Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Selingkuh


__ADS_3

"Jadi selama ini, kenalan yang loe maksud. Dia kakak gue?"


"Jadi selama ini loe deket sama cewek gue?"


Gibran hanya menatap kepergian Yashinta dengan pasrah saat Kafka menarik gadis itu menjauh darinya. Bunda yang berada di sana tampak kebingungan, sepertinya ia mengerti dengan situasi yang tengah terjadi, sehingga ia meraih tangah putra sulungnya.


"Yashinta sama Kafka sudah beberapa bulan pacaran." beritahu Bunda, Gibran hanya menatap Bunda dengan sorot sayu.


"Salah Bunda karena nggak ngenalin pacar Kafka sama kamu." Bunda menenangkan. Tidak ingin Gibran merasa bersalah. Gibran hanya mengangguk samar, mengusap punggung tangan Bunda dan mengingat lagi wallpaper ponsel Yashinta.


Sekarang ia ingat, jika Kafka pun memasang wallpaper yang sama. Gibran mengumpati dirinya sendiri, seharusnya ia menyadari hal itu. Namun ia terlambat dan justru mempermalukan dirinya sendiri.


Kali ini pria itu mendesah, bagaimana mungkin Yashinta berpacaran dengan adiknya. Bagaimana mungkin wanita yang ia cintai ternyata adalah adik iparnya.


****


"Kafka, lepas!"


"Sakit!" keluh gadis itu, memegangi pergelangan tangannya yang memerah karena cekalan Kafka.


"Masuk!"


Yashinta menatap pacarnya dengan mata berkaca-kaca. "Masuk Yashinta!" Kafka mengulangi perintahnya dengan penuh penekanan. Setengah kesal, Yashinta menurut, mendudukan dirinya di kursi samping kemudi dengan gerakan kasar.


Air mata yang jatuh membasahi pipinya ia seka dengan punggung tangan. Marah, Yashinta sangat marah dan kesal. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa pada pria di sampingnya yang mulai melajukan mobil, meninggalkan parkiran restoran. Bahkan Yashinta tak berpamitan pada Bunda dan Gibran. Kafka membawanya pergi begitu saja tanpa pertimbangan.


Di sampingnya, Kafka mengemudikan mobil dengan pikiran yang berkelana. Mengingat lagi bagaimana saat pertama kali ia mengetahui jika Yashinta memiliki seorang kenalan. Yang dalam waktu singkat dapat akrab dengan gadis itu.


Kafka menginjak rem mobil, membuat mobil berhenti tiba-tiba, tubuh Yashinta sedikit terhuyung ke depan namun gadis itu tidak proyes. Hanya satu hal yang terlintas di benaknya. Apa Kafka akan menurunkannya di tengah jalan, seperti yang pernah pria itu lakukan?


Ia menoleh pada Kafka yang menengadahkan tangan padanya. "Apa, Kafka?"


"Hp loe!"


Yashinta menyerahkan ponselnya sekalipun tahu apa yang akan pacarnya lakukan. Kafka membuka aplikasi chat, melihat nama kontak Malaikat yang berada tepat di bawah nama Kafka sebagai pesan yang disematkan. Pria itu berdecih membaca story chat pacar dengan kakaknya.


Kemudian Kafka beralih menuju daftar panggilan. Ia tertawa sumbang. Mengingat lagi malam dimana ia tak bisa menghubungi Yashinta, rupanya gadis itu sedang melakukan panggilan dengan Gibran. Kafka yakin id Masha di ponsel Gibran adalah kontak Yashinta.


Pria itu lagi-lagi berdecih saat mengingat kejadian tempo lalu di gedung bioskop. Sepertinya Kafka mulai yakin jika saat itu ia memang tidak salah lihat. Itu memang Gibran dan Yashinta. Rupanya memang mereka.

__ADS_1


Bahkan mereka menonton film bareng?


"Udah berapa lama loe selingkuh dari gue?" Kafka bersuara dengan tuduhan berdasarnya, Yashinta tampak terkejut mendengar hal itu dari Kafka.


"Maksud Kafka, apa?" raut wajah gadis itu tampak keheran-heranan.


"Udah berapa lama loe selingkuh sama Gibran?"


"Yas nggak selingkuh Kafka, Yas sama Mas Gibran cuma temenan aja!"


"Kalo cuma temenan kenapa tiap hari harus telponan? Kenapa mesti tiap hari chatingan?"


"Kenapa juga loe harus ke apartement Gibran!" Kafka berapi-api dan membuat Yashinta kian terkejut karena pria itu mengetahui hal tersebut. "Loe pernah ngapain aja sama Gibran, huh!" tuduhan Kafka kian kelewatan. Membuat linangan air mata Yashinta kian tak terbendung dan jatuh deras dengan bebas.


"Kenapa Kafka jahat banget sama Yas!" gadis itu berteriak.


"Loe pernah ngapain aja sama Gibran!" Kafka mengulang pertanyaannya dengan suara yang tak kalah meninggi pula.


"Yas nggak pernah ngapa-ngapain!"


"Bohong!"


"Loe ketemu Gibran di sana terus kalian janjian, huh?"


"Loe ngasih tubuh loe ke Gibran?" Kafka tampak marah. Sedangkan Yashinta tampak tidak berdaya, ia juga tidak bisa melawan sekalipun dirinya tidak melakukan kesalahan. Ia tidak pernah tahu jika Kafka dan Gibran bersaudara.


Ia juga tidak pernah melakukan hal kelewat batas dengan Gibran. Kecuali ..., kecuali ciuman itu, dan mengingatnya sekarang membuat Yashinta merada bersalah pada Kafka.


"Yas sama Mas Gibran nggak ngapa-ngapain Kafka. Demi Tuhan Yas nggak tahu kalau Kafka sama Mas Gibran sodaraan. Yas nggak selingkuh!" gadis itu menjelaskan dengan tangis. Namun Kafka tampak tidak perduli. i membuka kaca jendela mobil. Melempar ponsel Yashinta begitu saja. Membuat gadis itu hanya mematung menatap keluar kendela.


"Mulai sekarang, loe nggak usah berhubungan lagi sama Gibran!" intruksi Kafka yang kemudian melajukan mobilnya. Yashinta hanya pasrah di tempatnya, ia hanya bisa menangis sepanjang jalan bahkan hingga tiba di depan gerbang rumahnya.


Yashinta keluar dari mobil Kafka tanpa mengucapkan sepatah katapun, begitu juga Kafka yang tak berbicara apapun atau setidaknya meminta maaf pada Yashinta atas tindakan kasarnya itu.


Setelah Yashinta turun, Kafka melajukan mobilnya meninggalkan Yashinta. Ada segumpal kesal di hatinya. Entahlah atas dasar apa. Entah karena Yashinta berhubungan dengan Gibran, atau mungkun karena Gibran yang tampak jatuh hati pada Yashinta.


Satu hal hang pasti bagi Kafka, jika ia tidak ingin melihat dua orang itu bersama.


Yashinta spontan berjongkok di tempatnya. Menangis sejadi-jadinya sambil memeluk lutut dan membuat satpam rumah yang sedang berada di pos-nya kebingungan melihat anak majikannya itu.

__ADS_1


****


Kafka memarkirkan mobilnya dengan asal di pelataran rumah, begitu keluar ia hanya menatap mobil Gibran yang juga berada di sana. Kakaknya itu pasti mengantarkan Bunda dan saat ini masih berada di rumah.


Kafka mendesah, tapi mau tak mau tetap melangkah masuk ke dalam rumahnya. Waktu menunjukan pukul sepuluh malam dan rumah tampak sudah sepi. Bunda juga sepertinya sudah berada di dalam kamarnya.


Kafka menapaki anak tangga menuju kamarnya, ia segera masuk dan menutup pintu kamar. Begitu berbalik, ia mematung menatap Gibran yang duduk di meja belajarnya dengan sebuah buku di tangannya.


Pria itu menutup buku saat mendapati sang pemilik kamar tiba, kemudian menaruh buku di atas meja belajar Kafka, mengambalikannya ke tempat semula.


"Kamu nganterin Yashinta sampai ke rumah?" tanya Gibran. Jujur ia panik saat mendapati dua orang itu tidak ada di luar restoran dan bahkan mobil Kafka juga tidak berada di tempatnya. Ia takut Kafka berbuat hal macam-macam mengingat jiwa Kafka hanyalah anak muda yang seringkali menyelesaikan masalah dengan emosi.


Tetapi Bunda berhasil menenangkannya dan membuat Gibran bertahan di rumah untuk menunggu kepulangan Kafka dan berbicara dengan adiknya itu. Bagaimanapun, Gibran ingin segera meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.


"Bukan urusan loe!" Kafka menyahut acuh dan melepas jas sport hitam yang dikenakannya dan melemparnya ke atas tempat tidur. Menyisakan sebuah kaos hitam di tubuhnya.


"Mas sama sekali nggak tahu kalau Yashinta itu pacar kamu." sahut Gibran. Ia tetap akan berbicara sekalipun Kafka tidak ingin mendengarkannya.


"Mas kenal dia sebulan yang lalu. Mas nolong dia saat dia sendirian di tengah jalan malam-malam." sambungnya. Sesaat Kafka mematung, mengingat kembali kejadian di mana ia menurunkan gadis itu di jalanan sepulang latihan dari markas Alley Youth.


Kafka memejamkan matanya sesaat. Secara tidak langsung, dialah yang menjadi perantara untuk mempertemukan dua orang itu.


"Kami menjadi akrab karena ternyata Yashinta anak Pak Andri Wiraguna. Perusahaan kita sudah menjalin bisnis berahun-tahun dengan perusahaannya." sahut Gibran lagi.


"Mas merasa Yashinta gadis yang baik. Dia ceria, terbuka, jujur sama perasaannya dan Mas–"


"Jatuh cinta sama dia?" Kafka menyela dengan cepat dengan pandangan dalam satu garis lurus pada Gibran. Gibran tampak menghela napas, kemudian mengangguk.


"Mas jatuh cinta sama Yashinta. Selama beberapa jam ini setelah tahu bahwa Yashinta pacar kamu, Mas pikir Mas akan bisa ngerelain perasaan Mas buatnya. Tapi ternyata enggak." panjang lebar Gibran, menciptakan kepalan tangan Kafka hingga menampilkan buku-buku di jemarinya.


"Loe bego mas. Loe masih tetep jatuh cinta sama cewek yang jelas-jelas pacar adek loe. Apa di luaran sana nggak ada cewek selain Yashinta?"


"Banyak, tetapi enggak ada yang seperti Yashinta. Dan Mas hanya jatuh cinta sama Yashinta–pacar kamy" ungkap Gubran yang membuat Kafka terlihat kian marah.


Gibran sempat terdiam beberapa saat dan menundukan pandangannya hingga kemudian ia menatap adiknya dengan raut pasrah.


"Kafka, untuk kali ini Mas nggak akan ngalah sana kamu. Maaf."


TBC

__ADS_1


__ADS_2