
Sejujurnya, saat memasuki mobil dan mobil yang Kafka kemudikan perlahan melaju meninggalkan tanah lapang kompleks markas Alley Youth, Yashinta masih terus-terusan diganggu oleh obrolan singkat yang terjadi antara Kafka dan teman-temannya dari Alley Youth. Yashinta merasa terganggu karena Kafka mengiyakan ajakan mereka untuk menghabiskan waktu di club malam.
"Kafka yakin mau pergi ke club sama temen-temennya itu?" tanya Yashinta, membuka percakapan. Kafka yang sedang fokus mengemudikan mobil menoleh pada gadis di sampingnya.
"Iya." pemuda itu menyahut singkat dan kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Sedangkan Yashinta tampak gusar di tempatnya.
"Kafka ngapain, sih, dateng ke tempat-tempat kaya gitu." protesnya, mengutarakan ketidaksukaannya.
"Tempat kaya gitu gimana?"
"Ya club malam. Ngapain, sih, Kafka?" Kafka menoleh, melihat raut wajah Yashinta yang tampak kesal. Ia memilih tak menyahut dan membuat Yashinta kian gusar karena tampaknya Kafka tak akan mau mendengarkannya.
"Pokoknya Kafka nggak boleh pergi sama mereka!" Yashinta melipat tangan di dadanya, masih bersikeras melarang Kafka untuk ikut dengan kawan-kawannya.
Kafka di sampingnya mulai gusar karena gadis itu yang terus saja mengoceh sepanjang perjalanan. Sama sekali tidak diam sekalipun Kafka sudah mengalah dengan hanya diam dan membiarkannya mengoceh.
"Enggak sehat, Kafka. Temenan sama siapa aja boleh kok, asal jangan terpengaruh sama pergaulannya. Yas, nggak suka pokoknya Kafka pergi-pergi ke club gitu." panjang lebar gadis itu, Kafka mulai menghela napas, tidak tahan mendengarnya.
"Kafka masih sekolah, harusnya sibuk belajar, bukan hamburin uang di tempat kaya gitu. Yas ...,"
Mobil berhenti begitu saja, membuat Yashinta sedikit terhuyung ke depan, keningnya hampir terbentur ke dashboard mobil. Gadis itu menghela napas, menetralkan keterkejutannya atas tindakan Kafka yang tiba-tiba dan sangat membahayakan dirinya.
"Loe bisa diem nggak?" tanya Kafka. Emosi.
"Enggak bisa Kafka, ini demi kebaikan Kafka!" Yashinta menyahut setelah menenangkan diri dan merapikan rambutnya yang berantakan.
"Loe tau apa, sih, tentang hidup gue? Gak usah sok ngatur-ngatur, nyokap gue aja nggak ribet, kok!"
"Bunda Kafka nggak ribet karena dia nggak tau apa yang Kafka lakuin di luar. Pernah Kafka izin mau ke club, mau ngeroko? Enggak pernah, 'kan Kafka?"
"Pokoknya Yas enggak suka. Coba sekali aja Kafka yang dengerin Yas!" Yashinta berapi-api. Ia melakukan hal ini semata-mata demi kebaikan sang pacar, demi Kafka sendiri.
__ADS_1
"Mau loe apa sih, Yas?" nada bicara pemuda itu melemah. Level marahnya sudah semakin meningkat. Yashinta tau itu.
"Sejak kemaren sampe hari ini gue udah turutin semua kemauan loe. Loe minta di jemput sepulang les piano, gue jemput meski sibuk. Malemnya loe mau telponan gue turutin. Besoknya gue jemput. Loe minta ikut gue tanding gue turutin!"
"Apalagi?!" oceh Kafka, frustrasi.
"Yas juga selalu turutin Kafka. Kafka bilang nggak usah nunggu Kafka, Yas nurut. Kafka bilang jangan deket-deket Deril, Yas nurut. Kafka larang Yas ikutan ekskul teater Yas juga nurut,"
"Kafka bilang jangan terlalu deket sama Sean, Yas mau nurut juga. Yas patuh sama Kafka, kapan Kafka mau dengerin Yas?"
"Loe pikir loe siapa?"
"Pacarnya Kafka!"
Kafka smirk. "Loe cuma cewek manja, nolep, nerd, bisanya ngatur-ngatur hidup gue, ngerecokin hidup gue doang!"
"Loe nggak lebih dari sekedar pengganggu!" oceh Kafka, di luar kendali.
Yashinta tertegun mendengar kalimat sarkas Kafka padanya yang begitu menusuk. Matanya mulai berkaca-kaca dan cairan bening itu sudah siap terjun dari pelupuk matanya. Ia menatap Kafka dengan tatapan tidak menyangka pria itu tega memberikan serangan kalimat menyakitkan.
"Kenapa Kafka bilang gitu?" tanyanya dengan nada lemah, tangannya meremas seatbelt yang ia kenakan.
"Kenapa, loe nggak terima?" bentak Kafka. Kesabarannya sudah habis hari ini dalam menghadapi Yashinta.
"Saat gue tiba-tiba ngajak loe pacaran, loe pernah nolak gue? Enggak, 'kan. Loe nerima gue gitu aja. Apa namanya kalo bukan murahan, gampangan?"
Yashinta mengusap pipinya yang basah dengan kasar. Ia tidak menyangka Kafka akan tega berkata seperti itu padanya. Yashinta merasa pria itu sudah kelewat batas dalam memperlakukannya.
Tapi anehnya, Yashinta tidak bisa marah pada Kafka. Herannya, ia sama sekali tidak bisa membenci pemuda itu. Tidak bisa.
"Kenapa Kafka tega sama Yas? Yas tulus sayang sama Kafka, lagian kalau nolak Kafka saat itu Yas enggak tega. Yas nggak mau nyakitin perasaan Kafka." sahutnya dengan isakan tertahan.
__ADS_1
"Yas cinta sama Kafka, sebelum Kafka nembak Yas juga Yas kan udah lama suka sama Kafka. Jadi Yashinta nggak punya alasan buat nolak Kafka."
"Bukan karena Yas murahan, Kafka." ocehnya, pilu. Sedangkan Kafka hanya diam dengan kedua tangan yang bertumpu di atas gagang stir. Mengabaikan Yashinta yang menangis di sampingnya.
"Maafin Yas. Kafka." ia menggapai tangan Kafka untuk digenggam. Pemuda itu langsung menepisnya dengan kasar, membuat perasaan Yashinta kian terluka. Kafka sama sekali tidak mau menatap ke arahnya.
"Kalo Kafka marah, Yas nggak bakal lagi ngelarang-larang Kafka. Kalau Kafka emang nggak suka, Yas bakal biarin aja Kafka ngelakuin apapun yang Kafka mau."
"Apapun yang Kafka suka."
"Jangan marah, yah Kafka." bujuknya pada pemuda yang hanya diam mematung itu.
"Maafin Yas, yah, Kafka." gadis itu memohon dengan air mata yang menggenangi pelupuk matanya. Tapi yang ia dapat dari Kafka justru sebuah kata yang membuat Yashinta tidak kian menyangka.
"Turun!" intruksi Kafka tanpa menoleh sedikitpun pada Yashinta yang mengiba di sampingnya.
Yashinta diam untuk mencerna perkataan Kafka. Air matanya masih terus meleleh membasahi pipi, sekarang kian parah karena Kafka terlihat serius dengan intruksinya.
Yashinta menggelengkan kepala. Kafka hanya bermain-main saja, bukan? Dia tidak akan benar-benar menurunkan Yashinta di tengah jalan bukan?
"Gue bilang turun!" Kafka mengulang perintahnya, kali ini pria itu menatap Yashinta dengan sorot menyeramkan yang membuat gadis itu gentar. Wajah Kafka di hadapannya menghilang ketika air menggenangi matanya.
"Loe bilang loe mau nurut, 'kan?" Kafka berkata dengan senyum smirk.
Mengangguk samar, perlahan Yashinta melepas seatbeltnya dengan wajah sendu dan pasrah. Ia kira, hari ini akan dilewatinya tanpa sedikitpun masalah dengan Kafka. Nyatanya takdir berkata lain saat sekarang Yashinta benar-benar terpukul dengan kalimat yang dilontarkan Kafka sejak tadi.
Kafka sudah terlalu jauh menyakitinya. Kafka sama sekali tidak memikirkan perasaannya. Pemuda itu sama sekali tidak perduli dengannya.
Ketika Yashinta bersiap turun dari mobil dengan harapan Kafka akan berubah pikiran dan menahannya, rupanya hal itu hanya menjadi harap yang sia-sia bagi Yashinta.
TBC
__ADS_1