Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Hay Bali (S2)


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan Jakarta - Bali yang memakan waktu kurang lebih 2 jam, Yashinta dan Gibran sampai di Bali. Yashinta sama sekali tidak menyangka jika ia akan pergi ke pulau dewata secara mendadak tanpa persiapan appaun kecuali hanya pasport–yang dikirim sopir pribadinya dari rumah–setelah Gibran meminta izin pada Andri untuk memgajak Yashinta menghadiri acara pernikahan kawannya.


Andri memberi izin dengan syarat keduanya harus menjaga jarak dan tentunya Gibran harus menjaga Yashinta dengan sebaik-baiknya.


Juga beberapa helai pakaian yang disiapkan oleh Gibran. Pada akhirnya, mereka berangkat pukul dua belas siang dan tiba di Bali pada pukul dua.


Yashinta menoleh pada Gibran seraya mengulum senyumnya. Membuat pria itu menoleh dengan alis bertaut dan gestur yang tampak bertanya. Namun gadis itu justru menggelengkan kepala.


"Gimana sekolah kamu?" tanya Gibran, semula ia fokus pada layar ponselnya untuk memastikan alamat resort tempat Bayu menggelar pernikahan sekaligus tempatnya menginap nanti dimana ia sudah reservasi kamar sebelumnya.


"Enggak papa,"


"Anak pemilik yayasan bebas lakuin apa aja, yah?" kali ini Gibran menyimpan ponselnya dan menatap gadisnya itu.


"Bukan gitu Mas Gibran, Yas nggak bisa seenaknya dong. Kesannya menyalahgunakan kekuasaan Papa."


Gibran melipat bibir dengan mata menyipit menatap gadis itu, meledek Yashinta dan membuat Yashinta mengerutkan kening. "Kok ngeledek?"


Gibran menggelengkan kepala, menggandeng Yashinta dan melangkah cepat seakan menyeret gadis mungil itu. Yashinta tentu saja protes, ia menggerutu namun saat Gibran menghentikan langkahnya, dia terdiam.


Yashinta menatap dua orang yang berdiri di hadapan mereka, ia tersenyum saat mengenali pria di hadapannya itu.


"Wah, Yashinta." Leon bagai terkejut, membuat wanita dalam gandengannya menatap sang kekasih dengan heran karena mengenali gadis di samping Gibran. Sementara ia mengenal Gibran. Kawan Leon yang seingatnya tidak memiliki seorang adik perempuan.


"Sayang, ini Yashinta." Leon memperkenalkan Yashinta yang melambaikan tangannya pada sang pacar.


"Yashinta." gadis itu mengulurkan tangan dan diterima oleh kekasih Leon.


"Krystal, panggil aja Ital."


Yashinta mengangguk dengan senyuman, Gibran menarik tangannya dan membuat Leon kian heran dan bertanya-tanya. Sejak melihat Yashinta tadi sejujurnya ia sedikit terkejut, juga penasaran dengan alasan mengapa Gibran membawa gadis itu, sedangkan kemarin pria itu sudah mengatakan padanya jika ia akan datang sendiri dan sedikit terlambat dari Leon.


"Kalian baru dateng ya?" tanya Krystal kemudian, sekedar berbasa-basi. Yashinta sempat menoleh pada Gibran kemudian menganggukan kepalanya.


"Udah reservasi kamar, 'kan loe?" kali ini Leon yang bertanya dengan tatapan mengarah pada Gibran. Gibran bergumam mengiyakan, Leon menyeringai.


"Pesen berapa kamar loe?" tanyanya lagi kemudian dengan tatapan licik, hal tersebut membuat Yashinta dan Gibran saling bertukar pandang.


Gibran yang kesal dengan ekspresi yang Leon tunjukan dan Yashinta yang tidak mengerti dengan apa yang Leon maksudkan.


"Kamarnya penuh, yah, Mas Leon?" tanya Yashinta saat Gibran memutuskan untuk tetap terdiam.


Leon menggelengkan kepala. "Enggak penuh, cuma–" Leon menggaruk ujung pelipis dengan ibu jarinya dan menunggu reaksi Gibran namun Krystal sudah lebih dulu menyenggolnya dan menunjukan raut wajah yang seolah menyuruh sang kekasih untuk menghentikan aksi jahil dan menyebalkannya.


Gibran mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Malas meladeni Leon. Sepertinya ia sudah salah dan terjerumus karena berkawan dengan pria macam itu.


Meladeni Leon tidak akan ada habisnya, sehingga Gibran memutuskan untuk pergi saja meninggalkan dua orang itu dengan menggandeng Yashinta.


"Adek sepupu Gibran?" Krystal bertanya dengan tatapan mengarah pada punggung Gibran dan Yashinta yang berjalan menjauh.


"Bukan, Baby."

__ADS_1


Dahi Krystal berkerut mendengar jawaban sang pacar.


"Nggak mungkin pacarnya, 'kan?" Krystal spontan menolak asumsi di kepalanya. Alih-alih menjawab, Leon justru menggandeng Krystal dan melanjutkan langkah mereka untuk keluar dari resort.


Tidak ada yang salah memang jika dua orang itu adalah pasangan. Namun, jika Krystal tidak salah menilai, Yashinta tampak jauh lebih muda dari mereka. Tentunya jauh lebih muda daripada Gibran.


Krystal hanya menyayangkan selera pria dewasa seperti Gibran. Bisa-bisanya dia memacari anak kecil.


****


Kafka pulang ke rumahnya setelah kembali dari Bandara dan melihat pemandangan yang sampai detik ini masih sangat mengganggunya. Ia melepas jaket jeans berwarna hitam yang ia kenakan, melemparnya ke atas tempat tidur dan menarik napas dalam-dalam.


Kafka tahu sang kakak akan terbang ke Bali untuk menghadiri acara pernikahan kawannya. Namun, ia tidak menyangka jika Yashinta akan ikut dengan pria itu.


Detik selanjutnya, Kafka berdecih, mengingat kembali bagaimana Yashinta mengacuhkannya seolah tidak melihatnya sama sekali.


Seolah dengan mudah gadis itu menyingkirkannya dalam kehidupannya. Hal itu cukup melukai hati Kafka, dan membuatnya tidak tahu diri karena merasa seperti itu.


"Ka,"


"Kafka."


Kafka menoleh ke arah pintu saat suara sang Bunda terdengar di luar sana. Ia berjalan dan membuka pintu dengan tampang lesu, melihat sang Bunda benar-benar berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ada apa, Bun?"


"Kamu habis dari mana?"


"Bunda lihat mukanya kaya kesel." satu tangan Bunda terulur mengusap sisi wajah pemuda itu, membuat Kafka memejamkan matanya saat merasakan kehangatan menjalar di seluruh tubuhnya.


Tadi ia melihat kedatangan putranya dalam keadaan raut wajah yang tampak tak seperti. biasanya, bahkan Kafka melewatinya begitu saja di ruang utama rumah seolah tidak melihatnya.


Cukup membuat Bunda khawatir atas apa yang terjadi dengan Kafka sehingga ia memilih untuk mendatangi putra bungsunya itu.


"Kafka nggak papa, Bun. Beneran." Kafka meyakinkan saat melihat raut penuh khawatir di wajah Bunda. Bunda memilih untuk menganggukan kepalanya.


Beberapa detik berselang, "Bunda ketemu Mama Sean tadi pagi, dia ke butik." sahut Bunda yang membuat pria itu diam mendengarkan tanpa menerka apa yang sang Bunda akan katakan.


"Dia ngundang Bunda buat datang ke acara nikahannya nanti. Dia mau menikah sama Papa Yashinta?" kali ini Kafka mengangguk setelah sebelumnya sempat diam.


"Kenapa kamu nggak cerita?"


"Hmm?" Bunda menilik sang putra saat tidak ada jawaban dari Kafka.


"Kamu sama Yashinta lagi berantem?" tanya Bunda kemudian, curiga. Tapi Kafka tak kunjung menyahut, hanya menatap sang Bunda dan membuat Bunda mengerti.


Karena sorot mata Kafka sudah menjelaskan jawaban atas pertanyaannya jika pemuda itu dan Yashinta dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


****


Gibran hanya mengerutkan kening saat Yashinta menjauh darinya begitu mereka tiba di dalam kamar milik Yashinta.

__ADS_1


"Tadi kata Papa kita harus jaga jarak, Mas Gibran lupa?" gadis itu mengingatkan dan membuat Gibran mengerti alasan kenapa Yashinta menghindar, terutama mereka ada di sebuah tempat yang memang rawan bagi pasangan kekasih.


"Mas Gibran tadi gandeng-gandeng, Yas. Ngelanggar aturan!" cemoohnya.


Gibran terkekeh, kemudian menganggukan kepala, mengiyakan gadis itu dan mendekat untuk mengusap puncak kepala Yashinta karena ia akan keluar dari kamar gadis itu. tetapi Yashinta justru mengambil langkah mundur.


"Jangan deket-deket!"


"Yashinta," Gibran tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat gelagat Yashinta di hadapannya.


"Jaga jarak bukan berarti saya nggak boleh deket sama kamu."


"Setahu Yas jaga jarak berarti gak boleh deket-deket."


"Saya tahu batasan. Saya tahu harus sedekat apa sama kamu dan sejauh apa untuk jaga jarak dari kamu."


"Jadi–" Gibran melangkah mendekat, kali ini gadis itu tidak menghindar dan diam di tempat dengan tatapan lekat pada Gibran. Mendongak menatap pria tampan yang tinggi itu.


"–Kamu nggak perlu khawatir, saya nggak akan melewati batas." Gibran mengusap puncak kepala Yashinta sementara gadis itu hanya mengerjap dan pada akhirnya menganggukan kepala.


"Kamu istirahat, saya mau periksa kamar saya." pamitnya kemudian. Yashinta kembali mengangguk dan membiarkan pria itu keluar dari kamarnya. Kebetulan kamar Yashinta dan Gibran sedikit berjauhan. Selisih empat kamar dan rasanya seperti itu akan aman.


Yashinta mengamati seisi ruang kamarnya begitu Gibran pergi. Kamar bernuansa putih itu rasanya akan membuatnya nyaman, pemandangan laut yang langsung ia lihat melalui jendela kaca besar seketika menyegarkan mata.


Gadis itu berdiri di dekat jendela dan menatap deburan ombak di bawah sana. Tersenyum menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang tanpa cela. Hingga kemudian sesuatu tiba-tiba saja terlintas si kepalanya.


Yashinta mematung, mengingat lagi bagaimana perjuangannya mengejar Gibran hari ini. Rasanya ia menemui orang yang amat familiar dalam perjalanannya.


Kafka. Yahinta ingat ia bertemu dengan Kafka. Perlahan Yashinta mengingat semuanya, ia melihat mobil Kafka terparkir di depan gerbang rumahnya saat ia keluar, dan bahkan mereka bertemu si perusahaan Gibran. Tapi sedikitpun Yashitnta tidak menghiraukan kehadiran pria itu.


Kali ini Yashinta mengembuskan napasnya. Sekarang ia mulai bertanya-tanya apa alasan Kafka mengejarnya.


Bagi Yashinta, memang sangat tidak mudah menghapus Kafka dengan begitu saja dalam ingatannya. Rasanya sanhat mustahil, kecuali jika ia atau Kafka pergi ke tempat yang sangat jauh dari dunia.


Atau bahkan ia harus amnesia agar dapat melupakan Kafka.


Tapi rasanya ..., akan tetap tidak mudah bagi Yashinta. Karena bagaimanapun. Kafka adalah cinta pertamanya, dia pernah menjadi sesuatu hal yang sangat berharga dalam hidup Yashinta.


Yashinta kembali menatap keindahan laut. Ia pernah menulis agenda di.mana ia ingin mengunjungi berbagai tempat, dan tentunya bersama dengan Kafka. Hanya nama Kafka yang selalu ada dalam rencana masa depannya.


Tapi takdir berkata lain, mereka justru berpisah sebelum Yashinta mewujudkan semuanya.


Salah satunya adalah Bali. Yashinta ingin berlibur ke Bali begitu ujian semester satu selesai nanti–bersama dengan Kafka. Namun, ia justru sudah berada di Bali jauh sebelum ujian semester satu dimulai.


Ia sudah liburan, bukan dengan Kafka melainkan bersama Gibran. Dengan Gibran.


TBC


Holla, guys. Apa kabar? Keadaanku baik, akan lebih baik jika mendapat dukungan penuh dari kalian untuk melanjutkan cerita Yashinta sampai selesai nanti.


Terimakasih dan selamat mengikuti❤❤❤❤❤🥰

__ADS_1


__ADS_2