
Pagi-pagi sekali, Yashinta sudah membawa sport kesayangannya melaju menuju SMA Firgo. Jalanan yang masih sepi dimanfaatkannya untuk merasa nyaman dan lebih santai dalam mengemudi. Ia sudah menghubungi Ranti tapi gadis itu sudah naik bus dan menolak tawaran Yashinta untuk menjemputnya.
Suasana sekolah masih cukup sepi ketika Yashinta tiba di sana, parkiran mobil belum penuh seperti biasanya, terhitung hanya baru beberapa mobil yang terparkir berikut juga dengan mobil Yashinta. Lalu lalang para siswa juga masih sedikit.
"Yashinta,"
Yashinta yang baru akan melangkah pergi dari parkiran membalikan tubuh ketika seseorang memanggilnya, rupanya itu Ranti yang setengah berlari dari arah gerbang. Yashinta menyambut gadis itu dengan senyuman dan lambaian tangan hingga Ranti berdiri di hadapannya.
"Loe baru nyampe?" tanyanya dengan napas yang masih sedikit berantakan.
"Iya. Baru aja mau ke kelas." Yashinta menyahut singkat kemudian keduanya berjalan meninggalkan parkiran.
Tidak ada obrolan yang terjadi sebagaimana biasanya, dua gadis itu tampak hanya saling terdiam dengan langkah pelan. Sementara Yashinta sibuk mengingat kembali mengenai Saras, rasanya ia sudah terlalu lama mengabaikan gadis itu sejak pertemuan mereka di apartement Gibran tempo hari. Saras juga tak menghubunginya sama sekali setelah kejadian tersebut.
"Ranti," panggil Yashinta tiba-tiba dengan suara pelan.
"Kenapa?"
"Menurut Ranti, Yas harus gimana ke Saras?" ia meminta pendapat sang sahabat. Ranti diam beberapa saat. Jujur ia ingin mengatakan pada Yashinta agar tidak perlu memaafkan Saras, tetapi Ranti mengingat lagi malam dimana ia menginap di rumah Yashinta dan gadis itu sempat bercerita mengenai Saras.
Yashinta tidak akan merasa tenang sebelum berdamai dengan Saras, jadi mungkin langkah terbaik agar semuanya normal adalah dengan berdamai.
"Loe belum maafin dia?" Ranti bertanya, kali ini bahkan menghentikan langkahnya. Yashinta juga berhenti, koridor sekolah tengah sepi saat itu, hanya ada mereka berdua di sana.
Yashinta diam beberapa saat, tidak secara langsung menjawab pertanyaan Ranti. Ia yakin pada dirinya sendiri untuk berusaha memaafkan Saras, tapi rupanya sedikit berat, dan lebih berat lagi ketika Yashinta berpura-pura tidak memaafkan gadis itu.
Yashinta tidak ingin hidup dengan membenci Saras selamanya.
"Kalau terus ngibarin bendera perang sama Saras malah bikin loe sengsara, mungkin harusnya loe maafin dia aja." Ranti memberi saran, yang diberi saran hanya diam mematung.
"Gue tau seberapa jahatnya tindakan yang Saras lakuin sama loe, gue tau seberapa nyakitinnya dia. Tapi kalau loe balas dengan hal yang sama, gue jadi nggak bisa ngebedain kalian berdua." sambungnya panjang lebar, Yashinta mengerti, tapi ia hanya diam dan mendengarkan.
"Daripada loe, kayaknya kebencian gue ke Saras lebih besar karena dia udah berani macem-macem sama loe. Tapi gue juga nggak mau kalau hidup loe berjalan dengan nggak tenang karena loe nyimpen dendam." sahut Ranti lagi.
"Loe udah punya pengganti yang jauh lebih baik dari Kafka, kayanya itu udah cukup. Sebanding sama kesabaran loe selama ini." kali ini Ranti menyentuh bahu Yashinta dan mengusapnya.
__ADS_1
Yashinta tersenyum, apa yang Ranti katakan sudah membuatnya merasa jauh lebih baik. Ia seakan mendapat pencerahan yang penuh dengan keyakinan.
"Itu saran yang bisa gue kasih sebagai sahabat. Terlepas dari semuanya, keputusan ada di tangan loe." ujar Ranti lagi untuk kali terakhir.
"Makasih Ranti." Yashinta berhambur memeluk Ranti dengan tiba-tiba, cukup membuat gadis itu terkejut, tapi yang Ranti lakukan hanya membalas pelukan Yashinta dan mengusap punggung Yashinta dengan gerakan cepat.
"Yas seneng dengernya, Yas tahu apa yang bakal Yas lakuin." sahutnya setelah mengurai pelukan.
Yashinta berniat akan mendatangi rumah Saras sepulang sekolah nanti. Ia harus segera meluruskan permasalahannya dengan gadis itu agar semuanya segera selesai.
"Ranti kapan mau nginep lagi di rumah Yas?" tanya gadis itu kemudian saat keduanya sudah kembali melanjutkan langkah menuju kelas.
Yashinta menatap Ranti penuh perhatian namun Ranti hanya terdiam. "Nanti kapan-kapan aja, deh." Ranti menyahut setelah beberapa saat dengan senyuman.
"Kapan-kapannya Ranti masih, lama, yah?" Yashinta tampak keberatan. Biasanya, Ranti sangat mudah diajak menginap di rumahnya.
Ranti tidak menjawab, hanya tersenyum dan membuat Yashinta mencebikan bibir karena jawaban Ranti tidak meyakinkan.
Ranti sekilas menatap wajah Yashinta. Sepertinya akan berat jika ia menginap di rumah sahabatnya itu dan menjadi pendengar ketika Yashinta melakukan panggilan telepon dengan Gibran, atau yang paling parah ia menjadi obat nyamuk kalau-kalau Gibran berkunjung ke rumah Yashinta.
****
Anak-anak membubarkan diri dari kelas begitu bel tanda istirahat berbunyi. Yashinta juga ikut bergegas keluar dan menuju kantin setelah gurunya meninggalkan kelas, sementara Ranti sudah berlalu lebih dulu untuk cepat-cepat mengisi perut kosongnya.
Gadis itu berjalan pelan melewati kelas Kafka. Namun sayang, tubuhnya yang mungil tidak dapat melihat seisi kelas melalui jendela.
"Hey,"
Yashinta cujup tersentak saat Aris muncul dari dalam kelas ketika ia melewati pintu masuk. Tampaknya Aris juga akan pergi ke kantin.
"Aris," tegurnya. Pria dengan seragam yang dua kancing atasnya terbuka itu tersenyum semringah. Ekspresi yang tampaknya memang sudah melekat dalam diri Aris.
"Mau ke kantin, Yas?" tanyanya. Yashinta mengangguk-anggukan kepala, diam-diam ia mengintip ke dalam kelas 12 IPA 2 tersebut. Yashinta tidak mendapati Kafka, biasanya pria itu pergi ke kantin dengan Aris dan Sean. Sean juga tampak masih berada di mejanya dan berbincang dengan beberapa siswi, sementara Kafka tak terdeteksi.
"Mm, anak-anak di kelas Aris masuk semua?" tanya Yashinta. Aris sempat mengernyitkan dahi sebelum kemudian menyahut. "Kayaknya ada beberapa yang nggak masuk, deh."
__ADS_1
"Oh, banyakkan yang nggak masuk, yah?" tanyanya lagi yang membuat Aris kian heran. Sedangkan yang dimaksud Yashinta adalah Kafka, mengingat jika Kafka mengatakan dirinya sedang demam dan Yashinta membuktikna hal itu sendiri–andai hari ini Kafka tidak masuk maka mungkin Kafka sedang sakit.
Yashinta turut prihatin, mengingat Kafka sudah berbaik hati membantunya di perpustakaan kemarin.
"Maksud loe Kafka?" Aris bertanya dengan nada pasrah, ia sudah dapat menebak siapa orang yang sebenarnya ditanyakan oleh Yashinta.
Yashinta sempat terkejut mendengar pertanyaan tepat sasaran Aris. Tapi ia yang sudah tertangkap basah akhirnya hanya menganggukan kepala.
"Kafka nggak masuk, katanya mau nganterin Saras ke Airport." jawaban Aris tak kalah membuat Yashinta terkejut, pikirannya mendadak kacau dan berkelana entah kemana, tak tentu arah.
"A–airport?" Yashinta mencoba memastikan.
Aris menganggukan kepala dengan raut wajah bingung atas reaksi Yashinta. "Iya, katanya sih, Saras berangkat ke Luar Negeri hari ini."
"Oh, gitu. Makasih, yah, Aris." sahut Yashinta yang kemudian berbalik dan setengah berlari kembali ke kelas.
"Lah, katanya tadi mau ke kantin." decak Aris, ia menggelengkan kepala. "Katanya udah nggak sayang sama Kafka, masih aja ditanya-tanyain." sambungnya, tampak dongkol.
****
Yashinta menghubungi Gibran dengan raut panik saat melihat mobilnya berada di bagian depan dan ia tidak bisa mengemudikan mobilnya. Sementara ia tidak tahu apakah Saras sudah berangkat atau belum.
Yashinta juga tidak bisa menghubungi Kafka, dia sudah menghapus nomor pria itu.
"Mas Gibran kemana, sih?" Yashinta menggerutu saat sang pacar tak kunjung menjawab panggilannya, ia kesal meski diam-diam mengerti jika saat ini Gibran pasti tengah sibuk di perusahaannya.
"Mas Gibran," ia segera berseru begitu panggilan terhubung.
"Ada apa, Yashinta?"
"Kamu sudah kangen sama saya?" Gibran di sana menggodanya namun Yashinta merasa tak memiliki waktu untuk meladeni hal itu.
"Mas Gibran sibuk nggak?"
"Anterin Yas ke Bandara, Saras berangkat hari ini."
__ADS_1
TBC