Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Sebuah Kenyataan


__ADS_3

Gibran melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ketika lampu mobilnya tidak sengaja menangkap sosok seorang gadis yang tengah berjalan di trotoar, pria itu memelankan laju mobil, menyipitkan mata saat dirasanya ia mengenali gadis itu.


Mobil yang perlahan menyamai langkahnya membuat gadis itu menoleh cemas, namun Gibran yang sudah yakin jika ia mengenali gadis itu lantas membuka kaca jendela mobilnya. Tampak membuat gadis tersebut terkejut dan panik dari sebelumnya. Ada rasa tidak percaya bertemu dengan pria itu malam ini.


"Hay," sapa Gibran.


"Kalau tidak salah, kamu temannya Yashinta?" tanya Gibran yang kemudian menghentikan mobil saat gadis itu juga menghentikan langkahnya. Gadis itu mengangguk.


"Kamu mau kemana malam-malam begini?"


"Pulang."


"Masuk, biar saya antar." suruhnya, membuat Ranti mematung di tempat. Ia tidak pernah menyangka jika akan dipertemukan dengan Gibran, terlebih pria itu sudah cukup lama tidak berkunjung ke restoran tempat Ranti bekerja.


Mungkin seharusnya ia merasa senang dengan hal yang saat ini tengah terjadi, siapa yang tahu jika mungkin itu kesempatan terakhir dalam hidupnya untuk duduk di mobil Gibran tepat di samping pria itu.


Tapi perlahan, saat mengingat Yashinta dan mengingat kedekatan antara sang sahabat dengan pria di hadapannya, nyali Ranti menciut. Ia takut kecewa, takut terluka dan sakit hati. Karena pada kenyataannya, sekeras apapun ia berusaha, ia tidak pernah sepenuhnya bisa melupakan Gibran, dan tidak akan pula memiliki pria itu di dalam hidupnya.


Jika saat ini ia duduk di samping pria itu. Maka perasaannya pada Gibran akan kian menjadi, Ranti takut tidak bisa mengendalikan perasaanya sendiri dan berakhir dengan sakit hati.


"Eng–nggak usah Pak, saya pulang jalan kaki aja. Deket kok."


"Sudah malam, nggak baik perempuan jalan sendirian. Ayo, biar saya antar aja." Gibran membujuk. Ia tidak mungkin membiarkan gadis itu berjalan pulang sendiri saat ia sudah terlanjur melihatnya.


"Ayo, saya nggak bisa biarin kamu pulang sendiri." bujuk Gibran lagi, sementara gadis itu hanya mematung di tempatnya. Tapi, ketika Gibran kembali menyalakan mesin mobil dan tampak menunggunya, Ranti tidak memiliki pilihan lain kecuali membuka pintu penumpang dan duduk di sana.


Untuk pertama kali baginya duduk di dalam mobil Gibran, tepat di samping Gibran dan mobil yang pria itu kemudian melaju menuju rumahnya. Seperti sebuah keajaiban.


"Kamu habis dari mana?" tanya Gibran, berbasa-basi.


"Oh, habis nganterin buku ke rumah temen." Ranti memang meminjam buku dari teman sekelasnya siang tadi dan malamnya harus segera mengembalikannya.


Gibran tampak menganggukan kepala, mengerti.


"Kalau saya nggak salah ingat nama kamu Ranti, 'kan?" tanya Gubran lagi, Ranti mengangguk samar meski sebelumnya sempat tersenyum miris karena bahkan Gibran nyaris tidak mengingat namanya.


"Bagaimana Yashinta?" tanya Gibran lagi yang kali ini membuat Ranti cukup terkejut.


"Yashinta?" gadis itu memastikan dengan bodohnya, Gibran mengangguk dan menatap gadis itu sebentar. "Akhir-akhir ini Yashinta bagaimana? Saya dengar dia putus sama Kafka." Gibran hanya ingin memastikan.


Sementara Ranti terdiam, mungkin berita putusnya Yashinta dan Kafka adalah hal yang baik bagi Gibran. Cukup menghantam perasaannya.


"Iya, Yashinta sama Kafka udah putus." jawab Ranti, Gibran menoleh kemudian tersenyum dan tidak bertanya lagi. Mungkin terkesan egois saat ia merasa senang dengan kehancuran hubungan sang adik dengan Yashinta, namun seperti yang sudah Gibran katakan. Jika Kafka memang tidak bisa membuat Yashinta bahagia, maka ia siap membahgiakan Yashinta. Seharusnya Kafka menjaga Yashinta dengan baik, bukan menyia-nyiakan gadis itu dan memberinya kesempatan.


****

__ADS_1


"Ras, tolong ambilin minum." Kafka berteriak pada gadis itu yang berada di dapur apartementnya, sementara ia sendiri sedang sibuk bermain game.


Tak lama, Saras datang dengan minuman kaleng di tangannya. Ia sempat melihat beberapa kaleng kosong di sekitar Kafka, terlihat berantakan. Saras kemudian melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul tiga sore, ia mengembuskan napas.


Sejak pagi, Kafka hanya bermain game dan fokus dengan stik ps-nya, sama sekali tidak perduli dengan kehadirannya dan membuat Saras bahkan tak memiliki kesempatan untuk bicara padanya.


Ia kemudian hanya duduk pada sofa setelah Kafka menerima minuman darinya, Saras menyangga kepalanya, terlihat sudah sangat bosan bertahan dengan Kafka di apartement pria itu.


"Ka,"


"Hmm?"


"Loe bisa berenti maen dulu, nggak?" Saras merasa kesal sendiri. "Tanggung, bentar lagi." Kafka asik dengan dunianya sendiri, hal itu berhasil membuat Saras mendesah kesal.


"Ka, gue bukan Yashinta yang sabar ngadepin loe yang kaya gini. Gue bukan Yashinta yang oke oke aja nemenin loe maen game seharian." ujar Saras. Sesaat membuat gerakan Kafka terhenti dan pria itu seperti mematung. Membayangkan lagi bagaimana Yashinta kerap kali menemaninya bermain game seharian dengan sabar meski sesekali mengganggunya.


Gadis itu selalu protes dengan manja tetapi Kafka tidak pernah memedulikannya.


"Gue harus ke luar negri." sahut Saras, Kafka tersadar. Mempause permainannya dan menatap Saras.


"Nyokap gue ngajakin tinggal di LA. Gue nggak bisa nolak, gue nggak mungkin ngebiarin dia tinggal sendirian di sana." cerocos gadis itu sedangkan Kafka hanya diam.


"Kenapa harus ke luar negri?"


"Karena semua tempat di sini luka dari bokap buat nyokap gue. Dia nggak bisa terus-terusan tinggal di sini."


"Terus gue? Hubungan kita? Gimana?" tanya Kafka. Saras diam, menatap Kafka kemudian turun dari sofa dan duduk lesehan di samping pria itu.


"Ka, loe ngerasa hambar nggak, sih, sama hubungan kita?"


"Maksud loe?" Kafka justru balik bertanya.


"Ka, harusnya loe sadar, kalo selama ini, perasan loe ke gue itu bukan perasaan cinta. Loe cuma kasihan sama gue. Loe cuma kasihan sama gue karena keluarga gue berantakan, karena gue nggak punya teman dan nggak bisa bersosialisasi sama yang lain."


"Loe cuma prihatin sama gue." panjang lebar Saras, berusaha meyakinkan pria itu jika sesungguhnya tidak ada hubungan yang perlu mereka bangun atas dasar cinta. Karena faktanya hal itu tidak ada.


Selama satu minggu menjalin hubungan, pada kenyataannya mereka bukanlah pasangan yang saling mencintai. Cinta hanya omong kosong di antara mereka.


"Loe nggak pernah cinta sama gue dan sebaliknya gue juga kaya gitu." mungkin Saras hanya kagum dengan perjuangan yang Kafka lakukan, karena tidak ada yang pernah melakukan hal seperti itu untuknya.


"Terus gimana sama perjuangan dan pengorbanan gue buat bisa sama sama, sama loe?"


"Harusnya loe sadar dan nggak perlu penuhin ide gila gue, Kafka. Gue yang salah karena ngajuin syarat nggak masuk akal sama loe."


Kafka diam, ia tak perlu mencerna apa yang Saras katakan karena ia sudah sangat mengerti dengan maksud gadis itu. Pada intinya, perjuangan dan pengorbannnya selama ini sia-sia. Kafka hanya membuang-buang waktunya dengan percuma.

__ADS_1


"Ka, harusnya loe juga sadar kalo loe jatuh cinta sama Yashinta." kali ini Saras menepuk bahu Kafka.


"Enggak ada orang yang ngertiin loe lebih dari Yashinta. Dan nggak ada orang yang mencintai loe melebihi Yashinta, Kafka."


"Kenapa selama ini loe nggak peka dan nutup mata?"


"Gue tau, semuanya bukan sepenuhnya salah loe, gue yang paling salah. Gue yang buat semuanya sedemikian kacau, dan gue nggak mau buat hidup loe lebih kacau lagi, Ka."


"Kita nggak bisa sama-sama. Dua orang yang nggak saling mencintai nggak mungkin bisa bersama, Kafka."


****


Yashinta mengumpulkan semua barang-barang di kamarnya yang berhubungan dengan Kafka untuk ia buang. Tidak ada yang perlu diharapkan lagi dari pria itu. Mengingat bagaimana Kafka segera menghampiri Saras setelah Ranti mencari makinya di toilet sekolah membuat perasaan Yashinta kian kesal.


Gadis itu membuka laci, mengambil sebuah kalung dengan liontin inisial K miliknya yang ia beli bersama dengan Kafka usai menonton film, kemudian tatapan Yashinta beralih pada sebuah topi yang ia simpan rapi di laci meja rias.


Yashinta mengambilnya dan mengingat pertemuannya dengan Gibran di pusat perbelanjaan saat itu. Keduanya terjebak bahkan sampai menonton film bersama. Tanpa sadar Yashinta tersenyum, mengingatnya sekarang membuat ia menyadari sesuatu hal, jika Tuhan tidak mungkin mempertemukan seseorang tanpa alasan.


Sekilas, Yashinta mengingat lagi apa yang Arumi katakan ketika mereka pulang meeting keluarga di restoran dua hari yang lalu saat Yashinta meminta pendapat Arumi mengenai kedekatannya dengan Gibran.


"Perasaan cinta itu nggak disangka-sangka, Yashinta. Banyak yang terlambat sadar sama perasaannya sendiri karena merasa gamang sama isi hatinya."


"Tapi, jangan sampai kita menyesal karena menutup hati dan nggak perduli terhadap perasaan seseorang."


"Kadang, nih, yah, kesempatan itu nggak dateng dua kali."


Yashinta menganggukan kepala mengingatnya, ia memasukan kalung inisial K-nya pada kardus berisi barang-barang yang berhubungan dengan sang mantan pacar atau bahkan barang pemberian pria itu.


Ia kemudian berbaring di atas tempat tidur dan menatap topi milik Gibran yang pria itu berikan padanya. Topi yang sudah menjadi miliknya.


Perasaan Yashinta pada Gibran masih gamang karena hatinya hanya untuk Kafka. Tapi sekarang, rasanya ruang di hatinya terbuka lebar untuk Gibran ketika Kafka berhasil ia keluarkan.


Tapi, dua hari ini setelah pertemuan mereka di restoran, Yashinta tidak pernah bertemu Gibran. Ponsel Yashinta juga sepi notif dari pria itu. Gibran tidak menghubunginya sama sekali, padahal Yashinta sudah mengatakan padanya jika ia dan Kafka sudah putus.


Yashinta merubah posisinya, miring ke samping kanan dengan kepala yang dipenuhi tanya, salah satunya ; "Apa Mas Gibran udah nggak suka lagi sama Yas, makannya dia nggak perduli sekalipun Yas udah nggak pacaran sama Kafka?"


Sementara itu, tanpa gadis itu ketahui. Gibran tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya dan mempersiapkan penerbangannya. Ia mendongak begitu mendengar pintu ruangannya terbuka.


Intan masuk, ia tersenyum pada sang atasan. Gibran mengancingkan kancing kemeja teratasnya, membuka kacamata anti radiasinya dan bangkit dari duduk.


"Klien kita sudah menunggu di ruang rapat." beritahunya, Gibran mengangguk. Menyambar jas di stan hanger dan mengenakannya.


"Oh, yah, Pak. Saya sudah pesan tiket pesawat untuk keberangkatan pukul sepuluh pagi besok." beritahunya lagi. Gibran sempat terdiam dengan raut wajah tak terbaca, menghela napas lantas mengangguk.


"Pak–Gibran yakin akan pergi?" Intan bertanya dengan ragu.

__ADS_1


"Bagaimana lagi, saya tidak punya pilihan lain." sahut Gibran yang kemudian tersenyum samar kemudian berlalu keluar dari ruangannya.


TBC


__ADS_2