Semuanya salah, Yas."
"Pengorbanan saya akan sia-sia kalau kamu merasa bersalah, Masha." sesal Gibran yang membuat gadis itu hanya menahan tangisnya.
"Saya nggak papa. Saya mau tidur lagi sebentar." sambungnya saat gadis itu hanya diam.
"Jangan!"
"Yas sering baca di novel-novel roman, kalau pemeran utama prianya lagi sekarat dan izin mau tidur sebentar, dia nggak pernah bangun lagi." ocehnya sebagaimana yang sering ia baca.
"Jangan, Mas Gibran!"
Gibran terkekeh pelan mendengar lelucon gadis itu. "Saya bukan pemeran utama. Saya pasti selamat." ujar Gibran, petugas Rumah Sakit yang berada di antara mereka kembali memasangkan alat ventilator. Sementara Yashinta hanya menatap Gibran yang kembali memejamkan mata.
Gibran segera di bawa ke ruang UGD ketika tiba di Rumah Sakit. Ketika pintu UGD tertutup rapat bersama Gibran yang hilang dari pandangannya, tubuh Yashinta tumbang sesaat setelah pandangannya berubah menjadi gelap.
"Yashinta." Ranti dan Sean yang mengikutinya segera mengejar gadis itu.
***
"Johan tidak ada di sini." sahut Andri saat para polisi sudah memeriksa seluruh gedung yang belum tersentuh kobaran api. Vito sudah menghubungi pemadam kebakaran dan mereka sedang dalam perjalanan.
Saras diam, mengigit ujung kukunya dan berpikir keras mengenai keberadaan sang papa, sampai kemudian ia nengingat sesuatu hal. "Saya tahu di mana Papa. Om." ujarnya, menoleh pada Andri dan membuat Andri juga menatapnya penuh tanya.
"Ada rubanah di gudang. Papa pasti nyekap Mama di sana." sambungnya penuh keyakinan. Ia mengangguk anggukan kepalanya guna meyakinkan semua orang. Saras pernah beberapa kali memergoki Johan masuk ke dalam gudang dan menghabiskan waktu cukup lama di sana. Tetapi ketika ia memeriksanya, Johan sama sekali tidak ada.
Saras menemukan sebuah pintu kayu di sudut ruangan, ia yakin jika ada rubahan di dalam sana tempat persembunyian sang papa, namun Saras belum pernah berhasil memeriksanya.
Andri mengangguk samar, memberi kode pada para polisi agar mereka segera pergi dari sana dan menuju kediaman Johan.
Sementara Saras mematung, menatap mobil Andri dan mobil beberapa polisi berlalu dari sana bersamaan dengan kedatangan mobil polisi lain untuk menjemput para anak buah Johan yang sudah berhasil dibekuk. Disusul dengan satu buah mobik pemadam kebakaran.
Kafka hanya menatap Saras, lantas mendekat dan mengusap bahu gadis itu, pria itu tersenyum mengangguk, menguatkan dan meyakinkan gadis itu.
"Sebagai anak gue jahat nggak, sih. Ka?" tanyanya. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya karena sudah melaporkan sang papa pada polisi, memberitahukan lokasi persembunyian sang papa dan mungkin akan membuat papanya mendekam di balik jeruji besi.
Kafka menggelengkan kepala. "Apa yang loe lakuin udah yang paling tepat, Saras." Saras hanya menatap pria itu, cukup lama hingga kemudian Kafka meraih gadis itu dalam pelukannya. Akhir dari penderitaan gadis itu akan segera berakhir, dan detik-detik sekarang adalah saat yang paling memberarkannya.
Kafka sempat mengajak gadis itu untuk pulang saja ke rumah Yashinta, namun gadis itu menolak dan meyakinkan Kafka untuk datang saja ke rumahnya dan melihat langsung Johan yang diseret polisi dengan kondisi tangan yang diborgol. Sangat memprihatinkan.
Air mata Saras jatuh saat itu juga. Sebagaimana yang sudah sering ia katakan pada dirinya sendiri. Jika bagaimanapun, Johan adalah ayahnya, dan ia sama sekali tidak menaruh dendam. Hanya saja, mungkin setelah ini, Saras tidak akan pernah mau bertemu lagi dengan Johan.
__ADS_1
Saat ia berada dalam gandengan Kafka dan Johan melewatinya, Saras memalingkan wajah, menyembunyikan air matanya dari sang papa yang sudah begitu banyak memberi ia dan mamanya luka.
Johan menatap putrinya, ia sangat sadar jika putrinya tersebut pasti akan sangat membencinya. Tetapi ia tidak menyesal atas apa yang sudah ia lakukan. Hanya saja, ia berjanji satu hal jika ia akan berubah menjadi lebih baik lagi.
Andai kehidupan selanjutnya ada, maka Johan akan sangat mencintai istri dan putri satu-satunya itu.
Johan berlalu, tidak ada yang ingin disampaikannya pada Saras. Ia tahu apapun yang ia katakan akan sangat terdengar percuma. Namun begitu, ada satu hal berarti yang harus ia katakan. Sehingga ia menghentikan langkah, saat polisi menyeretnya ia bertahan, lantas meminta polisi untuk memberinya kesempatan agar kembali beberapa langkah.
Polisi mengabulkannya, membuat Johan melangkah menghampiri Saras demi satu kata.
"Maaf."
Hanya satu kata singkat, selanjutnya Johan tahu diri untuk tidak menunggu putrinya memberi maaf. Ia masuk ke dalam mobil polisi, berlalu dari sana bersamaan dengan tangis Saras yang pecah.
Hatinya hancur, perasaan yang ada pada dirinya tidak bisa dijelaskan. Seketika, dunianya runtuh dalam sekejap mata. Ia nyaris lupa, jika ada dunia lain di dalam hidupnya.
"Mama,"
Saras menghampiri sang mama yang tampak lesu, digandeng oleh Vito keluar dari rumah. Saras segera memburunya, memeluk sang mama erat-erat. Wanita yang selalu ia rindukan, wanita yang sekalipun dekat sangat sulit ia temui.
Mungkin mulai sekarang, setelah sang papa tidak ada, semuanya akan berbeda. Tidak ada lagi tembok pemisah di antara mereka.
"Maaf, Mah. Saras terlambat nyelametin Mama." sesalnya, air matanya kian berjatuhan saat melihat bekas luka di tangan, kaki dan wajah sang mama. Mama Saras tersenyum.
"Tidak apa-apa Sayang, maaf merepotkan. Kamu baik-baik aja?" Saras mengangguk dengan air mata yang berjatuhan kian deras.
"Kafka," Kafka yang berdiri tak jauh dari mereka mendekat. "Terimakasih karena sudah menjaga Saras." ujarnya dengan senyum yang tampak susah payah ia ukir. Kafka mengangguk dengan senyuman pula. Ikut senang karena pada akhirnya Saras dapat bersama dengan sang mama.
"Saras, kita bawa mama kamu ke rumah Sakit." suara Andri menginterupsi.
***
Seorang pria berjalan menuju sebuah ruang rawat nomor 11 setelah sebelumnya ia sempat bertanya pada resepsionis mengenai keberadaan pasein bernama Yashinta Wiraguna.
Ia masuk ke ruangan dengan perlahan, pemandangan pertama yang ia lihat adalah seorang gadis mungil yang tengah berbaring dengan selang baju pasien dan jarum infus yang tersambung ke tangan kanannya.
Pria itu berjalan kian mendekat, lantas duduk pada kursi yang tersedia di sana. Menatap wajah Yashinta yang pulas dalam tidurnya. Ia membayangkan lagi kejadian beberapa jam yang lalu.
Jujur, ada sedikit rasa bersalah di hatinya saat ia tidak bisa menyelamatkan gadis itu lebih dulu. Justru ia harus melihat rival-nya-lah yang melalukannya.
Ia meraih tangan Yashinta, menggenggamnya dengan sorot mata yang tampak merasa bersalah. "Sorry, Yashinta."
__ADS_1
"Maafin gue." ujarnya penuh sesal.
TBC