
"Awas aja, yah, kalo kalian sampe macem-macem. Papa Yas nggak akan diem aja!" Yashinta mengoceh saat orang-orang yang menculiknya menampakan diri. Kali ini membawa pasukannya dan sesungguhnya membuat nyali Yashinta dan Saras menciut.
Ia dan Saras yang beberapa saat lalu mencoba bekerja sama membuka ikatan dan tertangkap basah, diikat secara terpisah. Membuat keduanya menderita karena saling berjauhan.
"Gue minta kalian bebasin Yashinta!" Saras buka suara.
"Loe siapa ngatur-ngatur kita?" salah satu dari mereka angkat bicara, tidak terima.
"Kalian berdua jangan macem-macem, yah!" sambungnya.
"GUE MINTA KALIAN BEBASIN YASHINTA!"
Dalam sekejap, Saras mendapat tendangan di punggung akibat kelancangannya. Yashinta yang tidak terima membulatkan mata.
"JANGAN KURANG AJAR YA!"
"LOE BERANI KASAR SAMA CEWEK, IBU LOE BUKAN CEWEK?" gadis itu berteriak diluar kendali. Bahkan membuat Saras memaku di tempatnya. Selama hampir tiga tahun mengenal Yashinta Wiraguna, ini kali pertama baginya mendengar Yashinta berbicara kasar bahkan memakai bahkan mengatakan 'Loe' pada orang lain.
"Berani loe?" salah satu dari mereka menjambak rambut Yashinta, membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Lepasin!" Yashinta berteriak dengan air mata yang mengaliri pipinya. Namun mereka kian menjadi menertawakannya dan Saras.
"Kalian jangan macem-macem, yah. Bos nyuruh gue bunuh kalian kalau kalian nggak bisa diatur!" ujar salah satu dari mereka dengan wajah garangnya.
"Gawat!" seseorang yang tiba-tiba saja masuk berseru. Membuat mereka menoleh bingung. "Di luar, di luar!" napas pria itu memburu.
"Di luar apaan? Yang jelas kalau ngomong!"
"Ada mobil yang datang."
Yashinta dan Saras bertukar pandang. Mungkinkah pertolongkan untuk mereka telah datang?
"Berapa mobil?"
"Empat."
"Empat?" mereka tampak terkejut.
"Empat?" Yashinta membatin, siapa saja empat mobil itu?
"Jumlah kita banyak, ambil senjata!" intruksi si wajah paling garang tanpa takut, membuat mereka mengambil alat pemukul di sudut ruangan lantas berlalu keluar. Dua di antaranya tinggal untuk menjaga sandera–Saras dan Yashinta.
"Saras tahu siapa yang dateng?" tanya Yashinta pada Saras, Saras menggelengkan kepala. Ia juga sama penasaran dengan Yashinta mengenai siapa saja orang yang menolong mereka.
Sementara di luar sana, semua orang tampak terkejut mendapati sekumpulan pria keluar dengan membawa senjata begitu mereka tiba di sebuah bangunan kumuh di pinggiran kota.
"Pak Andri tetap di dalam." intruksi Vito yang kemudian membuka pintu mobil dan keluar. Siap pasang badan. Begitu juga Gibran yang segera keluar tanpa rasa takut. Kafka masih berada di mobilnya, Kafka dapat melihat jelas jika dua orang di antara mereka yang berdiri dengan postur gagah adalah orang-orang yang mengeroyoknya tempo hari.
__ADS_1
Tetapi mesti begitu, pria itu tetap keluar dengan penuh keyakinan.
"Loe bisa bela diri?" tanya Ranti, ragu saat pria itu akan turun dati mobil.
"Loe khawatir sama gue?" Sean menyeringai. Ranti berdecih. "Udah sana!"
"Awas aja loe kalo sampe pulang tinggal nama."
Sean hanya tersenyum, kemudian turun dari mobil dan bersiap berhadapan dengan orang-orang itu.
Gibran, Kafka Vito, dan Sean membentuk pasukan. Berhadapan dengan anak buah Johan yang terlatih. "Jumlah kita terlalu sedikit." Kafka bersuara, Gibran menoleh pada sang adik. "Mereka juga bawa senjata." ia angkat bicara yang membuat mereka menatap tangan masing-masing. Mereka datang dengan tangan kosong.
"Satu lawan tiga," ujar Vito yang membuat mereka mengangguk meski diam-diam menelam ludah. "Kita harus bertahan sampai polisi datang." sambungnya yang kembali mendapat anggukan.
"Sebentar lagi polisi akan datang. Apa tidak sebaiknya kalian menyerah dan menyerahkan sandera?" Vito lebih dulu bernegosiasi.
"Bacot!" salah satu dari mereka berseru dan langsung menyerang, membuat suasana mendadak menjadi sebuah perang.
Rupanya, kerja sama keempatnya membuat pertahanan mereka cukup kuat sekalipun lawan mereka sangat kuat. Tekad mereka untuk menyelamatkan Saras dan Yashinta mampu membuat mereka bertahan sekalipun tidak dapat menghindar ketika pukulan mendarat di tubuh maupun wajahnya.
Dengan bekal bela diri seadanya, Kafka dan Sean yang merupakan seorang atlet basket mampu melawan. Sementara Gibran adalah mantan atlet taekwondo saat SMA, ia memiliki ilmu bela diri yang cukup. Vito sendiri adalah orang terlatih yang Andri pilih.
Kafka yang sempat lengah nyaris saja mendapat pukulan tepat di kepala, namun dengan cepat Gibran menolongnya bahkan mengambil alih alat pemukul, tapi sayang ia tidak bisa menghindar saat salah satu dari mereka melayangkan alat pemukul tepat mengenai pelipisnya, membuat darah segar merembes dari sana.
Kafka yang melihat hal itu tentu saja panik, tapi Gibran mengangkat tangan dengan gestur yang mengatakan jika ia baik-baik saja.
"Bakar!"
Intruksinya yang membuat Yashinta dan Saras kebingungan. Bakar? Tempat ini akan dibakar?
Dua orang yang semula menjaga Yashinta dan Saras segera bertindak, mengambil jerigen berisi bensin dan menyiramkannya di ruangan tersebut, tentu saja Saras dan Yashinta panik.
"Jangan bakar tempat ini, Yas mohon." gadis itu menangis. "Jangan bakar, gue mohon. Gue mohon!" Saras juga ikut memohon. Namun mereka bagai tak memiliki telinga, menjatuhkan korek api dan sekejap waktu membuat api di ruangan tersebut berkobar.
Yashinta begitu panik saat kobaran api begitu dekat dengan Saras hingga membuat gadis itu terbatuk-batuk.
"Tolong!" Yashinta hanya mampu berteriak seraya berusaha melepaskan ikatan tali di tubuhnya. Namun nihil.
"KAFKA." gadis itu berseru girang melihat pacarnya dengan berani menerobos masuk.
Kafka memang segera masuk ketika melihat kepulan asap dari dalam.
Pria itu mendekat, dengan cepat melangkah menghampiri Yashinta. Membuat gadis itu tersenyum senang, hingga suara batuk Saras menginterupsi langkah Kafka, membuat gerakan pria itu perlahan terhenti. Yashinta menoleh ke arah Saras, kemudian menatap Kafka.
Yashinta memang egois, tapi sungguh ia akan sangat sedih jika Kafka lebih memilih menolong Saras lebih dulu daripada dirinya.
Kafka menatap dua gadis itu bergantian, hingga kemudian dengan cepat meneruskan langkahnya menuju Yashinta. Bagaimanapun, jarak gadis itu dengannya jauh lebih dekat daripada Saras.
__ADS_1
"Kafka." pangil Yashinta yang membuat langkah kaki Kafka terhenti. "Selametin Saras dulu!" intruksinya.
"Yas–"
"Selametin Saras dulu, Kafka!" Yashinta mengulang kalimatnya. Membuat Kafka menggelengkan kepala dan memejamkan matanya sekilas kemudian setengah berlari menghampori Saras dan menyelamatkan gadis itu.
Sesaat Yashinta memang egois, namun ia sadar jika nyawa Saras berada dalam bahaya melebihi dirinya. Selain itu, Yashinta sudah melihatnya sendiri jika ia yang lebih dulu akan ditolong oleh Kafka.
Gadis itu hanya menatap kobaran api di hadapannya dengan pasrah. Bersamaan dengan suara sirine polisi yang ia dengar, ia melihat seseorang menerobos masuk.
Samar-samar Yashinta melihat seorang pria dengan setelan formal yang sudah berantakan berjalan mendekat ke arahnya, dengan sebuah alat pemukul di tangannya.
Semula Yashinta mengira jika orang itu adalah salah satu dari para penjahat, tapi Yashinta mengenali postur tubuh pria itu, ia kian yakin saat pria tersebut sudah berada di hadapannya setelah menembus kobaran api dengan berani.
"Are you okay, Masha?" tanyanya seraya melepas ikatan di tubuh Yashinta. Sementara gadis itu hanya mematung, menatap darah segar di pelipis Gibran.
"Mas Gibran." ia berusaha menyentuh pelipis Gibran namun gerakannya tertahan. Ia justru menangis sejadi-jadinya. Tidak menyangka jika nyawanya terselamatkan.
Gibran tak menghiraukan sekalipun ingin memeluk gadis itu, ia segera membantu Yashinta bangkit, menyelamatkan Yashinta adalah prioritas utamanya.
Kafka yang sudah memapah Saras menatap Gibran dan Yashinta dengan perasaan tidak menentu. Namun ia sadar jika waktunya tidak tepat untuk memikirkan hal itu.
Dengan segera mereka berjalan menuju pintu keluar, namun keempatnya segera mengambil langkah mundur saat lima orang anak buah Johan kembali, mereka pasti menghindari para polisi.
Perkelahian kembali terjadi setelahnya, Gibran dan Kafka melawan lima orang tersebut. Salah satu dari mereka yang merasa panik mengambil sebuah benda tajam dibalik punggungnya. Pisau.
Saat orang itu melangkah menghampiri Yashinta, gadis itu mengambil langkah mundur. Dia tahu jika Yashinta adalah anak Andri Wiraguna. Pengusaha sukses, orang berpengaruh dan orang yang sudah membawa polisi ke markas mereka.
Yashinta sudah memejamkan mata saat ancang-ancang pisau tajam itu mengarah kepadanya. Namun setelah beberapa detik setelahnya tidak terjadi apapun, ia membuka mata dan tampak terkejut mendapati Gibran menggenggam gigi pisau, membuat darah segar mengucur dari sana.
Perkelahian antara Gibran dengan orang tersebut terjadi. Sayangnya, Gibran tidak bisa menghindar ketika ujung pisau ditusukan ke dadanya. Pria itu tampak meringis menahan sakit, sesaat ia menoleh pada Yashinta yang menangis menatapnya. Yashinta ragu pria itu dapat bertahan setelah mendapat tusukan.
Gibran memcabut pisau, darah seger segera mengucur. Membuat kemeja putih yang ia kenakan bersimbah darah. Kepalanya pusing, pandangannya perlahan kabur tapi ia berusaha tetap sadar dan kembali berkelahi sekalipun hanya sedikit tenaganya yang tersisa. Bahkan ia berkali-kali mendapat pukulan di dada dan perutnya.
Ketika Kafka juga sudah begitu kelelahan, Vito datang dengan beberapa polisi di belakangnya. Game over.
Polisi berhasil membekuk para penjahat itu setelah menembakan senjata ke udara, membuat Saras dan Yashinta dapat bernapas lega. Tetapi, ketika Yashinta baru saja mengukir senyum dan hendak melangkah menghampiri Gibran, ia melihat tubuh pria itu tumbang. Terkapar di lantai ruangan yang kotor.
Sekilas ia menangkap raut panik Kafka dan Saras yang tampak terkejut.
Tanpa terasa, Yashinta berlari ke arah Gibran. Meraih tubuh pria itu dengan tangis. "Mas Gibran, Mas." Yashinta kian panik saat tidak ada respond dari pria itu. Gibran benar-benar tidak sadarkan diri.
"Mas Gibran, bangun Mas!" Yashinta terisak, lama kelamaan tangisnya kian menjadi bahkan terdengar begitu menyesakan dada.
Malam itu, semua yang Yashinta lihat dan saksikan seperti mimpi baginya. Tampak seperti sebuah mimpi.
Sebuah mimpi buruk.
__ADS_1
TBC