
Suasana restoran di jam sepuluh pagi itu terbilang sudah ramai. Yashinta dan Kafka duduk pada meja tak jauh dari kasir, sembari menunggu makanan, dua orang itu hanya saling terdiam, suasananya amat terasa asing bagi Yashinta. Padahal biasanya, jika bersama Kafka ia akan banyak mengoceh, tapi kali ini tidak.
Kafka meraih ponsel yang ia taruh di atas meja saat benda pipih itu berdering, menandakan ada panggilan masuk. Semula Kafka malas saat tahu sang penelpon adalah Aris. Namun begitu ia tetap menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Hallo."
"Anak-anak lagi bikin list anak kelas kita yang ikut kemah smester ini. Loe ikut nggak?" Aris to the point di ujung sana, tanpa basa basi seperti biasa yang sering kali dilakukannya.
"Ikut," Kafka menjawab tanpa berpikir panjang.
"Anak-anak semua pada ikut?" tanya Kafka kemudian.
"Ikut. Kecuali Jeky sama Jaky. Si kembar ada acara keluarga pas hari berangkaf."
Kali ini Kafka memgangguk-anggukan kepala. Ia menatap Yashinta yang memerhatikannya kemudian memutus sambungan telepon dengan Aris dan menyimpan kembali ponselnya.
"Siapa, Kafka?"
"Ada apa Kafka?" tanyanya.
"Aris."
"Anak-anak kelas gue lagi nyapian rencana buat kemah smesteran." sahut Kafka. Yashinta mengangguk mengerti. Sejak kelas sepuluh, kelas Kafka memang rutin mengadakan acara kemah setiap semester menjelang weekend. Entan siapa yang mengketuai acara tersebut sebelumnya, tapi sampai saat ini kegiatan itu terus berlangsung.
Rumor yang pernah Yashinta dengar, acara tersebut digelar guna memperkuat keakraban sesama teman. Tentunya, acara tersebut berjalan atss seizin kepala sekolah dan wali kelas.
Biasanya, anak-anak dari kelas lain juga ikut, tapi terbatas. Hanya delapan sampai sepuluh orang saja yang diperbolehkan.
"Kafka ikut lagi?" tanya Yashinta lagi. Kafka segera menganggukan kepala. Tak lama setelahnya makanan pesanan mereka tiba dan obrolan keduanya terjeda.
"Makasih, Mbak." ujar Yashinta dengan senyum manisnya. Kafka yang sudah melahap makanannya hanya menatap gadis itu. Ia benar-brnar lapar dan tidak habis pikir dengan sang pacar.
"Seneng banget bilang makasih ke waitress." ujar Kafka setelah waitress tadi berlalu meninggalkan meja mereka. Seingat Kafka, Yashinta memang seringkali berterimakasih saat mereka makan di restoran, kafe maupun tempat lain.
"Enggak papa dong, saling menghargai, 'kan nggak ada salahnya, Kafka."
"Tapi itu kan emang udah tugasnya mereka ngelayanin kita."
"Kita berterimakasih karena mereka udah kerja keras ngelayanin kita." Yashinta tidak mau kalah. Karena baginya, apresiasi sangat perlu diberikan untuk siapapun yang bekerka keras memenuhi tugas dan tanggung jawabnya.
Kafak diam, mengalah dan menghindari perdebatan, ia lebih memilih mengisi perut kosongnya. Sementara Yashinta memerhatikan pria itu, kemudian bertanya lagi. "Semua temen sekelas Kafka pada ikit acara camping-nya yah?"
Kafka mengangguk. "Semua?"
"Si kembar doang yang nggak ikut."
"Open buat kelas lain juga nggak Kafka?" gadis itu banyak bertanya, membuat Kafka tidak dapat berkonsentrasi menikmati makanannya.
"Loe mau ikut?" tanya Kafka yang sebenarnya sudah peka dengan apa yang pacarnya inginkan sejak mendengar wacana kemah itu.
"Boleh, Kafka?" mata gadis itu berbinar.
"Kalau mau ikut ayo, nanti gue bilang ke Aris biar nama loe masuk list."
Yashinta tersenyum girang. Sejujurnya sejak tahun-tahun sebelumnyapun dia sangat ingin ikut bergabung, namun sayang Yashinta tidak memiliki koneksi dan tidak berani ikut berpartisipasi.
Kafka menjeda makannya sebentar, lantas menatap Yashinta yang terus mengukir senyumnya. Pria itu menggelengkan kepala dengan senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1
****
Semula Gibran akan pulang setelah tiga hari perawatan, sekaligus ia ingin beristirahat dari pekerjaannya yang tak pernah selesai, namun telepon dari Intan yang memberitahukannya mengenai masalah di anak cabang, tidak bisa membuat Gibran diam saja.
Sehingga ia meminta pulang cepat dengan syarat beristirahat yang cukup dan teratur meminum obatnya.
Pria itu menyandarkan punggungnya ke belakang setelah semula melihat progres pekerjaannya melalui ipad, ia memejamkan matanya sesaat, Intan yang duduk di samping kemudi di depannya menoleh setelah melihat ipad di tangannya pula.
"Saya sudah reservasi kamar hotel." beritahunya pada Gibran, Gibran hanya bergumam. Ia berharap dapat menyelesaikan masalahnya dengan cepat dan segera pulang ke Jakarta.
Namun kenyataan tak sesuai dengan perkiraannya yang melenceng. Ia harus tinggal selama beberapa hari karena masalah di kantor cabang ternyata cukup serius.
Gibran tidak dapat terburu-buru dan senantiasa sibuk, beruntung Intan bersama dengannya dan mengurusnya dengan telaten.
"Pak Gibran–" wanita yang semula akan menyerahkan notulen hasil rapat itu tampak terkejut melihat noda darah di dada Gibran. Gibran pun baru menyadarinya.
Dengan cekatan, Intan segera mengambil perlengkapan milik Gibran di mana tersedia obat pria itu dan juga kain kasa untuk lukanya.
Gibran membuka kemeja yang dikenakannya, membiarkan Intan mengobati lukanya dengan hati-hati.
"Apa tidak sebaiknya Pak Gibran alihkan saja masalah ini pada pimpinan cabang?" Intan merasa khawatir dengan keadaan atasanya tersebut.
"Kamu lihat sendiri, dia tidak bisa mengatasi kekacauan ini. Saya harus turun tangan."
"Tapi keadaan Pak Gibran seperti ini." sahut Intan, sesaat membuat tatapan mereka bertemu. Wanita itu segera menepisnya dan mengambil jarak usai mengobati luka Gibran.
"Terimakasih, Intan. Kamu tidak perlu khawatir. Saya baik-baik saja. Saya akan bilang jika saya memang sakit." Gibran dengan keras kepala dan kegigihannya. Intan hanya mampu mengangguk samar karena pada dasarnya dia memang tidak bisa memaksa. Pun Gibran adalah yang paling tahu kondisi tubuhnya sendiri.
****
Terlebih, Yashinta ada untuknya. Ketika semua orang menjauh dia justru berada dengan Saras untuk memahami gadis itu. Membuat Ranti otomatis juga ikut bergabung sekalipun tidak ingin.
Ketika Saras digunjing dan tidak diizinkan makan di kantin, Yashinta sendiri yang angkat tangan membela gadis itu.
Tentunya apa yang terjadi, bukan dalam kendali Saras. Ia tidak ikut andil dalam kecurangan dan tindak kejahatan yang sang papa lakukan. Ia justru menjadi korban.
Orang-orang tidak bisa menyalahkam anak atas tindakan yang orang tuanya lakukan. Seorang anak tidak bisa memilih seperti apa orang tua yang mereka inginkan. Mereka tak bisa memilih untuk lahir di keluarga yang mereka inginkan.
Karena mereka lahir sebagaimana Tuhan sudah menempatan mereka di tempat seharusnya.
Sekeras apapun protes, jelas saja hal itu tidak berguna dan tidak dapat merubah apapun.
"Sorry, gue nggak pernah jenguk loe di Rumah Sakit." sahut Saras saat ia hanya berdua dengan Yashinta di pembatas kelas.
"Yas juga nggak lama di Rumah Sakit." gadis itu menenangkan.
"Keadaan Mama Saras gimana?"
"Yas belum sempet jenguk."
Saras diam sebentar, kemudian mengangguk samar. "Udah mendingan, Mama udah jauh lebih baik." ujarnya yang membuat Yashinta menganggukan kepala, ikut merasa lega, lantas menatap Saras lekat-lekat. Semula ia merasa ragu, tapi kemudian merasa yakin jika perlu melakukannya.
"Kalau–Papa Saras, gimana?"
"Putusan pengadilan udah keluar yah?"
Saras mengangguk dengan senyum yang tampak dipaksakan. "Gue udah janji sama diri gue sendiri kalo gue nggak akan mau ketemu Papa lagi." Saras menyahut yakin mengingat hari dimana polisi membawa papanya pergi.
__ADS_1
"Itu alesan Saras nggak tenang?" Yashinta bertanya dengan hati-hati. Saras menatap gadis itu. Matanya berkaca-kaca, selain Kafka, Yashinta adalah yang paling mengerti dirinya.
"Gue udah maafin dia, Yashinta. Tapi gue nggak mau ketemu dia lagi–tapi tue kangen, gue kangen sama Papa–tapi gue juga benci."
Rumit. Cunta pertama anak perempuan yang mengukir luka cukup dalam menciptakan perasaan tak beraturan. Setidaknya, hal itu yang Saras rasakan.
Yashinta tidak bisa mengatakan apapun. Ia hanya memeluk Saras. Namun pada akhirnya, Saras memintanya untuk menemaninya menemui sang papa. Sehingga begitu pulang sekolah, Yashinta mengantar Saras untuk bertemu dengan Johan.
Ia hanya diam dan bersikap selayaknya sekedar orang yang mengantarkan Saras ketika mereka duduk di sebuah tempat khusus. Terlihat mata Saras berkaca-kaca saat melihat Johan datang dengan baju tahanan dan kondisi tangannya yang diborgol.
Hati Saras tentu merasa pilu melihat keadaan sang papa. Johan baru beberapa hari mendekam di balik jeruji besi namun keadaannya sudah sangat mengkhawatirkan. Saras tidak bisa membayangkan beberapa tahun ke depan. Akan seperti apa nasib sang papa?
"Saras sayang sama Papa." ucap gadis itu dengan tangisnya. Membuat senyum Johan terukir meski luka tampak memenuhi sorot matanya.
"Tapi Saras benci sama Papa." hingga senyum pria itu berubah sendu setelah mendengar apa yang baru saja putrinya katakan.
"Saras nggak mau ketemu lagi sama Papa." sambungnya dengan air mata yang kian berjatuhan. Johan tampak mengangguk mengerti, terlihat tidak keberatan dengan apa yang Saras katakan. Karena bahkan ia pantas mendapat yang lebih daripada itu.
"Saras nggak mah ngeliat Papa lagi." ujar Saras lagi. Johan kembali mengangguk, segumpal sesal memenuhi dadanya mengingat tangannya yang sering kali menyakiti putrinya.
Saras bangkit dari duduknya. "Kenapa Saras barus punya Papa yang seperti ini?"
"Kenapa Saras harus jadi anak Papa?"
Yashinta ikut bangkit dan menenangkan Saras. Sementara Sara meuapkan emosinya yang sejak lama ia pendam.
Keadaan Saras yang tidak bisa dikendalikan membuat Yashinta harus membawa gadis itu keluar bersamaan dengan waktu besuk yang sudah habis. Saras menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Yashinta. Yashinta membiarkannya. Ia tahu Saras butuh tempat untuk bersandar.
"Gue jahat. Yashinta."
"Gue jahat."
Sesaat Saras menyesali apa yang dikatakannya pada Johan. Yashinta mengusap punggung Saras sembari menggelengkan kepala. Menolak setuju dengan apa yang Saras katakan.
Setelah beberapa saat. Saras sudah mulai tenang ketika Yashinta menyerahkan sebotol air mineral padanya saat mereka duduk di bangku panjang taman.
Yashinta menatap Saras, kemudian tersenyum tipis. "Saras ikut acara kemah kelas?" tanyanya, memilih mengalihkan pembicaraan daripada membebani Saras dengan persoalan yang akan membuat gadis itu bersedih.
"Gue daftar, tapi nggak tahu, deh." mungkin seharusnya ia butuh liburan, tapi rasanya sangat tidak mumungkinkan.
"Kenapa? Ikut aja, Yas juga ikut. Kafka ngajakin." sahut Yashinta karena ia sangat tidak akan memiliki teman wanita jika Saras tidak ikut.
Sesaat Saras diam mendengar pernyataan Yashinta. "Yah, Saras." gadis polos itu menyadarkannya, Saras spontan menganggukan kepala. "Nanti gue pikir-pikir dulu." jawaban itu membuat Yashinta mengukir senyum. Setelahnya, dua gadis cantik itu hanya saling terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Saras menatap Yashinta, mengagumi betapa baik gadis itu padanya. Hatinya mengukir niatan untuk mengatakan sebuah kejujuran pada Yashinta dalam waktu dekat, jika keadaan memungkinkan, maka secepatnya akan terlaksana.
"Yashinta,"
"Hmm?"
"Makasih banyak, yah."
Yashinta hanya tersenyum. "Seharusnya gue temenan sama loe dari dulu, atau–"
"Seharusnya gue nggak perlu sampe temenan sama loe."
TBC
__ADS_1