Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Sebuah Kaos


__ADS_3

Yashinta sudah dapat merasakan suasana menyejukan dan menyenangkan begitu mereka tiba di lokasi perkemahan. Kafka dengan Yashinta tiba paling terlambat–karena sebuah insiden.


Mereka tiba saat anak-anak lain sibuk mendirikan tenda. Kafka mengirimnya pada sebuah kelompok siswi dimana ternyata ada Saras di sana. Yashinata tentu saja merasa senang, ia memiliki teman, awalnya ia mengira Saras tidak ikut karena gadis itu masih dalam keadaan bimbang saat Yashinta menanyakannya.


"Yas sama Saras satu tenda?" tanya Yashinta, tampak antusias. Sementara Kafka sudah bergabung dengan yang lain dan sibuk mendirikan tendanya.


"Oh, Yas. Enggak, tenda gue disebelah loe–" Saras menunjuk tenda yang sudah jadi.


"Gue cuma bantu aja di sini." sambungnya dengan senyuman. Jawaban yang cukup membuat Yashinta mengerucutkan bibir karena ternyata mereka tidak satu tenda.


"Hay, Yashinta." gadis yang baru saja keluar dari tenda yang masih didirkan itu menyapa Yashinta.


"Gue Erin, Kafka nitip loe ke gue. Kaya ajak bayi aja loe dititip-titipin." selorohnya dengan tawa, Yashinta hanya tersenyum menanggapinya.


"Loe nggak perlu sungkan. Gabung aja sama kita, yah." sambungnya.


"Kapan lagi tidur bareng anak pemilik yayasan sekolah." yang lain menimpali.


"Gabung aja, Yas." Yashinta mengangguk, mengucapkan terimakasih dan bergabung dengan mereka mendirikan tenda meski pada akhirnya anak laki-laki yang membuat tenda mereka berhasil berdiri.


"Saras bawa mobil sendiri atau naik bus?" tanya Yashinta. Saat itu, mereka tengah nongkrong di depan tenda dan menikmati camilan milik Yashinta. Bi Rasti membekalinya banyak sekali camilan dan berpesan ; "Buat Non Yas di sana, ajakin temennya. Biar pada ngajakin Non Yas."


"Iya, gue naik Bus." Saras menyahut. Semula Kafka mengajaknya, namun Saras menolak karena Kafka akan bersama dengan Yashinta. Ia tidak ingin terlalu mengenaskan dengan duduk di antara mereka dengan statusnya sebagai selingkuhan Kafka.


"Yas seneng Saras ikut," ujar Yashinta lagi, Saras tersenyum lebar. "Iya, gue juga seneng kemah kali ini loe ikut." Saras menyahut seraya menyodorkan sepotong keripik kentang pada Yashinta. Yashinta melahapnya dan mereka tertawa bersama.


Pengalaman pertama tersebut sangat menyenangkan bagi Yashinta. Ia dapat melihat anak-anak lain melakukan berbagai permainan sementara ia sendiri hanya menyaksikan kegilaan mereka dengan beberapa anak perempuan lain.


Mereka juga mengambil air ke sungai, jaraknya sangat dekat dengan area perkemahan dan semua yang dilakukan di sana terasa menyenangkan.


Yashinta menentang kamera ponsel saat mendapati angle yang bagus untuk berfoto. Ia mengambil beberapa foto dirinya sampai ia melihat Kafka tertangkap kamera ponsel di belakangnya. Yashinta menoleh dan melihat pria itu tengah mencuci tangan.


"Kafka," panggilnya seraya melambai, Kafka menaikan alis. Yashinta berjalan menghampirinya dengan hati-hati, membuat Kafka bangkit perlahan dan mengulurkan tangan pada Yashinta, takut gadis itu terjatuh.


"Kita foto." ajak gadis itu, tanpa persetujuan sang pacar ia segera menentang kamera ponsel dan mengambil gambar mereka dengan berbagai pose. Sementara dari jarak yang tak jauh dari keduanya, Saras menatap mereka.

__ADS_1


"Bagus nggak, Aris?" tanya Yashinta pada Aris ketika mereka duduk di sebuah pohon di mana beberapa anak lelaki tengah memasang lampu. Aris melihat hasil foto Yashinta dan Kafka di sungai tadi, ia mengangguk dengan alis turun naik.


"Keren, Yas." pujinya sembari mengacungkan kedua jempol.


Yashinta mengangguk mengiyakan, melihat-lihat lagi fotonya. Sepertinya saat ia pulang dan bertemu Gibran nanti, ia harus bercerita pada pria itu bagaimana dia sangat bahagia mendapat pengalaman ini.


"Yas,"


"Kenapa Aris?"


"Loe nggak cembiru?" tanya Aris tiba-tiba, Yashinta mengerutkan kening. Kemudian melihat arah tatapan Aris dimana Saras tampak sedang membantu Kafka memasng lampu dan sesekali keduanya terlihat bercanda juga saling tertawa.


Yashinta mengembuskan napas, kemudian menyimpan ponsel ke saku sweater. "Yas cemburu," jujurnya, Aris mengerutkan kening.


"Tapi Yas takut Kafka marah kalau Yas ngelarang dia deket sama Saras." sahutnya yang membuat Aris menyesal karena melemparinya pertanyaan tadi.


Agenda sore mereka berjalan-jalan di perkebunan teh, sementara sebagian anak menyiapkan perlengkapam barbeque untuk acara malam nanti.


Yashinta banyak menghabiskan waktunya dengan Kafka dan ia juga berbaur dengan teman sekelas Kafka. Semula kaku, tapi perlahan ia bisa beradaptasi.


Malamnya, ketika acara barbeque dimulai, sementara anak yang lain sibuk dengan kegiatan masing-masing, Yashinta masih berada di tenda, ia mengambil jaket yang dibawanya dimana jaket tersebut sama dengan yang diberikannya pada Kafka.


Sementara Kafka sendiri, ia asik bermain gitar dan mendendangkan berbagai lagu dengan kawan-kawannya dengan api unggun di tengah-tengah mereka.


"Cie Kafka. Bucin amat loe, Ka."


"Bucin amat si Kafka."


"Bukan kaleng-kaleng si Kafka."


"Sayang banget sama Yashinta, yah, Ka?"


"Cinta stadium akhir kayaknya."


Semula Kafka mengabaika hal itu, entah apa yang mendasari mereka meledekinya hanya karena bermain gitar dan bernyanyi ketika lewat di belakang Kafka.

__ADS_1


"Keren banget kaosnya, Ka." puji salah seorang yang baru tiba dan membuat Kafka menilik kaos pemberian Hafi, kemudian menggerakan kepalanya pada Aris, membuat Aris beranjak sedikit dan melihat punggung Kafka dimana beberapa huruf yang tersusun di punggung kaosnya membentuk nama Yashinta, menyala di antara huruf-huruf lain ketika dalam kondisi gelap.


"Gilak, Ka. Keren banget kaosnya."


"Boleh nih, buat anak-anak yang bucin banget kaya Kafka."


Anak-anak heboh meributkan kaos yang Kafka kenakan dan meledekinya budak cinta. Tapi hikmahnya, banyak dari mereka ingin memesan kaos tersebut di tempat Hafi.


Kafka memakai kaos tersebut karena dirasanya nyaman, ia sama sekali tidak tahu jika kaos dengan desain sederhana menurutnya itu punya arti mendalam bagi Hafi dan terlihat sangat kreatif.


"Anak-anak cowok ngeributin apaan, sih?" tanya Erin sebelum ia melangkah menghampiri mereka yang mengelilingi api unggun dan menikmati barbeque.


"Kafka."


"Kafka kenapa?" kali ini Yashinta yang bertanya, khawatir dengan pacarnya.


"Kafka make kaos di belakangnya ada nama Yashinta, jadinya anak-anak ribut kaya gitu." jawabnya yang sesaat membuat Yashinta terdiam kemudian perlahan mengukir senyumnya. Erin menyender bahu gadis itu.


"Bucin banget!" ledeknya, kemudian berlalu lebih dulu meninggalkan Yashinta yang berbunga-bunga di tempatnya. Ia tidak pernah tahu jika Kafka memiliki sisi romantis dan bahkan menunjukan hal itu di khalayak ramai, seperti saat ini. Rasanya sangat spesial bagi Yashinta dengan tindakan sederhana pria itu.


Yashinta mengendalikan diri, melangkah ke arah kerumunan orang-orang namun justru ia berpapasan dengan Saras yang tampak akan berlalu menuju tendanya.


Tapi bukan hal itu yang membuat Yashinta menatap Saras lekat-lekat, melainkan karena jaket yang Saras kenakan, jaket yang tampak sama dengan miliknya. Jaket yang tampak kebesaran di tubuh Saras.


Sama seperti Yashinta, gadis itu juga tampak bingung saat mengenakan jaket yang sama dengan Yashinta. Ia mendapatkan jaket tersebut dari Kafka saat tadi seorang anak cowok tidak sengaja menumpahkan air di kaos yang dikenakannya sebelum acara api unggun dimulai.


"Saras–"


"Yas, sorry. Tadi ..., tadi–"


Yashinta hanya diam menatap gadis itu, jujur ia merasa cemburu, kesal, sesak karena seratus persen jaket yang Saras kenakan adalah milik Kafka, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia hanya mengukir senyum tipis dan meneruskan langkahnya menuju Kafka.


Sementara Saras mematung di tempatnya, menatap punggung Yashinta yang berjalan menjauh darinya, dari jarak yang sedikit jauh Saras dapat melihat anak-anak heboh begitu Yashinta datang.


Mereka pasti masih membahas kaos yang Kafka kenakan dimana di belakangnya tertulis nama Yashinta. Huruf acak itu tampak menyala di tempat gelap.

__ADS_1


Saras adalah orang yang pertama kali melihatnya sejak saat Kafka menyerahkan jaket padanya, namun ia memilih diam dan membiarkan orang lain yang lebih dulu menyadarinya.


TBC


__ADS_2