Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Harga Diri Seorang Laki-Laki


__ADS_3

"Pas baru pacaran sama Yashinta dan loe ngajak dia ke puncak bareng temen-temen loe, loe pikir gue gak tau semuanya?"


"Loe cuekin Yashinta, sedangkan dia traktir kalian, dari bensin sampe makan dia yang bayar! Gitu cara loe merhatiin Yashinta?"


"Apa salahnya? Duit Yashinta nggak bakal abis cuma karena hal itu."


"Iya. Tapi harga diri loe sebagai pacaranya abis di depan cewek loe sendiri!"


Kafka mengepalkan tangannya dengan sempurna, wajahnya terlihat sudah tidak bisa menahan amarah. Jika saja Ranti bukan wanita, barangkali bogem mentah sudah beberapa kali mendarat di wajahnya.


"Kafka," kali ini Yashinta menggapai tangan Kafka, berusaha meredakan amarah sang pacar. Mata pemuda itu yang sudah memerah perlahan mengarah pada Yashinta.


"Jangan marah sama Ranti. Ranti cuma khawatir aja sama Yas,"


"Ranti nggak ada maksud buat ngatain Kafka,"


Ranti mengalihkan tatapannya ke arah lain, ia sangat tidak suka Yashinta tetap bersikap baik pada Kafka sedangkan pemuda itu sudah sangat keterlaluan menyakitinya.


"Di sini, Pak."


Perhatian ketiganya teralihkan pada Kepala Sekolah yang datang bersama dengan papa Yashinta. Pak Ajil, guru olahraga mengikuti di belakangnya dengan raut khawatir sekaligus merasa bersalah pada Yashinta.


Bersamaan dengan itu, kepalan tangan Kafka perlahan terlepas, pemuda itu mengatur napasnya dengan susah payah agar terlihat tenang. Sementara amarahnya masih memuncak dengan rasa kesal di dada.


Andri yang melihat wajah pucat putrinya segera menghampiri Yashinta, membuat pegangan tangannya pada Kafka terlepas. Perlahan aura di ruang kesehatan jauh lebih baik dari beberapa waktu sebelummya. Kafka juga sudah meredam amarahnya.


"Kamu enggak papa, Sayang?" Andri khawatir, memeluk Yashinta sebentar dan memastikan jika putrinya tidak kenapa-napa.


"Maaf Pak Andri, kami tidak mampu menjaga Yashinta dengan baik." Pak Barnas, yang tak lain adalah Kepala Sekolah SMA Firgo tampak menyesal. Membuat Yashinta merasa tidak enak karena harus melibatkan sang papa hanya untuk perkara kecil.


"Yas enggak apa-apa, kok, Pak." Menyahuti Pak Barnas, lantas beralih pada Andri untuk meyakinkan sang papa. "Yas nggak apa-apa, Pah."


Andri tersenyum, mengusap rambut putrinya dan menoleh pada Pak Barnas. "Yashinta tidak apa-apa."


Pak Barnas mengangguk lega.


"Maafkan saya Pak Andri, saya tidak tau jika kejadiannya akan seperti ini." Pak Ajil berkata penuh sesal.


"Tidak apa-apa, Pak. Bapak hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang guru."


Begitu mengetahui jika keadaan Yashinta baik-baik saja. Pak Barnas berikut Pak Ajil permisi untuk keluar. Begitu juga Ranti, ia tidak tahan berlama-lama dengan Kafka di sana.


"Yas, gue duluan, yah. Om Andri, saya duluan," pamitnya, mengabaikan Kafka yang masih ada di sana.


"Iya Ranti, kamu lanjutkan!"


"Siap Om."


Ranti berlalu, sebelumnya ia sempat menoleh pada Kafka yang acuh tak acuh saja di tempatnya berdiri.


"Kamu yakin tidak apa-apa, Sayang?" sekali lagi Andri memastikan.


"Yas nggak apa-apa. Papa kenapa harus datang ke sini segala, sih?" Yashinta terlihat kesal. "Papa khawatir, Sayang."


"Yas cuma pingsan doang. Enggak enak kalo temen-temen Yas liat. Yas malu, anak-anak lain pasti mikirnya Yas manja, nanti gimana kalau anak-anak tahu Yas anaknya pemilik yayasan sekolah."


"Yas nggak mau." gadis itu merajuk, Kafka tidak habis pikir mendengarnya sedangkan Andri tertawa.

__ADS_1


"Yasudah, biarin mereka. Yang pasti, Papa tenang kalau udah mastiin kamu baik-baik aja."


Yashinta mengangguk dengan senyum mengembang. Ia tau Andri sangat menyayanginya, dan adalah hal wajar jika sikap Andri selalu sedikit berlebihan.


"Maaf Om, saya nggak bisa jaga Yashinta dengan baik." Kafka baru buka suara, Andri menoleh dan tersenyum pada calon menantunya.


"Kamu bukan bodyguard Yashinta yang selalu ada 24 jam di samping Yashinta." Andri memaklumi, Kafka hanya mampu tersenyum dengan raut tidak enak.


**


Langkah tiga orang sepanjang koridor sekolah menjadi pusat perhatian para siswa seantero Firgo yang tertarik dan terkagum melihat pemandangan tersebut, terlebih Kepala Sekolah dan beberapa guru turut mengikuti.


Di mana pemilik yayasan SMA Firgo, berjalan diapit oleh putri tunggal dan juga calon menantunya. Beberapa dari mereka mengabadikannya melalui kamera ponsel.


"Jadi Pak Andri itu Papanya Yashinta?"


"Berarti Yashinta anak pemilik yayasan dong? Gilaak!"


"Pantesan, gue pernah liat mereka jalan-jalan di mall. Gue kira cuma salah liat aja."


"Wah, hebat banget Yashinta selama ini rahasiain identitasnya."


"Pantesan tiap pagi di anter sopir mobilnya gonta-ganti."


"Yashinta tajir melintir gitu?"


"Menurut gosip dari anak-anak sekelasnya, sih, iya."


"Pantesan Kafka mau sama Yashinta. Ternyata karena Yashinta tajir, yah."


"Orang kaya, 'kan selalu pengen lebih!"


Aris dan Sean yang berada tepat di lantai dua hanya melihat ke arah lantai bawah di mana tiga orang yang menjadi pusat perhatian tengah berjalan menuju parkiran dengan sesekali saling berbincang.


"Oohh, daebak!" Aris berdecak melihat para siswa berjajar sepanjang tembok pembatas kelas lantai dua hanya untuk melihat Kafka, Yashinta dan papanya.


"Gue gak ngerti sama hidup Kafka yang beruntung banget."


"Mantannya berserakan dan glow up semua, sekarang pacaran sama Yashinta yang anak orang kaya, pemilik yayasan pula."


"Dan lagi, always nempel sama si Saras kalo di kelas. Gimana gak beruntung coba," Aris mengoceh, Sean di sampingnya hanya melipat tangan di dada, menganggap ocehan Aris hanya sebagai angin lalu.


Saras yang baru saja keluar kelas mengernyit melihat para siswa yang berbaris entah menyaksikan hal apa. Ia juga melangkah, menggeser Aris dan melihat ke lantai bawah. Seketika kepalanya mengangguk beberapa kali melihat hal yang menjadi pusat perhatian.


"Kamu yakin nggak mau pulang aja? Biar diantar sama Kafka," Andri tidak yakin dengan keadaan Yashinta. Takut anaknya kembali jatuh pingsan.


"Yas nggak kenapa-napa."


Andri menghela napas, Dewa–skretaris Andri membukakan pintu mobil setelah bertanya mengenai kondisi Yashinta dan lagi-lagi gadis itu kembali mengatakan hal yang sama.


"Kafka, Om titip Yashinta, yah."


"Iya, Om."


"Om Andri," suara dari arah belakang Andri membuat pria itu menoleh, mendapati Deril di sana yang baru saja kembali dari luar. Begitulah Ketua OSIS yang sesekali keluar sekolah untuk beberapa urusan.


"Oh, Deril." pria paruh baya itu urung masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Deril menyalami Andri, sedangkan Kafka mengernyitkan dahi, ia baru mengetahui jika Deril mengenal papa Yashinta, bahkan mereka terlihat akrab.


Setelah sedikit berbasa-basi dengan Deril, Andri benar-benar pamit untuk kembali ke perusahaan, meninggalkan tiga orang itu yang melihat kepergiannya.


Awalnya Deril ingin bertanya mengenai keadaan Yashinta. Namun, tatapan angkuh Kafka yang berdiri di samping gadis itu mengurungkan niatnya.


Ia permisi dengan senyum yang dibalas senyuman pula oleh Yashinta. Kafka melihat kepergian Deril, setelah pemuda itu benar-benar menjauh, Kafka beralih pada Yashinta. Wajah gadis itu terlihat lebih segar sekarang.


"Deril kenal bokap loe?" tanyanya yang membuat gadis itu menoleh dan segera mengangguk. "Deril pernah nganterin Yas pulang, terus ketemu Papa."


"Kapan?"


"Apanya Kafka?" Yashinta bertanya, polos.


"Kapan Deril nganterin loe pulang?"


"Sering!"


Kakfa mendesah, tampak tidak suka. Membuat Yashinta merasa bingung di tempatnya.


"Berapa kali?"


"Sering, gak pernah Yas itung."


"Emang gue kemana, sih, sampe loe harus balik sama dia?" sahut frustrasi Kafka seolah selama ini dia sangat perduli terhadap Yashinta.


Kali ini giliran Yashinta yang mendesah, menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga saat menatap Kafka dengan tatapan pasrah.


"Waktu itu kita belum pacaran, lagian kalo gak salah itu pas Kafka pacaran sama Verna, anak kelas Sosial, terus putus sama Verna Kafka pacaran sama Rossy, adik kelas kita."


"Dih, Kafka fuckboy banget, sih!"


"Emang boleh kalo waktu itu Yas minta di anterin pulang sama Kafka?" cerocosnya yang membuat tatapan Kafka berubah flat.


Sedangkan Yashinta tersenyum, tak lama Kafka juga tersenyum, tangannya tergerak mengacak puncak kepala Yashinta. Gadis itu menaikan pandangannya, menatap Kafka yang sangat jauh lebih tinggi darinya


Bagaimana tidak, Kafka memiliki tinggi hampir 1,90 cm. Berbeda dengan dirinya yang hanya memiliki tinggi 1,60 cm. Singkatnya Yashinta hanya sedada Kafka.


"Sorry, yah?"


Yashinta menurunkan tatapannya. Dengan kakinya yang membentuk pola abstrak di bawah sana. "Kafka selalu minta maaf dan ngulangin lagi, Kafka selalu kaya gitu." ucapnya pelan tapi masih mampu tertangkap indera pendengaran Kafka.


Kafka pasrah, sampai Yashinta kembali mempertemukan mata mereka. "Soal Ranti ..., Yas nggak ngadu, Kafka. Yas juga gak tau gimana Ranti bisa tau itu semua." sesalnya dengan tatapan bersalah pada Kafka.


Yashinta mengerti bagaimana perasaan Kafka mendengar omelan Ranti di ruang kesehatan tadi. Kafka pasti merasa sakit hati dan malu pada Yashinta. Harga dirinya pasti terluka saat itu.


"Gak papa, bukan salah loe, kita ke kantin. Gue traktir loe makan." Kafka meraih tangan gadis itu.


"Kafka punya uang?"


"Ada."


"Itu bawa uang." bibir gadis itu mengerucut.


"Tadi minjem!"


TBC

__ADS_1


__ADS_2