
Beberapa waktu kemudian, Yashinta sudah berada di Rumah Sakit bersama Kafka yang tengah berbaring di atas brankar dengan wajah babak belur.
"Cerita sekarang!"
"Yas nggak mau tahu!" desaknya tanpa ampun. Kafka berdecak, padahal seluruh tubuhnya sangat sakit, tetapi Yashinta justru mendesaknya untuk banyak berbicara mengenai koronologi pengeroyokan yang terjadi padanya.
"Yas khawatir Kafka, Kafka ribut sama anak sekolah lain apa gimana? Kafka ribut lagi sama Sean?" genggaman tangannya pada Kafka kian erat dengan mata memerah, tak lama krystal bening memenuhi pelupuk matanya, siap meluncur kapanpun ia mengedipkan mata.
"Cengeng banget, sih, pacar gue." Kafka mengacak puncak kepala gadis itu. Menunjukan pada Yashinta jika ia baik-baik saja.
"Yas takut Kafka kenapa-napa. Sepanjang perjalanan tadi Yas khawatir. Yas takut Kafka ninggalin Yas." kali ini gadis itu bicara dengan isakan. Air matanya sudah membasahi pipi.
"Masa."
"Kafka nggak percaya?"
"Terus orang yang loe panggil 'Mas' itu gimana? Loe nyuruh dia nunggu lima belas menit buat apa?"
Yashinta membulatkan mata menatap Kafka, isakannya terhenti. Sesaat kemudian ia melihat air muka Kafka tampak berbeda.
"Kebetulan loe lagi deket cowok lain?" tanya Kafka dengan kerutan di dahi, bagai menyudutkan. Yashinta menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Tapi Kafka tampak tak percaya.
"Siapa Yashinta?" kali ini Kafka balik menggenggam tangan Yashinta dengan sangat erat.
"Bu–bukan siapa-siapa, Kafka. Yas nggak bohong."
"Siapa?" Kafka masih terus mendesak karena tidak percaya dengan apa yang Yashinta katakan padanya.
"Cuma kenalan Yas. Yang waktu itu pernah Yas ceritain." akhirnya Yashinta menyerah untuk menutupinya dari Kafka.
Kafka tampak smirk. "Oh, jadi kenalan loe itu cowok?"
"Gue udah bilang Yashinta, kalau dia cowok loe nggak perlu deket-deket sama dia!" Kafka tampak marah, Yashinta susah payah ingin melepas cekalan tangan Kafka tapi tidak bisa. Kafka tak memberinya ampu sama sekali.
"Seberapa sering kalian ketemu dan komunikasi, huh?" tanya Kafka, sarkas.
"Enggak sering Kafka. Kita nggak pernah sengaja ketemuan."
__ADS_1
"Jadi kalau sepuluh kali kalian ketemu semuanya kebetulan?"
"Kafka." air mata gadis itu kembali terjatuh, kali ini bukan karena khawatir dengan keadaan Kafka, namun ia takut melihat pacarnya itu.
"Yashinta, loe punya gue. Selamanya loe punya gue selama gue masih mau sama loe, loe punya gue. Cuma milik gue." Kafka menarik tangan Yashinta, membuat gadis itu berakhir dalam pelukannya yang tengah berbaring. Yashinta tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya pasrah dalam dekapan Kafka.
"Kafka beneran sayang sama Yas atau cuma terobsesi?" tanyanya dengan isakan.
"Loe nggak perlu tahu apapun, Yashinta. Loe cuma perlu jaga batasan sama cowok manapun dan inget satu hal. Loe bukan cuma milik diri loe sendiri."
Kalimat Kafka terus terngiang di kepala Yashinta sepanjang perjalanannya menuju sekolah, dan ia baru mengingat satu hal jika ia sudah membuat Gibran menunggu selama dua jam.
Yashinta baru tersadar, ia segera mengambil ponsel, menyeka air matanya dan mencoba menghubungi Gibran. Namun tidak bisa, pria itu tidak mengangkat telponnya. Membuat Yashinta merasa kian sedih, ia pasti sudah sangat membuat Gibran kecewa, padahal waktu pria itu amat berharga, dan Yashinta menyia-nyiakannya.
"Mas Gibran marah?"
***
Sementara itu, di perusahaannya. Gibran tengah fokus mendengarkan presentasi dari karyawannya di ruang rapat. Mengabaikan ponselnya yang sejak tadi bergetar.
Gibran memutuskan untuk segera ke perusahaannya ketika Yashinta yang ditunggunya tak kunjung datang. Mata pria itu menatap buku yang akan diberikannya pada Yashinta yang bahkan ia bawa ke ruang rapat.
"Pak Gibran, Pak Gibran."
Intan memilih menyentuh pelan bahu Gibran ketika pria itu tampak melamun. Padahal di depan sana, karyawannya yang selesai peresntasi sangat menunggu koreksi darinya.
"Hmm, kenapa?"
Gibran memijat pelipis saat semua mata tertuju padanya penuh tanya. Rupanya ia melamun dan mengabaikan rapat yang sedang berlangsung.
Pria itu kembali ke ruangannya usai rapat dibubarkan dan akan dilanjutkan minggu depan. Gibran tahu hal itu memberatkan, namun begitu ia juga tidak bisa memaksakan diri dan tetap melangsungkan rapat dengan kondisi yang tidak memungkinkan.
"Ponsel pribadi Pak Gibran dari tadi bunyi terus. Mungkin dari pacar Bapak." beritahu Intan seraya menyerahkan kedua ponsel milik Gibran.
Gibran yang semula menunduk mendongakan pandangan begitu mendengar Intan menyebutkan kata 'pacar'. Tapi Gibran tak merespond apapun, hanya menganggukan kepala dan membuat skretarisnya itu undur diri dan keluar dari ruangannya.
Gibran meraih ponsel pribadi miliknya. Belasan panggilan tidak terjawab dari Yashinta berada di urutan teratas dalam daftar panggilan. Gibran mendesah, berusaha tersenyum ketika ponselnya kembali berdering. Id Masha menghiasi layar ponsel.
__ADS_1
Gibran paham Yashinta memiliki alasan, namun beberapa waktu yang lalu, ego Gibran bertingkah dan ia sangat ingin marah karena merasa dipermainkan.
"Hallo Yashinta?"
"Mas Gibran di mana? Yas di apartemet Mas Gibran sekarang."
Gibran tampak terkejut mendengar apa yang gadis itu katakan, dengan cepat ia bangkit dari duduknya dan meraih buku yang sejak beberapa jam lalu terus ia bawa. Langkah lebarnya membawa ia menuju pintu keluar dengan ponsel yang masih menempel di telinga.
"Tetap di sana, saya ke apartement sekarang."
***
Kafka menyentuh ujung bibirnya yang berdarah. Bahkan luka yang diberikan Sean kemarin belum sepenuhnya pulih. Namun ia sudah harus mendapatkam luka lain yang jauh lebih parah.
"Gue nggak mau tahu, yah. Pokoknya loe harus bayar mahal karena ngebuat gue harus bolos sekolah hari ini." decak Aris seraya membantu Kafka untuk berbaring di bangku belakang mobil. Kafka menghubunginya saat ia tengah menikmati jam istirahat. Pria itu ingin dijemput di Rumah Sakit dan Aris yang setia kawan jelas tidak bisa menolak.
"Gue bayar nanti, loe butuh duit berapa?" sahut Kafka setelah Aris duduk di bangku kemudi.
"Gile, belagu bener lu!" decak pria itu. Kafka mengabaikan, rahangnya terasa sakit jika dipakai berbicara.
Pria itu mendudukan diri, mengingat lagi apa yang menimpanya dan membuat ia harus berakhir di Rumah Sakit.
Di perjalanan menuju sekolah pagi tadi, dua mobil sedan berwarna hitam menghadang mobil Kafka. Rupanya itu adalah anak buah papa Saras yang menanyakan keberadaan Saras padanya.
Jelas Kafka memilih bungkam daripada mengorbankan gadis yang dicintainya kembali masuk ke kandang serigala.
Kafka yang memilih hal itu jelas saja harus menerima konsekuensi dan harus bertarung dengan mereka, empat lawan satu. Mereka orang-orang pilihan dengan tingkat kemampuan bela diri yang tinggi. Sedangkan Kafka hanyalah anak muda yang memiki skil bela diri seperlunya, tak pernah di asah dan tidak memiliki teknik-teknik tertentu. Tentu ia kalah, beruntung mereka tidak memiliki minat untuk membunuhnya.
Tapi bukan hal itu yang bersarang di kepalanya, melainkan apa yang sudah ia katakan pada Yashinta beberapa saat lalu.
Kafka cemburu?
Pria itu berdecih, jelas tidak. Selama ini, Kafka seringkali menjaga jarak dari gadis itu, dari Yashinta. Selain karena ia tidak mencintai Yashinta, ia juga tidak ingin berakhir dengan jatuh cinta pada gadis itu dan menggagalkan misi awal untuk memutuskan Yashinta setelah enam bulan berpacaran.
Apa yang dikatakannya pada Yashinta jelas saja adalah bentuk perlindungan diri agar gadis itu tidak terpikat pada pria lain dan memutuskan hubungan dengannya sebelum enam bulan.
Jelas saja Kafka tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jelas saja Kafka tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ia korbankan bersama Yashinta demi Saras. Jelas tidak akan.
__ADS_1
TBC
Hmm, gimana yah Kafka ini. Aku memang bikin dia dengan karakter seberengs*k itu. Enggak bisa dirubah.