Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Jadian


__ADS_3

Gibran tidak langsung pulang setelah mengadakan meeting dengan kliennya di sebuah restoran. Ia lebih memilih memesan kembali minuman dan sedikit bersantai sembari membaca ulang kontrak kerja sama yang ia dan kliennya tandatangani beberapa saat lalu.


Hingga setelah ia merasa bosan dengan sendirinya dan sadar jika ia harus segera kembali ke perusahaan, Gibran beranjak dari posisinya, ia memanggil waitress untuk minta bil bersamaan dengan matanya yang menangkap sosok gadis yang ia kenal tengah berjalan gontai di luar restoran.


Gibran memerhatikan gadis itu melalui pintu kaca restoran, semakin lama langkah gadis itu tampak memelan. Sekilas Gibran melihat wajah gadis itu pucat, sehingga begitu waitress yang dipanggilnya tadi mengembalikan credit card miliknya, ia buru-buru keluar untuk menghampiri gadis itu.


Gibran mempercepat langkah sehingga ia tidak terlambat untuk menahan tubuh Saras ketika gadis itu nyaris terjerembab.


"Saras," Gibran memanggil nama gadis itu, ketika Saras tak menyahut, Gibran buru-buru membopong tubuh gadis itu menuju mobilnya. Membuat Intan yang menunggu sang atasan di dalam mobil dengan cepat keluar dan membantu Gibran.


"Ke Rumah Sakit sekarang!" seru Gibran ketika ia sudah berada di dalam mobil dan Intan duduk di samping sopir. Sementara Saras di samping pria itu.


Sopir perusahaan segera menganggukan kepala. Melajukan mobil perlahan dan meninggalkan halaman restoran.


****


Sementara itu, di sekolah Yashinta kembali masuk seperti biasanya. Ranti tentu segera menyambutnya dengan berbagai macam pertanyaan mengenai alasan kenapa Yashinta tidak masuk sekolah kemarin dan justru berada di Bali.


Yashinta tidak langsung bercerita, ia mengajak Ranti untuk menginap dan akan bercerita semalaman. Dengan berat hati, Ranti harus setuju, padahal ia sudah tidak sabar untuk segera mendengarkan cerita Yashinta.


Ia mengamati raut wajah gadis itu yang tampak ceria, membuat kekhawatiran Ranti padanya memudar. Karena ia mengira, Yashinta akan terpukul mengenai hubungannya dengan Kafka yang berakhir tiba-tiba.


Bahkan Ranti sempat mengira jika alasan Yashinta berada di Bali adalah untuk melupakan Kafka dan menenangkan diri.


Tapi rupanya, gadis itu menjalani hari-harinya dengan sangat baik.


"Ranti mau ke kantin nggak?" tanya Yashinta di jam istirahat ke dua. Ranti yang saat itu tengah merapikan peralatan tulisnya menatap Yashinta kemudian menganggukan kepala.


Begitu peralatan tulisnya sudah selesai ia rapikan, gadis itu lantas bangkit dan menggandeng Yashinta, berjalan menuju pintu keluar dengan canda ceria.


"Sebelum ke rumah loe gue harus ke restoran dulu." sahut Ranti mengingat jika ia tidak bisa meninggalkan pekerjaan paruh waktunya.


"Enggak papa, nanti Yas anterin Ranti ke resto."


"Sekalian mau bantuin gue juga?" kali ini Ranti melayangkan pertanyaan dengan nada menggoda. Yashinta segera menggelengkan kepala.


"Enggak dulu, deh. Yas bantu doa aja dari rumah." jawabnya yang kemudian tertawa dengan Ranti. Hingga perlahan, tawa gadis itu reda saat ia berpapasan dengan sang mantan pacar tepat ketika Kafka keluar dari kelasnya dengan Aris. Sepertinya mereka juga akan menuju kantin.


Suasana canggung sontak saja tercipta di antara mereka. Aris yang biasanya pandai mencairkan suasana pun kali ini tampak kaku dan bingung. Ia melihat Yashinta dan Kafka bergantian ketika dua orang itu beradu pandang hingga Yashinta yang menepisnya lebih dulu.


"Hay–Yas." pada akhirnya Aris berusaha menyapa karena mereka tetap bertahan di sana. Ia tampak mengukir senyum kaku dan Yashinta membalasnya dengan senyum yang tak kalah kaku.


"Hay Aris. Aris mau–ke kantin?"


"Iya. Loe juga?"


"Iyaa." Yashinta menyahut singkat, Ranti menyenggol bahu gadis itu, membuat Yashinta segera berpamitan pada Aris untuk pergi ke kantin lebih dulu. Mengabaikan Kafka yang berada di sana.

__ADS_1


Begitu dua gadis itu berlalu, Kafka hanya menatap punggung Yashinta. Mengingat lagi bagaimana kejadian antara Yashinta dan Gibran di Bandara.


Aris memerhatikan raut wajah Kafka yang keruh, berganti menatap punggung Yashinta dan Ranti yang kian menjauh.


"Gila, canggung bener!" ujarnya seraya mengeluas dada, membuat Kafka tersadar dan mengalihkan tatapannya ke arah lain kemudian melangkah ke arah yang berlawanan dengan Yashinta.


"Ka, woy. Mau kemana?" tanya Aris melihat pemuda itu bukan menuju kantin. "Sialan si Kafka." rutuknya saat Kafka justru mengibaskan tangannya ke udara. Padahal tujuan mereka adalah kantin karena perutnya yang sudah keroncongan.


Kafka memilih berjalan menuju lapangan basket, bola basket tepat terlempar ke arahnya dan Kafka menangkapnya dengan cepat. Ia melihat beberapa kawan sekelasnya berada di lapangan.


"Main Ka?" tanya salah satu dari mereka dengan peluh yang memenuhi dahinya. Kafka mengangguk, segera bergabung dengan mereka dan mengabaikan hasratnya yang semula ingin ke kantin untuk makan siang.


Sepertinya sementara waktu ia tidak bisa jika harus melihat Yashinta.


*****


Jujur Ranti merasa sedikit terganggu melihat perubahan raut wajah Yashinta yang signifikan setelah mereka berpapasan dengan Kafka di depan kelas pria itu. Yashinta terlihat murung dan melamun.


Ranti tahu, bagaimana Yashinta sangat mencintai Kafka, sehingga tidak akan mudah bagi gadis itu melupakan dan mengabaikan Kafka begitu saja.


Terlebih mereka berada di gedung sekolah yang sama bahkan kelas mereka bersisian. Hampir mustahil untuk bisa melupakan bajingan seperti Kafka ketika keduanya sering bertemu.


****


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di Rumah Sakit di mana Gibran membawa Saras, dua orang itu tengah berada di kantin Rumah Sakit. Saras meminta segera pergi begitu ia sadar dari pingsannya namun Gibran lebih dahulu mengajaknya untuk makan siang karena gadis itu tampak pucat dan kelelahan.


Gibran hanya diam hingga Saras menyelesaikam makannya. Gadis itu juga hanya diam dan sesaat menatap Gibran. Mengingat lagi kejadian kemarin malam di mana ia melihat Yashinta pulang dengan pria itu yang tak lain adalah kakak Kafka.


Gibran yang semula menyandarkan punggung pada sandaran kursi menegakan tubuhnya, menatap gadis itu penuh tanda tanya, sejujurnya ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi antara Saras dan Yashinta hingga Yashinta tampak sangat tidak menyukai Saras mengingat pertemuan mereka kemarin malam.


"Saya nggak tahu apa yang terjadi antara kamu dan Yashinta. Tapi saya rasa, Yashinta sangat menjaga jarak dari kamu." Gibran membuka percakapan. Menghaluskan kalimatnya agar tak menyinggung perasaan Saras.


Saras yang sudah menduga jika Gibran akan melayangkan pertanyaan semacam ini hanya mengangguk samar tanpa tujuan. Ketika Gibran tak lagi berbicara seolah meminta jawaban darinya, Saras hanya mampu menghela dalam-dalam napasnya.


Dengan hati yang masih diliputi kebimbangan, ia mulai bercerita pada Gibran bagaimana semuanya bermula dan berakhir dengan kebencian Yashinta padanya. Bagaimana ia mengkhianati gadis itu dan menyakiti Kafka juga membuat hubungan keduanya berakhir sempurna.


"Aku tahu aku salah, Mas. Aku juga nggak berhak terima maaf dari Yashinta. Tapi aku nggak bisa pergi kalau Yashinta belum maafin aku."


****


"Buruan!'


"Buruan!"


"Kunci pintunya." Yashinta tampak tidak sabaran saat Ranti sudah tiba di kamarnya. Yashinta sudah cukup lama menunggu.


Reaksi gadis itu cukup membuat Ranti sedikit kewalahan dan juga heran bahkan berhasil membuatnya menggelengkan kepala penuh takjub.

__ADS_1


Ketika pulang sekolah siang tadi, gadis itu masih dengan wajah murungnya. Tetapi sekarang, Yashinta tampak segar dan ceria seperti biasanya seolah tidak terjadi apa-apa.


Karena bagi Yashinta, selama ia tidak melihat Kafka maka suasana hatinya akan baik-baik saja.


"Ranti udah mandi, 'kan?" tanyanya ketika pintu kamar berwarna merah muda itu sudah Ranti kunci rapat-rapat.


Ranti menganggukan kepala dan segera naik ke atas tempat tidur saat Yashinta yang sudah duduk bersila dengan laptop di hadapannya melambaikan tangan dan memintanya untuk segera bergabung.


"Sini, kita nonton." ujarnya yang segera mengotak atik laptop. Ranti semula diam dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar gadis itu. Waktu baru menunjukan pukul tujuh malam tapi lampu kamar Yashinta sudah dimatikan. Berbagai macam camilan tersedia di atas tempat tidur untuk menemaninya menonton.


Ranti mendesah pasrah, begitulah Yashinta dengan drama koreanya. Ia hanya bisa duduk di samping gadis itu dan ikut menonton meski tidak mengerti alur cerita dari drama yang ditontonnya.


"Udah, ah, loe nggak bosen nontonin tu drama terus?" protes Ranti yang sudah mulai bosan menonton.


"Enggak akan, lah, Ranti. Enggak mungkin bosen." Yashinta menyahut. Ranti hanya mengembuskan napas pasrah. Melihat keadaan Ranti yang tampak jenuh, akhirnya Yashinta mengalah dan menutup laptopnya.


"Yaudah, deh." sontak Ranti tampak semringah.


"Gitu, dong. Tujuan gue, 'kan mau dengerin cerita loe pas di Bali. Loe sama siapa dan ngapain di sana." oceh Ranti seraya mengambil snack pedas dan mulai memakannya. Bersiap mendengar Yashinta bercerita.


"Lagian tiba-tiba banget tau-tau udah ada di Bali aja." sambungnya sembari memerhatikan Yashinta. Sedangkan gadis yang diperhatikan hanya tersenyum tipis. Mengingat lagi bagaimana ia bisa berada di Bali dengan pria yang notabenenya sekarang adalah pacarnya.


Dada Yashinta berdebar mengingat fakta tersebut.


"Ranti," panggil gadis itu, kemudian mendekat lebih dekat pada Ranti.


"Apaan?" Ranti penasaran dan tidak sabaran sementara Yashinta hanya tersenyum.


"Loe ke Bali ngapain?"


"Ngehadirin resepsi pernikahan." jawab Yashinta seperlunya dan jawaban gadis itu berhasil menciptakan kerutan di dahi Ranti.


"Nikahan siapa?"


"Mas Bayu."


"Mas Bayu?" kerutan di dahi Ranti kian dalam.


"Iya. Temennya Mas Gibran."


Spontan Ranti mematung, dalam sekejap waktu ia sudah dapat menyimpulkan fakta jika artinya Yashinta pergi ke Bali dengan Gibran. Gadis itu menyentuh dadanya saat merasakan ada sesak di area tersebut.


"Ranti,"


"Yas sama Mas Gibran jadian."


TBC

__ADS_1


__ADS_2