
Langkah kaki Gibran yang semula setengah berlari memelan begitu ia tiba di unit apartement miliknya. Ia mendapati Yashinta yang berjongkok dan memeluk lutut di depan pintu apartement.
Yashinta memang memilih mendatangi apartement Gibran karena ia sudah sangat tetlambat untuk masuk sekolah.
Ia juga ingin minta maaf secara langsung pada Gibran karena membuat pria itu menunggu sangat lama, selain itu Yashinta juga ... membutuhkan Gibran.
Ketika mendengat suara langkah kaki yang mendekat, Yashinta segera bangkit perlahan dari posisinya. Ia melihat Gibran yang berjalan ke arahnya. Tanpa terasa air mata gadis itu jatuh kian deras, lebih deras lagi saat Gibran meraih tubuhnya dalam pelukan dan membuat Yashinta kian merasa tak berdaya.
Yashinta tidak mengerti dengan perasaannya. Hatinya untuk Kafka, tapi untuk beberapa waktu, saat ia sedang bersama dengan Gibran, Kafka bagai tak pernah ada dalam hidupnya.
Mungkin seharusnya Yashinta sadar, jika cinta yang ia miliki untuk Kafka tidak pernah berarti apa-apa bagi Kafka. Tapi sekali lagi. Yashinta tidak perduli, ia terus melukai diri sendiri dengan menggenggam bara api. Karena yang ia tahu, mencintai berarti memberi sebanyak-banyaknya. Ia akan memberi cinta yang teramat banyak untuk Kafka.
Gibran hanya mampu memejamkan mata, mendekap tubuh Yashinta seolah baru kehilangan gadis itu. Seolah Yashinta baru saja tiba dari tempat terjauh di dunia. Perasaan Gibran sangat merindukannya.
Gibran tidak bisa berbohong, ia jatuh cinta pada gadis cerewet itu, ia jatuh cinta pada gadis berisik itu, ia jatuh cinta pada gadis yang masih mengenakan seragan SMA.
Gibran jatuh cinta pada Yashinta.
****
Yashinta hanya duduk pada sofa di ruang utama apartement Gibran. Sementara itu, sang pemilik apartement tengah membuat minuman di pantry, tak lama ia kembali dan menyuguhkan minuman untuk Yashinta.
"Silakan, minum dulu." sahut Gibran yang langsung mendapat anggukan dari Yashinta, gadis itu segera meraih gelas yang Gibran taruh di atas meja, menyesap minuman dingin itu sedikit dengan mata mengarah pada pria yang duduk pada sofa lain di hadapannya.
Perlahan, Yashinta menjauhkan bibir gelas dari bibirnya, ragu-ragu masih menatap Gibran yang juga menatapnya.
"Kamu nggak sekolah?" tanya Gibran mengingat jika kedatangan Yashinta ke apartementnya masih jam sekolah, tetapi anak itu justru berada di sana dengannya.
Yashinta tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Perasaan kamu udah enakan?" tanya Gibran lagi. Yashinta mengangguk perlahan. Membuat Gibran tertawa singkat, gadis itu justru mengernyit heran.
"Mas Gibran ngetawain Yas?" tanganya, tidak terima. Padahal hatinya tengah dirundung pilu namun Gibran dengan seenaknya menertawakan keadaannya.
"Bukan, saya cuma aneh aja ngeliat kamu diem kaya gitu." jujur Gibran, kemudian mengulum senyum agar tawanya reda.
Yashinta mencebikan bibir, tak memedulikan apa yang Gibran katakan, ia menaruh gelasnya di atas meja, ragu-ragu untuk buka suara. "Mas Gibran nggak marah?" tanyanya tak kalah ragu. Gibran menatapnya dengan alis terangkat, tersenyum kemudian menggelengkan kepala.
"Saya nggak marah."
"Terus kenapa nggak angkat telpon dari Yas? Yas khawarir, takut Mas Gibran marah sama Yas!" kali ini gadis itu merengek dan membuat senyum Gibran kian melebar.
"Saya ada rapat tadi, saya nggak tahu kalau kamu telpon." dustanya, padahal ia sengaja tidak mengangkat telepon gadis itu. Bukan marah atau agar Yashinta merasa bersalah, hanya saja ia merasa kesal dan perlu menjeda waktu untuk berbicara dengan gadis itu.
Yashinta hanya diam dengan wajah sendu, ia menundukan pandangan dan berbicara. "Pasti Mas Gibran lama nungguin Yas." sahutnya, merasa bersalah karena tidak dapat menepati janjinya.
"Enggak. Setelah lima belas menit kamu nggak dateng, saya langsung pergi." ujar Gibran menenangkan. Ia kembali berdusta, karena kenyataannya ia menunggu gadis itu selama hampir lebih dari satu jam dengan harapan Yashinta akan muncul dan menjadi semangat paginya.
__ADS_1
Yashinta menaikan pandangan, menatap Gibran dengan hati kecilnya yang campur aduk. Ia senang karena artinya dia tidak membuat Gibran menunggu lama, namun di sebagian hatinya yang lain ia berharap Gibran tetap menunggunya. Yashinta pun tak mengerti dengan perasaan semacam itu.
"Kamu bisa cerita kenapa kamu malah datang ke sini, bukannya sekolah?" tanya Gibran lagi. Yashinta diam, sesaat hanya menatap Gibran kemudian mengalihkan pandangannya ke bawah.
Melihat gadis itu yang tak kunjung menjawab, Gibran bangkit dari duduk. Kemudian duduk di samping Yashinta seraya menyerahkan buku yang ia bawa.
"Buat kamu." sahutnya. Yashinta meraih buku tersebut tanpa membaca judul buku, karena ia lebih fokus pada tangan Gibran yang tiba-tiba saja meraih tangannya.
"Mas Gibran."
"Kamu buka bukunya!" suruh Gibran. Yashinta sempat bingung, tapi tetap menurut dan membuka buku tersebut dengan satu tangannya yang lain. Gadis itu mengernyitkan dahi ketika membuka halaman pertama buku. Ia menatap Gibran.
"Buku itu cuma alasan." Gibran menjeda kalimatnya.
"Kamu bener Yashinta. Buku itu cuma alesan biar saya bisa ketemu sama kamu." sahut Gibran yang membuat gadis itu mematung di tempatnya.
"Saya juga nggak ngerti sama perasaan saya sendiri. Tapi belakangan, saya sangat yakin atas apa yang saya rasakan."
"Saya nggak mau pura-pura lagi, Yashinta, ah, enggak. Saya nggak mau nyembunyiin perasaan saya terus menerus."
Yashinta hanya menatap Gibran, ia tidak tahu apa yang tengah Gibran katakan. Namun jika ia tiadak salah memprediksi tampaknya Gibran tengah mengutarakan isi hatinya.
Tapi Yashinta harus apa? Sedangkan ia tak memiliki perasaan apapun pada Gibran. Ia hanya mencintai Kafka, hanya Kafka.
"Yashinta,"
"Mas Gibran, Yas nggak ngerti sama apa yang Mas Gibran omongin." Yashinta menahan kegugupannya. Mendadak Gibran di hadapannya terasa berbeda.
"Saya menyukai kamu, Yashinta. Saya ingin–"
"Mas Gibran tunggu!" Yashinta menarik tangannya, membuat genggaman Gibran terlepas sepenuhnya. Ia sempat menghela napas sebelum kemudian menatap Gibran dan berbicara. "Mas Gibran, Yas udah punya pacar." beritahunya yang membuat pria itu memaku sesaat, tampak terkejut.
Gibran tersenyum hambar dengan sorot tak percaya di matanya. Sedangkan di dalam sana, diam-diam hatinya mulai retak mendengar pernyataan Yashinta.
"Yas udah pernah beberapa kali mau bilang ke Mas Gibran tapi nggak jadi."
"Mas, Yas punya pacar. Yas belum sepenuhnya yakin pacar Yas itu sayang atau nggak sama Yas. Tapi yang pasti, Yas sangat mencintai pacar Yas. Yas sayang sama dia." kalimat panjang Yashinta bagai menciptakan benteng penghalang yang tinggi di antara keduanya.
"Bahkan Yas kira Yas nggak akan jatuh cinta sama siapapun lagi." dan semakin tinggi hingga Gibran tidak bisa melewatinya.
"Yas–"
"Yashinta, saya kira selama ini kita spesial." sela Gibran dengan cepat, tampak kecewa.
"Apa saya udah salah paham?"
__ADS_1
"Yas seneng sama Mas Gibran. Tapi Yas nggak pernah berpikir buat kita jalan sejauh itu. Yas nggak tahu kalau Mas Gibran bakal terlibat perasaan kaya gitu sama Yas."
"Selama ini, Yas nyaman sama Mas Gibran. Yas merasa Yas punya kakak–"
"Kakak?" Gibran semirk. Yashinta diam menatap mata pria itu yang tampak memerah. Banyak yang ingin ia katakan pada Gibran tapi mendadak lidahnya terasa kelu.
"Mas Gibran, maaf. Tapi Yas nggak pernah punya perasaan apapun sama Mas Gibran."
Yang selama ini ia rasakan saat bersama Gibran hanyalah senang. Ia seperti memiliki sandaran, memiliki hiburan, memiliki teman dan ..., memiliki rumah untuk pulang saat ia lelah dengan Kafka. Gibran seperti rumah baginya.
Yashinta tidak pernah menyimpulkan perasaan nyamannya dengan Gibran lebih daripada sekedar teman. Tidak pernah sekalipun dadanya seringkali berdebar.
Gibran menundukan pandangan, matanya berkabut dan kini hatinya hancur berkeping-keping setelah belati tak kasat mata menyayat-nyayat hatinya.
Bagaimana mungkin gadis sepolos Yashinta menorehkan luka yang begitu dalam di hatinya?
"Jadi maksud kamu, cinta saya bertepuk sebelah tangan, Yashinta?" tanya Gibran dengan wajah pasrahnya. Yashinta hanya mengigit bibir bawahnya, bingung harus mengatakan apa pada Gibran yang tampak marah dan kecewa padanya.
"Mas Gibran, maaf."
Gibran menggelengkan kepala. "Jangan meminta maaf, Yashinta. Kamu justru ngebuat saya terlihat makin menyedihkan."
"Mas Gibran–"
Yashinta menjeda kalimatnya ketika ponselnya berdering. Telepon dari Ranti. Yashinta sempat menatap Gibran sebentar sebelum kemudian menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Hallo Ranti."
"Yas, loe di mana? Katanya loe masuk hari ini. Kok nggak ada?"
"Pacar loe juga nggak masuk, katanya di Rumah Sakit habis dikeroyok orang." Ranti berkata dengan berapi-api di ujung sana.
"Loe baik-baik aja, 'kan Yas? Soalnya kata Aris loe nggak ada di Rumah Sakit." ujarnya lagi.
"Loe lagi di mana?"
"Yas baik-baik aja, Ranti. Yas lagi di apartement Mas Gibran. Yas lagi sama Mas Gibran." jujurnya, tak ingin membuat Ranti khawatir.
Namun tanpa gadis itu tahu jika apa yang dikatakannya justru membuat perasaan Ranti terluka, raut wajah gadis itu berubah drastis dan hal tersebut jelas tertangkap oleh penglihatan Sean yang berdiri di hadapannya.
"Oh, yaudah kalau kitu. Gue cuma khawatir, bagus kalo loe baik-baik aja." ujar Ranti yang kemudian menutup sambungan telepon.
"Gimana?" tanya Sean.
"Yashinta baik-baik aja." Ranti menyahut dengan raut sendu. Berjalan meninggalkan Sean sedangkan Sean hanya menatap punggung gadis itu yang berjalan dengan langkah gontai dan terus menjauh darinya.
__ADS_1
TBC