
Usai makan malam dan masing-masing dari mereka membubarkan diri. Yashinta dan Gibran yang ditinggalkan memilih kembali ke kamar masing-masing. Semula Gibran mengajak gadis itu untuk ke tepi pantai menikmati angin malam dan taburan bintang di angkasa, tetapi Yashinta menolak.
Sangat disayangkan, padahal Gibran ingin menikmati waktu berdua dengan gadis itu.
"Kamu mau langsung tidur?" tanya Gibran saat sudah mengantarkan Yashinta di depan pintu kamarnya. Yashinta mengangguk dan tersenyum.
"Padahal saya ingin jalan-jalan." sesalnya, membuat Yashinta tersenyum tidak enak.
"Besok, aja, yah." kemudian Yashinta membujuk, kali ini dengan senyum manisnya yang pada akhirnya membuat Gibran mengangguk, mengulurkan tangan dan mengusap puncak kepala gadis itu sebelum kemudian membiarkan Yashinta masuk dan menutup pintu kamar.
Sebelum pintu kamar tertutup rapat, Gibran sempat menahan. Yashinta hanya menaikan alis dengan gestur bertanya. "Selamat tidur, Masha."
"Mimpi Indah."
"Emang Indah siapa? Mantannya Mas Gibran?" Gibran nengerutkan kening, tapi Yashinta justru tertawa. "Garing, yah?" tanyanya, Gibran yang kemudian mengerti tertawa.
"Kalau begitu mimpiin saya."
"Hmm." Gibran mengernyitkan dahi menunggu jawaban gadis itu sampai akhirnya ia tersenyum begitu melihat Yashinta menganggukkan kepala. Kemudian Gibran harus benar-benar rela saat melihat Yashinta menutup pintu dan meninggalkannya.
Cukup lama Gibran hanya berdiri menatap pintu kamar Yashinta. Ia tampak masih ingin berlama-lama dengan gadis itu menghabiskan waktu, namun tampaknya Yashinta sudah harus mengistirahatkan tubuhnya.
****
Sudah menjadi kebiasaan bagi Yashinta mengucapkan selamat tidur pada Kafka ketika menjelang tidur. Gadis itu sudah memegang ponsel dan bersiap menghubungi Kafka, sekilas lupa jika ia dan pemuda itu sudah bukan lagi dua orang yang tengah berpacaran. Mereka tak lagi memiliki hubungan.
Yashinta memaku dalam posisi berbaringnya, kemudian menaruh ponsel di samping bantalnya dan memejamkan mata.
"Selamat tidur Yashinta, selamat tidur Mas Gibran."
Ucapan itu berganti nama saat ia menyadari, jika hatinya tak lagi milik Kafka saat ini.
__ADS_1
****
Suasana sekolah sama seperti biasanya bagi Kafka. Bedanya hanya sedikit, ia tak melihat batang hidung Yashinta yang biasanya kerap kali mengganggu sekalipun Kafka seringkali acuh dengan kehadiran gadis itu.
Kafka yang bersandar pada tembok di samping pintu ruang guru menegakan tubuhnya saat pintu ruang guru terbuka dan menampilkan seorang gadis dengan seragam kebanggan SMA Firgo keluar dari sana.
"Udah?" tanya Kafka. Saras menganggukan kepala. Kafka balas mengangguk, kemudian keduanya melangkahkan kaki untuk berlalu dari sana.
Hening menyelimuti langkah kaki mereka. Usai kejadian di apartement tempo hari, hubungan keduanya memang sudah berakhir. Namun tak merubah sikap Kafka pada Saras terlebih ketika gadis itu membutuhkannya, Kafka tidak bisa abai begitu saja.
"Gimana?" tanya Kafka setelah cukup lama keduanya berjalan dalam keheningan.
"Bu Dania lumayan kecewa." Saras menyahut singkat. Mengingat kembali ekspresi yang wali kelasnya tunjukan saat ia mengatakan jika dirinya akan pindah sekolah.
Kafka mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti. Bagaimanapun, Saras termasuk rangking tiga besar di kelas. Wali Kelas mereka pasti menyayangkan kepindahan gadis itu. Padahal sekolah hanya tinggal satu semester lagi, satu langkah lagi bagi Saras untuk keluar sebagai lulusan SMA Firgo andai gadis itu memiliki pilihan untuk tetap tinggal.
Jujur Saras juga tidak ingin pindah, tidak ingin keluar dari SMA Firgo dan meninggalkan Jakarta, meninggalkan tanah kelahirannya. Tetapi hidup membawa banyak perubahan. Dan pada perubahan itu, ia tak memiliki alasan untuk tetap bertahan di tempat yang diinginkannya.
"Jabatan loe sebagai Wakil Ketua OSIS?" tanya Kafka lagi. Saras menoleh, tersenyum pada Kafka. Pria yang mati-matian berjuang untuk mendapatkan cintanya yang sia-sia. Saras sudah banyak mengecewakan Kafka.
Tak lama setelahnya, hening kembali terjadi, Saras menatap Kafka, membuat pria itu mengerutkan kening karena ditatap sedemikian lama.
"Gue banyak hutang budi sama loe, Ka. Gue juga banyak salah." ujarnya, Kafka hanya memerhatikan gadis itu tanpa minat menanggapi, karena apa yang Saras katakan tak akan membuat luka di hatinya sembuh begitu saja.
"Sorry, Ka."
****
Saras kembali ke kelas, menolak ajakan Kafka untuk menikmati waktu istirahat di kantin setelah situasi awkward di antara mereka. Ia berpapasan dengan Ranti yang tampak berjalan menuju arah kantin. Saat mata keduanya saling bertemu, semula Saras hanya akan melewati gadis itu.
Namun tidak demikian dengan nalurinya yang tiba-tiba saja mengingat Yashinta sehingga Saras memilih untuk berhenti tepat di hadapan Ranti.
__ADS_1
Ranti yang melihat gadis itu berhenti tak mengatakan apa-apa kecuali hanya menatap Saras. Menunggu gadis itu mengatakan maksud dari menghalangi jalannya.
Ranti sudah mendengar berita mengenai rencana kepindahan Saras dari SMA Firgo. Saras memang sudah pamit pada anggota OSIS dan berita itu merembet dengan cepat di seantero Firgo.
Belakangan, nama Saras memang kerap kali jadi perbincangan setelah kasus mengenai sang papa mencuat ke permukaan, ditambah dengan rumor yang saat ini tengah beredar jika gadis itu adalah orang ketiga di antara Yashinta dan Kafka. Orang yang menjadi penyeban kenapa Yashinta dan Kafka putus.
"Yas–Yashinta nggak masuk, yah?" Saras bertanya pada Ranti, tampak berusaha memberanikan diri.
"Iya." Ranti menyahut singkat. Membuat Saras kembali terdiam dan tampak bimbang. Ranti kembali hanya memerhatikan. "Cuma mau nanyain Yashinta doang?" tanya Ranti dengan tidak sabaran karena Saras hanya diam dan menyita waktu istirahatnya yang berharga. Padahal Ranti sudah kelaparan dan ingin segera ke kantin untuk makan.
"Kalau udah gue mau ke kantin." sambung Ranti yang kemudian melangkah pergi, namun Saras menahan tangan gadis itu. Otomatis membuat Ranti kembali berhenti dengan wajah yang tampak dongkol.
Melihat wajah Saras membuatnya mengingat bagaimana kesakitan yang Yashinta rasakan saat gadis itu benar-benar bermain belakang dengan Kafka–setelah semua kebaikan yang Yashinta lakukan padanya.
"Bilangin makasih gue buat Yashinta." sahut Saras. Ranti justru menaikan alisnya, menatap Saras dan tampak meremehkan.
"Enggak salah loe? Kenapa nggak bilang langsung ke Yashinta?" tanyanya, sinis. Saras terdiam, Ranti tahu hal itu tidak mungkin Saras lakukan setelah apa yang terjadi.
"Bukannya harusnya loe juga minta maaf sama Yashinta?" sambung Ranti, perlahan membuat Saras menaikan pandangan, menatap Ranti tepat di mata.
"Loe sadar nggak, sih, kalo loe udah nyakitin Yashinta?" Ranti tiba-tiba merasa emosi dan ingin banyak bicara.
"Gue akuin gue seneng Yashinta putus sama Kafka. Lagian Kafka juga cuma cowok berengsek yang nyakitin Yashinta. Tapi gue nggak tega ngeliat dia murung dan sakit hati, Saras." panjang lebarnya, tampak menggebu-gebu mengingat bagaimana Yashinta terluka karena ulah dua orang itu.
"Gue tahu." Saras menyahut singkat dengan nada pasrah, ia menyadari kesalahannya. Ia juga mengingat kebaikan-kebaikan yang Kafka lakukan.
"Yaudah. Kaloe loe tahu loe harusnya sadar, temuin Yashinta dan minta maaf sama dia. Jangan seenaknya, maen pergi gitu aja."
"Enak amat hidup loe!" desis Ranti, menatap Saras sebentar kemudian berlalu meninggalkan gadis itu.
Saras yang ditinggalkan hanya menarik napasnya dalam-dalam. Sekilas senyum Yashinta menghiasi isi kepalanya. Gadis penuh ceria yang ia sakiti setelah apa yang sudah dilakukannya.
__ADS_1
Sepertinya, bahkan untuk sekedar bertemu dengan Yashinta, Saras merasa tidak pantas.
TBC