
Suara dering ponsel yang menandakan panggilan masuk menggema di dalam toilet wanita, suara itu berasal di balik saku jas Gibran namun tetap tidak bisa menginterupsi pria itu meski Yashinta memberinya kode agar mengangkat telepon dan menyudahi yang sedang terjadi di antara merrka saat ini.
Tapi Gibran tidak perduli, tangannya mencoba meraih ponsel di balik saku jasnya namun ia tak kunjung menyudahinya hingga setelah dering ponsel berhenti berbunyi, pria itu baru membebaskan Yashinta, membiarkan gadis itu meraup napas sebanyak yang ia bisa.
Apa yang Gibran lakukan seakan menjadi sebuah penyiksaan baginya, seperti bukan Gibran yang biasanya. Yashinta ingin mengutuki pria itu namun ia tidak berani.
Sementara yang dilakukan Gibran adalah menghubungi kembali orang yang meneleponnya, pria itu menunggu telepon terhubung namun matanya tetap mengarah pada Yashinta.
Pria itu menyentuh bibirnya sendiri dengan punggung ibu jari, gerakan yang Yashinta lihat tampak seksi, Yashinta tidak bisa mengendalikan diri saat ini, kepalanya diisi pikiran-pikiran kotor yang tidak seharusnya terlintas di benaknya.
Yashinta memilih angkat kaki dari hadapan Gibran, berjalan menuju wastafel dan mengambil lipstik kemudian mengenakannya. Gibran hanya memerhatikan, ia berbicara singkat pada orang di ujung telepon yang tak lain adalah skretarisnya, setelah itu ia menghampiri Yashinta.
Gibran tau gadis itu memendam rasa kesal atas tindakannya tadi, tapi Gibran tidak perduli. Saat Yashinta sudah selesai mengenakan lipstiknya dan berbalik badan sehingga berhadapan dengannya, Gibran merentangkan tangan. Yashinta yang mengerti dengan raut pasrahnya berhambur memeluk pria itu.
Gibran mendekap gadis itu erat, menghirup aroma hairspray yang begitu wangi di rambut gadis itu.
"Yashinta."
"Ada orang yang bilang ke saya kalau kita beruntung karena saling memiliki, tapi bagi saya. Saya yang jauh lebih beruntung karena memiliki kamu." ungkap pria itu, tentu saja membuat Yashinta mendongak guna menatap sang kekasih.
Gadis itu tersenyum, perasaannya menghangat dan seketika apa yang Gibran lalukan padanya beberapa saat tadi tidak melahirkan dendam di hati gadis itu, sirna begitu saja. Berganti dengan perasaan cinta yang kian menjadi.
"Oh, yah? Yas juga ngerasa beruntung karena ada orang yang ngerasa beruntung banget punya Yas." ujarnya, membuat Gibran gemas mendengarnya. Andai mereka sudah pulang dari pesta atau pesta sudah berakhir, bisa dipastikan jika Gibran akan mengacak-acak rambut gadis itu karena gemas.
****
Keduanya kembali ke area pesta setelah insiden sepasang kekasih tersebut. Di panggung sebuab live music yang sudah disediakan, kelompok band ternama tampak tengah bernyanyi memeriahkan acara. Menambah ria bahagia dalam pesta tersebut.
"Ranti." Yashinta melambaikan tangan pada Ranti yang duduk dengan Sean, gadis itu tampak menunjuk dirinya sendiri. Bukan tidak sadar jika maksud Yashinta adalah memintanya menghampiri, namun Ranti canggung karena ada Gibran di sana.
Sean yang duduk di samping gadis itu menoleh, mengerti dengan keadaan Ranti ia lantas bangkit dari duduk. Tentu saja hal itu membuat Ranti terheran, sedangkan Sean mendengkus pasrah.
"Ayo, gue temenin loe ke sana." ujarnya namun Ranti masih diam dan tampak tidak mengerti.
"Seenggaknya kalo loe sama gue rasa canggung loe berkurang sedikit." akhirnya Sean mengatakan lebih spesifik, yang membuat Ranti kemudian bangkit lantas berjalan dengan Sean untuk menghampiri Gibran dan Yashinta.
"Ranti udah makan belum?" tanyanya seraya meraih tangan Ranti dan menggelayutinya seperti anak kecil saat gadis itu sudah di hadapannya. Sedangkan Sean tampak menghampiri Gibran dan terlibat obrolan kecil. Sekedar berbasi-basi daripada saling diam seperti orang yang tidak saling kenal.
__ADS_1
"Gak laper." Ranti menyahut malas.
"Beneran?" Yashinta mendesak, gadis itu hanya mengangguk-anggukan kepala. Membuat Yashinta akhirnya bungkam juga.
"Ranti," panggilnya setelah beberapa saat.
"Apaan?"
"Ranti mau Yas kasih tau rahasia besar nggak?" tanyanya. Ranti menoleh, dahinya membentuk beberapa lipatan. Yashinta mengangguk-anggukan kepala, sekilas ia menoleh pada Gibran dan Sean yang berdiri di belakang mereka. Dua orang itu masih mengobrol, sepertinya basa-basi menjadi panjang di antara keduanya.
"Rahasia besar apaan?" Ranti mulai penasaran, membuat Yashinta mengedarkan pandangannya ke sekitar hingga matanya berhenti pada sosok wanita yang tengah mengelap bibir putri kecilnya dengan tisu.
Ranti menatap ke arah yang sama, saat Yashinta tidak kunjung bicara, ia menoleh pada gadis itu dan mengguncang tangan Yashinta yang masih bergelayut di lengannya.
"Rahasia besar apaan?"
"Coba Ranti tebak!"
Ranti kali ini memicingkan mata. "Nggak asik banget, sih, loe kudu main tebak-tebakan segala. Kenapa nggak kasih tau langsung aja." Ranti penasaran dan ingin segera tahu rahasia besar yang dimaksud Yashinta sekalipun tidak berkaitan dengannya.
"Yashinta." Ranti memanggil saat Yashinta belum kunjung bicara dan memberitahunya.
Ia memerhatikan wanita yang Yashinta katakan tadi adalah mantan pacar Gibran. Spontan Ranti benar-benar merasa jatuh sejatuh jatuhnya begitu menyadari jika mantan pacar Gibran bukanlah wanita sembarangan.
"Ranti,"
Yashinta memanggil sahabatnya itu saat Ranti mendadak berubah seperti patung.
"Ranti kenapa?" tanyanya, mulai cemas karena Ranti tidak merspond. Ranti segera menyadarkan diri. "Aa, Yas. Nggak, nggak papa." Ranti berusaha mengontrol dirinya.
"Yas nggak nyangka kalau ternyata Mas Gibran pernah pacaran." curhat Yashinta, tampak sendu meski dengan senyum di bibirnya. Ranti mencoba mendengarkan dengan tatapan yang sesekali mengamati wanita yang Yashinta katakan sebagai mantan Gibran tadi.
Ia juga sesekali menatap Yashinta dan menyadari betapa tidak berharga dirinya. Betapa ia berada di bawah sementara Yashinta dan mantan Gibran berada di angkasa, sangat jauh berbeda dengan dirinya.
Ranti menyadari hal itu meski perasaannya pada Gibran tidak bisa dengan mudah memudar.
****
__ADS_1
Kafka memilih pulang lebuh dulu dari pesta pernikahan Andri dan Arumi saat sang Bunda tampak masih menikmati jalannya acara. Ia berdiri di depan pintu lift dengan perasaan hampa, hingga suara tawa anak kecil membuatnya menoleh ke sumber suara.
Kanza tengah berjalan dengan putrinya diikuti seorang baysitter ke arahnya. Wanita itu tersenyum dan membuat Kafka mau tidak mau tersenyum pula pada mantan kekasih kakaknya tersebut.
Sekalipun Kafka tau bagaimana sang kakak dan mantan kakak iparnya tersebut putus, ia masih berusaha untuk tidak ikut campir pada apa yang terjadi di masa lalu di antara keduanya.
"Hay, Kafka. Udah mau pulang?" Kanza menyapanya dan bertanya. Kafka menganggukan kepala, ia mengusap singkat puncak kepala Reikansa sesaat sebelum anak itu digendong oleh pengasuhnya.
"Mbak Kanza juga udah mau pulang?" ia balik bertanya. Kanza mengangguk, kemudian menyahut. "Reikansa rewel, sepertinya dia nggak suka ada di tengah-tengah banyak orang." Kafka menatap gadis kecil itu sekilas, Reikansa yang tampaknya mengerti akan apa yang sang mami dan pemuda di hadapannya katakan hanya mengangguk-anggukan kepala.
Pintu lift terbuka, mereka masuk ke sana saat Kafka mempersilakan Kanza untuk naik lift bersama, ia tidak mungkin membuat wanita itu menunggu lama nantinya.
Keduanya hanya saling terdiam ketika berada di dalam, suara yang terdengar hanya dari Reikansa yang mengoceh dan mengobrol dengan pengasuhnya.
Anak kecil, mereka sangat suka membicarakan hal-hal random.
"Kakak Ipar baru kamu cantik." Kanza mengawali pembicaraan, memuji Yashinta. Kafka sempat menoleh, kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke depan dan bergumam kecil guna mengiyakan sebagai respondnya.
"Kalian kayaknya seumuran." sahut Kanza lagi, kembali Kafka hanya bergumam. Kanza menatap Kafka, ia kemudian tersenyum penuh arti.
"Ternyata dia mantan pacar kamu."
"Hmm."
"Hah?" Kafka yang sempat berguman kemudian mengernyitkan dahi dan menatap Kanza seperti orang bodoh. Kanza hanya tersenyum. "Bagaimana kalian bisa suka sama wanita yang sama?" Kanza melipat tangannya di dada.
"Mbak Kanza nyelidikin latar belakang Yashinta?" tanya Kafka. Kali ini ia tampak tidak terima jika memang Kanza melakukan hal tersebut.
Kanza sempat menghela napas sebelum kemudian menyahut. "Hanya sedikit, Mbak perlu tau siapa orang yang ada di samping Mas kamu."
"Yashinta perempuan yang baik. Lagipula, Mbak Kanza nggak perlu ngelakuin hal itu. Mbak Kanza bukan siapa-siapanya Mas Gibran lagi." ucap telak Kafka yang membuat Kanza secara spontan menyadari posisinya, ia merasa sudah kelewatan.
"Mbak tau, Mbak cuma penasaran. Lagipula, Mbak nggak memiliki niat apapun."
"Mbak sama Mas kamu nggak punya kesempatan buat sama-sama lagi."
Sesaat terjadi hening. Hingga kemudian Kanza bertanya pada Kafka. "Kamu masih mencintai Yashinta?" Kanza merasa cukup penasaran dengan hal tersebut.
__ADS_1
TBC