Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Will be a Memory (2)


__ADS_3

Kejadian itu berlangsung selama berkali-kali. Membuat Yashinta keki dan rasanya ingin membenci pria itu andai cintanya pada Gibran tidak terus menerus tumbuh setiap harinya.


Hari ini, Arumi datang membawa barang pindahan karena wanita itu akan tinggal dengannya setelah menikah nanti. Yashinta juga memang ikut memberi saran agar Arumi segera membawa barang-barangnya tersebut ke rumah.


"Bi, guci yang ini dipindahin aja. Ganti yah," intruksi Arumi, membuat Bi Rasti tampak kebingungan untuk menyetujui hal itu. Yang bisa dilakukannya hanya menatap guci cantik di bawah tangga tersebut.


"Tapi Nyonya,"


"Saya bawa guci dari rumah, kalau nanti dipajang dua-duanya di sini, posisinya kurang cocok."


"Ini, Nyonya. Aduh, gimana, yah ngomongnya." Bi Rasti tampak kian bingung, Yashinta yang baru saja turun dari tangga tampak hanya terdiam menatap kejadian tersebut.


"Ganti aja, Bi. Nggak papa."


"Ini milik Nyonya Lama," Nyonya Lama yang dimaksud Bi Rasti adalah almarhumah Mama Yashinta.


"Ini guci kesayangannya, Non Yashinta ngelarang buat dipindah-pindahin." sahut Bi Rasti dengan raut wajah tidak enak mengatakan hal tersebut, takut menyinggung perasaan calon Nyonya Barunya itu.


Arumi tentu saja terkejut, terlebih saat ia melihat Yashinta yang menuruni anak tangga. Andri yang baru saja tiba dengan Gibran yang mengantarkannya juga tampak hanya terdiam dan melihat situasi.


Arumi segera menghampiri Yashinta dan meraih tangan gadis itu. "Maafin Mama, Sayang. Mama nggak tau kalau itu guci kesayangan Mama kamu." sesalnya dengan raut bersalah.


"Seharusnya Mama nggak bersikap seenaknya. Maafin Mama sayang." Arumi benar-benar merasa bersalah dan takut jika Yashinta akan marah serta salah paham padanya. Terlebih, ketika anak itu hanya diam.


"Mama nggak berniat nyingkirin barang-barang Mama kamu." sahut Arumi lagi.


Tetapi sikap Yashinta justru di luar dugaannya. Gadis itu tersenyum dan balas menyentuh tangan Arumi. "Enggak papa. Mama nggak perlu minta maaf." apa yang dikatakan Yashinta justru membuat Arumi kian merasa tidak nyaman.


"Mama benar-benar minta maaf, Sayang." sesalnya lagi.


"Enggak papa, kalau Mama mau guci Mama ditaro di sini, biar guci Mama Yas yang dipindahin. Lagian udah lama di sini, pasti dia udah pegel." gadis itu menyahut dengan guyonan.


Apa yang Yashinta katakan berhasil membuat Andri tersenyum bangga menatap putri kesayangannya itu, begitu juga Gibran yang tersenyum senang melihat sisi dewasa Yashinta.


"Anak Papa ini, 'kan hebat." puji Andri seraya menghampiri Yashinta dan mengusap puncak kepalanya.


"Aku bener-bener nggak tahu." Arumi menatap calon suaminya penuh sesal. Andri menggelengkan kepala dengan senyuman, tak mempermasalahkan hal itu.


"Yashinta punya gudang khusus, dia nyimpen barang-barang berharganya di sana." beritahu Andri.


"Kamu mau nyimpen guci ini di sana Sayang?" tanya Andri. Yashinta menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Mau Papa yang pindahin?" tanya Andri lagi.


"Biar saya saja, Om." Gibran menawarkan diri. Andri mengangguk mempersilakan, dengan mudah pria itu mengangkat guci berwarna putih tersebut.


"Di mana gudangnya?" tanya Gibran, Yashinta menatap pria itu sebentar kemudian menunjukan jalan menuju gudang, Gibran mengekor di belakangnya.


Gudang rumah Yashinta berada tepat di belakang rumahnya setelah melewati taman dan kolam renang.


Gibran sedikit terkejut melihat gudang yang dimaksud, mungkin tempat itu jauh lebih cocok jika disebut markas. Ruangan yang cukup luas itu bahkan memiliki sofa dan juga televisi di sana. Barang-barang kesayangan yang dimaksud Andri juga tampak memenuhi seisi ruangan dan tersusun dengan rapi.


"Tv-nya udah rusak." beritahu Yashinta yang membuat Gibran beroh ria. Rupanya gadis itu sadar dengan apa yang Gibran perhatikan.


"Taro di sana aja, Mas." Yashinta menunjuk sudut dekat sebuah pintu.


"Ini ruangan apa?" Gibran bertanya setelah menaruh guci di tempat yang ditunjuk Yashinta.


"Itu gudang rumah. Kalo ini gudang Yas " gadis itu menyahut seraya menjatuhkan tubuhnya ke sofa.


Sementara Gibran yang sudah selesai meletakan guci mengamati seisi ruangan. Banyak terdapat barang-barang antik dan mainan Yashinta saat gadis itu kecil.


Juga banyak pula sebuah foto palaroid yang dipasang beberapa jajar dengan tali menghiasi salah satu dinding. Foto-foto tersebut adalah foto masa kecil Yashinta yang kebanyakan bersama dengan Andri, Bi Rasti dan juga Ranti.


Juga foto saat gadis itu duduk di bangku SMP dan SMA. Kebanyakan lagi adalah foto Yashinta dengan Kafka. Gibran hanya mengangguk-anggukan kepalanya, ia juga melihat banyak poster K-Pop yang disusun rapi di sebuah rak, sebagian lagi di pajang di plafon gudang.


Bukan dalam artian ia tidak bisa melupakan Kafka. Hanya saja, kenangan saat ia bahagia–meski dengan pria yang menyakitinya tidak mungkin dengan mudah Yashinta buang begitu saja.


Bagaimanapun, ia pernah sangat bahagia saat bersama Kafka.


Gibran tak merespond, hanya menganggukan kepalanya secara singkat dan melihat lagi barang-barang milik Yashinta. Gibran menyentuh meja di sana, tidak ada sedikitpun debu yang menempel, tampaknya tempat tersebut sering dibersihkan.


Gibran bahkan melihat sebuah piano di sana. "Kenapa di simpen di sini?"


"Udah rusak, Papa udah ganti yang baru." sahut gadis itu.


"Banyak barang-barang Kafka juga di sini." beritahunya kemudian seraya bangkit dari duduk, berusaha memanas-manasi untuk melihat reaksi pria itu.


"Saya tau, saya lihat." Gibran menyahut enteng, Yashinta mencebikan bibirnya. Kemudian bangkit dari duduk.


"Mas Gibran nggak cemburu?" Yashinta tidak tahan jika ia terus diam saja dengan reaksi Gibran. Ia merasa tidak nyaman dan perlu mengutarakannya pada pria itu. Yashinta merasa tidak dicintai.


"Mas Gibran diem aja perasaan. Nggak pernah cemburu sama cowok cowok yang deket sama Yas." kesalnya.

__ADS_1


"Mas Gibran nggak pernah larang-larang Yas kalau Yas ada kegiatan sama anak-anak cowok."


"Kemaren-kemaren pas makan siang bareng Kafka Mas Gibran biasa aja. Ini ngeliat barang-barang Kafka masih Yas simpen juga biasa aja."


"Kok Mas Gibran nggak cemburu?"


"Mas Gibran nggak sayang, yah, sama Yas?" panjang lebar gadis itu dengan berapi-api. Yang dibombandir hanya menatap tanpa bereaksi, membuat Yashinta kesal sendiri melihatnya. Ia tidak tahu sedang marah pada siapa sekarang saat orang yang diajaknya bicara seperti patung.


Gibran menaruh sebuah squishy minion ke tempat semula kemudian menghampiri Yashinta yang berdiri dan menatapnya dengan sorot marah.


"Yashinta, saya diam bukan berarti saya nggak cemburu." sahut pria itu dengan penuh pengertian. Lembut dan pelan namun mampu sampai dengan cepat ke hati terdalam gadis itu.


Yashinta hanya mengerjap di tempatnya menatap pria itu.


"Saya nggak mau bikin kamu merasa nggak nyaman kalau harus cemburu sedangkan saya tau kamu ini pelajar, kamu pasti punya banyak kegiatan yang harus ngelibatin laki-laki di dalamnya. Saya mengerti, jadi saya nggak mau egois."


"Tapi sekali pun Mas Gibran nggak pernah nitip pesan apapun sama Yas biar Yas nggak deket cowok kalau lagi di sekolah." gadis itu masih merajuk. Gibran yang mendengarnya lantas tertawa. Tentu saja membuat gadis itu mencebikan bibirnya.


"Kalau saya larang-larang kamu deket sama cowok lain dan nganggep kalau kamu itu cuma milik saya, itu artinya saya terobsesi sama kamu."


"Sedangkan saya cinta sama kamu." jawaban pria itu menyentuh hati selembut sutra Yashinta begitu dalam. Ia hanya merasakan pipinya memanas dan jantungnya berdebar hebat.


"Tapi kalau Yas macem-macem sama cowok lain, gimana?" gadis itu menantang.


"Kamu nggak bisa macem-macem kecuali sama saya." Gibran menyahut acuh lantas duduk pada sofa, begitu juga Yashinta ikut duduk di sampingnya.


"Macem-macem gimana?" gadis itu kebingungan. Tapi alih-alih menjawab Gibran justru mengusap puncak kepala Yashinta.


"Saya suka Yashinta yang hari ini berkali-kali lipat." Yashinta yang merasa jika terus dibiarkan maka rambutnya akan berantakan memilih menahan tangan Gibran. Ia tahu pria itu sedang mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa?"


"Saya suka sikap kamu sama Mama Arumi tadi. Kamu hebat." Gibran memuji, membuat gadis itu tersenyum bangga.


"Kamu manggil apa tadi?"


"'Mama Arumi'" Gibran menyahut percaya diri.


"Yakin?"


"Ya nggak papa dong." Gibran acuh, kemudian berbisik di telinga gadis itu. "Dia, 'kan calon mama mertua saya."

__ADS_1


TBC


__ADS_2