
Saat itu waktu menunjukan pukul sembilan lewat dua puluh lima menit ketika Yashinta turun ke lantai bawah untuk menonton tv guna menikmati hari minggung paginya.
"Hay Sayang." Andri yang sudah ada di sana menyapa, dengan ponsel yang ditempelkannya di telinga.
"Hay, Pah." Yashinta balas menyapa, lantas duduk di sampingnya dan mengambil remot. Memindahkan channel tv yang sedang menayangkan acara berita ke acara kesukaannya yang membahas mengenai dunia K-Pop saat ia mendengar sang papa berbicara.
"Dia baru menandatangani berkasnya sekarang?"
" ...,"
"Bukankah hari ini dia berangkat?"
" ...,"
"Hmm, yasudah. Biar skretarisnya saja yang mengurus. Biar dia tinggal tanda tangan."
Setelahnya, panggilan terputus. Yashinta menoleh pada sang papa. "Kenapa, Pah?"
"Oh, ini. Beberapa berkas kerja sama perusahaan kita perlu tandatangan Gibran. Tapi dia sibuk karena sebentar lagi harus berangkat."
"Berangkat?" Yashinta tampak kebingungan di tempatnya.
"Iya. Papa sudah suruh dia tandatangan dari kemarin. Biar hari ini bisa selesai dan dia tinggal pergi. Tapi–"
"Kunci mobil Yas di mana?" Yashinta dengan cepat bangkit dari duduknya, mengambil kunci mobilnya di laci meja tv dan pergi.
"Yas pergi sebentar, Pah."
"Sayang, kamu mau kemana?" Andri terheran di tempatnya, tak lama terdengar suara mesin mobil gadis itu keluar dari pekarangan rumah.
Yashinta melajukam mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga ia tidak menyadari jika Kafka berada di sana. Pria itu datang ke rumah Yashinta untuk berbicara dengan gadis itu namun Yashinta tampak sangat buru-buru.
"Mas Kafka, ada apa, Mas?" Kafka mendapati satpam rumah Yashinta bertanya, sementara tatapan Kafka masih pada arah kepergian Yashinta dengan mobilnya.
"Itu, Yashinta mau kemana Pak?"
"Enggak tahu, Mas. Tapi sepertinya buru-buru."
"Oh, gitu yah Pak. Makasih kalau begitu." Kafka masuk ke dalam mobilnya, mengukiti jejak Yashinta dan memacu kecepatan mobil untuk bisa mengejar gadis itu.
****
"Saya akan bahagia kalau kamu bahagia. Sama siapapun kamu, kalau memang kamu merasa senang saya akan dukung." .
"Atau kalau perlu saya bisa pergi ke tempat jauh manapun supaya nggak ganggu kalian."
Apa yang Gibran katakan dua hari lalu terus melintasi kepala Yashinta. Membuatnya memacu mobil dengan kecepatan tinggi untuk segera bertemu Gibran dan mencegah kepergian pria itu.
Yashinta akan gila jika Gibran pergi jauh untuk selamanya hanya karena harus menjauhinya demi menjaga perasaan Kafka.
"Yas udah bilang Yas sama Kafka udah putus. Kenapa Mas Gibran harus pergi?" gadis itu hampir menangis, terlebih saat dirinya harus terjebak macet.
Yashinta segera berlari memasuki perusahaan dan menuju ruangan Gibran ketika ia sudah tiba di perusahaan pria itu. Kafka yang mengikuti gadis itu dan melihat mobil Yashinta berhenti di perusahaan milik keluarganya ikut masuk dan mengejar Yashinta, berusaha mengetahui apa yang sedang gadis itu lakukan.
Yashinta berharap-harap cemas, ia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Hampir pukul sepuluh pagi ketika ia sudah berdiri di depan ruangan Gibran. Gadis itu mengatur napasnya yang berantakan. Berharap Gibran masih ada di dalam sana.
"Mbak Yashinta?"
Gadis itu membalikan tubuh, melihat seorang wanita yang berdiri di belakangnya.
"Mas Gibran di mana?" tanyanya pada Intan tanpa menyapa wanita itu lebih dulu.
"Pak Gibran sudah berangkat ke Bandara sejak setengah jam yang lalu." beritahu Intan yang membuat Yashinta tampak frustrasi.
"Kenapa Mas Gibran dibiarin pergi, sih?"
"Kalau Mas Gibran nggak ada siapa yang mau ngurus perusahaan sebesar ini?" Yashinta tampak kesal dan membuat Intan terheran melihatnya.
Belum ia sadar dari keheranannya pada gadis itu. Yashinta sudah kembali berbicara. "Pesawat Mas Gibran take off jam berapa?"
"Sekitar dua puluh menit dari sekarang."
__ADS_1
Yashinta membulatkan mata, menyadari jika ia tidak memiliki waktu untuk menghentikan pria itu. Ia segera berlalu pergi dengan berlari, melewati Kafka yang berjalan ke arahnya. Atau bahkan gadis itu tidak menyadari kehadiran Kafka sama sekali karena kepalanya dipenuhi oleh Gibran.
Sementara Intan hanya menatap kepergian Yashinta, ia menggeleng pelan. "Kenapa Mbak Yashinta bersikap seolah Pak Gibran pergi buat selamanya?"
"Padahal besok Pak Gibran juga sudah akan pulang." decaknya.
***
"Dia mau kemana, sih?" Kafka berdecak melihat mobil Yashinta di hadapannya yang melaju dengan kecepatan tinggi bahkan sesekali menyalip mobil lain.
Gadis itu menyetir seperti orang kerasukan, seperti bukan Yashinta di dalam dirinya. Seperti ada orang lain.
Sementara Yashinta sudah panik sendiri di tempatnya, terlebih saat ia tidak bisa menghubungi nomor Gibran. Sedangkan waktu sudah menunjukan pukul sepuluh, hanya kurang beberapa menit saja.
Yashinta tahu ia sudah terlambat, tapi ia meyakinkan dirinya sendiri jika kesempatan masih ada untuknya. Sebelum ia mencari dan menemukam Gibran, maka ia tidak akan putus asa dan pulang sia-sia.
Gadis itu segera turun dari mobil begitu tiba di bandar udara. Sekali lagi menghubungi Gibran dan barulah panggilan terhubung.
"Hallo Yashinta."
Air mata gadis itu jatuh di pipinya begitu mendengar suara Gibran. Perasaan lega dan sedih campur aduk di dalam hatinya.
"Mas Gibran di mana? Kenapa Mas Gibran pergi?"
"Mas Gibran bilang katakanya Mas Gibran sayang sama Yas. Kenapa mau ninggalin Yas? Yas udah bilang, Yas sama Kafka udah putus. Mas Gibran nggak perlu lagi ngejauhin Yas." gadis itu mengoceh, mengedarkan pandangan mencari keberadan Gibran di kerumunan. Sesekli berlari tak tentu arah untuk menemukan pria itu.
"Yas bisa gila, Mas Gibran. Kenapa Mas Gibran mau ninggalin Yas. Kenapa Mas Gibran nggak coba buat ngeyakinin Yas kalau Mas Gibran pantes buat bersanding sama Yas."
"Kenapa Mas Gibran bodoh banget, sih." air mata gadis itu berjatuhan saat ia tidak kunjung menemukan keberadaan Gibran.
"Yashinta, kamu ngomong apa?" Gibran yang tidak mengerti dengan ocehan gadis itu lantas bertanya.
"Jangan pergi." Yashinta menghentikan langkahnya ketika ia melihat sosok yang sangat dia kenali tengah memegang ponsel di telinga. Tak lama, pria itu mengarahkan pandangan padanya, membuat tatapan mereka bertemu.
"Jangan pergi Mas Gibran, Yas nggak mau kehilangan Mas Gibran." tangis gadis itu semakin menjadi, nyaris tidak percaya jika ia mampu menemukan Gibran. Tuhan masih memberinya kesempatan.
Gibran di seberang sana tersenyum saat melihat gadis itu. "Jangan pergi Mas Gibran." ucap gadis itu lagi dengan kaki yang melangkah perlahan ke arah Gibran.
"Karena begitu kamu memutuskan mendekat, maka saya nggak akan pernah ngelepasin kamu."
Apa yang Gibran katakan membuat Yashinta perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Lantas berlari menghampiri Gibran. Gibran yang melihat hal itu tersenyum, ia terkesiap saat Yashinta menubruk tubuhnya dan memeluknya dengan begitu erat.
Sementara Kafka yang mengejar gadis itu menghentikan langkahnya setelah melihat Yashinta. Kafka menatap sayu pemandangan di depannya, ia sudah sangat terlambat setelah Yashinta jatuh dalam pelukan Gibran.
****
Gibran mengecup puncak kepala Yashinta berkali-kali. Mendekap tubuh Yashinta dengan begitu erat, namun selang beberapa detik setelahnya, gadis itu mengurai pelukan mereka dan memukuli dada Gibran dengan brutal.
"Aaa, sakit."
"Jahat!" Yashinta memasang raut wajah kesal dengan air mata yang menggenang. Tak lama, air matanya menetes membasahi pipi mulusnya.
"Jahat banget, kenapa mau ninggalin Yas, huh?" tangan gadis itu kembali memukul namun Gibran menangkap tangan mungil itu dengan cepat.
"Saya nggak ninggalin kamu."
"Ini apa, kenapa ada si sini segala. Apa namanya kalo bukan mau ninggalin? Mas Gibran bilang mau pergi jauh."
Gibran tertawa mendapati Yashinta masih mengingat apa yang dua hari lalu dikatakannya. Melihat pria itu tertawa tentu Yashinta kian merasa dongkol, tapi Gibran justru memeluk tubuhnya serelah itu.
"Kamu pikir saya mau pergi kemana? Huh?"
Yashinta mendongak, berusaha menatap Gibran.
"Saya cuma pergi ke Bali buat hadir dipernikahan Bayu. Besok juga udah balik lagi." sahut Gibran yang membuat gadis itu mengerjap polos. Mendadak ia malu pada dirinya sendiri, terutama pada Gibran karena sudah berpikir dan bertindak berlebihan sebelum memastikan lebih dulu kebenarannya.
"Jadi Mas Gibran bukan mau ke luar negri?" tanyanya. Gibran menggelengkan kepala.
"Enggak, mana mungkin. Saya nggak bisa jauh dari kamu."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Takut kamu gila." goda pria itu yang membuat Yashinta berdecih.
"Kenapa belum berangkat sekarang?" tanya Yashinta. Gibran melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Gara-gara kamu saya ketinggalan pesawat." sahut Gibran, Yashinta hanya mengerutkan kening, mau membela diri tapi apa yang Gibran katakan memang benar. Jika karena dirinyalah pria itu tertinggal pesawat.
"Bagaimana ini, saya harus pesan tiket lagi." ujar Gibran dengan mata menyipit. Yashinta berdecih kali ini. "Kado ulang tahun Yas dulu!" ia justru menagih janji yang pria itu belum rampungkan hingga sekarang.
Gibran mengeluarkan sesuatu dari balik jas sportnya. Membuat Yashinta tampak penasaran saat Gibran mendapat sebuah kotak berwarna biru di tangannya. "Saya selalu bawa kado ulang tahun buat kamu, barangkali waktu yang tepat tiba-tiba terjadi–seperti hari ini." sahut Gibran sedangkan Yashinta tampak memerhatikan.
"Isinya kunci mobil?"
"Enggak, itu terlalu mahal buat kamu."
"Terus?"
Gibran mengambil isi kotak dan menggenggamnya. Kemudian perlahan menunjukannya pada Yashinta, membuat gadis itu tampak terpukau melihatnya.
"Saya nggak tahu kamu akan suka atau–"
Yashinta segera mengarahkan jari manisnya dan membuat cincin itu terpasang sempurna di sana sebelum Gibran menyelesaikan kalimatnya. Gibran tersenyum dengan kepala menggeleng pelan setelahnya melihat tingkah gadis itu.
"Yas mau ikut sama Mas Gibran." sahut gadis itu kemudian.
"Besok juga saya udah pulang." cegah Gibran. Tapi gadis itu justru memeluk lengan Gibran erat-erat dan menggelengkan kepala. "Mau ikut."
"Yashinta–"
"Pokoknya Yas mau ikut. Titik." paksanya yang membuat Gibran mengembuskan napas, kemudian menggandeng Yasinta dan membuat senyum gadis itu merekah saat Gibran membawanya melangkah.
"Jadi Yas diajak?"
"Terpaksa."
"Ih, kok gitu. Enggak asik, masa pacarnya mau ikut nggal boleh, sih."
"Memangnya kamu pacar saya?"
"Loh, emangnya bukan? Yas kira tadi kita udah jadian." ujar gadis itu dengan tampang polosnya yang tampak keheranan. Gibran menggeleng pelan mendapati raut wajah gadis itu, ia nyaris menggigit Yashinta karena merasa gemas dengan tingkahnya.
"Terus, cincin ini apa kalo gitu?"
"Cuma kado ulang tahun."
"Iih, kok gitu?"
"Kamu tadi kebut-kebutan di jalan?"
"Hmm, biar bisa nyegah kepergian kamu." Gibran tertawa, mengacak rambut gadis itu dan menggenggam tangan Yashinta.
Sementara Kafka yang tertinggal hanya menatap kepergian dua orang itu. Ia melihat bagaimana Yashinta dapat tersenyum dan tertawa dengan lepas saat bersama Gibran.
Gibran dapat melakan sesuatu hal yang tidak dapat dilakukan oleh Kafka untuk Yashinta.
...THE END...
Thor, masih gantung ini.
I know, kita lanjut di Season 2 nanti.
Why?
I am not robot. Aku pengen istirahat.
Jadi S2 nya kapan?
Secepatnya.
Secepatnya itu kapan thor?
Setelah satu bulan berlalu. Nanti aku umumin di ig. Btw nanti aku up cast Yashinta di sini, yah❤❤
__ADS_1
Tunggu sajaaaaaa. See you, terimakasih sudah mengikuti kisah mereka. I love you❤❤❤❤❤❤