Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Pertemuan yang Tak Diharapkan


__ADS_3

Kafka dan Yashinta masih saling mematung di posisi masing-masing hingga Kafka memilih lebih dulu melangkah dan meninggalkan gadis itu. Membuat Yashinta hanya menatap langkah kaki Kafka yang kian menjauh darinya.


Yashinta berusaha mengukir senyum, setelah memastikan Kafka benar-benar jauh dari jangkauannya, gadis itu mulai melangkah pergi, ia sudah membuat Gibran menunggu terlalu lama.


Yashinta segera masuk ke dalam mobil Gibran dengan cepat bahkan saat melihat pria itu hendak turun untuk membukakannya pintu mobil. Tingkah Yashinta tentu saja membuat Gibran terheran, gadis itu tampak mengawasi sekitar dan terlihat khawatir.


"Ada apa?" tanyanya kemudian saat gadis itu mulai menatapnya.


"Mas Gibran kenapa tiba-tiba datang ke sekolah Yas?" tanyanya, menyayayangkan hal tersebut karena Gibran tak mengabarinya lebih dulu. Tahu-tahu pria itu sudah menunggunya di depan gerbang.


"Kenapa?" Gibran bertanya dan merasa kian heran. Padahal bukan reaksi seperti ini yang ia bayangkan dari Yashinta. Ia kira gadis itu akan senang bahkan sampai memeluknya setelah beberapa hari mereka tidak bertemu.


"Kalau anak-anak nanti ngeliat, gimana?" protes gadis itu. Gibran tak bertanya, ia hanya mengerutkan kening karena tidak mengerti maksud Yashinta.


Melihat sang pacar tampak keheranan, akhirnya Yashinta hanya menghela napas. Ia memusatkan perhatiannya pada Gibran kemudian mulai buka suara. "Yas––Yas." Gibran mengerutkan kening dengan tatapan lekat pada gadis itu.


"Anak-anak nggak ada yang tahu kalau Yas udah punya pacar lagi." jujurnya dengan raut yang sedikit tidak enak, takut membuat Gibran tersinggung. Gibran mulai mengerti maksud Yashinta sekarang, jujur ia merasa kecewa, tapi yang dilakukannya hanya tersenyum penuh pemakluman.


"Cuma Ranti aja yang tahu." sambungnya. Kali ini raut wajahnya terlihat murung. "Maafin, Yas. Yas cuma nggak mau kalau orang-orang nganggep Yas cewek nggal bener. Masa baru putus udah punya pacar lagi." sambungnya lagi dengan pandangan yang terus tertunduk, tampak enggan menatap Gibran, ia malu sekaligus merasa jahat.


"Maafin Yas." sahutnya lagi, tampak menggigit bibir bawahnya. Ia merasa bersalah sudah membuat Gibran merasa tersinggung.


Gibran tersenyum, melihat gadis itu yang terus menundukan pandangan, Gibran meraih tangan Yashinta. "Nggak papa, saya ngerti."


"Maaf karena saya terlalu cepet ngajakin kamu pacaran." ujarnya menenangkan. Padahal jika dipikir-pikir, Yashinta lah yang membuat semua itu terjadi. Jika saja ia tidak mengejar Gibran ke Bandara bahkan sampai ikut ke Bali, mungkin mereka belum menjalin hubungan apapun saat ini.


Tapi baik Yashinta maupun Gibran tidak menyesali hal itu. Justru bagus karena akhirnya mereka dapat bersama.


"Nanti kapan-kapan kalau jemput, saya bakalan hubungin kamu lebih dulu." sambungnya, menghibur dengan tangan yang mengusap puncak kepala Yashinta ketika gadis itu mulai menatapnya.


Yashinta mengangguk dengan senyum manis yang terukir di bibirnya, membuat perasaan Gibran melega melihat hal itu. Tak lama, ia segera menghidupkan mesin mobil. Melajukan mobil menembus jalanan yang ramai.


****


"Kusut banget muka loe." tegur Hafi saat Kafka masuk begitu saja ke markas toko distronya dengan masih mengenakan seragam sekolah. Bahkan tas pria itu masih setia berada di punggungnya.


Kafka tidak menyahut, hanya membanting tubuhnya ke sofa langganannya dan memejamkan mata. Hafi yang tampak sedang mengotak-atik komputer hanya menggelengkan kepala. Tak ingin mengganggu Kafka andai pria itu berniat datang ke tempatnya untuk bersantai.


Kafka mengembuskan napas, membuka matanya perlahan mengingat mobil yang terparkir di depan gerbang sekolah beberapa saat lalu saat ia meninggalkan SMA Firgo.


Kafka taju jika itu adalah mobil Gibran, tampaknya dua orang itu secara terang-terangan langsung mempublikasikan hubungan. Kafka smirk mengetahui fakta tersebut.


"Anak-anak Alley Youth nggak ada yang latihan?" tanya Kafka kemudian pada sang pemilik tempat. Ia bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk menatap Hafi yang sedang sibuk.


"Sore nanti, jam tiga." Hafi menyahut seperlunya.


"Gue ikut."


Hafi menoleh saat Kafka membaringkan kembali tubuhnya dan menaruh lengan di atas kening. Hafi menggeleng pelan. "Sama anak-anak tim loe?"

__ADS_1


"Gak, cuma gue aja."


"Kacau banget kayaknya loe Ka, dapet nilai nol di sekolah?" cibir Hafi namun yang ia dengar hanya helaan napas pemuda itu.


Membuat Hafi akhirnya kembali menggelengkan kepala dan memilih tidak perduli dengan Kafka.


****


"Kita mau kemana?" tanya Yashinta saat Gibran mengemudikan mobil bukan pada jalan menuju rumahnya. Sejujurnya Yashinta merasa familiar, tapi ia juga tak mau sembarangan menebak.


"Ke tempat saya." Gibran menyahut seraya memerhatikan jalanan dengan fokus.


"Ke apartement Mas Gibran?" gadis itu tampak senang, terlebih saat melihat anggukan kepala dari Gibran.


"Mau makan dulu?" tanya Gibran kemudian, ia mulai memelankan laju mobilnya. Yashinta tampak diam di tempat kemudian menggelengkan kepala.


"Makan di apartement Mas Gibran aja."


"Kalau begitu nanti kita deliv."


Yashinta segera mengangguk, tampak tidak sabar untuk segera sampai ke apartement Gibran. Gibran yang melihatnya hanya mengukir senyum, kemudian bertanya.


"Gimana sekolahnya hari ini?" yang pada akhirnya membuat Yashinta bercerita penuh antusias mengenai apa yang beberapa saat lalu terjadi di sekolah, berikut juga tawaran Deril yang mengajaknya bergabung untuk menjadi panitia pemilihan Ketua OSIS.


Gibran mendengarkan dengan antusias, sesekali tampak menoleh ke samping guna menatap gadis itu yang asik bercerita.


Gibran mengangguk. "Tadi Bu Dania ngasih PR banyak banget sebelum pulang." sambung gadis itu, raut wajahnya tampak keberatan namun ia sadar jika dirinya adalah seorang pelajar yang memang harus belajar.


"Tadi pas pulang papasan sama Kafka–"Yashinta tanpa sadar memasukan pria itu ke dalam ceritanya. Gadis itu memang detail, sehingga ia tidak melewatkan apa yang hadir dalam kesehariannya begitu juga Kafka yang seharusnya ia lewati saja.


Gadis itu ragu-ragu menatap Gibran, Gibran tampak tidak keberatan, bahkan senyum tipisnya masih terukir di sana. Membuat Yashinta hanya mengembuskan napas dan berusaha tersenyum.


"Nanti kita makan apa yah?" ia memilih mengalihkan topik saat mobil yang Gibran kemudikan memasuki basemant apartement. Gibran menoleh sebentar, rupanya Yashinta tidak akan menyelesaikan ceritanya hari ini.


Gibran penuh dengan pemakluman, bagaimanapun ia tahu Yashinta dan Kafka satu sekolah. Mustahil bagi keduanya untuk tidak bertemu.


"Terserah kamu, saya ikut saja." jawab Gibran, menanggapi pertanyaan gadis itu. Ia mulai memarkirkan mobilnya kemudian turun. "Jangan dulu turun." cegah Gibran saat Yashinta tampak akan membuka pintu mobil.


Gadis itu menurut hingga Gibran yang membukakan pintu untuknya. "Yas juga bisa buka pintu mobil sendiri." ujar gadis itu saat ia sudah turun dan berhadapan dengan Gibran. Gibran hanya tersenyum, kemudian menyahut. "Saya ingin memperlakukan kamu dengan sebaik-baiknya."


Sesaat Yashinta terdiam, tanpa sadar ia membandingkan perlakuan pria itu dengan Kafka. Mengingat lagi bahwasannya Kafka hampir tidak pernah membukakan pintu untuknya.


Yashinta tersenyum kecut, wajar saja, toh Kafka berpacaran dengannya bukan karena mencintainya.


"Ayo,"


Gadis itu spontan menoleh saat Gibran menggenggam tangannya, ia mengangguk samar lantas berjalan dengan pria itu menuju lift.


"Urusan Mas Gibran di kantor udah beres?" tanya Yashinta sembari terus mengayunkan tangannya dan Gibran yang saling bergenggaman.

__ADS_1


"Hmm, sudah." pria itu menyahut singkat tanpa berpikir panjang. Yashinta hanya mengangguk-anggukan kepala, sementara pria itu menatap Yashinta dengan tatapan tak terbaca.


Yashinta menoleh, lantas tersenyum dan membuat Gibran membalas senyumannya. Dua orang itu berjalan menuju unit apartemen Gibran hingga tiba di depan pintu unit apartemen pria itu.


Yashinta hanya memerhatikan saat Gibran memasukan password apartement. 180719. Yashinta sempat mengernyit heran dan bertanya-tanya arti angka-angka tersebut. Tapi pada akhirnya, ia kembali tidak ingin asal menebak dan segera masuk begitu pintu terbuka.


Gadis itu sudah dengan wajah berseri-serinya memasuki apartement Gibran, namun senyum itu spontan hilang ketika ia melihat seorang gadis tengah duduk di sofa ruang utama apartement, dan bangkit saat melihatnya dan Gibran masuk.


Yashinta menoleh pada Gibran dengan raut wajah yang tampak menuntut jawaban, juga sedikit diliputi rasa kecewa melihat hal itu.


Gibran hanya mengerjap di tempatnya. Ia sempat menghela napas dan mengingat lagi pertemuannya dengan Saras beberapa hari yang lalu.


"Mas Gibran, aku bolehinta tolong?"


"Aku pikir kalian cukup deket." sambungnya mengingat malam di mana ia mendatangi rumah Yashinta dan mendapati gadis itu datang dengan Gibran. Saras cukup yakin ada sesuatu di antara dua orang itu.


"Kamu ingin saya melakukan apa?" tanya Gibran pada gadis itu.


"Aku mau ketemu sama Yashinta."


Gibran memang tidak bisa ikut campur dalam urusan dua gadis itu. Namun ia merasa harus membantu Saras dan membuat hubungan mereka membaik. Bagaimanapun, Gibran tidak ingin Yashinta menjadi pendendam. Sekalipun ia akui jika apa yang gadis itu alami memang layak membuatnya membenci.


Gibran menyusun rencana untuk mempertemukan Saras dan Yashinta di apartementnya. Itulah mengapa ia pulang cepat dari kantor selain daripada pekerjaannya yang memang sudah selesai.


Namun rupanya, reaksi Yashinta tidak seperti harapannya. Gadis itu tampak marah sekaligus kecewa padanya. Yah, seharusnya Gibran menduga hal itu.


"Yashinta, kasih gue kesempatan buat ngomong sama loe." Saras amat memohon ketika gadis itu hendak pergi.


"Gue salah Yashinta, gue akuin gue salah. Gue–kesalahan gue mungkin nggak bisa dimaafin."


"Tapi gue nggak bisa pergi gitu aja sebelum loe maafin gue." sesalnya dengan air mata.


"Gue pengen mulai kehidupan baru dengan bahagia, Yashinta."


"Gue mohon, gue nggak mau diliputi rasa bersalah."


Yashinta hanya mendengarkan saat Saras mengoceh sepuasnya. Mata gadis itu berkaca-kaca namun ia tak sanggup berbicara dan masih dengan pendirian keras kepalanya.


"Saras pikir Yas nggak perlu bahagia?" ia buka suara.


"Saras pikir cuma Saras yang harus bahagia?"


"Kenapa Saras bersikap seolah-olah Saras adalah korban?" suara gadis itu tercekat. Air matanya jatuh membasahi pipi. Menganak sungai di sana tanpa bisa ia tahan. Saras terpaku di tempatnya, sementara Gibran hanya menjadi penonton.


Langkahnya cukup hanya dengan mempertemukan dua gadis itu, apapun yang terjadi setelah itu, semua diluar kendalinya.


TBC


"

__ADS_1


__ADS_2