
"Kalo Kafka marah, nggak papa. Biar Yas pulang sendiri aja." gadis itu tersenyum pada Kafka yang bahkan tak menoleh sedikitpun padanya.
"Tupperware Yas mana Kafka?" tanyanya, bersiap untuk turun.
"Gue buang!" sahut Kafka, spontan. Tampak tidak perduli sedikitpun.
"Kenapa di buang? Yas udah bilang jangan hilang kenapa malah dibuang, Kafka?" nada bicara Yashinta bergetar.
Kafka menoleh dengan wajah sinis.
"Penting gue bilang kenapa gue buang?"
Yashinta berusaha keras menahan air matanya agar tidak kembali jatuh di hadapan Kafka. Gadis itu hanya tersenyum meski pelupuk matanya menggenang.
"Kafka buang di mana? Biar nanti Yas cari. Tupperware itu penting buat Yas!" gadis itu berkata dengan tenang.
"Segimana penting tupperware murahan itu buat loe?" cibir Kafka yang justru membuat Yashinta menghela napas, kemudian tetap mempertahankan senyumnya.
"Mungkin bagi Kafka emang murahan dan nggak berarti apa-apa. Tapi bagi Yas, itu penting. Sejak kecil, kalo sekolah, almarhumah mama sering siapin bekel buat Yas di tupperware itu."
"Makannya Yas sayang banget sama tuperwarenya, itu kenang-kenangan dari mama. Kalo Yas sedih, Yas ajak tupperware itu ngobrol Kafka. Sekarang Yas lagi butuh." Yashinta menceritakannya seolah tanpa beban, ia berbicara panjang lebar sekalipun Kafka mendengarkannya tanpa minat.
Kafka hanya diam, tapi ia merasa ada bagian tubuhnya yang sakit mendengar penuturan Yashinta. Kenapa gadis itu selalu memiliki kisah memilukan? Dan kenapa juga gadis itu adalah pacarnya?
"Kafka hati-hati." sahut Yashinta setelah membuka pintu mobil.
Setelah Yashinta turun dari mobilnya. Kafka sempat diam sesaat, merasa ragu meninggalkan gadis itu di tengah jalan. Tapi, beberapa detik berikutnya, Kafka menggelengkan kepala, menepis pikirannya dan memilih untuk tidak perduli. Ia melajukan mobil begitu saja dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Yashinta sendiri meski waktu sudah larut malam.
Yashinta menatap kepergian mobil Kafka dengan berusaha menahan air matanya. Sampai ia berjongkok di sana, memeluk lutut dan menundukan kepala, menangis sejadi-jadinya di pinggir jalan. Hatinya sakit, benar-benar sakit.
Ia tidak mengira Kafka akan tega menurunkannya di jalanan malam-malam seperti ini. Dan Yashinta lebih tidak menyangka lagi dengan Kafka yang seenaknya saja membuang barang berharga miliknya.
Apa namanya jika bukan jahat? Tapi Yashinta sangat menyayanginya, Yashinta tidak bisa marah pada Kafka, meski hanya sedikit saja.
Angkutan umum yang membawa Yashinta terus melaju. Gadis yang berada di dalamnya hanya diam melamun dengan wajah lusuh. Ia Yashinta, dan ia harus kuat. Ia tidak boleh terus bersedih.
Yashinta mencoba tersenyum, menguatkan dirinya sendiri jika ia baik-baik saja. Dan apa yang dilakukan Kafka hanya khilaf semata. Ia yakin jika pria itu hanya sedang marah saja padanya.
"Dek, berhenti di mana?"
Yashinta tersadar saat sopir angkot perlahan menghentikan mobilnya.
"Dari tadi kita cuma muter-muter aja." sambungnya, sedikit kesal.
"Kita di daerah mana, Pak?" Menengok keluar dan ia tidak mengenali daerah tersebut.
__ADS_1
"Yah, rumah Yas bukan di daerah sini Pak." gadis itu baru tersadar karena sepanjang perjalanan ia hanya melamun.
"Yah, gimana, Dek. Saya udah selesai narik, dari tadi juga bawa si adek bolak-balik terus, 'kan?"
Yashinta menepuk kepalanya sendiri, kemudian membayar ongkos dan turun dari angkot setelah mengucapkan terimakasih. Ia merasa ada nyeri di bagian kepalanya.
"Yas di mana, ya? Yas nggak kenal tempat ini." Yashinta menatap sekitar, jalanan sepi yang mencekam membuatnya ketakutan.
Gadis itu mulai gelisah, ia berada di daerah yang sepi malam-malam begini.
"Tenang Yas, tenang. Ambil hape, minta tolong Papah buat jemput."
Yashinta merogoh ponselnya di saku seragam, dan ia tidak tau harus berkata apa saat ternyata batrai ponselnya habis. Persis seperti dalam sinetron. Yashinta melakukan hal yang sama saat dirinya ditinggalkan oleh Kafka, berjongkok dan memeluk lututnya sambil menangis.
Ia tidak tau apa yang harus dilakukannya sekarang, atau mungkin sampai pagi nanti. Tidak ada satupun kendaraan yang lewat di sana. Ia hanya bisa berharap agar ada seorang malaikat yang menyelamatkan dan membawanya pulang ke rumah dengan selamat.
Yashinta memanjatkan doa seperti itu. "Mama, Mama bisa kirimin malaikat, 'kan buat Yas biar Yas bisa pulang."
"Yas mau ketemu Papa."
**
"Iya, Pak. Saya sedang dalam perjalanan pulang, tapi sepertinya. Hallo, hallo ......," sambungan terputus, membuat pria berwajah tampan dengan garis rahang tegas itu menggerutu ketika mendapati ponselnya yang habis batrai.
Pria itu—Gibran membanting ponselnya yang habis batrai ke kursi penumpang di sampingnya. Ia harus berputar arah, tubuhnya butuh istirahat sekarang dan ia harus segera pulang.
Gibran melihat sekelilingnya, jalanan sepi yang rawan penampakan membuatnya merinding, ia mengedarkan pandangannya ke semua arah, biasanya rasa takut justru membuatnya semakin penasaran untuk melihat semua sudut tempat.
Mata Gibran melotot saat sosok wanita berjalan ke arah mobilnya dengan tampang acak-acakan. Gibran baru akan menghidupkan mesin mobil saat sosok itu justru mengetuk kaca jendela mobilnya, membuatnya terkejut karena sosok wanita itu dengan cepat sudah berada di dekat mobilnya.
Beberapa kali Gibran membaca surah-surah pendek dari al-qur'an yang ia hafal, tapi sosok itu tak kunjung menghilang.
Sementara disisi lain, sosok yang Gibran kira adalah hantu itu, Yashinta. Gadis itu harus merasa beruntung karena ada mobil yang melintas, merasa mobil itu justru berhenti, Yashinta memilih untuk menghampirinya dan meminta tolong.
Tapi sayang, saat pengendara mobil itu justru tak mengidahkannya.
"Omm, Mbak, Pak, tolong Yas!" teriaknya sambil mengetuk jendela mobil karena ia tidak tau siapa sopir yang berada dalam mobil tersebut. Entah laki-laki atau perempuan, mungkin transgendre. Atau berapapun usianya Yashinta tidak tau.
"Oooooomm!"
"Mbaakkk!"
"Buuuuuu."
"Astaga!"
__ADS_1
Gadis itu berteriak sambil terus mengetuk kaca jendela mobil. Hanya mobil tersebut yang menjadi harapannya.
"Ini Yashinta, bukan kuntilanak kok."
Tampaknya Yashinta harus benar-benar menyerah saat mobil itu justru mundur meninggalkannya. Dalam satu hari, untuk ketiga kalinya Yashinta mengulangi tindakan yang sama. Ia berjongkok memeluk lututnya sambil menangis.
"Aw," Yashinta menyentuh keningnya, ada darah segar di sana. Yashinta berdecak, ini pasti karena tadi saat di dalam angkot ia sempat terbentur kursi kemudi.
Yashinta semakin terisak.
Sampai ia merasa tepukan di bahu dan kemudian mengangkat pandangannya.
**
Sudah setengah perjalanan, Yashinta terus menerus mengucapkan terimakasih pada Gibran yang mau menolong dan mengantarkannya pulang.
Benar, saat tadi Gibran memundurkan mobilnya untuk kabur meninggalkan Yashinta karena mengira gadis itu adalah hantu, Gibran terus memperhatikannya meski takut. Dan ia melihat kaki gadis itu yang menapak ke tanah saat terkena cahaya lampu mobil, sehingga ia melajukan mobilnya menghampiri gadis itu dan bertanya mengenai keberadaan Yashinta yang ada di jalanan malam-malam begini begitu yakin jika ia adalah manusia.
Setelah gadis itu menjelaskannya secara rinci jika ia melamun ketika di dalam angkot dan melewati perumahannya, Gibran mengerti, kemudian menawarkan diri untuk mengantarkan gadis itu pulang.
Meski ia tidak menyangka jika gadis yang dibawanya adalah titisan seorang gadis kecil yang selalu mengganggu beruang di tengah hutan. Mahkluk imut bernama Masha.
"Pokoknya Yas nggak tau gimana nasib Yas kalau enggak ada Om,"
Gibran menoleh dengan alis terangkat. Om? Sejak kapan ia memiliki keponakan macam ini?
"Yas tadi udah putus asa, takut Yas diculik, takut diganggu makhluk halus. Pokoknya yang serem-serem deh!" ocehnya dengan perasaan lega.
Gibran mendesah, gadis disampingnya benar-benar tidak dapat berhenti berbicara, membuat kepala Gibran pusing rasanya.
"Lewat kanan apa kiri?" ia mengalihkan pembicaraan saat berada di pertigaan jalan.
"Maunya kemana?"
"Alamat rumah kamu ke arah mana?"
Yashinta tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya, kemudian menyahut.
"Kanan."
Gibran melajukan mobilnya ke arah kanan, gadis itu mulai terdiam sampai ia menunjuk sebuah rumah megah dengan gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi.
Mobil Girban berhenti di pelataran rumah gadis itu, ia tidak menyangka jika gadis yang ditemukannya adalah anak orang kaya. Gadis itu berhasil membujuknya masuk ke dalam rumah megahnya sekalipun awalnya Gibran berusaha keras menolak.
TBC
__ADS_1